
Sementara itu dengan Reyhan, dia sedang bersantai santai di luar rumah, dan tiba tiba saja datang sebuah kertas yang jatuh di halaman rumahnya, Reyhan pun mulai berjalan ke arah surat itu dan mengambil surat itu.
"Apaan nih?" tanya Reyhan dengan melihat surat yang dilapisi dengan koran, lalu mengambilnya.
Reyhan pun berjalan ke arah tempat duduk yang ada, dan mulai membaca surat itu dengan Sangat serius, dan Reyhan pun tertawa karena isi surat tersebut.
"Hahaha, ada ada aja dah, ngapain coba neror gue segala." Gumam Reyhan dengan tertawa melihat surat yang dia baca.
"Dih, dia malah ketawa, lihat aja lu bakalan celaka kalo udah berurusan sama Rizky." kata Anto dengan melihat Reyhan dari kejauhan dan tersenyum rasa ingin membunuh.
Pada keesokan harinya, hari Sabtu dimana sekolah libur
Tepatnya di taman dekat komplek perumahan Nikita, kini dia sedang menunggu seseorang untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat serius, dan setelah beberapa menit menunggu seseorang itu pun datang dan menghampiri Nikita, lalu menyapanya dengan senyumannya yang manis.
"Lama banget Lo, gue udah nungguin daritadi nih!" Bentak Nikita dengan menatap tajam ke arah Rizky yang baru saja datang.
"Sorry ya, tadi di jalan macet banget." ucap Rizky dengan duduk di samping Nikita dan tersenyum kepadanya.
"Halah! Alasan klasik ketika seseorang terlambat datang." Geram Nikita dengan memalingkan wajahnya dari Rizky.
"Hehehe, maaf, Lo mau beli eskrim gak?" Kata Rizky dengan menawarkan eskrim kepada Nikita.
"Hmm, boleh deh, gue mau yang rasa coklat yah." kata Nikita dengan tersenyum dan melihat ke arah kanan.
"Sebentar yah, gue beliin dulu." Ucap Rizky dengan pergi dari hadapan Nikita, untuk membeli eskrim, setelah selesai membeli eskrim Rizky pun kembali lagi dan memberikan eskrim itu kepada Nikita.
"Nih, Lo makan cepetan, nanti keburu cair." ucap Rizky dengan memberikan eskrim kepada Nikita yang sedang duduk menikmati angin sejuk di taman.

"Waw!! Ini kan eskrim kesukaan gue makasih ya Rizky." kata Nikita dengan mengambil eskrimnya dan tersenyum kepada Rizky yang sedang berdiri di hadapannya.
"Anginnya sejuk yah, seperti di puncak." ucap Rizky dengan menikmati angin yang berhembus kencang namun sejuk.
"Pala kau dipuncak! Kita kan lagi di Tangerang, gimana sih Lo!" Geram Nikita sambil menjitak kepala Rizky dengan sangat kencang.
"Ah Lo, dari dulu sampe sekarang, kebiasaan yah masih sering menjitak kepala orang ketika kesal." kata Rizky dengan tersenyum dan melirik ke arah Nikita yang sedang memakan eskrim tersebut.
"Udah deh, gausah membahas masalalu, kalau masa lalu biarlah berlalu." kata Nikita dengan Sedikit tersenyum.
"Oh ya, gimana eskrimnya? Enak gak?" tanya Rizky dengan melirik ke arah Nikita yang sedang memakan eskrimnya dengan lahap.
"Hmm, enak kok enak." ucap Nikita dengan tersenyum manis kepada Rizky.
"Oh ya, sebenernya ada yang pengen gue omongin, ini soal ajakan gue kemaren." kata Rizky dengan menundukkan kepala dan mulai memegang tangan kiri Nikita.
"Jangan Lo pegang pegang tangan gue lagi!!" Teriak Nikita yang tadinya lemah lembut menjadi agak Ganas.
