
Roy pun jongkok di hadapan Aulia, tetapi Aulia masih menatap Roy dengan senyuman manisnya, dan Roy juga tersenyum kepada Aulia.
"Bukan di belakang gendongnya, gue mau di depan." Kata Aulia dengan nada manja.
"Gendong di depan? Apa Lo serius?" Tanya Roy dengan mengusap rambut Aulia.
"Iyah Roy, gue pengen meluk Lo dari depan, dan melihat muka Lo yang tampan itu." Kata Aulia dengan nada manja.
Pada akhirnya Roy pun menuruti perkataan Aulia, Kini Roy menggendong Aulia di depan, dan berjalan menuju ke kamar Aulia, setelah sampai di kamar, Roy pun melepaskan Aulia di kasur dan Tersenyum kepadanya.
"Udah, Lo sekarang mandi sana, gue pengen makan dulu." Suruh Roy dengan Tersenyum.
"Yah Roy, gue padahal pengen berduaan lagi sama Lo." Kata Aulia dengan menarik tangan Roy dan Tersenyum manja.
"Nanti sayang, gue pengen makan dulu." Kata Roy dengan mengusap wajah Aulia dan mencium keningnya.
"Yaudah, gue tidur yah Roy, selamat malam." Kata Aulia dengan mencium bibir Roy sekilas.
Ciuman itu adalah ciuman pertama bagi Roy, dia sebelumnya tidak pernah mendapat ciuman dari siapapun, Roy pun memaku di tempat selama beberapa menit, dan Aulia menggoyangkan badan Roy dengan sangat kencang.
"Roy, Lo kenapa Roy?" Tanya Aulia dengan menggoyangkan tubuh Roy.
"Eh? Nggak kok, gue makan dulu yah Aulia, Lo istirahat aja." Kata Roy yang sadar dari lamunannya dengan berjalan keluar kamar untuk makan di ruang makan.
Roy sekarang sudah berada di ruang makan, dan disana sudah ada Reyhan sedang makan nasi goreng buatannya sendiri, Roy duduk di samping Reyhan dan melihat dia makan nasi goreng Tersebut, Roy pun tersenyum kepada Reyhan.
"Minta dong Rey, gue lapar banget nih." Kata Reyhan dengan tersenyum manis kepada Reyhan.
"Senyuman manis Lo, selalu membuat orang tidak bisa membantah perkataan Lo, nih buat Lo semua." Kata Reyhan dengan memberikan nasi goreng Tersebut kepada Roy.
"Kenapa dengan senyuman manis gue? Masalah?" Tanya Roy dengan terkekeh.
"Entahlah Roy, kalo Lo menggunakan senyuman itu seakan-akan menghipnotis orang agar melakukan apa yang Lo mau." Jelas Reyhan dengan kebingungan.
"Makasih ya nasi gorengnya, enak kok Buatan lo." Kata Roy dengan melahap nasi goreng tersebut.
"Roy, apa kita memang harus berdiam diri di dalam villa ini?" Tanya Reyhan dengan serius kepada Roy.
"Iyah dong, kalo kita keluar gue yakin kita semua akan diincar sama mereka." Jelas Roy yang sudah selesai makan nasi goreng.
"Entahlah Roy, gue berharap kalo liburan kali ini adalah liburan yang terbaik dan tidak pernah terlupakan, tapi nyatanya? Kita diserang oleh orang suruhan Michael." Jelas Reyhan dengan kesal.
"Walau begitu, intinya kita harus tetap waspada dengan keadaan sekitar, soalnya baru kemarin kita diserang sama mereka." JelasĀ Roy seraya mencuci piring.
"Galang kemana yah? Daritadi kok gak ada?" Tanya Reyhan dengan melihat sekeliling rumah yang cukup besar itu.
"Gue gatau, mungkin dia sedang memulihkan kondisi atau sedang melihat kejadian di luar sana, apakah aman atau tidak." Jelas Roy dengan berjalan ke arah lantai dua.
"Sebaiknya kita istirahat aja dulu deh." Kata Reyhan dengan mengikuti Roy, dan masuk Ke kamarnya.
