
"Gatau nih gue, coba aja Lo teleponin." jelas Mauren dengan Tersenyum kepada Roy.
"Lo beneran suka sama Rizky?" tanya Roy secara Tiba-tiba yang membuat Mauren kaget.
"Kenapa Lo tiba-tiba nanyain itu?" tanya Mauren dengan melihat ke arah Roy.
"Tanpa alasan Lo ngajak dia, biasanya nggak tuh, biar makin Deket?" jelas Roy dengan serius kepada Mauren.
"Mungkin aja sih, haha." jelas Mauren yang kemudian terkekeh.
"Apa dia juga suka sama Lo?" tanya Roy dengan serius kepada Mauren.
"Roy, biarkan gue yang nentuin siapa yang akan jadi pacar gue, walau Lo kakak gue, Lo gak berhak untuk menentukan siapa yang akan jadi pacar gue." Jelas Mauren dengan serius dan menggenggam tangan Roy.
"Kenapa? Ini semua demi kebaikan Lo, gue mau lo ke jalan yang benar, bukan yang gak benar." Jelas Roy dengan memegang pipi Mauren.
"Jadi? Maksud Lo apa? Rizky itu gak benar?" tanya Mauren dengan kesal.
"Bukan itu maksud gue, Lo harus sadar mana yang baik dan yang benar, karena Rizky sudah neror Reyhan pada waktu itu, jadi --" ucap Roy dengan serius, belum sempat dia menyelesaikan perkataannya, Mauren langsung memotong kata katanya.
"Cukup Roy, gue rasa Rizky itu baik buat gue, jadi jangan menghalangi gue untuk pacaran sama dia." Potong Mauren dengan kesal dan cemberut di hadapan Roy.
"Jangan ngambek gitu dong adek kesayangan gue, gue gak akan menghalangi Lo kok." jelas Roy dengan mencubit pipi Mauren gemas.
"Ah Lo Roy, bisa aja deh kalo ngebujuk gue." jelas Mauren dengan sedikit tersenyum.
"Aduh, udah jam 7 nih! Mana yah yang lainnya?" kata Roy dengan Melihat jam tangannya.
Lalu terdengarlah suara motor yang masuk ke pekarangan rumah Roy, ternyata itu adalah Rizky dan kawan-kawan serta juga Reyhan dan kawan-kawan, mereka sudah berada di halaman rumah Roy dengan perlengkapannya masing-masing, kini mereka turun dan berkumpul bersama yang lainnnya.
"Ayo dong! Kita langsung berangkat!" Seru Reyhan yang baru saja datang.
"Nanti dulu! Ngebet banget pengen ke puncak? Tuan putri aja belom Dateng." kata Dewa dengan melihat sekeliling.
"Oh iya, orang spesial buat Roy belom Dateng nih." kata Willy dengan menepuk Jidatnya.
"Roy, Lo gak jemput dia di rumahnya?" tanya verrel dengan tersenyum kepada Roy yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Astaga!! Gue lupa jemput dia dong!" jelas Roy dengan menepuk jidatnya.
"Gausah Roy, gue udah datang sama yang lainnya." Jelas Aulia yang baru saja datang bersama dengan teman temannya.
"Udah lengkap belom?" tanya Roy dengan menggunakan toa yang cukup besar, dan berusaha memastikan mereka lengkap semuanya.
"Gue rasa udah Roy, kita langsung berangkat aja, atau gimana?" jelas Galang dengan melihat sekeliling.
"Baiklah, ayo kita langsung berangkat! Semuanya masuk!" jelas Roy dengan menggunakan toa dan menyuruh mereka untuk masuk ke dalam bis.
Semua pun masuk satu persatu, dan Roy sudah mengabsen mereka satu persatu layaknya seorang guru, tetapi tersisa Jessica yang belum ada, Roy pun memutuskan untuk keluar dan mencarinya disekitar halaman rumah Roy, dia pun melihat Jessica sedang membuat sesuatu dari batu kecil.
"Jessica! Lo ngapain?" tanya Roy dengan mendekati Jessica yang sedang sibuk.
"Gue lagi buat senjata, untuk jaga jaga disana." Jelas Jessica dengan masih fokus untuk membuat beberapa senjata lagi.
