Reyhan

Reyhan
ep 55



"Hahaha, canda Nikita jangan kelitikin gue." Canda Reyhan dengan tertawa.


Nikita pun langsung menghampiri Reyhan dan mengelitiki Reyhan, hingga membuat mereka berdua jatuh terguling dan membuat Nikita berada di posisi atas Reyhan, yang membuat mereka berdua saling berpandangan satu sama lain.


"Ehem, pagi-pagi udah main aja, nanti malem aja sih." Kata Verrel yang baru saja keluar dari kamar mandi dan berdehem.


"Eh? Maaf Nikita, jadi jatoh kan." Kata Reyhan dengan duduk dan langsung kembali ke posisi semula.


"Hahaha, keciduk lagi berduaan tuh." Ledek Verrel dengan tertawa melihat mereka berdua salah tingkah.


"Sialan Lo, bukannya bilang kalo mau keluar dari kamar mandi." Ketus Nikita yang nampak mukanya masih merah tomat, karena malu.


"Udah Verrel, pake baju aja lu Sono." Suruh Reyhan kepada Verrel.


"Hahaha, gue paham kok kesitunya mah." Kata verrel dengan berjalan menuju lantai dua.


"Mandi dulu sono, Verrel udah selesai mandi tuh." Suruh Reyhan dengan melihat ke belakang.


"Yaudah, gue mandi dulu yah." Kata Nikita dengan mengecup pipi Reyhan, lalu pergi ke kamar mandi.


"Waduh, udah dikasih kecupan aja nih." Batin Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.


"Kenapa Lo Reyhan? Kok senyum-senyum sendiri?" Tanya Roy yang datang dari belakang rumah.


"Ah, nggak kok, gimana sama Aulia?" Tanya Reyhan kepada Roy.


"Dia masih tidur tuh, kebo banget dong anjir." Kata Roy kepada Reyhan.


"Badan gue sakit banget sih, kemaren malem ngelawan orang segitu banyaknya." Jelas Reyhan dengan meregangkan ototnya.


"Gue rasa kita memang harus waspada nih." Ucap Roy kepada Reyhan.


"Apa Michael udah keluar dan kabur dari penjara?" Tanya Reyhan dengan Penuh kecurigaan.


"Nggak, dia belom keluar dari penjara sama sekali, tapi dia udah memberikan semua rencana yang dia buat kepada guntur." Jelas Jessica yang berada di belakang mereka berdua.


"Apa? Jadi orang yang menyerang kita kemarin itu, orang suruhan Guntur?" Kata Reyhan dengan terkejut.


"Ya, yang jelas kita jangan pernah keluar dari villa ini, kalo kita keluar dari villa, gue yakin kita akan terus diincar." Jelas Jessica kepada mereka berdua.


"Kita coba lihat keadaan akang Bobi yuk, dia baik-baik aja atau gimana." Ajak Roy dengan menarik Reyhan.


"Eh iya coy, Bobi dan Siti kan kemaren pingsan, Gatau kenapa sebabnya." Jelas Reyhan dengan menepuk jidat.


"Yaudah ayo, kita liat dia, gue takut dia kenapa-napa." Ajak Roy dengan menarik Reyhan.


Reyhan dan Roy pun langsung menuju klinik, untuk melihat Bobi dan Siti, mereka berdua pun masuk ke dalam dan melihat Bobi sedang terbaring lemas dikarenakan efek obat tidur kemarin.


"Bob, kenapa Lo?" Tanya Roy kepada Bobi.


"Gue rasa gue keracunan, atau bakso itu dicampur sama obat bius?" Tanya Bobi dengan melihat Roy sangat serius.


"Apa Lo tahu siapa sebenarnya mereka? Kenapa mereka mau membunuh kita?" Tanya Reyhan dengan Banyak pertanyaan.


"Gue rasa kalian kesini membawa sesuatu yang membuat mereka ingin membunuh kalian." Jelas Siti kepada mereka berdua.


"Bawa sesuatu? Maksudnya?" Tanya Roy dengan kebingungan.


"Entahlah, coba saja kalian periksa satu persatu, takutnya ada alat pelacak." Suruh Siti Dengan Tersenyum kepada mereka.


