Reyhan

Reyhan
ep 15



"Lo kok bisa ketahuan sih?" tanya Andre dengan melihat ke arah Anto.


"Jadi gini loh..." Anto pun menceritakan semua kejadian kemarin, dan semua nampak terkejut kecuali Michael yang tampak santai saja mendengar cerita dari Anto.


"Ah Lo! Lawan Mauren aja masa gabisa sih!" Ledek Alucard kepada Anto.


"Yeh, Lo pikir dia lemah? Nggak, Dia kuat." Geram Anto dengan kesal kepada mereka semua.


"Harusnya lo langsung kabur aja, gausah ngelawan dia, jadinya malah kayak gini kan." ucap Rizky kepada Anto.


"Gue udah berusaha kabur, tapi gue terus terusan dikejar anjir." ucap Anto dengan kesal.


"Haduh, dasar lemah!" ucap Michael dengan meremehkan Anto yang sedang terbaring.


"Maksud Lo apa?!! Gue udah berusaha untuk kabur dari kejaran Mauren yah!" Bentak Anto dengan emosi dan menatap Michael.


"Yaelah, gampang kalo lawan Mauren, udah tau kelemahan dia badut, kenapa pas dia ketakutan Lo nggak habisin aja dia?" Jelas Alucard dengan kebingungan.


"Kalo dia dihabisin, nanti yang ada malah tambah masalah baru lagi." ucap Anto dengan kesal kepada Michael.


"Udah lah, yang penting identitas kita gak ketahuan, intinya kita jangan sampai ketahuan itu aja kok." ucap Rizky kepada mereka semua.


"Ah udah lah! Gue males disini, mending gue pulang duluan." Kata Michael dengan kesal dan keluar rumah Anto.


"Dia kenapa sih? Lagi haid yah?" Canda Andre dengan kebingungan melihat kelakuan Michael.


"Gatau tuh, Emang gajelas tuh anak." ucap Anto dengan kesal kepada Andre.


Sementara itu dengan Reyhan, dia sedang berjualan disekitaran kompleks perumahan, tetapi terlihat langit sudah agak gelap dan mulai mendung, Reyhan yang melihat ada indoapril pun langsung pergi ke indoapril tersebut dan secara cepat langsung turun hujan yang sangat deras, untungnya Reyhan sudah berteduh di dalam indoapril tersebut, pada saat sedang berteduh dia tak sengaja bertemu dengan Mauren.


"Loh? Kok Lo ada disini?" tanya Reyhan yang heran karena Mauren ada di indoapril tersebut sambil membawa plastik berisikan detergen serta sabun mandi.


"Eh Reyhan! Gue abis beli detergen nih, Lo sendiri ngapain?" tanya Mauren yang menunjukkan plastik tersebut ke Reyhan.


"Gua lagi neduh, abis jualan tadi." ucap Reyhan dengan tersenyum kepada Mauren.


"Oh gitu yah, Lo gak ada payung gitu?" tanya Mauren dengan berdiri tepat di samping Reyhan.


"Kalo ada mungkin gua ga neduh, mungkin gue udah jalan ke rumah, gimana sih Lo?" Kata Reyhan dengan melihat ke arah Mauren.


"Hahaha! Bener juga sih, kalo ada payung gamungkin neduh dong pasti langsung pulang." ucap Mauren sambil tertawa bersama dengan Reyhan.


"Lo kan rumahnya jauh dari sini, kenapa bisa belanja detergen disini?" tanya Reyhan dengan melihat ke arah Mauren.


"Gua kebetulan lewat doang sih, eh mama gua nelepon suruh beli detergen buat nyuci, yaudah gua mampir deh kesini!" Jelas Mauren kepada Reyhan yang sedang menatap langit.


"Oh begitu, hujannya deras banget yah?" Kata Reyhan dengan melihat ke arah Mauren yang berdiri di sampingnya.


"Brrr! Dingin banget dong!" Sindir Mauren dengan menggosok kedua lengannya dan nampak kedinginan, karena dia tidak memakai jaket.


"Dingin? Tutup mata Lo deh!" ucap Reyhan dengan menyuruh Mauren untuk menutup matanya.