Di dalam kamar Reyhan, ternyata sudah ada Willy yang sedang memainkan laptop miliknya dengan sangat serius, Reyhan pun menghampiri Willy Dan menepuk pundak Willy.
"Lo ngapain?" Tanya Reyhan singkat, dan duduk di samping Willy.
"Biasa deh, gue harus jagain nih villa dari mereka." Jelas Willy dengan Tersenyum kepada Reyhan.
"Hah? Jagain apa?" Tanya Reyhan kebingungan.
"Jagain di luar gerbang, apakah disana ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak." Jelas Willy dengan menggerakkan mousenya.
"Gue bosan banget liburan begini, semenjak kita berurusan dengan geng Halilintar, kehidupan kita selalu penuh dengan teror." Kata Reyhan kepada Willy.
"Percayalah Reyhan, kita harus saling bekerja sama dan saling melindungi satu sama lain." Ucap Willy dengan melihat Reyhan.
"Galang kemana nih? Kok gue daritadi belom liat dia ya?" Tanya Reyhan kebingungan, karena seharian penuh Galang tidak kelihatan.
"Entahlah, mungkin aja Galang sedang melihat keadaan di luar sana pake kekuatannya." Kata Willy dengan Mengangkat bahunya.
"Mendingan Lo tidur, udah malem gini loh." Suruh Reyhan kepada Willy.
"Yakin Lo mau tidur? Gak ngecek ke kamar Nikita dulu?" Goda Willy dengan Tersenyum.
"Nggak lah, dia juga pasti udah tidur." Kata Reyhan seraya menutup tubuhnya dengan selimut.
"Coba liat dia sana, lagi ngapain tuh di kamarnya." Goda Willy dengan memberikan senyuman mesum kepada Reyhan.
"Najis Lo! Jijik gue liat senyuman mesum Lo." Ketus Reyhan dengan menjitak kepala Willy dan langsung tidur dengan nyenyak.
"Yah, dia ternyata udah tidur, payah banget tidur jam segini." Kata Willy dengan melihat jam yang menunjukkan pukul sembilan malam.
Willy yang sudah seharian bermain laptop, mengawasi sekitar villa, dia langsung merapikan laptopnya, dan dia pun langsung beranjak ke ranjangnya dan tidur dengan nyenyak.
Beberapa Minggu kemudian, kini semua sudah merasa aman, dan sudah tanggal 31 Desember, dimana mereka semua sibuk mempersiapkan untuk malam tahun baru agar menjadi malam yang menyenangkan bagi para pasangan yang baru saja jadian, kini mereka semua sudah berkumpul di rumah Roy, dan sedang merencanakan sesuatu agar menjadi malam yang menyenangkan.
"Kira-kira kita mau beli apa buat malam tahun baru nanti?" Tanya Reyhan dengan melihat sekeliling.
"Gue rasa kita harus bakar-bakar nih, kayaknya asik." Usul Galang dengan Tersenyum.
"Ayam, jagung, ikan, roti, daging sapi, semua bahan di kulkas semuanya habis." Kata Angel dengan membuka kulkas dan memperlihatkan isi kulkas yang hanya ada bawang putih.
"Astaga, gue rasa kita beneran harus belanja." Kata Andre dengan menepuk jidatnya.
"Belanja diluar? Apa Lo yakin kalo kita aman?" Tanya Verrel dengan serius kepada mereka semua.
"Gue nggak tahu diluar aman apa nggak, tapi saran gue kita coba menyamar aja." Usul Galang dengan memberikan kode kepada mereka semua.
"Nyamar jadi apaan Lo?" Tanya Rizky kebingungan.
"Yah, jadi apa aja terserah, asalkan kita gak ketahuan sama geng suruhan Michael." Kata Galang dengan Tersenyum
"Bener juga saran galang, mungkin kita harus menyamar." Jelas Anto yang setuju dengan usul Galang.
"Kalo begitu, mungkin kita akan bagi tiga kelompok aja, gimana?" Usul Roy dengan melihat ke mereka semua.
"Bagi tiga kelompok? Maksudnya?" Tanya Reyhan kebingungan.
