
"Tante mau, kalian menyelidiki siapa yang menyerang dewa." kata Rahel dengan melihat ke mereka semua.
"Hah? Menyelidiki?" Tanya Mauren dengan kebingungan sambil melihat sekeliling.
"Eh bocil, Lo gausah ikut ikutan yah." Ketus Galang dengan melihat ke arah Mauren.
"Apa Lo bilang? Mau gue hantam lo??" Kesal Mauren dengan bersiap untuk menonjok wajah Galang.
"Sudahlah, nanti aja, ini rumah sakit bukan ring tinju." Kata mouse dengan menahan mereka untuk ribut.
"Sudahlah Rahel, jangan buat rencananya disini." Bisik snake Dengan melihat sekeliling, dan Rahel pun mengangguk menandakan bahwa dia mengerti hal tersebut.
"Kenapa emangnya?" Tanya Rahel singkat dengan melirik snake.
"Gue kira Lo mengangguk tandanya ngerti, masa lupa geng halilintar itu siapa?" tanya goat dengan menghampiri Rahel.
"Oh ya, gue paham kok maksud kalian." Jelas Rahel dengan tersenyum kepada mereka semua.
"Om, emangnya geng halilintar itu kayak apa sih?" Tanya Lauren dengan kebingungan dan penuh rasa penasaran.
"Geng halilintar itu, geng paling ditakuti di Indonesia, hampir semua wilayah di Indonesia tujuh puluh persennya itu milik geng halilintar." Jelas Tiger dengan memakan sebuah cilok.
"Yang lain lagi sedih gini, eh dia malah makan cilok! Bagi dong om." kata verrel dengan mengambil sebuah cilok dan memakannya.
Beberapa menit kemudian, dokter pun keluar dengan wajah sangat serius dan mulai menatap mereka semua yang ada disitu.
"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Rahel dengan mendekati dokter tersebut.
"Untungnya tidak mengenai organ vitalnya, sedikit saja pisau tersebut meleset, maka akan terkena ginjalnya, tetapi kami perlu memantau perkembangannya, saya rasa harus di rawat." Jelas dokter tersebut dengan meninggalkan mereka.
"Huh, untunglah Dewa masih hidup." kata verrel dengan menghela nafas lega.
"Tante mau masuk? Perlu saya temenin gak?" tanya Roy dengan tersenyum kepada Rahel.
"Emm, Tante pengen Reyhan ajah yang nemenin Dewa, ayo Nak." Ajak Rahel dengan menarik tangan Reyhan menuju ke dalam ruang UGD.
Di dalam ruang UGD,terlihat dewa yang sedang terbaring lemah dengan infusan di tangannya, Reyhan yang tak tahan melihat itu langsung menutup wajahnya dan menahan air matanya mengalir.
"Lo gausah nutupin Rey, gua tau kok kalo Lo nangis." Kata dewa dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Haha, Lo tau yah ternyata." kata Reyhan dengan mengusap air matanya.
"Nak, gimana keadaan kamu? Masih sakit?" Tanya Rahel dengan mencium kening dewa.
"Duh, perih banget perut dewa ma, semua ini gara gara geng halilintar itu." kata dewa dengan Memegangi perutnya.
"Mereka sudah kembali, dan mama yakin mereka akan terus meneror kita semua termasuk temen temen kamu yang akan jadi korbannya." bisik Rahel dengan memeluk dewa dan meneteskan air mata.
"Mama serius? Kenapa mereka kembali beraksi lagi?" tanya dewa dengan terkejut dan memeluk mamanya.
"Disini tempatnya geng halilintar, jadi lebih baik kita bicarakan saja di rumah." kata Rahel dengan berbisik kepada dewa dan melirik ke arah perawat yang sedang berjaga.
"Dewa, maafin gua tadi ga bisa ngebantu lu ya." Ucap Reyhan dengan menghampiri dewa dan tersenyum.
"Ah Reyhan, kamu itu gak salah nak, jadi jangan menyalahkan diri sendiri nak." kata Rahel dengan tersenyum kepada dewa.
"Reyhan, mana yang lain?" tanya dewa singkat dengan melihat ke arah luar.
"Lagi nunggu di luar tuh, mau gue panggil?" tanya Reyhan dengan tersenyum kepada dewa.
"Gausah, lebih baik Lo semua pulang, gue yakin kalian capek kan??" kata dewa dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Iyah sih, pegel banget tadi ngelawan banyak preman seperti itu." ujar Reyhan seraya tersenyum.