"Sudahlah Jessica, kita mau liburan bukan mau melawan mereka lagi." Jelas Roy dengan menghela napas panjang
"Kita mau ke puncak daerah mana? Coba gue liat lokasinya?" tanya Jessica dengan meminta handphone Roy, dan Roy pun memberikan Alamat villa yang akan mereka gunakan untuk liburan.
"Ini lokasinya, Lo coba cek ada geng yang berbahaya gak disitu." Jelas Roy dengan memberikan suatu alamat kepada Jessica.
"Hmm, kalo gak salah ini tuh daerah geng angin puyuh." Jelas Jessica dengan bangkit berdiri dan kembali memberikan Handphone tersebut ke roy.
"Gak bahaya kan? Yaudah ayo kita berangkat, nanti keburu macet." ajak Roy dengan beranjak pergi dari hadapan Jessica, tetapi dia ditahan oleh Jessica.
"Lo gak tau mereka siapa? Mereka adalah salah satu mata mata geng itu." jelas Jessica dengan berbisik kepada Roy.
"Tapi, Michael sudah dipenjarakan, dan geng Halilintar juga tidak akan melakukan itu lagi, gue yakin kok." Jelas Roy dengan sangat serius dan menatap Jessica.
"Apa Lo yakin? Apa lo udah tahu siapa geng halilintar itu yang sebenarnya?" Tanya Jessica dengan sangat serius.
"Roy, lama banget sih, keburu lapar nih gue." kata Reyhan yang datang secara tiba tiba dan mengagetkan mereka berdua.
"Reyhan, gue yakin mama Lo pasti bilang sesuatu ke Lo tentang geng Halilintar itu!" Jelas Jessica dengan menghampiri Reyhan dan berbisik kepada Reyhan.
"Kita mau liburan, ayolah! Jangan Bahas itu lagi!" Bentak Reyhan dengan Kesal dan berusaha untuk tidak membicarakan masalah tersebut.
"Gue yakin, geng halilintar itu sedang merencanakan sesuatu, percayalah sama gue." Jelas Jessica dengan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam bis.
"Sudahlah, kita mau liburan, bukan mau melawan mereka lagi!" Jelas Reyhan dengan kesal dan pergi meninggalkan Roy.
"Mungkin ini akan berguna, sebaiknya gue simpan di bagasi bus." kata Roy dengan mengambil beberapa senjata yang dirancang oleh Jessica, dan memasukkannya kedalam bagasi bus.
Setelah Roy memasukkan barang yang dirancang oleh Jessica ke dalam bagasi bus, dia pun langsung masuk ke dalam bus dan berseru dengan tersenyum kepada mereka semua.
"Siap berangkat ke puncak??!!" Seru Roy dengan mengangkat tangannya.
"Puncak! Kami datang!!!" Teriak mereka semua dengan semangat untuk ke puncak.
"Baik pak, berangkat!!" Kata Roy dengan Memberikan arahan kepada sopir bus tersebut.
Sopir bus pun mengendarai bus tersebut menuju puncak, dan Roy pun duduk di samping Dewa dengan mendengarkan musik di earphone milik dewa.
"Lo gak deketin dia?" Tanya dewa dengan memberikan sebuah kode kepada Roy.
"Gamau ah, gue malu nih." Kata Roy dengan tersenyum kepada dewa.
"Malu kenapa? Gimana Lo mau pacaran coba? Kalo misalnya Lo itu masih malu-malu kayak anak kecil." Ledek Dewa dengan sedikit terkekeh.
"Nah, benar juga yang dibilang Dewa, Lo harus berani deketin dia! Kalo bisa pegang tangannya." Jelas Galang yang menyambar layaknya tiang listrik.
"Gamau ah, gue masih malu." Jelas Roy dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Kapan Lo bisa pacaran kalo Lo malu-malu terus? Sini ikut gue." Jelas Reyhan dengan kesal, dan menarik tangan Roy ke arah tempat duduk Aulia yang berada di belakang.
Mereka berdua pun berjalan menuju tempat duduk Aulia, dan disana Aulia sedang duduk bersama dengan Shannia, Reyhan pun tersenyum kepada Shannia dan Aulia.
"Shannia, pindah Lo, biar Roy disini sama Aulia." jelas Reyhan dengan memberikan sebuah kode kepada Shannia agar pindah tempat duduk.