"Alat pelacak apanya? Gak ada." Kata Reyhan dengan kebingungan.


"Apa kalian sebelumnya terlibat dengan geng seperti itu?" Tanya Bobi dengan serius kepada mereka berdua.


"Ya, sebelumnya kita telah melawan geng Halilintar untuk menolong Dewa." Jelas Roy kepada Bobi.


"Itu yang menjadi masalah, apakah kalian pada saat melawan geng Halilintar itu pakai topeng?" Tanya Siti yang kini sudah dalam keadaan duduk.


"Kita pakai, tapi Michael mengenali kita semua." Jelas Reyhan.


"Michael? Dia udah beraksi lagi ternyata?" Kata Bobi dengan melihat ke arah Siti.


"Kenapa dia mengincar kalian? Apakah kalian punya masalah dengan Michael?" Tanya Bobi dengan Serius kepada mereka berdua.


"Gue punya masalah sama dia, padahal gue cuma jalan biasa sama Lita, tapi dia gak terima." Jelas Dewa yang baru saja datang.


"Apakah Lo sekarang masih dekat sama Lita?" Tanya Siti kepada Dewa.


"Gue udah nggak deketin dia lagi, tapi kenapa Michael masih saja mengincar gue dan teman teman gue?" Kata dewa kebingungan dengan melihat mereka berdua.


"Apa dia pernah bilang sesuatu kepada kalian semua?" Tanya Bobi dengan serius.


"Dia katanya pengen membunuh kita semua, entah apa penyebabnya." Jelas Reyhan.


"Bila salah satu anggota geng Halilintar bilang seperti itu, nyawa kalian akan Terus terancam oleh geng Halilintar." Jelas Siti kepada mereka.


"Gawat, kita harus apa nih?" Tanya Roy kebingungan.


"Kita harus cepat pulang Dari sini, gimana?" Usul dewa dengan melihat mereka berdua.


"Kalian pulang, kalian dalam bahaya, kalian disini dalam bahaya juga." Jelas Siti kepada mereka bertiga.


"Serba salah dong, kesal gue lama lama." Geram Reyhan dengan mengepalkan tangannya.


"Jadi? Kita harus apa om?" Tanya Roy kepada Bobi.


"Kalian harus tetap disini, sampai situasi aman di depan sana." Perintah Siti kepada mereka semua dengan serius.


"Sialan, padahal tadinya kita disini mau senang-senang, tapi hasilnya? Kita malah terjebak di villa ini gak bisa kemana-mana dan diserang oleh geng suruhan Michael." Oceh Reyhan dengan kesal dan keluar dari ruangan tersebut.


"Reyhan, Lo mau kemana?" Tanya Roy kepada Reyhan.


"Gue mau ke rumah, pengen tidur aja lah." Kata Reyhan dengan berjalan ke arah villa rumah.


Reyhan pun masuk ke dalam villa rumah, dan disana nampak Nikita sedang bersantai menikmati teh dan juga biskuit di ruang tamu dengan menonton tv, Reyhan pun duduk di samping Nikita dengan tersenyum.


"Gimana nih? Lo udah mandi?" Tanya Reyhan dengan melihat Nikita.


"Ya jelas udah dong, cium nih rambut gue." Kata Nikita dengan menyodorkan kepalanya kepada Reyhan.


"Hmm, wangi banget, pake shampo apa nih?" Kata Reyhan dengan mencium rambut Nikita yang wangi apel.


"Ada deh, biasa selebgram dapet endorse shampo." Kata Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan.


"Mana nih yang lain? Masa cuma kita doang di rumah ini?" Tanya Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.


"Gue rasa mereka kecapean gara-gara kemarin." Jelas Nikita.


"Iyah sih, gue rasa mereka kelelahan karena udah melawan geng suruhan Michael." Kata Reyhan kepada Nikita dengan serius.


"Geng suruhan Michael? Apa Michael udah kabur dari penjara?" Tanya Nikita dengan kebingungan.


"Gue rasa nggak, tapi dia memberikan sebuah rencana kepada Guntur, ketua geng Halilintar." Kata Reyhan dengan serius kepada Nikita.