"Hah? Mau ngapain Lo anjir?" tanya Mauren yang penasaran dengan Reyhan.


"Tutup aja udah, gua gak ngapa ngapain kok." ucap Reyhan dengan tersenyum kepada Mauren, dan Mauren pun menuruti Reyhan.


Reyhan pun semakin mendekatkan dirinya dengan Mauren, lalu Reyhan langsung memeluk Mauren dengan sangat erat untuk mencegahnya agar tidak kedinginan, Reyhan memeluk Mauren di depan banyak orang, dan ada beberapa orang melihatnya dengan heran.


"Rey-Reyhan, Lo ngapain?" tanya Mauren dengan gugup karena Reyhan yang tiba tiba memeluknya.


"Lo kedinginan kan? Makanya gue peluk." ucap Reyhan dengan tersenyum di hadapan Mauren.


"Ta- tapi ini kan tempat umum." ucap Mauren dengan berusaha melepaskan dirinya.


"Ssst! Tenang, gue cuma mau membuat Lo hangat doang kok." ucap Reyhan dengan tersenyum kepada Mauren.


"Tapi? Ah yaudah kalo itu mau Lo....." ucap Mauren dengan terpaksa dan mengikuti perintah Reyhan.


Beberapa menit pun berlalu begitu saja, hujan masih sangat deras dan kini Reyhan sudah selesai memeluk Mauren, Reyhan kini sedang menunggu hujan berhenti, tetapi dari kejauhan tampak seseorang sedang berlari menuju ke indoapril tersebut, Reyhan terus memperhatikan orang tersebut dan itu adalah Nikita yang sedang berlari, kini sudah berada di samping Reyhan dan juga mauren.


"Huft! Hujannya deras banget, terpaksa gue terobos." gumam Nikita sambil melihat hujan yang begitu deras.


"Eh? Lo Kok disini?" tanya Reyhan dengan melihat Nikita yang baru saja berdiri di sampingnya.


"Eh Lo, kok bisa disini?" tanya Nikita dengan melirik ke arah Reyhan.


"Dih, malah nanya balik anjir." ucap Reyhan dengan menepuk jidatnya.


"Gua tadi abis dari rumah angel, dan kehujanan di jalan yaudah gua kesini dulu numpang neduh." jelas Nikita kepada mereka berdua.


"Oh begitu, Lo Nikita kan? Salam kenal yah, gua Mauren." ucap Mauren dengan berjabat tangan bersama Nikita.


"Oh, Iyah salam kenal juga yah." ucap Nikita dengan tersenyum kepada Mauren.


"Aduh, hujannya kapan berhenti sih? Gua mau pulang nih!" Geram Reyhan dengan melihat hujan yang semakin deras.


"Gua mau liat di dalam indoapril ini, ada jas hujan apa nggak." ucap Nikita dengan beranjak pergi ke dalam, tetapi ternyata lantainya licin dan membuat Nikita hampir terjatuh, Reyhan dengan cepat langsung menangkap Nikita yang hampir saja jatuh.


"Lo gapapa?" tanya Reyhan singkat dengan menahan tubuh Nikita.


"Eh, makasih ya udah nyelamatin gue." ucap Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Ehem! Udah kali pegangannya, gausah lama lama juga." Kata Mauren dengan berdehem, dan membuat kondisi kembali seperti biasanya, dan Nikita langsung masuk ke dalam untuk mencari jas hujan.


"Hahaha! Cemburu lo?" tanya Reyhan dengan tertawa melihat Mauren yang nampak cemburu.


"Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang!" ucap Mauren jutek yang nampak cemburu.


"Hahaha! Tenang aja kali, gue sama dia cuma temenan biasa, gausah cemburu, okeh?" ucap Reyhan dengan menatap Mauren sangat dekat dan jelas.


"Iyah Reyhan, jangan Deket Deket banget Napa! Tempat umum nih, umum!" Kata Mauren yang melepaskan tangan Reyhan dan melihat keadaan sekitar.


"Lo pulang nanti naik apa?" tanya Reyhan dengan melihat ke arah Mauren.


