
"Makasih yah, udah bantu gue." Kata Rizky dalam keadaan lemas dan mengusap dadanya.
"Gue bakal hajar mereka habis-habisan, karena udah ngelukain Lo." Kata Mauren dengan wajah yang marah dan bersiap untuk melawan mereka.
Secara cepat Mauren langsung menghajar mereka dengan jurus beladiri yang sudah sangat dia kuasai, yaitu Wushu, Mauren melawan mereka dengan brutal yang membuat mereka kewalahan, setelah selesai Mauren pun masih dalam keadaan emosi dan hampir saja membunuh si tukang bakso Tersebut, tetapi dihalangi oleh Reyhan.
"Jangan Mauren, Lo mau ngapain?" Tanya Reyhan dengan. Menahan Mauren yang hendak menusuk tukang bakso itu.
"Gue pengen bunuh dia, karena dia udah berani ngelukain Rizky!" Geram Mauren dengan berusaha untuk membunuh tukang bakso itu.
"Jangan Mauren, kita mau introgasi dia dulu." Kata Roy dengan menghalangi Mauren.
"Siapa yang nyuruh Lo buat membunuh kita??" Tanya Willy dengan mencengkram baju tukang bakso.
"Gue disuruh geng Halilintar untuk membunuh kalian, gue disuruh sama mereka." Jelas tukang bakso tersebut dengan ketakutan.
"Dibayar berapa kalian?" Tanya Dewa.
"Kita dibayar tiga puluh juta, buat membunuh kalian semua." Jelas tukang bakso tersebut.
"Sialan, kenapa geng Halilintar itu tetap saja meneror kita lagi pada saat kita sedang liburan?!" Geram Anto dengan kesal.
"Kita harus segera pergi dari sini, Roy apakah gak ada mobil lain?" Tanya Galang dengan melihat ke Roy.
"Mobil? Di villa banyak, tapi sopirnya entah ada atau nggak." Kata Roy dengan mengangkat bahunya.
"Sialan, lagian bannya kemana sih?" Geram Galang dengan melihat ke arah mereka semua yang sedang terkapar.
"Ban mobil kalian udah kita buang, dan kalian akan terjebak disini selamanya, hahaha." Kata seseorang berjaket merah dan bertopeng badut.
"Siapa lagi dia? Gue rasa kita harus cari cara lain untuk pergi dari sini." Kata Reyhan dengan melihat semua temannya.
"Percayalah, gue salah satu anak buah geng Halilintar yang paling diandalkan sama Michael." Kata orang berhoodie merah tersebut.
"Woi! Cepetan naik, kita udah siapin mobil nih!" Kata Shinta yang sedang membawa mobil bak terbuka.
"Astaga, apa gak ada mobil yang lain?" Tanya zoey dengan sedikit jijik.
"Udah cepetan, naik aja ke mobil ini!" Teriak Jessica dengan memberikan kode kepada mereka semua.
"Andre, Lo jagain yang cewek supaya naik duluan ke mobil bak itu, biar kita yang hadapin dia." Jelas Galang.
"Okeh, biar gue yang urus ini." Kata Andre dengan mengangguk.
"Percayalah, kalian tidak akan bisa kabur, karena kita sudah menyerahkan seluruh pasukan agar membunuh kalian." Kata orang berhoodie merah tersebut.
"Aduh, berisik banget sial, gue lagi tidur, ada apaan sih?" Geram Verrel yang baru saja bangun dan keluar dari mobil.
"Verrel, Lo bawa Bobi dan Siti ke mobil bak itu, nanti biar gue jelaskan." Suruh Reyhan kepada Verrel, dan verrel pun langsung melakukannya.
"Hahaha, kalian tidak akan bisa lolos gitu aja, semua serang mereka." Kata orang Hoodie merah itu dengan mengangkat tangannya.
Seketika para pengunjung yang ada di wahana Tersebut langsung menyerang mereka, karena itu adalah para pengunjung yang dibayar agar menyerang Reyhan bersama yang lainnya, Reyhan dan yang lainnya pun langsung naik ke mobil losbak Tersebut dan Shinta yang mengendarai mobil itu langsung menancap gas dengan sangat kencang.
"Ada apa sih sebenernya? Kok ada yang nyerang kita lagi?" Tanya Verrel dengan kebingungan.