"Okeh, jadi yang gue maksud itu adalah, satu kelompok di rumah, satu kelompok pergi ke pasar untuk beli bahan-bahan, dan satu kelompok lagi beli petasan untuk memeriahkan tahun baru, gimana nih?" Jelas Roy kepada mereka semua, dan mereka nampak Setuju dengan perkataan Roy.
"Okeh, kelompok satu yang di rumah adalah Shinta, Santi, Milea, Rizky, Willy, Dan juga Andre, setuju kagak??" Jelas Roy dengan melihat ke mereka semua.
"Kok gue di rumah sih? Kan gue pengen bareng Mauren." Geram Rizky kepada Roy.
"Lo punya asma, gue gamau Lo kenapa-napa, jadi lebih baik Lo di rumah aja." Tegas Mauren dengan melihat Rizky, dan Rizky pun hanya mengangguk pasrah.
Mereka semua pun mengangguk dan Roy langsung melanjutkan rencananya lagi.
"Oke, kelompok dua bagian membeli bahan-bahan, yaitu Angel, Jessica, Anto, Mauren, Verrel, dan juga Alucard, gimana?" Kata Roy dengan melihat mereka semua, dan mereka pun nampak setuju dengan perkataan Roy.
"Roy, gue rasa kita harus membeli pisau lagi." Kata Angel dengan melihat ke arah Roy.
"Emangnya kenapa dengan pisau itu?" Tanya Roy kebingungan.
"Pisaunya aja udah hilang entah kemana, gue juga bingung nih." Kata Angel dengan menggaruk kepalanya.
"Yaudah, kita beli peralatan untuk masak juga." Kata Roy dengan Tersenyum.
"Lanjutin Roy, kelompok selanjutnya siapa aja." Kata Willy kepada Roy.
"Okeh, kelompok selanjutnya yaitu Reyhan, Nikita, gue, Shannia, Zoey, dan Aulia." Kata Roy dengan Tersenyum.
"Itu bagian ngapain?" Tanya Dewa dengan kebingungan.
"Bagian membeli peralatan untuk memasak." Jelas Roy kepada mereka semua.
"Terus? Bagian membeli kembang api siapa aja?" Tanya Lauren dengan kebingungan.
"Okeh, berarti yang beli kembang api itu adalah Lauren, Dewa, Galang, Nikita, dan Zoey, kalian beli kembang api." Jelas Roy dengan Tersenyum kepada Galang.
"Jangan senyum ke gue, nanti Lo diabetes lagi, Karena melihat muka gue yang imut ini." Kata Galang dengan Tersenyum kepada Roy.
"Gausah Lo senyum senyum, jijik gue liatnya." Bentak Lauren dengan kesal kepada Galang.
"Lo kenapa sih sama gue? Gak biasanya?" Tanya Galang dengan meraih tangan Lauren.
"Sebaiknya kita cepet pergi, sebelum jam enam malam." Kata Reyhan dengan beranjak keluar bersama yang lainnya.
"Sebentar, agar aman kalian harus pakai ini." Kata Shinta dengan memberikan sesuatu kepada mereka, dan memasangkan satu persatu di kerah baju mereka.
"Apaan nih? Jangan bilang ini alat pengejut listrik?" Tanya Galang dengan kebingungan.
"Bukan, itu adalah alat pelacak, bila kalian hilang, gue akan mudah menemukan posisi kalian." Jelas Shinta kepada mereka dengan Tersenyum.
"Jangan lupa pakai alat-alat ini juga." Kata Willy dengan memberikan kacamata, dan juga earphone.
"Buat apalagi ini? Kok ada kacamata segala?" Tanya Verrel dengan kebingungan.
"Kacamata ini? Bukankah kacamata--" kata Roy dengan gemetar melihat kacamata tersebut, dan belum sempat dia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja dipotong oleh Shinta.
"Ya, kacamata ini adalah kacamata yang sama dengan yang digunakan oleh Dewa untuk mengetahui siapa orang yang meneror Reyhan pada waktu itu." Jelas Shinta dengan Tersenyum.