"Kalo kayak gitu, gue rasa kita dalam bahaya, kita harus keluar dari villa ini." Kata Nikita dengan menatap Reyhan sangat serius.


"Nggak sayang, kita jangan keluar, kita tunggu situasi aman dulu di luar sana." Kata Reyhan dengan melihat Nikita, dan memegang pipi Nikita.


"Gimana caranya kita melihat situasi aman, kalo kita nggak keluar dari villa ini." Kata Nikita dengan kebingungan.


"Aku tahu siapa orang yang tepat untuk mengetahui hal ini." Kata Reyhan dengan Tersenyum, lalu melihat ke Galang yang sedang makan di ruang makan.


"Kenapa Lo liatin gue? Jangan homo yah." Kata Galang dengan kebingungan dan bergidik ketakutan.


"Gue mau Lo liat situasi di depan." Suruh Nikita dengan berjalan ke arah Galang.


"Gue rasa jangan, ada sesuatu yang harus gue urus." Kata Galang dengan merapikan piringnya dan menuju belakang rumah, tetapi ditahan oleh Reyhan.


"Lo mau kemana? Gue mau Lo periksa keadaan di luar, apakah aman atau tidak." Suruh Reyhan dengan memaksa Galang.


"Jangan paksa gue, kalo Lo paksa gue, gue gak akan bantu Lo." Kata Galang dengan melirik Reyhan sangat sinis.


Reyhan pun melepaskan genggamannya pada Galang, dan membiarkan Galang pergi begitu saja, Reyhan langsung kembali duduk di sofa dan melanjutkan nonton tv bersama dengan Nikita, Reyhan merasa nyaman berada di dekat Nikita, dan Reyhan mulai merangkul Nikita secara perlahan, Nikita yang paham dengan Reyhan langsung mendekat dengan Reyhan dan bersandar di pundak Reyhan.


"Gue ngantuk, bosen juga kalo kita liburan gini, tapi nggak kemana-mana gitu." Kata Nikita dengan menggenggam tangan Reyhan.


"Kalo kita gak terlibat dengan geng Halilintar, gue yakin kita akan liburan layaknya orang normal, huuft andaikan saja itu bisa terjadi." Jelas Reyhan dengan menghela nafas panjang.


"Mungkin untung buat dia adalah sebuah kepuasan, bisa saja dia psikopat." Jelas Dewa yang berada di belakang mereka.


"Lo ngapain? Sejak kapan disitu?" Tanya Reyhan kepada Dewa.


"Gue baru aja, gue mendengar percakapan kalian, maafin gue yah karena ulah gue kita gabisa liburan yang menyenangkan, malah selalu ada masalah." Kata Dewa dengan Tersenyum kepada Reyhan.


"Apaan sih Lo, bukan salah Lo kok, ini semua itu adalah salah Michael." Jelas Nikita kepada Dewa.


"Udah, Lo gausah merasa bersalah, lagipula Lo gak salah apa-apa tuh." Kata Reyhan dengan menepuk pundak Dewa.


"Gue rasa yang perempuan harus diajarkan beladiri deh." Kata Roy yang baru saja masuk ke dalam.


"Hah? Diajarin beladiri buat apa?" Tanya Nikita dengan bangkit berdiri.


"Buat ngelawan para preman suruhan Michael, takutnya dia menyerang disaat kalian sedang sendirian, gimana?" Jelas Roy dengan mengangkat bahunya.


"Yaudah, gue sih mau aja, karena itu kan buat melindungi diri gue juga pada saat sedang sendirian." Jelas Nikita dengan menyetujui Roy.


"Bukannya Lo bisa beladiri? Waktu itu aja lo bantu gue pada saat kita diserang sama geng Halilintar di jalan." Kata Reyhan dengan mengerutkan dahinya.


"Gue cuma bisa nonjok sama nendang doang, jadi gue harus belajar beladiri yang lainnya." Jelas Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan.


"Najis Maruk banget Lo jadi orang." Ledek Dewa dengan. Sedikit tersenyum.


"Suka-suka gue lah, gue ini yang mau belajar Beladiri, bukan lo." Ketus Nikita dengan kesal.