"Iyah, maaf, jadi apa jawabannya?" kata Rizky sambil terus menatap Nikita dengan sangat serius.
"Yah, gue mau aja nonton sama lu, tapi dengan satu syarat!!" kata Nikita sambil berdirimenyentuh hidung Rizky dengan jarinya.
"Apa syaratnya! Gue bakalan lakuin apapun demi lu, demi balikan lagi sama--" kata-kata Rizky terpotong karena Nikita yang secara tiba tiba menutup mulut Rizky.
"Ga ada kata balikan diantara kita! Gue mau nonton sama Lo, karena gw merasa gaenak harus nolak ajakan orang, dan gue menghargai lo karena Lo udah ngajak gw." jelas Nikita dengan sangat jelas yang membuat Rizky terdiam sejenak.
"Emang, kenapa Lo gamau balikan sama gue lagi?" tanya Rizky dengan serius dan mulai kesal.
"Karena, Lo udah bohongin gue secara bertubi-tubi, itu membuat gue gabisa memberikan Lo kesempatan walau hanya sekali saja!" Bentak Nikita sevara tegas dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Oh, jadi gara-gara itu lu ganau balikan lagi sama gue Jadi bukan gara-gara ada orang baru yang lebih asik mampir ke kehidupan Lo?" tanya Rizky yang perlahan lahan mulai beranjak dari tempat duduk dan menjauhi Nikita.
"Bukan, bukan itu, gue udah jelaskan tadi, apa kurang jelas?" Ketus Nikita dengan menundukkan kepalanya.
"Udah cukup! Jangan bahas masalah ini lagi, sebenernya gue ngajak lu kemari karena gue minta jawaban lu yang kemaren." kata Rizky dengan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas masalalu.
"Hmm, syaratnya adalah lo jangan makan Pete atau pun jengkol selama seminggu, gimana? Sanggup gak?" ujar Nikita dengan memberikan Rizky sebuah syarat.
"Hah? Ke-ke-kenapa? Kenapa gaboleh?" tanya Rizky dengan kecewa dan mulai menundukkan kepalanya.
"Lo masa ga Inget waktu ulang tahun gue?" tanya Nikita dengan judes dan mulai membuang muka kepada Rizky yang sedang duduk di sampingnya.
"Nggak tuh, emang kenapa? "tanya Rizky yang seolah olah tidak tahu apa apa.
"Lo waktu itu ngajak gue nonton di bioskop, dan lu pada saat sebelum nonton bioskop Lo malah makan nasi goreng Pete, nah lu kentut deh di dalem bioskop, yang menyebabkan seluruh ruangan menjadi bau karena kentut Lo! Itu membuat gue malu tau gak!!" Kesal Nikita sambil menjewer telinga Rizky dengan sangat kencang.
"Aduh! Sakit kampret!!" kata Rizky dengan berusaha melepaskan tangan Nikita dari telinganya.
"Makanya, jadi orang jangan kebiasaan kentut sembarangan!!!" ucap Nikita dengan bangkit berdiri untuk membuang tisue dari eskrim tersebut.
"Kalo gue kentut bilang-bilang, nanti Lo semua kabur!!" Kata Rizky dengan mengusap usap telinganya.
"Hahaha, itu doang kok syaratnya, sanggup gak?" ucap Nikita dengan tersenyum kepada Rizky yang sedang kesakitan.
"Hmm, sanggup kok, apa sih yang nggak buat Lo!!" kata Rizky dengan berkedip kepada Nikita yang sedang berdiri.
"Hilih, gombal banget Lo, jijik gue lama-lama!!" kata Nikita dengan kesal dan melempar botol plastik ke Rizky.
"Jih, Lo pikir gue pemulung dikasih botol?" kata Rizky dengan nada kesal dan mengambil botol itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
Mereka pun saling bercanda ria,tetapi dari kejauhan ada tukang bakmie ayam yang biasa mangkal disitu dan ternyata disitu ada salah satu bodyguard andalan Roy, dia pun memotret foto Nikita yang sedang duduk bercanda dengan rizky, lalu menelepon Roy untuk melaporkan kejadian tersebut.