"Gue nanti paling di jemput sama sopir gue, mau pulang bareng nggak?" tanya Mauren dengan menawarkan tumpangan kepada Reyhan.


"Lo lupa apa gimana sih anjir? Rumah kita beda arah, rumah gue Deket dari sini, hadeeh masa lupa?" Keluh Reyhan dengan melihat Mauren dan menepuk jidatnya.


"Oh iya yah! Hahaha!" Kata Mauren Dengan menepuk jidatnya dan tertawa.


"Reyhan, pulang bareng gak nih?" Tawar Nikita yang baru saja keluar dari Indoapril dan membeli sebuah jas hujan.


"Eh? Lo beli apaan tuh di plastik?" tanya Reyhan dengan melirik ke arah plastik yang dibawa oleh Nikita.


"Gua beli jas hujan, Lo gamau pulang emangnya?" tanya Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Emm, Reyhan mau disini dulu, nungguin hujannya berhenti." ucap Mauren Dengan menggandeng tangan Reyhan sangat erat.


"Eh? Iyah, gue nunggu hujan berhenti aja dulu." ucap Reyhan dengan menuruti perkataan Mauren.


"Oh, yaudah gue pulang duluan yah." ucap Nikita yang tampak cemburu ketika Mauren menggandeng tangan Reyhan.


"Yaudah, hati hati di jalan." Seru Reyhan kepada Nikita yang beranjak pergi dari hadapan mereka berdua.


"Gue kok ngerasa hati gue sakit ketika melihat Reyhan digandeng sama Mauren yah? Apa ini pertanda kalo gue suka sama dia? Masa Iyah sih?" gumam Mauren dalam hatinya sambil terus berjalan menuju rumahnya.


Setelah menunggu beberapa menit, hujan pun kini sudah berhenti, Nikita yang sedang berjalan menuju rumahnya, di perjalanan dia bertemu dengan beberapa preman yang secara tiba tiba mencegatnya di suatu gang yang biasanya dilewati olehnya setiap hari.


"Bos, kayaknya Ada mangsa cantik tuh!" Kata salah seorang preman kurus tersebut dengan berbisik kepada preman yang sedang meminum kopi.


"Hmm, kira-kira dia ada uang gak nih? Gua laper nih pengen beli warteg!" ucap bos tersebut dengan melihat ke arah Nikita.


"Kita lihat aja, coba lu yang palak Sono!" ucap seorang preman berbadan besar dengan berbisik ke preman yang kurus tersebut.


"Mau kemana Lo bocah? Serahin duit Lo sekarang juga!" ucap bos preman tersebut dengan mencegatnya.


"Pergi Lo! Gue cuma numpang lewat doang!" ucap Nikita dengan berteriak di hadapan mereka.


"Wah, berani beraninya teriak di depan bos, hajar jangan?" ucap preman kurus tersebut dengan memberikan arahan kepada mereka berdua.


"Udah langsung aja kita abisin dia sample membleh! Hahaha!" ucap bos preman tersebut dengan Mendekati Nikita, dan Nikita mulai menjauh lalu berlari dari mereka, tetapi ditahan oleh kedua preman tersebut.


"Lepasin! Tolong tolong!!!!" teriak Nikita dengan berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman mereka berdua.


"Woi!! Jangan beraninya sama cewek dong!" ucap suara misterius dari atas pohon yang ada disitu.


"Hah? Siapa Lo? Ngapain Lo ada diatas pohon?" tanya bos preman tersebut dengan melihat ke atas.


"Hah? Galang? Tolong gue Galang! Tolong!!" Teriak Nikita dengan melihat ke atas dan meminta tolong kepada Galang.


"Haduh, Lo semua ternyata banci yah! Berani sama cewek doang!" Jelas Galang yang turun dan kini ada di hadapan mereka semua.


"Wah bos, ada yang berani ngelawan kita ternyata!" ucap preman berbadan kurus tersebut.


"Hajar jangan bos?" tanya preman berbadan besar yang sudah siap dengan pisau di tangannya.


"Kita adalah geng pisau dapur, bunuh dia!" ucap bos preman tersebut dengan mengeluarkan pisau di tangannya.


"Haha, akhirnya ada mangsa yang bisa gue bunuh!!" ucap preman kurus tersebut dengan tertawa.


