Reyhan

Reyhan
ep 29



"Hai Nikita, selamat pagi, Lo udah belajar bahasa Indonesia?" Kata Reyhan dengan tersenyum, tetapi tidak dijawab oleh Nikita.


Reyhan terus memperhatikan Nikita, dan dia tidak merespon Reyhan dengan tersenyum atau pun yang lainnya, Nikita maish fokus dengan bukunya, dan dia risih sama reyhan yang selalu memperhatikannya.


"Mau apa Lo?" Ketus Nikita dengan terus melihat Reyhan dan nampak kesal.


"Lu kenapa? Gak kayak biasanya Lo begini?" Tanya Reyhan dengan penasaran kepada Nikita.


"Gue gapapa, dan gue harap Lo jangan ganggu gue lagi!" Ketus Nikita dengan menggebrak meja.


"Kenapa Lo? Gue ada salah apa sama Lo?" Tanya Reyhan dengan kebingungan dan berusaha membujuk Nikita.


"Lo pikir aja salah Lo ada dimana, gue mau belajar buat ulangan nanti!" Tegas Nikita dengan kembali fokus terhadap bukunya.


"Yaudah, maaf ganggu." Kata Reyhan singkat, dan dia pun kembali fokus belajar lagi.


Reyhan pun sudah fokus belajar, dan Nikita juga fokus belajar, beberapa menit kemudian jam bel masuk pun berbunyi, menandakan bahwa Reyhan bersama dengan teman temannya siap untuk mengikuti ulangan bahasa Indonesia, guru pun membagikan selembar kertas jawaban dan juga kertas soal, Reyhan langsung mengisi soal tersebut dengan santai dan penuh ingatan yang kuat akan soal yang diberikan.


Setelah beberapa jam kemudian......


Bel istirahat pun berbunyi, kini Reyhan bersama dengan teman temannya berada di kantin untuk makan bersama, mereka makan dengan santainya hingga Willy yang nampak bosan dengan situasi seperti ini pun membuka pembicaraan.


"Gue bosen gak ada Galang, gak ada lagi yang berisik." Kata Willy dengan menundukkan kepalanya.


"Iyah nih, kita kayak baru kenal aja ga ada obrolan apa apa!" Jelas verrel dengan tersenyum kepada mereka.


"Gini aja, Reyhan, gimana hubungan Lo sama Nikita?" Kata Roy dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Hubungan apaan? Gue ga ada hubungan apa-apa sama dia, cuma temen kok!" Kata Reyhan yang berusaha menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Lo bohong aja, tadi gue liat kayaknya Lo diem dieman sama Nikita, kenapa tuh?" Kata Roy dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Gue gapapa kok, dia lagi gamau diganggu aja." Kata Reyhan dengan tersenyum dan melanjutkan makannya.


"Apa Lo yakin?" Tanya Willy berusaha meyakinkan Reyhan.


"Iyah deh, dia tadi nyuruh gue jauhin dia." Kata Reyhan dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Kok bisa sih?" Tanya verrel dengan penasaran.


"Gatau gue juga, katanya gue suruh introspeksi diri gue, dimana letak kesalahan gue sama dia." Kata Reyhan dengan melihat ke arah mereka semua.


"Astaga, emang Lo kenapa sama dia? Punya salah?" Tanya Roy dengan terkejut.


"Nggak kok, gue aja udah jarang ngobrol sama dia." Kata Reyhan kepada mereka semua.


"Nah, mungkin Lo kesalahannya disitu, jarang ngobrol lagi sama dia!" Ucap Willy yang secara tiba tiba menggebrak meja dengan sangat kencang.


"Anjir lah! Jangan buat gue kaget Napa, jantungan nanti!" Geram verrel dengan kesal kepada Willy.


Sementara itu, dengan Nikita dan teman temannya mereka berada di kursi yang letaknya tak jauh dari tempat Reyhan, hanya 3 tempat saja dari tempat Reyhan, mereka sedang membicarakan tentang Reyhan.