"Yaudah, Tante mau kalian pulang dan berisitirahat, takutnya terjadi hal hal yang lainnya." kata Rahel dengan berjalan ke arah Reyhan.
"Baik Tante, kita akan pulang! Dewa, gua pulang yah, bye!!" ucap Reyhan seraya melambaikan tangannya dan tersenyum.
Reyhan pun keluar dari ruang UGD dan kembali bertemu dengan para teman temannya serta snake dan kawan kawan, Roy yang sedang duduk langsung menghampiri Reyhan dan nampak mulai serius.
"Gimana keadaan dewa sekarang??" tanya Roy dengan wajah khawatir.
"Dia baik baik saja, kita disuruh pulang kata mamanya." kata Reyhan dengan tersenyum kepada mereka semua.
"Iya, lebih baik kita pulang sebelum terjadi sesuatu yang lainnya." kata Galang dengan bangkit berdiri dan mengajak mereka pulang.
"Maksud Lo? Ada apa emangnya??" tanya Willy dengan kebingungan.
"Sudah, lebih baik kita pulang, nanti juga kalian tahu apa yang akan terjadi kalo kita lama lama disini!" kata Galang dengan sangat serius kepada mereka.
"Dewa biar gua yang urus, gua bakalan pindahin dia ke rumah sakit punya sepupu gua." Jelas Roy dengan berjalan menuju administrasi untuk mengajukan surat pemindahan rumah sakit.
"Roy, Lo mau kemana?" tanya Mauren dengan setengah berlari menghampirinya.
"Udah, Lo sama yang lain pulang duluan, biar Dewa gua urus!" kata Roy dengan terus berjalan ke arah administrasi.
"Roy, kalo Lo masih disini, kita bakal nunggu lo, kita akan pulang sama sama, gak ada yang pulangnya sendirian." kata Willy seraya menepuk pundak Roy dan tersenyum.
"Baiklah, gua bakal urus surat pemindahan dulu." kata Roy dengan tersenyum kepada mereka semua.
Roy pun mengurus surat pemindahan pasien, setelah beberapa lama mengurus surat pemindahan, kini saatnya dewa pindah ke rumah sakit milik sepupu Roy dan di rawat disana agar terjamin kualitasnya serta juga terjamin keamanannya.
Kini Reyhan sedang berjalan menuju ke dalam rumah, tetapi dia duduk terlebih dahulu di kursi yang tersedia di teras.
"Aduh, capek banget anjir! Lawan preman segitu banyaknya, gila ah." kata Reyhan yang baru saja duduk di kursi tersebut.
"Hah! Kamu ngelawan preman? Kapan? Kok bisa?" ucap mama Reyhan yang baru saja muncul di belakangnya.
"Eh mama, nggak kok, mungkin mama salah dengar." ucap Reyhan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nggak, wajah kamu luka luka seperti itu, lawan preman yang mana kamu!" kata Judy dengan duduk di samping Reyhan seraya melihat wajah Reyhan.
"Tadi aku lawan geng halilintar, bantui--" ucapan Reyhan terhenti ketika mamanya membekap mulut secara tiba tiba.
"Masuk ke dalam, ada sesuatu yang ganjal disekitar rumah!" ucap Judy dengan memberikan sebuah kode kepada Reyhan dan melihat sekeliling.
Reyhan pun masuk ke dalam bersama dengan mamanya, sedangkan mamanya menutup seluruh pintu dan juga jendela yang ada di rumah dengan sangat rapat agar tidak terdengar siapapun.
"Kenapa ditutup sih ma?" tanya Reyhan kebingungan dengan melihat jendela yang sedang ditutup.
"Kamu gatau berurusan sama siapa! Kenapa kamu bisa lawan mereka!" kata Judy dengan berjalan ke arah Reyhan dan duduk di sampingnya.
"Aku bantuin dewa, karena dia dikeroyok sama geng halilintar." jelas Reyhan sambil tersenyum kepada mamanya.
"Dia dikeroyok pasti ada sebabnya, kenapa dia dikeroyok? Apakah ada yang menyuruh geng Halilintar?" tanya Judy dengan sangat serius.