Para preman itu pun mulai melawan Galang dengan sekuat tenaga,mereka selalu saja terus ingin menusuk perut Galang, tetapi Galang selalu saja menghindar serangan mereka, dan Galang langsung melawan mereka dengan gampangnya, yang membuat mereka babak belur.


"Sialan Lo! Gue akan balas dendam nanti!!" ucap bos preman tersebut dengan memegangi perutnya yang kesakitan.


"Rasakan ini!!" ucap preman kurus tersebut dengan melempar pisau ke arah Galang.


"Lemah banget lemparan Lo, dasar preman preman gak guna!!!" Teriak Galang dengan menahan pisau tersebut lalu membuangnya ke belakang.


"Kabur bos! Ga kuat!!!" ucap preman berbadan besar tersebut yang lari duluan.


"Woi! Badan doang gede, tenaga gak ada sama sekali Lo brengsek!!" ucap bos preman tersebut lalu kabur entah kemana.


Nikita yang masih ketakutan pun hanya terdiam di ujung gang, Galang yang khawatir dengan kondisi Nikita langsung menghampirinya dan menepuk pundaknya.


"Lo gapapa?" tanya Galang singkat dengan mendekati Nikita yang ketakutan.


"Gue-gue-gue takut Galang, huaaaa!!" ucap Nikita dengan terbata bata, lalu menangis di pelukan Galang.


"Sudah, sudah, Lo sekarang sudah aman sama gue." Kata Galang dengan menenangkan Nikita yang masih menangis.


"Kalo gak ada Lo, gue gatau harus ngapain!" ucap Nikita dengan memeluk Galang sangat erat.


"Yaudah, ayo gue anterin pulang!" ucap Galang yang masih menenangkan Nikita.


"Naik apa? Gue masih shock nih!" Ucap Nikita dengan melihat sekeliling.


"Tutup mata Lo, dan rasakan sensasinya!" ucap Galang dengan tersenyum kepada Nikita, dan Nikita pun menuruti perintah Galang.


Beberapa menit kemudian Nikita sudah sampai di rumah,lebih tepatnya di dalam kamarnya dan sedang dalam keadaan posisi tertidur di tempat tidur.


"Loh? Kok gye disini sih anjir? Kok bisa yah?" ucap Nikita dengan kebingungan yang melihat dirinya ada di kamar secara tiba tiba.


"Eh, Nikita sayang, kamu udah pulang?" tanya mama Nikita yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Eh mama, Iyah nih ma!" ucap Nikita dengan tersenyum kepada mamanya walau masih bingung kenapa bisa dia ada di dalam kamar.


"Yaudah, ayo makan sore dulu sayang, mama udah siapin makanan kesukaan kamu." ucap mama Nikita dengan tersenyum lalu keluar dari kamarnya.


Nikita pun berjalan menuju lantai bawah untuk makan bersama dengan yang lainnya, beberapa jam kemudian, kini di tempat Galang lebih tepatnya, Galang yang sedang duduk diam di kamar dan sedang bermeditasi tiba tiba saja terbangun dari meditasinya, dan langsung menuju ke dapur untuk menemui mamanya.


"Mama! Galang pergi dulu yah!" ucap Galang dengan meminta ijin kepada mamanya.


"Mau kemana lagi kamu?" tanya mama Galang yang singkat walau sedang memasak.


"Ah, mama mau ke rumah temen nih, boleh yah?" ucap Galang dengan manja kepada mamanya.


"Iyah, boleh, tapi jangan lewat dari jam 11 malam pulangnya, kamu tau kan akibat kalo pulang ke rumah lewat dari jam 11 malam?" kata mama Galang dengan memberikan nasehat kepada Galang.


"Oh, aku tau kok ma, tenang aja." ucap Galang dengan tersenyum kepada mamanya dan mulai keluar rumah.


"Sebentar Galang! Mama mau tanya." Kata mama Galang dengan memberhentikan Galang.


"Kenapa lagi ma?" tanya Galang dengan melihat ke arah mama Galang.


"Kamu ke rumah temen kamu naik apa? Motor? mobil?" tanya mama Galang dengan tersenyum kepada Galang.