"Eh Nikita, Lo kenapa gak makan?" Tanya Aulia dengan melihat Nikita yang masih memainkan mie instan miliknya.


"Eh, gue gapapa kok, cuma lagi kesel ajah." Kata Nikita yang sadar dari lamunannya.


"Jangan ngelamun Mulu Lo! Nanti kesambet aja!" Kata Shannia kepada Nikita.


"Lo ada masalah apa sama Reyhan? Cerita aja sama kita!" Kata Jessica yang sadar bahwa Nikita memiliki masalah dengan Reyhan.


"Gue tadi gak sengaja bilang ke Reyhan, kalo gue suruh dia ngejauhin gue dan dia kayak gak seneng gitu loh." Ucap Nikita dengan menundukkan kepalanya dan nampak menyesal telah berkata seperti itu terhadap Reyhan.


"Emangnya Lo suka gak sih sama Reyhan?" Tanya Angel secara tiba tiba dengan senyum kepada Nikita.


"Jangan tanya itu dulu anjir!" Kata Jessica dengan menjitak kepala angel dengan sangat keras.


"Gue sebenernya gak tau suka sama dia apa nggak, tapi kalo liat dia jalan sama cewek lain rasanya beda." Kata Nikita dengan nada lembut.


"Rasanya beda? Kayak ada manis manisnya gitu? Ya kan?" Canda zoey dengan tersenyum.


"Beda lagi anjir, itu iklan air mineral!" Kata Jessica dengan menjitak kepala zoey.


"Kenapa Lo bilang ke dia begitu?" Tanya Aulia kebingungan.


"Karena gue mau fokus belajar, agar dapat ranking satu di kelas, ini semua demi beasiswa." Kata Nikita dengan tersenyum kepada mereka.


"Beasiswa Mulu dah, kan orangtua Lo kaya raya, emangnya kenapa dengan orangtua Lo?" Kata Aulia dengan kebingungan.


"Pokoknya gue mau dapet beasiswa, gamau dibayarin sekolah dengan uang orangtua gue, intinya itu!" Kata Nikita dengan mengacak acak rambutnya yang panjang terurai.


"Udah, Lo cukup rajin belajar aja dan terus kerjain pr asalkan perilaku Lo baik, gue yakin Lo bakalan dapet beasiswa!" Kata Jessica dengan memberikan support kepada Nikita.


"Udah sekarang Lo makan aja, gausah mikirin yang lain lain!" Kata Angel dengan menyuapi Nikita.


"Apaan anjir, Lo pikir gue bayi disuapin segala! Biar gue sendiri aja." Kesal Nikita dengan mengambil sendoknya dan memakannya sendiri.


"Oh ya, hubungan Lo gimana sama verrel? Apa baik baik aja?" Tanya Jessica denhan melirik ke arah verrel.


"Astaga, kenapa jadi nyambung ke gue?" Kata zoey dengan kebingungan.


"Jawab aja anjir, banyak nanya Lo kayak wartawan infotainment!" Ketus Nikita yang masih kesal.


"Baik baik aja kok hubungan gue sama dia, paling sebentar lagi gue bakal jadian sama dia." Kata zoey dengan tersenyum ke arah verrel.


"Eh Rizky mana yah? Gue mau liat keadaan dia kayak gimana." Kata Aulia dengan melihat sekeliling.


"Emang Rizky kenapa?" tanya Nikita singkat seraya terus melanjutkan makannya.


"Kemaren abis ribut di sekolah sama Michael, entah apa penyebabnya gue juga gatau." Kata Aulia yang masih terus mencari batang hidung Rizky.


Namun di tengah obrolan mereka, Rizky yang sudah sehat sedang berjalan ke arah nikita, lalu duduk di samping Nikita dengan tersenyum kepada Nikita.


"Lo makan apa? Mau gue suapin kagak?" Tanya Rizky dengan tersenyum kepada Nikita.


"Eh, pas banget ada orangnya nih! Gue mau tanya dong, boleh nggak??" Kata Jessica dengan penasaran.