"Iyah, ada orang bertopeng badut, dan dia pengen membunuh dewa dengan bantuan geng halilintar." jelas Reyhan dengan santai kepada mamanya
"Kalo begitu, kamu harus berhati hati, geng halilintar itu sangat berbahaya, apalagi kalo udah berurusan sama geng halilintar, seluruh keluarga orang tersebut bisa saja dibunuh oleh geng tersebut." jelas Judy dengan sangat serius.
"Lalu? Apakah aku sama teman teman aku bakal di incar sama geng Halilintar?" tanya Reyhan kebingungan.
"Kedua kalinya? Maksud mama?" tanya Reyhan kebingungan.
"Eh, nggak kok, udah kamu tidur ajah besok sekolah, sudah malam ini!" Ucap Judy dengan berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Yaudah, aku tidur dulu deh ma!" kata Reyhan dengan beranjak masuk ke kamarnya dan mulai tidur.
Judy yang tahu sesuatu tentang geng Halilintar langsung masuk ke kamarnya dan mulai melihat papan yang dua sembunyikan dari anak anaknya, dan papan tersebut adalah tentang geng Halilintar yang menyerang kota pada 15 tahun yang lalu dengan sangat brutal.
"Gue rasa ini akan terulang kembali pada generasi Reyhan." Kata Judy dengan melihat papan tersebut dan melihat ke jendela.
Beberapa hari kemudian, lebih tepatnya hari senin.
Reyhan yang sudah dalam keadaan normal, langsung kembali bersekolah Dengan penuh semangat pagi, Reyhan yang sedang berjalan menuju kelasnya, tak sengaja dia bertemu dengan Michael yang sedang merapikan dirinya di cermin.
"Michael! Apa kabar Lo?" kata Reyhan dengan menepuk pundak Michael.
"Jangan sentuh pundak gua!" kata Michael yang secara tak sadar mencengkeram erat kerah Reyhan.
"Wooo! Sabar Michael, jadi orang jangan bar bar." kata Reyhan yang kaget dan mengangkat tangannya.
"Maaf, gua paling gasuka di sentuh pundaknya." ucap Michael dengan beranjak pergi ke kelasnya.
"Yah, gitu amat, aneh dasar!" ucap Reyhan dalam hati sambil terus berjalan menuju ke kelasnya.
Setelah sampai di kelas, suasana kelas nampak sepi karena baru beberapa murid saja yang datang, dan Reyhan merasa kesepian dikarenakan dewa yang sedang dirawat di rumah sakit, Reyhan pun memutuskan untuk keluar dan mencari teman temannya, tetapi teman temannya belum datang juga, dan hanya ada Mauren di kelas 11 IPS 2 pada saat itu, Reyhan pun menghampiri Mauren dan duduk di sampingnya.
"Mauren, Lo sendirian aja nih?" tanya Reyhan yang baru saja duduk di samping Mauren.
"Reyhan? Gimana kemarin? Lo gapapa kan?" tanya Mauren dengan melihat wajah Reyhan yang penuh dengan hansaplas.
"Lo kan kemaren ikut ke rumah sakit coy, kenapa nanyain kabar gua baru sekarang dah?" Kata Reyhan dengan kebingungan.
"Hahaha, lupa kemaren gua." kata Mauren dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Gua rasa kita harus berhati hati nih." ucap Reyhan dengan melihat sekeliling yang nampak sepi dan mendekat dengan Mauren.
"Hati hati? Maksud Lo?" tanya Mauren kebingungan.
"Iyah, dia ada disini, dan gua yakin orang yang nyerang dewa itu kenal sama gua dan yang lainnya." bisik Reyhan kepada Mauren.
"Kalo begitu, orang itu bisa jadi salah satu murid disekolah ini dong?" ucap Mauren dengan mendekat kepada Reyhan.
"Ya, gua rasa kita harus berhati hati disekolah dan dimana pun!" ucap Reyhan dengan berbisik kepada Mauren.
"Kenapa harus hati hati?"tanya Mauren kebingungan.
"Lo pasti akan tahu sendiri apa yang gua maksud." ucap Reyhan dengan tersenyum.
Reyhan pun langsung kembali ke kelasnya, dikarenakan kondisi kelas Mauren mulai banyak orang dan ramai, Reyhan pun langsung menghampiri teman temannya dan mengajaknya ke gazebo untuk mempermasalahkan masalah yang kemarin, kini mereka sudah berada di gazebo dan Reyhan nampak mulai serius kepada mereka.
"Kenapa kita dikumpulin gini? Udah kayak mau rapat konferensi meja bundar aja." ucap Willy kebingungan dan sedikit terkekeh.