"Di depan gue ada yang kosong, cepet pindah." Paksa Reyhan dengan memberikan sebuah kode lagi kepada Shannia.
"Oh gue paham, yaudah Aulia gue pindah dulu ya ke depan." jelas Shannia dengan Tersenyum kepada Aulia.
"Nah Roy, Lo duduk disitu!" Suruh Reyhan dengan memaksa Roy agar duduk di samping Aulia, Roy pun terpaksa melakukannya, dan Reyhan langsung pergi ke tempat duduknya lagi.
"Kenapa Lo Roy? Kayaknya kok gugup banget?" tanya Aulia dengan memandang Roy yang sedang mematung dalam diam.
"Gue-gue-gue gapapa kok, Lo mau cemilan gak?" tanya Roy dengan gugup dan mengambil sebuah kantong plastik besar di tas miliknya.
"Mau dong, kayaknya bakalan enak nih." Seru Aulia dengan Tersenyum kepada Roy.
"Lo udah sarapan belom?" tanya Roy dengan tersenyum kepada Aulia.
"Kayaknya belom nih." Jelas Aulia dengan memberikan sebuah kode kepada Roy.
"Lo makan ini, tadi asisten rumah tangga gue ngebuatin buat gue." Jelas Roy dengan memberikan sebuah roti.
"Wah, kayaknya enak nih!" seru Aulia dengan mengambil roti tersebut dan mencicipinya.
Aulia pun mencicipi makanan tersebut, setelah mencicipi dia langsung memakannya dengan lahap, semua pun bergembira di dalam bus, ada yang bernyanyi, ada yang bermain kartu, dan bahkan ada yang tidur karena tidak kuat perjalanan jauh.
beberapa jam kemudian, perjalanan yang cukup menyenangkan di dalam bus pun berakhir, kini mereka sudah sampai di villa yang dimaksud, tepatnya berada di halaman villa yang cukup luas, semua pun keluar dari dalam bis dan mereka disambut oleh beberapa penjaga villa yang nampak sempurna di mata mereka.
"Akhirnya tuan muda Roy datang juga, tuan mau langsung ke villa atau bagaimana?" sapa salah seorang penjaga villa yang cukup tinggi itu.
"Jangan panggil gue seperti itu, Lo semua sudah menyiapkan beberapa kamar untuk kita?" tanya Roy dengan menunjuk teman temannya.
"Sudah Roy, mereka bisa melihat lihat dulu dimana mereka akan tidur dan beristirahat." jelas penjaga villa perempuan muda.
"Rizky, yang cewek tuh, Boleh juga yah." Bisik Alucard dengan melihat ke arah penjaga villa yang wanita.
"Ah, Lo cewek Mulu dah." Ketus Mauren dengan menyikut lengan Alucard.
"Teman teman! Kalian mau langsung masuk ke kamar atau gimana?" tanya Roy dengan berseru kepada mereka semua.
"Kamar dulu dong! Kita lihat interior kamar yang bakal kita tempatin." Jelas Reyhan dengan tersenyum kepada Roy.
"Yaudah, ayo kita ke kamar dulu." Jelas Roy dengan beranjak pergi bersama dengan yang lainnya, mengikuti arah penjaga villa itu.
Mereka pun berjalan ke arah villa yang akan mereka tempati selama beberapa Minggu, dan mereka sudah tiba di depan villa yang dinamakan villa mawar putih, penjaga villa tersebut pun menunjukkan kamar itu satu persatu kepada mereka, dan di tempat villa mawar ada enam kamar juga, dan disuguhkan dengan Pemandangan alam yang cukup indah.
"Wah, gue rasa ini cocok buat kita nih!" Seru Rizky dengan melirik ke arah teman temannya.
"Gue mau disini dong! Temenin gue yuk." ajak Mauren dengan memberikan sebuah kode kepada teman temannya.
"Oh iya, paham gue kalo kesitunya." Jelas Shinta dengan menggoda Mauren.
"Diam Lo! Gausah banyak bacot!" Bentak Mauren dengan sinis kepada Shinta.
"Yaudah, kita ke tempat yang lain dulu ya, hati hati disitu." Jelas Roy dengan mengikuti kembali penjaga villa yang akan menunjukkan villa lainnya.