"Nanya apa nih? Jangan nanya gua kapan balikan sama dia, nanti dia marah." Bisik Rizky dengan melihat ke arah Nikita yang sedang makan.


"Nggak kok, ini soal yang kemarin, kenapa Lo bisa ribut sama Michael?" Kata Jessica di tengah kebisingan kantin, dan seketika kantin menjadi sepi karena pertanyaan tersebut.


"Gue harap Lo gausah tanyain itu lagi, atau Lo akan celaka sama dia." Tegas Rizky dengan serius kepada mereka semua.


"Loh? Kenapa emangnya?" Tanya Angel dengan penasaran terhadap jawaban Rizky barusan.


"Dia itu anaknya ketua geng halilintar, dia bisa panggil pasukan geng Halilintar kapan saja, pokoknya hati hati aja sama dia!" Jelas Rizky dengan berbisik kepada mereka, lalu meninggalkannya.


"Kenapa sih dia? Emang masalahnya apa sih?" Tanya Nikita dengan penuh kebingungan dan melihat sekeliling.


"Lo masa gatau sama kejadian kemarin pagi? Emang Lo gak denger berita, apa?" Tanya Angel dengan mengerutkan dahinya.


"Nggak, emang ada masalah apa?" Tanya Nikita yang masih kebingungan.


"Rizky dan Andre ribut sama Michael, entah sebabnya apaan kita juga belom tahu!" Kata Aulia dengan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Yaudah, gitu doang kan? Gue mau lanjut makan dulu." Kata Nikita dengan melanjutkan kembali makannya.


Reyhan dan juga teman temannya ke rumah Roy untuk menyusun suatu rencana, karena mereka ingin mengetahui siapa orang dibalik topeng badut tersebut yang menyerang dewa, mereka sudah berada di rumah Roy, dan sedang santai, hingga Roy membuka pembicaraan dan mulai serius dengan perkataannya.


"Okeh, jadi gimana rencana kita untuk mengetahui siapa orang yang menyerang Dewa?" Ucap Roy dengan serius dan melihat ke arah mereka.


"Gimana kalo kita coba telusuri lagi tempat itu? Kali aja ada sesuatu yang tertinggal disitu?" Kata verrel dengan mengusulkan hal tersebut.


"Jangan bos! Saya rasa masih sangat berbahaya kalo kesana lagi, karena itu adalah markas kedua geng Halilintar." Sambung Goku yang tiba tiba muncul di belakang Roy dengan membawakan sebuah cemilan dan juga minuman.


"Terus? Kita harus ngapain dong supaya tahu siapa orang tersebut?" Tanya Reyhan dengan penuh kebingungan.


"Gue rasa yang menyerang dewa itu Michael deh, gue yakin itu!" Kata Willy secara tiba tiba dan menduga bahwa yang menyerang dewa itu adalah Michael.


"Apa Lo yakin? Terus yang neror gue juga selama ini siapa?" Tanya Reyhan dengan melirik ke arah Roy.


"Neror? Maksud Lo?" Kata verrel kebingungan dengan melirik ke arah Roy.


"Udah, jangan bahas yang Lo, sekarang kita seharusnya bahas tentang Dewa!" Cegah Roy agar Reyhan tidak membahas masalah yang lalu.


"Kita coba aja tanya si om snake, siapa anak ketua geng halilintar itu?" Ujar Willy dengan tersenyum kepada mereka.


"Masalahnya gue juga gatau dimana si om snake itu, serius deh gue!" Kata Roy dengan meyakinkan mereka.


"Baiklah, kalo begitu kita lihat saja siapa disekolah yang gerak geriknya mencurigakan." Jelas verrel dengan melirik ke arah mereka.


"Gue rasa itu gak cukup deh, karena murid disekolah kan banyak banget!" Kata Willy dengan kebingungan.


"Lalu? Kita harus ngapain?" Tanya Reyhan kebingungan.