"Halo bos Roy, saya udah dapet bukti nih." ucap Jaka, sang bodyguard andalan Roy yang memiliki badan atletis dan jago dalam meretas sistem komunikasi.
"Hmm, baiklah, terima kasih pak, kalo ada info info terbaru lagi tolong kasih tau saya." ucap Roy lewat telepon dan menutupnya kembali.
Roy pun langsung melihat foto tersebut yang kini sudah ada di dalam laptopnya, dia melihat foto itu dan terus memperhatikannya dengan sangat teliti, dan itu adalah Rizky yang sedang bercanda ria dengan Nikita.
"Hmm, sebenernya Rizky ini siapanya Nikita? Gue harus cari tahu ini sih." gumam Roy dengan terus memperhatikan foto tersebut.
Di lain tempat, dengan dewa, dia sedang menemani lita membeli novel Di suatu mall, namun pada saat menemani mereka berdua sedang berjalan dewa tak sengaja bertemu dengan verrel di tempat yang sama.
"Lah? Lo ngapain disini?" tanya Verrel yang terkejut ketika melihat dewa berjalan sambil melihat lihat buku novel yang ada.
"Lah, Lo sendiri ngapain?" tanya dewa sambil tersenyum kepada verrel.
"Yeh, gue nanya malah nanya balik dong, maunya apa coba?" kata Verrel dengan menepuk jidatnya.
"Hahaha, gue disini nemenin Lita beli novel, Lo sendiri ngapain?" jelas dewa dengan melihat sekeliling.
"Gue juga nemenin Zoey beli Novel nih." ucap Verrel dengan melihat sekeliling.
"Asik, kayaknya bentar lagi bakal ada yang jadian nih!! Hahaha!" goda dewa dengan menepuk pundak verrel dan tertawa.
"Gue sentil nih jakun Lo! Sembarangan ajah!" kata verrel dengan bersiap untuk menyentil jakun dewa dengan sangat keras.
"Yeh, gue jotos nih mata Lo kalo Lo berani!!"ucap dewa sambil mengarahkan kedua jarinya tepat di depan mata Verrel.
"Hahaha, bercanda kok, kok Lo bisa sih mau jalan lagi sama si Lita?" tanya Verrel dengan berbisik di telinga dewa.
"Yah, gitu deh, gue harus hargain perasaan seseorang, walaupun dia udah nyakitin gue berkali kali di masa lalu." ucap dewa dengan menundukkan kepala seakan akan bersedih.
"Yaelah lo! Galau-galau amat sih! Mending kayak gue, ganteng tapi jomblo, hahaha!!" kata verrel dengan tertawa bersama dengan dewa.
"Lo bilang jomblo, kalo Lo pacaran sama zoey, gue minta pajak jadian paling gede, hahaha." ucap dewa dengan menggoda Verrel.
"Yeh, bisa aja Lo kampret!, Oh ya Emangnya Lo balikan lagi sama Lita?" tanya Verrel dengan melihat sekeliling, dan situasi pun aman.
"Nggak sih, gue ga akan pernah mau balikan lagi sama dia, kalo temenan gue mau." ucap dewa dengan memilih novel yang terpajang disana.
"Eh? Lo serius? Trus gimana nasib dia tuh?" tanya Verrel dengan melirik ke arah belakang.
"Loh? Verrel lu ngapain disini?" tanya Lita yang sekarang sudah ada di samping Dewa.
"Gue mau membajak sawah nih, Lo mau ikut?" Gurau Verrel sambil tersenyum kepada Lita.
"Astaga, membajak sawah kan di sawah, bukan disini, disini tuh tempat orang beli buku!" Kata Lita dengan pura pura tidak tahu dan seolah olah mengelabui Verrel.
"Ya gue kesini pengen beli buku lah! Lo pikir gue bajak sawah beneran!!" Geram Verrel dengan kesal dan menepuk jidatnya.