"Berarti Lo yang ngambil kacamata gue?" Tanya Dewa dengan terkejut.
"Bukan, gue tau kalo Lo pada waktu itu ingin mengetahui siapa peneror Reyhan, jadi gue beli aja kacamata dan alat-alat yang sama." Jelas Shinta dengan Tersenyum.
"Sudahlah, lebih baik kita cepat, sebelum matahari tenggelam." Suruh Roy dengan beranjak keluar dan masuk ke dalam mobil.
"Mobilnya ada berapa nih?" Tanya Mauren dengan tersenyum.
"Ada tiga, yang bisa nyetir mobil nyetir aja, tapi jangan sampe nabrak." Suruh Roy dengan tegas.
"Kita kemana Roy? Apa Lo tahu jalannya?" Tanya Angel dengan kebingungan.
"Baiklah, terpaksa Bobi dan Siti yang harus membantu kita." Kata Roy dengan beranjak ke klinik, tetapi ditahan oleh Doni.
"Lo gausah minta bantuan mereka lagi, gue gamau saudara gue celaka gara-gara geng kemarin." Kata Doni dengan tegas dan melihat Roy sangat serius.
"Terus? Kita mau beli bahan makanan sama siapa?" Tanya Roy dengan kebingungan.
"Sama mereka aja, mereka udah lama disini, gue yakin kalian akan aman sama mereka." Kata Doni dengan melihat ke arah tiga orang dengan Hoodie berwarna merah.
"Apa? Si Hoodie merah andalan Michael?" Tanya Nikita dengan terkejut.
"Bukan, kami ada di pihak kalian, bukan di pihak Michael." Kata orang yang ditengah dan Tersenyum.
"Sepertinya gue kenal suara ini, apakah dia snake?" Gumam dewa dengan melihat jelas kepada mereka bertiga.
"Oke, kalian bertiga silahkan tunjukkin wajah kalian." Perintah Doni dengan Tersenyum.
Mereka bertiga pun membuka Hoodie merah itu dan berjalan ke mereka, mereka pun terkejut ketika melihat siapa dibalik Hoodie merah tersebut, begitu juga dengan mereka bertiga yang terkejut ketika melihat mereka berada disini, dan ketiga orang Hoodie merah itu adalah Snake, bear, dan goat.
"Kalian? Kok bisa ada disini?" Tanya Reyhan dengan terkejut.
"Sejak kapan kalian disini?" Tanya Snake dengan Tersenyum kepada Dewa.
"Kita udah hampir tiga Minggu disini, kalian udah berapa lama?" Jelas Dewa kepada mereka bertiga.
"Kita semenjak Michael di penjara, langsung kesini untuk memulihkan kekuatan terlebih dahulu." Jelas Snake kepada mereka.
"Lalu? Siapa yang jaga markas?" Tanya Dewa dengan khawatir.
"Sebaiknya jika kalian mau selamat, jangan pulang lewat dari jam enam sore." Perintah Doni dengan tegas.
"Yaudah, kalian bertiga bantu nyetir dan antarkan kita ke mall yang mewah disekitar sini." Perintah Roy dengan menyuruh mereka seraya memberikan senyumannya, dan mereka pun menuruti perkataan Roy.
"Aneh, kenapa kalo Roy senyum semua mau melakukan apa yang dilakukan oleh Roy?" Gumam Reyhan dengan curiga kepada Roy.
"Gue rasa dia punya Jimat senyuman." Canda Galang dengan masuk ke dalam mobil.
"Entahlah, mungkin saja hanya perasaan gue." Gumam Reyhan dengan masuk ke dalam mobil bersama yang lainnya.
Mereka semua pun berangkat menuju mall yang cukup besar di daerah puncak, ternyata Snake sudah hapal jalanan puncsk, dimana tempat wisata yang cocok, dimana tempat beli oleh-oleh, dan masih banyak lagi, kini mereka sudah berada di parkiran mall tersebut, semua keluar dari mobil dan Roy nampak Tersenyum melihat sekeliling.
"Kenapa lo Roy?" Tanya Andre dengan menepuk pundak Roy.