"Terpaksa kita harus ke tempat penyerangan tersebut, walau nyawa pun taruhannya!" Jelas Roy dengan memberikan sebuah pisau kepada mereka.


"Ini buat apa? Motong ayam?" Tanya verrel dengan mengambil sebuah pisau besar tersebut.


"Lo aja sana yang motong ayam! Jangan lupa dibikin opor yah!" Kata Willy dengan menepuk pundak verrel dan tertawa.


"Ya, ini senjata buat kita! Kita gabisa dong melindungi diri pake tangan kosong? Maka dari itu gue beli ini pisau!" Jelas Roy dengan memainkan pisau miliknya.


"Serem juga anjir, gede banget nih pisaunya!" Ucap Reyhan dengan bergidik ketakutan.


"Yaudah, ayo kita kesana untuk mencari sebuah bukti." Kata Roy dengan beranjak pergi bersama yang lainnya.


Mereka pun pergi ke tempat kemarin, dimana tempat Dewa diserang oleh geng Halilintar, dengan bekal sebuah pisau di kantong jaket masing-masing, mereka berhati-hati pada saat sudah sampai di tempat tersebut.


"Gue rasa mereka sudah membersihkan tempat ini." Kata Roy dengan melihat sekeliling yang nampak sepi.


"Ke gang yang kemarin, ikut gue." Ajak Reyhan dengan berlari ke arah yang kemarin.


Mereka pun mengikuti Reyhan, dan ternyata di tempat tersebut mereka menemukan sebuah amplop coklat, Reyhan pun mengambil amplop coklat tersebut dan mengintip di dalamnya ada apa, tanpa diduga ternyata itu adalah sebuah uang dengan jumlah yang banyak.


"Astaga, ini uang siapa?" Kata Reyhan dengan terkejut.


"Gue rasa uang dua orang kemarin." Kata verrel dengan ragu-ragu.


"Emang Iyah? Kalo iya, sebaiknya kita simpan sebagai barang bukti." Tegas Willy.


"Baiklah, mungkin ini bisa memberikan kita sebuah petunjuk." Kata Roy dengan mengambil amplop coklat itu dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.


Setelah mendapatkan amplop tersebut mereka pun langsung pergi menuju rumah masing-masing, sementara itu dengan dewa, dia sedang berbaring di rumah sakit dan sedang ditemani oleh mamanya yang bernama Rahel, dewa yang lemas pun sedang di suapi makan oleh mamanya, yaitu semangkuk bubur ayam.


"Ma, kenapa sih geng Halilintar itu muncul lagi?" Tanya dewa secara tiba tiba.


"Mama juga gatau, lagipula siapa orang yang nyerang kamu? Kenapa kamu bisa diserang?" Tanya Rahel dengan melihat ke arah dewa sangat serius.


"Aku juga gatau ma, dia katanya suka sama Lita, nah Lita pada saat itu lagi jalan sama aku, eh diserang di mall."kata dewa dengan nada lemas.


"Kalian sewaktu melawan geng Halilintar itu, apa kalian memakai topeng? Atau penutup muka?" Tanya Rahel dengan sangat serius.


"Nggak ma, kenapa Emangnya?" Kata dewa penuh penasaran.


"Gawat! Teman kamu dalam bahaya!!" Kata Rahel dengan terkejut.


"Bahaya? Apa geng Halilintar itu akan menyerang teman teman aku juga?" Ucap dewa kebingungan dengan melirik ke arah mamanya yang sedang duduk.


"Ya, bila orang yang nyerang kamu itu punya dendam sama teman teman kamu, bisa jadi teman Kamu akan diincar oleh geng halilintar." Jelas Rahel dengan mengusap rambut anaknya.


"Jadi? Teman Teman aku dalam bahaya dong?" Tanya dewa yang masih bingung.


"Ya, dan percayalah kejadian tahun dua ribu tiga akan terulang untuk kedua kalinya!" Kata Rahel dengan melihat keluar jendela.