Roy dan yang lainnya pun mengikuti penjaga villa tersebut, dan mereka sudah berada di halaman villa yang dinamakan villa anggrek bulan, penjaga villa itu pun menunjukkan beberapa kamar yang cukup bagus dan cukup nyaman di dalam rumah yang nampak asri dan sederhana itu, dan kebetulan di rumah tersebut ada enam kamar, yang akan mereka tempati.
"Wah, pas banget nih buat kita semua!" Seru Roy dengan tersenyum bahagia.
"Iyah nih, pemandangannya juga indah banget!" Jelas Aulia dengan melihat sekeliling yang begitu indah baginya.
"Capek nih, masih jam dua siang nih, gue tidur dulu." kata Galang dengan tersenyum, lalu masuk ke dalam salah satu kamar dan merebahkan tubuhnya.
"Saatnya tidur dulu! Hahaha!" Seru Roy dengan menguap dan masuk ke dalam kamar, tetapi ditahan oleh Nikita.
"Temenin gue yuk? Tadi kayaknya gue lihat ada taman yang cukup menarik untuk jadi tempat foto!" Seru Nikita dengan menarik tangan Reyhan.
"Sebentar dulu, gue naro tas dulu dong!" tahan Reyhan dengan masuk ke dalam kamarnya dan melemparkan tasnya sembarangan.
"Ini peta di villa ini, jangan sampai tersasar ya!" kata salah satu seorang penjaga itu dengan memberikan sebuah peta.
"Pake peta segala kang? Emang seberapa luas tempat ini?" Tanya Dewa dengan kebingungan.
"Ini itu villa punya saudara gue, kalo gak salah luasnya sekitar lima hektar lebih." Jelas Roy dengan Tersenyum kepada mereka semua.
"Bukan, tapi tujuh hektar!" Bantah penjaga Villa yang ketiga itu.
"Wah, luas juga ya? Kira-kira fasilitas disini ada apa aja?" Tanya Willy yang nampak penasaran.
"Ini daftar fasilitas yang ada disini, cukup banyak dan saya yakin kalian akan betah disini." Jelas penjaga villa wanita tersebut dengan memberikan selebaran fasilitas di villa tersebut.
"Pak, coba bapak kasih peta dan jumlah fasilitas ini ke teman teman saya yang ada di villa mawar putih." Jelas Roy dengan Tersenyum kepada mereka semua, dan penjaga villa itu pun langsung melakukan hal tersebut.
"Wah, ada tempat karaoke nih, ada dimana pak?" Tanya Angel dengan Tersenyum lebar ke arah penjaga villa yang satu lagi.
"Ada di dekat rumah singgah kita, disana cukup menarik dan seru, saya yakin kalian akan suka disana." Jelas penjaga villa tersebut dengan Tersenyum.
"Reyhan, ini tempat yang gue maksud, ayo ikut gue." Seru Nikita dengan menundukkan sebuah spot foto menarik yang ada di selebaran tersebut.
"Iyah, sabar dulu dong!" kata Reyhan yang mengikuti arah Nikita berjalan.
Reyhan pun mengikuti Nikita berjalan, dan setelah beberapa saat mereka berjalan, kini mereka sudah berada di suatu spot foto yang cukup menarik bagi Nikita, Nikita pun berjalan ke arah spot foto tersebut dan berdiri.
"Fotoin gue ya Reyhan!" Seru Nikita dengan bergaya layaknya seorang model.
"Udah nih, Lo liat aja!" Kata Reyhan dengan memberikan handphone Nikita dan sedikit terkekeh.
"Apa apaan Lo??! Kok Foto setengah badan sih? Lo pikir ini foto KTP apa?!!" Kesal Nikita, lalu mencubit pinggang Reyhan.
"Hahaha, maaf deh maaf, jangan dicubit terus dong." Ampun Reyhan kepada Nikita yang masih mencubitnya.
"Eh, ada kebun binatang mini loh disini, lihat deh." Seru Nikita dengan menunjuk sebuah kebun binatang yang ada diselebaran Tersebut.
"Waduh, gue gamau ah, pokoknya gue gamau!" Jelas Reyhan dengan beranjak pergi meninggalkan Nikita, tetapi Nikita mengejarnya dan tersenyum.
"Kenapa gamau? Emang ada apa?" Tanya Nikita dengan memberikan senyuman manisnya.