"Hahahaha, gue cuma bercanda doang kok, tapi tumben amat Lo ke Gramedia buat beli novel? Bukannya Lo ga biasa beli novel?" tanya Lita dengan melihat sekeliling yang mulai Ramai dengan para pengunjung.
"Yeh, dia disini ga beli buku, dia kesini nemenin calon pacarnya beli buku, hahaha!" goda dewa dengan mengangkat kedua alisnya.
"Sialan lu kampret! Calon pacar apanya coba!!" ucap Verrel dengan lantang dan kesal.
"Verrel, ke kasir yuk, gue udah selesai beli novelnya nih" ajak zoey yang baru saja datang dan berdiri di samping Verrel.
"Yaudah, suka-suka lu pada dah, gue duluan yah dewa, bye!!" ucap Verrel dengan menepuk pundak dewa dan tersenyum kepada dewa.
"Gimana? Lo udah dapetin novel yang Lo pengen?" tanya dewa dengan melirik ke arah buku yang cukup banyak di genggaman tangan Lita.
"Udah kok, ayo kita ke kasir." ajak Lita dengan tersenyum manis dan menggandeng tangan dewa menuju ke kasir.
"Maaf, jangan gandeng tangan gue, Lo udah jadi mantan, jadi maaf yah." kata dewa dengan menepis tangan Lita yang hendak menggandengnya, dan itu membuat Lita cemberut dan berjalan sendiri ke kasir.
Setelah membayar buku buku novel yang dibeli, kini Lita dan dewa sudah berada di solaria, mereka makan dulu sejenak setelah berkeliling mencari buku yang cukup banyak, pada saat makan bersama, tiba tiba saja handphone dewa berbunyi dan itu adalah telepon dari Roy.
"Eh, sebentar yah gue mau angkat telepon dulu, ini penting banget." ucap dewa dengan beranjak menjauh dari lita yang sedang makan.
"Oh, yaudah gapapa kok." kata Lita dengan tersenyum dan berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Halo, Roy, kenapa?" tanya dewa dengan mengangkat teleponnya, dan mulai berbicara serius.
"Lo ke rumah ghe sekarang, kira-kira bisa gak?" tanya Roy yang masih mengotak Atik laptop miliknya.
"Emangnya ada info terbaru apa?" tanya dewa yang kini mulai serius dan melihat ke arah Lita yang sedang makan.
"Emang Lo lagi dimana?" tanya Roy dengan penasaran.
"Gue lagi jalan sama Lita, emangnya kenapa?" Kata dewa dengan melirik ke arah Lita dan tersenyum.
"Widih! Lo balikan lagi?" tanya Roy dengan penuh penasaran.
"Kagak! Kembali ke topik, ada apa emangnya?" kata dewa yang berusaha mengalihkan pembicaraan agar kembali lagi ke topik yang semula.
"Ah, gajadi lah, gue gamau ganggu quality time lu sama Lita, selamat quality time! Hahaha!!" kata Roy yang langsung menutup teleponnya dan tertawa.
"Jih nih anak, maunya apa coba?" ucap dewa dengan kesal dan kembali lagi ke kursinya untuk makan bersama dengan Lita.
"Kenapa tuh? Ada apa?" tanya Lita dengan penuh penasaran sambil melirik ke arah handphone milik dewa.
"Ah, nggak kok, biasa lah Roy pengen ngajak main PS 4!" kata dewa dengan tersenyum dan melanjutkan makannya.
"Oh ya, Lo kalo ulang tahun mau hadiah apa?" kata Lita dengan tersenyum kepada dewa yang sedang melahap makanannya.
"Emangnya kenapa? Lo mau ngasih gue hadiah?" Kata dewa dengan tersenyum seakan akan mengajaknya untuk bercanda.
"Yah, gue nanya doang sih, kalo hadiahnya ya mahal sih gje mau beliin, kalo mahal gue gamau, hahaha!"kata Lita dengan memperhatikan sekeliling ruangan yang ada dan tertawa.