"Ah mama! Kayak gatau aja aku gimana, kan pake jurus!" ucap Galang dengan tersenyum kepada mamanya.


"Jangan pake jurus itu! Nanti akan ada bahaya!" ucap mama Galang dengan menasehati Galang agar tidak memakai jurus yang dimaksudkan.


"Udah tenang aja! Dah ah Galang mau pergi dulu! Byeee!!" ucap Galang dengan menghilang secara tiba tiba dari hadapan mamanya.


"Aduh, ada ada ajah tuh anak." Keluh mama Galang dengan menepuk jidatnya.


Pukul 19:00 wib


Sementara itu dengan galang, dia sudah berada di balcon rumah Lauren,dia mengintip Lauren yang sedang belajar di meja belajarnya.


"Lauren, Lauren! Lauren, keluar bentar dong." Jelas Galang dengan berkata pelan dari luar balkon.


"Eh? Ngapain sih Lo anjir! Ganggu orang belajar aja!" ucap Lauren dengan beranjak menuju balkon dan menutup pintunya.


"Yah, malah ditutup anjir! Lauren! Buka dong." ucap Galang dengan mengetuk pintu balkon dari luar.


"Berisik Lo kampret!! Gue lagi belajar!" Bentak Lauren dengan berteriak karena kesal.


"Yaudah, gue pulang dulu yah!" ucap Galang dengan pasrah.


Beberapa menit kemudian suasana di kamar Lauren kembali tenang, tetapi lampu di meja belajarnya mulai berkedip kedip, serta juga lampu kamarnya mulai berkedip kedip tidak jelas, Lauren yang agak ketakutan mulai mengambil pemukul baseball dan membuka pintu balkon, tetapi tidak ada apa apa di balkon tersebut.


"Gak ada apa apa tuh, kenapa mati nyala sendiri?" gumam lauren dengan terus memegang pemukul baseball tersebut.


Dan secara tiba tiba seluruh lampu di rumah Lauren pun mati, Lauren yang masih mencari cari hapenya entah dimana mulai panik karena perasaannya mulai tidak enak, dan seperti ada yang meniupnya di belakang, beberapa menit Lauren menunggu lampu menyala di balkon lantai 2, tetapi lampunya belum juga nyala dan secara tiba tiba saja lampu menyala, pada saat Lauren berbalik ke belakang dua dikagetkan dengan sosok yang muncul tepat di depan wajahnya.


"Waaah!!!! Mati Lo brengsek!!!" ucap Lauren dengan memukul sosok tersebut dengan sangat kencang.


"Adaw!! Tolong! Ampun!!! Gue Galang coy, gue Galang Galang!!!" Teriak Galang dengan meminta ampun Karena di pukul oleh Lauren berkali kali.


"Astaga!! Gue Kira siapa anjir! Lo gapapa?" tanya Lauren dengan memeriksa kondisi Galang dan nampak khawatir.


"Sakit banget kepala gue nih, udah kenceng banget lagi mukulnya!!" Geram Galang dengan mengusap kepalanya yang nampak memar.


"Ah kecil ini mah, belom meninggal ini sih!" Kata Lauren dengan melihat luka yang ada di kepala Galang.


"Sakit tau gak! Lo pikir gak sakit!" Ketus Galang dengan mengelus Elus kepalanya.


"Lagian, siapa suruh Lo ngagetin gue, Gue gapernah takut apapun kecuali orangtua dan yang maha kuasa." ucap Mauren yang kesal dan mulai menjewer telinga Galang dengan sangat kencang.


"Aduh, sakit Lauren! Gue kesini pengen bilang sesuatu ke Lo!" ucap Galang dengan tersenyum kepada Lauren.


"Mau bilang apa? Gausah senyum senyum Lo brengsek!" kata Lauren yang mulai mengangkat kembali pemukul baseballnya.


"Jadi, sebenernya gue pengen ngajak Lo nonton, mau nggak?" ajak Galang dengan tersenyum kepada Lauren.


"Hah? Apa? Ngajak gue nonton?" tanya Lauren dengan melihat ke arah Galang dan nampak serius.