"Entahlah, ini suruhan Michael gue rasa." Kata Reyhan dengan mengangkat kedua bahunya.
"Sial! Bukannya dia di penjara, kenapa dia bisa tahu kita ada disini?" Kata Roy dengan kesal.
"Apa semuanya udah naik?" Tanya Galang dengan melihat sekeliling, dan tampak tidak ada Santi dan juga Milea.
"Dimana Santi sama Milea? Kemana mereka?" Tanya Willy dengan melihat sekeliling yang tidak ada Santi dan juga Milea.
"Woi! Tunggu sebentar, jangan ngebut!" Teriak Santi yang sedang mengejar mobil bak itu dengan motor.
"Kalian tidak akan bisa kabur gitu aja, kita akan terus mengejar kalian!" Teriak orang Hoodie merah di belakang mereka.
"Santi, pegang tangan gue, gue yakin mereka akan buat motor kalian menjadi rusak." Kata Anto dengan mengulurkan tangannya.
"Tembak ban motor dia." Suruh orang Hoodie merah.
Lalu salah satu anggota geng entah apa namanya, mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya ke Ban motor yang dikendarai Santi dan juga Milea, Santi dan Milea langsung menggapai tangan Anto tepat bersamaan dengan tembakan pistol tersebut ke ban motornya, motor mereka pun terguling, sedangkan Santi berpegangan erat pada tangan Anto.
"Erghh, bantu gue woi!" Teriak Anto dengan berusaha menarik mereka berdua.
Andre dan Willy pun langsung membantu Anto menarik mereka berdua ke mobil bak tersebut, dan mereka berdua pun selamat, kini mereka berkumpul dalam satu mobil bak, Galang yang kebingungan langsung bertanya kepada Santi.
"Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa malam ini jadi malam terburuk bagi kita?" Tanya Galang Dengan menatap santi secara serius.
"Entahlah, gue juga gak tau." Kata Santi dengan mengangkat bahunya.
"Gak tau apanya? Kan gue suruh Lo periksa sekitar sini! Ini semua salah Lo!" Bentak Galang.
"Galang! Cukup! Lo gausah bentak teman gue, jangan pernah bentak dia! Dan ini semua bukan salah dia!" Teriak Lauren dengan membela Santi.
"Maaf Lauren, gue lagi kepancing emosi." Kata Galang dengan nada pelan.
"Cukup Galang, harusnya Lo bisa atur emosi Lo, Lo gak biasanya kayak gini, Lo berubah Galang, Lo berubah." Kata Lauren dengan meneteskan air matanya.
"Entahlah, malam ini adalah malam terburuk bagi gue." Kata Reyhan dengan menatap langit.
"Gawat! Kita dicegat sama geng awan apalah itu namanya." Kata Jessica dengan menengok ke belakang.
"Apa apaan? Kenapa mereka bisa tahu kita ada disini?" Tanya Willy dengan bangkit berdiri dan kebingungan.
"Yang laki-laki lindungi para wanita, biar kita yang urus ini." Kata Reyhan seraya bersiap melawan mereka dengan tonjokannya.
"Nggak Reyhan, kita harus tetap jalan, kalo kita tetap disini kita akan mati." Kata Nikita dengan menggenggam tangan Reyhan.
"Jessica, sebaiknya jalan lagi, mereka geng berbahaya dan paling ganas di daerah sini." Jelas Aulia kepada Jessica.
"Baiklah, gue rasa kita harus ambil jalan pintas terdekat ke villa." Kata Jessica dengan Tersenyum.
"Kita harus buat mereka tidak mengikuti kita lagi, kalau kita diikutin terus, liburan ini akan sangat berantakan." Jelas Dewa kepada mereka semua.
"Pakai tas gue, disana ada barang yang sangat berguna." Kata Jessica dengan melempar tasnya ke Roy.
"Saatnya jalan, pegangan semuanya." Teriak Shinta yang berada di depan bersama dengan Jessica.
"Buset dah, main jalan aja, hampir aja gue jatuh." Teriak Andre yang sedang berpegangan dengan pintu mobil bak tersebut.
"Lo mau apa Galang? Jangan bilang kalo Lo mau melakukan hal gila?" Tanya Lauren dengan khawatir kepada Galang.