"Kita semua harus berhati hati mulai sekarang, inget kan kata om snake?" kata Reyhan dengan melihat mereka.
"Iyah, gua inget kok, menurut Lo siapa orang bertopeng badut itu?" tanya Verrel dengan melirik ke arah Galang.
"Gua belom pulih nih, masih lemes kondisi gua." kata Galang dengan tersenyum kepada mereka semua.
"Baiklah, kalo begitu kita cari tau sendiri pake cara manual." ucap Roy kepada mereka semua.
"Tapi, gimana kita tahu siapa pelakunya kalo gak ada bukti apapun?" tanya Willy kepada mereka semua.
"Gua dan Dewa udah mukulin mereka berdua kemarin, kita lihat saja di sekolah ini siapa yang babak belur berarti dia orangnya." Jelas Reyhan kepada mereka semua.
"Kalo kakak kelas yang babak belur? Tapi dia abis terlibat tauran gimana?" tanya Verrel dengan melihat Reyhan.
"Beda lagi anjir! Masa gatau maksud gua sih!!" kata Reyhan dengan kesal.
"Sebentar, tadi Lo bilang mereka berdua? Maksud Lo siapa?" tanya Roy kebingungan seraya meminum air putih.
"Iyah, jadi kemaren ada 2 orang yang gua lawan sama dewa, yang satu pake topeng badut, lalu yang satu lagi pake topeng badut dan Hoodie orange." jelas Reyhan kepada mereka semua.
"Apa menurut Lo mereka berdua saling bekerja sama?" tanya Galang dengan malas malasan.
"Gue rasa Iyah, kita lihat saja disekolah ini siapa yang pakai Hoodie Hitam dan juga Hoodie orange." jelas Reyhan kepada mereka semua dengan sangat serius.
"Apaan sih? Banyak anjir yang pake Hoodie warna begitu!" kata Willy dengan kesal.
"Terus? Kita perlu bukti yang lain? Tapi apa buktinya?" tanya Roy dengan kebingungan.
"Sudah, lebih baik kita bicarakan saja nanti, dia ada disini, dan gua yakin dia lagi melihat kita entah dimana." kata Reyhan dengan melihat sekeliling yang nampak kosong.
"Intinya perhatikan orang orang disekolah ini siapa yang babak belur, dan penuh luka luka." jelas Roy dengan beranjak pergi ke kelas
"Yaudah, ayo kita balik ke kelas." ajak Verrel kepada mereka semua.
Mereka semua pun kembali ke kelasnya masing masing, tetapi dari kejauhan nampak ada orang bertopeng badut dan berhoodie hitam sedang melihat mereka dari balik pohon mangga tersebut.
"Lihat saja nanti, gua bakalan abisin Lo semua satu persatu!" ucap seseorang berhoodie hitam tersebut.
Kini mereka sudah berada di kelas masing masing, Reyhan yang sedang asik bermain handphone tiba tiba disapa oleh Nikita.
"Reyhan, selamat pagi yah!" sapa Nikita dengan menepuk pundak Reyhan lalu duduk di sampingnya.
"Iyah Nikita, pagi juga yah!" kata Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Dewa mana nih? Kok dia gamasuk? Kenapa nih?" tanya Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Dia abis ditusuk sama seseorang, jadinya dirawat di rumah sakit deh!" jelas Reyhan singkat dengan menundukkan kepalanya.
"Hah? Kok bisa sih? Cerita dong Reyhan." kata Nikita dengan memohon kepada Reyhan agar menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi.
Reyhan pun mulai menceritakan semua kejadian kemarin, dan Nikita nampak terkejut ketika mendengar semua cerita dari Reyhan.
"Gimana keadaan dewa sekarang? Dirawat dimana?" tanya Nikita dengan wajah khawatir.
"Di rumah sakit, nanti mau ikut jenguk gak?" tanya Reyhan kepada Nikita.
"Hmm, boleh deh, gua ajak yang lain juga ya?" tanya Nikita dengan tersenyum.
"Yaudah, jangan rame rame, udah kayak mau tauran aja nanti." kata Reyhan dengan memberikan candaan kepada Nikita.
"Jahat banget sih anjir orang yang lakuin itu." kata Nikita dengan kesal sambil memukul meja.
"Namanya juga haters, dan gua yakin dia ada disini." kata Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Hah? Emang Iyah? Siapa orangnya?" tanya Nikita dengan penasaran.