"Gue sih pengennya sepatu baru, kan enak tuh punya sepatu baru." kata dewa dengan berkedip ke arah Lita yang sedang makan.
"Hahaha, kayaknya kode banget nih minta dibeliin sepatu baru,"kata Lita dengan tertawa dan tersenyum ke arah dewa.
"Hahaha! Nggak kok gue bercanda doang!!" kata dewa sambil tersenyum kepada Lita yang sedang makan.
"Hmm, kalo balikan mau nggak?" tanya Lita dengan memegang tangan dewa dan tersenyum, itu membuat tersedak makanan yang dia makan, Lita pun segera memberikan dewa minum.
"Haduh, untung gak mati." kata dewa dengan menghela nafas lega.
"Hehe, maaf yah udah buat lu keselek, gue emang bukan cewek yang baik buat Lo, gue emang--" Kata Lita dengan menundukkan kepala, dan kata katanya terpotong karena dewa yang menutup mulut Lita.
"Lo ga boleh merendahkan diri seperti itu, gue menerima Lo apa adanya, Lo itu cantiknya beda dari yang lain." kata dewa dengan memberikan penjelasan kepada Lita yang sedang di tutup mulutnya.
"Ja-ja-ja- jadi? Gue masih ada kesempatan buat balikan sama Lo?" tanya Lita dengan gugup dan melihat ke arahnya sedikit.
"Kalo Lo mau balikan sama gue, Lo pertahankan gue, dan jangan sampai Lo mengulangi kesalahan yang sama." jelas dewa dengan terus menatap Lita sangat jelas.
"I-i-i-ya, gue, a-a-akan mempertahankan hubungan ini sama Lo." kata Lita dengan sangat gugup dan tersenyum kepada dewa.
"Gue udah kasih Lo kesempatan buat deketin gue lagi, kalo Lo melakukan kesalahan sekali lagi, gue ga akan memberikan kesempatan itu lagi, ingat kesempatan ga datang dua kali." Jelas dewa dengan meminum jus jeruk miliknya
"Jadi? Lo memberikan gue kesempatan untuk balikan lagi sama Lo?"tanya Lita dengan menatap wajah dewa sangat serius.
"Ya, sekiranya begitu." kata dewa dengan mengangkat kedua bahunya.
"Asik! Makasih ya dewa!!" kata Lita dengan menggenggam tangan dewa.
Lalu ada telepon lagi dari Roy, dan Kini sangat penting dan serius.
"Halo, dewa lu segera ke rumah gue sekarang!" kata Roy dengan berteriak di telepon.
"Berisik kampret! Gausah teriak, yaudah gue ke rumah Lo sekarang!!" kata dewa dengan menjauhkan handphone miliknya.
"Kenapa, dewa?" tanya Lita dengan melihat ke arah dewa yang sedang bersiap siap.
"Gue duluan yah, makanan ini biar gue aja yang bayar, gue lagi buru-buru, sorry ya!" kata dewa dengan merapikan barang barangnya dan beranjak pergi meninggalkan Lita.
"Iyah, tenang aja, gapapa kok." ucap Lita dengan tersenyum terpaksa kepada dewa.
Dewa pun pergi meninggalkan Lita sendirian di solaria, sementara itu dengan dewa setelah beberapa menit melakukan perjalanan dia kini sudah berada di halaman rumah Roy, dan dia berjalan masuk ke dalam untuk menemui Roy.
"Roy! Ada apa, kok kayaknya tadi darurat banget?" yanya dewa dengan duduk disampingnya roy Yang sedang duduk.
"Lo harus lihat ini, ini kan Rizky, kenapa dia bisa begitu akrab sama Nikita?" kata Roy dengan memberikan foto itu kepada dewa yang sedang duduk dan meminum jus buah punya Roy.
"Hmm, gue juga gatau nih, tapi kayaknya Nikita seneng banget yah sama dia, apa mereka pacaran?" tanya Dewa dengan melirik ke arah Roy.