"Tapi Nikita, aku akan selalu menemani kamu kapanpun itu." Kata Reyhan dengan menatap Nikita.


"Aduh, adegan delapan belas plus, keluar yuk ah." Ajak Roy dengan terkekeh melihat Reyhan.


"Gue jotos baru tau rasa Lo." Jelas Reyhan dengan kesal.


"Udah Reyhan, sekarang kita keluar aja, ga enak kalo berduaan doang di dalem." Ajak Nikita dengan menggenggam tangan Reyhan.


"Kata siapa Lo berduaan doang? Gue sama Willy daritadi di halaman belakang." Kata Shinta dengan masuk bersama Willy.


"Ngapain Lo di halaman belakang? Hahaha." Ledek Reyhan dengan Tertawa.


"Gue sama Shinta lagi mempersiapkan sesuatu agar kita bisa selamat dari geng suruhan Michael itu." Jelas Willy dengan menunjukkan kantong plastik berwarna hitam kepada mereka berdua.


"Isinya apaan tuh? Kayaknya gue penasaran." Kata Reyhan dengan penasaran Dan hendak membuka kantong tersebut, tetapi di tahan oleh Shinta.


"Jangan disentuh! Ini punya gue, dan gue harap gak ada orang satu pun yang tahu isi ini apaan selain gue dan Willy." Jelas Shinta dengan menahan tangan Reyhan.


"Ini mau ditaruh dimana? Berat banget dong." Kata Willy dengan menyeret kantong plastik tersebut.


"Ikut gue, gue tau tempat yang cocok untuk naro peralatan ini." Ajak Shinta dengan jalan duluan, dan diikuti oleh Willy.


"Gue penasaran, isinya apaan." Kata Reyhan dengan penasaran.


"Udah yuk, kita keluar aja, di dalam mulu, gue bosen." Ajak Nikita dengan menarik tangan Reyhan, dan Reyhan hanya mengikuti Nikita.


"Kita mau kemana sih? Bosen anjir gue liburan gak kemana mana." Keluh Reyhan dengan melihat sekeliling villa.


"Reyhan Sini, jangan pacaran Mulu!" Panggil Roy dari kejauhan.


Reyhan pun berjalan bersama dengan Nikita dan menghampiri Roy yang sedang duduk di depan rumah penjaga villa tersebut, Reyhan dan Nikita pun ikut duduk di samping Roy.


"Ada apaan sih?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Gue rasa kita butuh bantuan dia." Kata Roy dengan melihat seorang penjaga villa berbadan kekar tersebut.


"Bantuan? Bantuan buat apa?" Tanya Reyhan kebingungan.


"Bantuan untuk mengajarkan mereka yang tidak bisa beladiri, menjadi bisa beladiri." Jelas Roy.


"Hmm, boleh juga tuh." Kata Reyhan dengan menganggukkan kepalanya.


"Pak, ajarin kita beladiri dong, bisa gak?" Tanya Roy dengan Tersenyum manis kepada bapak tersebut, dan bapak tersebut hanya mengerutkan dahinya.


"Hah? Beladiri? Sejak kapan Lo mau beladiri Roy?" Kata Doni dengan terkekeh.


"Lah? Gue bisa beladiri pak, tapi maksud gue ajarin yang perempuan tuh." Kata Roy dengan Tersenyum kepada Doni.


"Yang perempuan? Emang mau ngapain ngajarin anak perempuan beladiri?" Tanya Doni dengan kebingungan.


"Kita mau mereka bisa menjaga diri ketika ada geng Halilintar yang menyerang mereka." Jelas Roy.


"Udah gila Lo Roy, jangan main main deh sama geng Halilintar." Kata Doni dengan terkekeh.


"Tapi pak, kita serius, kita udah terlibat sama geng halilintar." Jelas Reyhan dengan mendekati Roy.


"Udah terlihat? Maksud Lo?" Tanya Doni dengan kebingungan dan nampak serius.


"Iyah, kita sudah pernah melawan geng halilintar." Jelas Roy dengan melipat kedua tangannya.


"Kalo kalian sudah berurusan dengan geng Halilintar, gue yakin kalian seumur hidup gak akan bisa tenang." Jelas Doni.