"Ini semua demi kalian, dimana seluruh orang lolos, harus ada satu yang dikorbankan." Jelas Galang dengan mengeluarkan sebuah tongkat dari tas selempang miliknya.
"Jangan loncat Galang, gue ada ide supaya mereka tidak mengejar kita lagi." Kata Shinta dengan Tersenyum kepada Jessica, dan Jessica pun mengerti apa yang dimaksud oleh Shinta.
"Nggak loncat anjir, gue pengen lempar nih batu ke mobil mereka." Kata Galang dengan mengambil sebuah batu yang saling diikat satu sama lain layaknya barbel.
Galang pun langsung melempar batu tersebut ke arah mobil mereka, dan kaca pun pecah, serta juga sopir mereka meninggal seketika.
"Okeh, mereka udah gak ngejar kita lagi." Kata Galang dengan Tersenyum.
"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, daripada mereka makin mengejar." Suruh Roy dengan melihat ke arah mobil yang mengejar mereka lagi.
"Mereka mengejar lagi, kita harus apa?" Tanya Angel dengan panik.
"Lakukan cara itu, pergilah ke tempat ramai, gue yakin ini akan berhasil." Kata Shinta dengan Tersenyum kepada Jessica.
"Berpegangan semuanya, kita akan ngebut!" Teriak Jessica kepada mereka semua.
Jessica pun langsung menancapkan gasnya dengan sangat cepat, dan pergi menuju jalan raya yang banyak sekali mobil berlalu lalang, dan jalan tersebut adalah Japan menuju villa mereka, Shinta langsung menyabotase seluruh lampu merah yang berada di kiri dan juga kanan mereka, yang menyebabkan seluruh mobil bergerak maju, dan menabrak mobil yang mengejar.
"Akhirnya kita lolos!" Seru Zoey dengan mengangkat kedua tangannya.
"Siapa bilang Lo lolos gitu aja?" Kata orang berhoodie merah yang naik motor dengan seseorang.
"Gawat, dia ada disini kita harus apa nih?" Kata Santi dengan kebingungan.
"Kalian semua tidak akan bisa lolos, kalian akan terus gue kejar sampai kalian terluka." Kata orang tersebut dengan mendekat dan berusaha menggapai mobil bak tersebut.
"Hey, suka pedas gak?" Tanya Nikita dengan bangkit berdiri dan Tersenyum.
"Hah? Pedas? Gue gak suka!" Teriak orang tersebut dengan mencengkram erat bagian kanan mobil bak.
"Kalo mau, nih rasakan!" Kata Nikita dengan menyemprotkan penyemprot cabai ke mata orang itu, yang membuat dia terjatuh seketika.
"Lihat saja, gue akan membalas kalian! Kalian akan gue bunuh sesuai yang disuruh oleh Michael." Teriak orang tersebut.
"Huuh, akhirnya kita lolos juga." Kata Reyhan dengan menghela nafas lega.
"Baru aja gue mau lempar pake gir motor, udah kalah aja mereka." Kata Verrel dengan mengeluarkan sebuah gir motornya.
"Sudahlah, ini semua sudah berakhir, lebih baik kita pulang dulu ke villa." Saran Aulia kepada mereka.
"Gue rasa kita beneran dalam bahaya, dan kita harus segera pulang ke rumah." Kata Galang dengan memejamkan matanya.
"Kenapa kita harus pulang? Kita belum menikmati liburan yang asik ini loh." Kata Andre dengan kebingungan.
"Kalo kita terus menerus ada disini, kita akan dalam bahaya, mereka sudah beraksi lagi." Jelas Dewa kepada mereka semua.
"Percuma dewa, kalo kita pulang ke Tangerang pasti bertemu geng halilintar lagi, dan kalo kita tetap disini, pasti ketemu dua geng itu." Jelas Roy.
"Entahlah, kita serba salah di dunia ini, selalu saja diteror sama geng gajelas." Risih Alucard.
"Ini semua karena ulah Michael, gue rasa dia sedang mempersiapkan suatu rencana agar membunuh kita semua satu persatu." Kata Rizky dengan mengepalkan tangannya.