"Lo nanya gue, gue nanya siapa dong?" tanya Roy dengan melihat ke arah dewa yang sedang meminum jus buah miliknya.
"Gue tau kita harus nanya ke siapa!" ucap dewa dengan tersenyum ke arah Roy.
Semetara itu dengan Lita, kini dia sedang berjalan sendirian di mall setelah makan siang, dia habis nangis di tempat Solaria tadi karena ditinggal sama dewa, namun pada saat sedang berjalan dia bertabrakan dengan seseorang, dan itu adalah Michael.
"Eh, Lo gapapa?" kata Michael yang berusaha membangkitkan Lita yang sedang terjatuh.
"Eh? Michael? Lo ngapain disini?" tanya Lita dengan melihat ke arah Michael.
"Gue lagi nyari sepatu futsal, Lo kenapa? Kok nangis?" tanya Michael dengan melihat wajah Lita yang sembab.
"Gue nggak nangis kok, hehehe!" kata Lita dengan menyembunyikan kesedihannya dengan tertawa.
"Udah, gausah bohong sama gue, cerita aja sama gue, kenapa sih?" ucap Michael dengan membujuknya untuk menceritakan yang sebenernya.
"Gue ditinggal sama dewa, padahal lagi enak enaknya makan eh dia malah ninggalin gue gitu aja." ucap Lita dengan tertunduk dan mulai meneteskan air mata.
"Sssst, udah lu gausah nangis, ikut gue yuk kita beli eskrim." ajak Michael dengan menggenggam tangan Lita dan membawa Lita ke tempat eskrim untuk membeli eskrim.
Setelah beberapa menit kemudian, kini Lita dan Michael sedang duduk bersama di kursi dan menikmati eskrim yang dia beli tadi.
"Udah, gausah sedih lagi ya." Kata Michael dengan tersenyum kepada Lita yang masih bengong.
"Hehe, makasih ya udah menghibur gue." ucap Lita dengan tersenyum manis kepada Michael yang sedang menikmati eskrimnya.
"Oh ya, Lo emang abis ngapain sama dewa?" tanya Michael dengan melirik ke arah Lita yang sedang menikmati eskrimnya

"emm, gue abis beli novel sama dia," ucap lita yang masih menikmati eskrimnya itu.
"Hmm, begitu ya, emang Lo udah balikan sama dewa?" tanya Michael dengan penuh penasaran.
"Dih, kepo amat Lo, hahahaha!" kata Lita dengan tertawa dan mencolek pipi Michael.
"Hahaha, yaudah gue cuma nanya doang." ucap Michael dengan tersenyum dan terus memperhatikan Lita yang sedang memakan eskrimnya.
Lalu tiba tiba saja ada nada handphone berdering, dan itu adalah telepon dari Mauren, Lita pun langsung segera mengangkat teleponnya dan menjauh dari Michael.
"Kenapa Lo nelpon gue?" tanya Lita dengan mengangkat telepon dari Mauren.
"Gue butuh bantuan Lo, teror dia sekarang juga!" ucap Mauren dengan tersenyum di hadapan Lauren dan juga Milea.
"Hah? Lo serius? Gue harus apa nih?" tanya Lita dengan penuh penasaran.
"Sebaiknya Lo beli boneka yang seram, dan letakkan itu di rumah Nikita, lalu tempelkan tulisan: jauhkan Reyhan atau Lo akan celaka!" ucap Mauren dengan tersenyum sinis di hadapan mereka berdua.
"Hmm, baiklah akan gue lakukan, tapi gantiin yah uangnya!" kata Lita dengan tersenyum.
"Yaelah, nanti gue gantiin, tenang aja" kata Mauren dengan menggebrak meja di rumahnya.
"Hehe, saatnya gue beraksi!" ucap Lita dengan menutup telepon miliknya dan mulai memakai Hoodie yang sedari tadi dia pakai.