"Kenapa gak bisa tenang?" Tanya Nikita dengan kebingungan


"Karena, bila geng Halilintar sudah melihat wajah kalian, mereka tidak akan menyerah gitu aja sampai kalian semua terbunuh." Jelas Doni dengan serius kepada mereka semua.


"Lalu om? Kita harus apa nih?" Tanya Nikita dengan kebingungan.


"Kalo memang kalian mau belajar beladiri dari saya, kalian juga harus bantu saya." Jelas Doni dengan memberikan persyaratan.


"Hah? Bantu apaan nih om?" Tanya Roy dengan kebingungan.


"Bantu jagain villa ini, karena kalian tinggal disini selama beberapa Minggu ke depan, dan gue yakin bahwa villa ini juga dalam bahaya." Jelas Doni dengan serius.


"Baiklah om, kami akan membantu menjaga villa ini sebisa kami." Jelas Reyhan dengan Tersenyum.


"Panggil mereka, biar gue ajarkan." Suruh Doni dengan mengisap rokoknya.


Reyhan pun memanggil semua teman wanitanya, setelah beberapa menit memanggil kini mereka semua sudah berkumpul di depan rumah penjaga villa tersebut, kini Doni sudah nampak mulai serius dan akan mengajar mereka salah satu beladiri yang terkenal, yaitu Wushu.


"Hahaha, kalo Wushu gue udah tahu." Tawa Mauren dengan maju ke depan dan Tersenyum.


"Kamu udah jago Wushu? Coba lawan saya sini." Tantang Doni dengan Tersenyum kepada Mauren.


"Baiklah, siapa takut." Seru Mauren dengan mengambil ancang-ancang.


Kini mereka berdua saling beradu jurus, Mauren yang semangat langsung menyerang Doni secara berkali-kali, tetapi dia menahan serangan Mauren, dan kini giliran Doni yang menyerang, Mauren juga pada akhirnya jatuh tersungkur ketika mendapat serangan mematikan dari Doni.


"Udah gila om, sakit perut gue." Rintih Mauren dengan memegangi perutnya.


"Baiklah, tidak usah berlama-lama lagi, gue pengen ngasih makan bebek nih." Kata Doni dengan mengambil ancang-ancang.


Kini mereka semua diajarkan secara perlahan satu persatu jurusnya, walau ada beberapa yang sudah paham dengan jenis beladiri, tetapi masih diajarkan agar menjadi lebih kuat ke depannya dan bisa melindungi dirinya.


Beberapa jam kemudian, kini sudah pukul 06:00, semua sedang duduk di lapangan, dan nampak berkeringat serta juga kecapean karena seharian penuh mereka latihan Wushu.


"Gimana? Capek kan?" Tanya Roy dengan Tersenyum kepada mereka semua.


"Udah, gue udah capek banget, seharian penuh latihan terus." Keluh Santi dengan meregangkan tubuhnya.


"Lagipula, ini semua juga demi menjaga diri kalian masing-masing jika dalam bahaya." Jelas Dewa yang baru saja datang.


"Yaudah, sekarang kalian semua kembali ke rumah, daripada pingsan disini." Suruh Roy dengan terkekeh melihat mereka semua.


"Roy, gendong aku." Kata Aulia dengan nada manjanya dan merentangkan tangannya.


"Iyah, sini gue Gendong sampe kamar." Kata Roy dengan jongkok di hadapan Aulia, dan bersiap untuk menggendong Aulia.


"Wah, ngapain tuh di Gendong sampe kamar?" Canda Reyhan dengan tersenyum bersama Dewa.


"Diam Lo berdua, udah Lo semua mending pulang, terus mandi dan tidur." Suruh Roy dengan tegas kepada mereka semua.


Roy pun jongkok di hadapan Aulia, tetapi Aulia masih menatap Roy dengan senyuman manisnya, dan Roy juga tersenyum kepada Aulia.


"Bukan di belakang gendongnya, gue mau di depan." Kata Aulia dengan nada manja.


"Gendong di depan? Apa Lo serius?" Tanya Roy dengan mengusap rambut Aulia.