"Rizky sayang, atur emosi Lo, nanti asma Lo kambuh lagi." Ucap Mauren dengan Mengelus kepala Rizky.
"Bersandar di pundak gue Mauren, gue selalu merasa tenang ketika Lo bersandar di pundak gue." Perintah Rizky dengan tersenyum.
"Okeh, kita udah sampai di villa." Kata Jessica dengan menurunkan mereka di parkiran villa tersebut.
"Hadeh, sebaiknya kita secepatnya masuk deh." Kata Reyhan dengan turun dari mobil bak tersebut.
"Eh, kalian udah pulang? Darimana aja? Udah malam gini baru pulang?" Tanya salah seorang penjaga villa wanita.
"Sudahlah, kita capek banget bu, besok saja kita jelaskan." Kata Roy dengan beranjak masuk ke dalam.
"Buset, dua orang ini kenapa? Kenapa mereka bisa begini?" tanya penjaga villa wanita tersebut.
"Coba aja ibu cek ke klinik, kayaknya mereka pingsan gara-gara obat bius." Jelas Alucard dengan masuk ke dalam.
"Obat bius? Kok bisa?" Kata penjaga villa wanita itu dengan terkejut, dan ternyata keadaan sekitar pun sudah sepi.
Malam hari yang cukup melelahkan bagi mereka semua, 24 Desember adalah tanggal dimana kedua orang dipersatukan oleh labirin, dimana kedua orang yang saling mencintai akhirnya bersatu, hari ini adalah hari yang paling menyenangkan bagi Aulia, dikarenakan Roy menyatakan perasaannya kepada Aulia, walau saat mereka hendak keluar dari wahana tersebut ada saja halangan dari para geng yang tidak jelas tersebut.
Serta berusaha untuk membunuh mereka, Sedangkan Jessica yang mempunyai banyak senjata juga kewalahan melawan geng gajelas tersebut, ini dikarenakan ulah Michael yang melakukan sesuatu kepada geng halilintar.
keesokan harinya, tanggal 25 Desember dimana hari itu adalah hari yang cukup cerah dan membuat mereka malas malasan di kamar masing-masing, siang hari yang cukup cerah, verrel dan kawan kawan masih tertidur pulas akibat kecapean pada kemarin malam, karena melawan geng tidak jelas tersebut.
Reyhan sedang duduk menonton tv di ruang tamu yang cukup besar tersebut, dari belakang Nikita baru saja keluar dari kamarnya dan menghampiri Reyhan seraya tersenyum kepada Reyhan.
"Pagi sayang, Lo udah makan belom?" Sapa Nikita dengan duduk di samping Reyhan.
"Udah gila, baru bangun jam segini anjir, kebo aja kalah sama lo." Ledek Reyhan dengan melihat jam di belakang, yang menunjukkan pukul satu siang.
"Eh? Kok gue gak nyadar kalo udah jam segini?" Tanya Nikita dengan terkejut.
"Bau bangke tikus, mandi dulu sono." Ledek Reyhan dengan menutup hidungnya.
"Sialan nih, baru bangun udah dikatain aja." Geram Nikita seraya mencubit lengan Reyhan.
"Adaah, sakit anjir lengan gue." Rintih Reyhan dengan mengusap lengannya yang kesakitan.
"Bodo, itu hukumannya karena udah ngeledekin gue." Kata Nikita dengan beranjak masuk ke kamar mandi, tetapi di kamar mandi tersebut ada verrel yang sedang mandi.
"Siapa di dalam woi?" Teriak Nikita dengan mengetuk pintu kamar mandi.
"Apaan dah, lagi mandi nih jangan diganggu!" Teriak verrel dari dalam kamar mandi.
"Makanya Nikita, mandi tuh pagi-pagi, jangan siang hari gini baru mandi." Ledek Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.
"Daritadi Lo ya, ngeledekin gue terus." Teriak Nikita dengan menghampiri Reyhan dan siap untuk mengelitikinya.
"Hahaha, canda Nikita jangan kelitikin gue." Canda Reyhan dengan tertawa.
Nikita pun langsung menghampiri Reyhan dan mengelitiki Reyhan, hingga membuat mereka berdua jatuh terguling dan membuat Nikita berada di posisi atas Reyhan, yang membuat mereka berdua saling berpandangan satu sama lain