"Maksud mama? Akan ada korban lagi Seperti kerusuhan geng Halilintar pada tahun dua ribu tiga?" Tebak dewa dengan asal dan tersenyum.


"Ya, dan teman teman kamu yang akan jadi korban!" Kata Rahel dengan melihat sebuah foto ayahnya.


"Aku rasa aku harus memberi tahu ini sama teman teman aku." Kata dewa dengan berusaha bangkit berdiri.


"Sudah, tidak usah! Nanti akan ada orang yang nguping kalo mereka semua kesini!" Kata Rahel dengan melirik ke arah luar jendela.


"Kenapa mama melirik keluar jendela?" Tanya dewa dengan penuh Kebingungan.


"Ada salah satu geng Halilintar yang menjadi mata mata, dan dia ada disini mama bisa merasakan itu!" Kata Rahel dengan berjalan ke arah jendela, lalu membuka gordennya, dan tidak ada apa apa.


"Ma, udah mama gausah ladenin, biarkan saja dia." cegah dewa agar mamanya tidak bertindak lebih.


"Percayalah, kamu harus berhati hati, ingat itu!" Ucap Rahel dengan tersenyum kepada dewa.


Sementara itu, michael sedang bersantai di markas geng halilintar, dan dia mulai menyusun sebuah rencana agar rencana yang dia buat itu berjalan dengan lancar, dari luar Pintu datanglah seseorang itu, dan menghampiri Michael yang sedang menulis rencana.


"Nih, mainan baru, dicoba pas lawan mereka yah!" Kata orang tersebut dengan memberikan sebuah jaket berlogo petir.


"Ini doang? Gak guna ini! Yang saya butuhkan adalah senjata mematikan yang dapat membunuh mereka!" Kata Michael dengan melempar jaket tersebut.


"Kalo mau senjata, ya jelas kita punya dong, ini itu turun temurun dari keturunan ke satu sampai dengan keturunan ketujuh yaitu kamu!" Kata orang tersebut dengan memberikan sebuah golok berlogo petir, dan di golok tersebut sudah ada bercak darah yang baru, dan juga ada bercak darah lama di golok tersebut.


"Kamu habis bunuh orang semalam?" Tanya Michael singkat dengan melirik ke arah orang yang duduk di sampingnya.


"Iyah nih, kita kan udah lama banget gak beraksi, berusaha sembunyi dari polisi walau polisi juga takut sama kita!" Kata orang tersebut dengan tersenyum ke arahnya.


"Kamu bisa bantu saya? Tolong Suruh mata mata kamu, cari tahu tentang Reyhan dan teman temannya, siapa musuh abadi di keluarga mereka, bagaimana?" Tantang michael dengan tersenyum kepada orang yang duduk di sampingnya seraya memainkan golok tersebut.


"Baiklah, kami akan bangkitkan lagi tim mata mata dari geng halilintar!" Kata orang tersebut dengan tersenyum.


"Ini fotonya, usahakan jangan sampai ketahuan, apapun caranya!" Kata Michael dengan memberikan seluruh foto Reyhan dan teman temannya kepada orang tersebut, dan dia hanya tersenyum saja.


"Baiklah, kita akan selalu membantu kamu!" Kata orang tersebut dengan tersenyum ketika melihat foto mereka.


"Haha, lihat saja Dewa, gue akan bunuh Lo sampe ke akarnya." Kata Michael dengan tertawa dan melepas topengnya lalu menonjok dinding yang sudah retak tersebut.


Sementara itu dengan mama Reyhan, yaitu Judy, dia sedang memasak dan tiba tiba saja ada telepon dari seseorang yang tidak dia kenal, Judy pun mengangkat telepon itu, namun tidak ada jawaban apa apa dari orang yang menelepon, tapi hanya ada deru nafas dari penelepon tersebut.


"Snake? Apa ini Lo?" Tanya Judy dengan nada pelan.


"Hai Judy, gue mau ketemu sama Lo, soal geng halilintar!" Kata snake Dengan nada lembut.