Reyhan

Reyhan
ep 57



Mereka semua pun berangkat menuju mall yang cukup besar di daerah puncak, ternyata Snake sudah hapal jalanan puncsk, dimana tempat wisata yang cocok, dimana tempat beli oleh-oleh, dan masih banyak lagi, kini mereka sudah berada di parkiran mall tersebut, semua keluar dari mobil dan Roy nampak Tersenyum melihat sekeliling.


"Kenapa lo Roy?" Tanya Andre dengan menepuk pundak Roy.


"Akhirnya, setelah beberapa lama, gue bisa ke mall juga, bisa merasakan nikmatnya area mall." Jelas Roy dengan memandang sekitar.


"Yaelah, orang kaya mah beda deh, yaudah yuk masuk." Ajak Reyhan dengan beranjak masuk.


"Om snake, kalian tunggu sini yah, ini kalo ada apa-apa hubungin aja gue." Kata Roy seraya memberikan sebuah handphone kepada mereka.


"Widih, handphone baru nih, akhirnya." Kata snake Dengan Tersenyum kegirangan.


Kini mereka semua pun masuk ke dalam mall tersebut, Roy yang sudah lama tidak masuk ke dalam mall akhirnya dia kembali lagi masuk ke dalam mall, semua melihat mall yang cukup besar tersebut.


"Okeh, saatnya kita berpencar mencari barang yang diperlukan." Jelas Roy dengan Tersenyum kepada mereka.


"Apa kembang api ada di mall ini?" Tanya lauren dengan kebingungan.


"Gue yakin ada, beli yang tiga ratus ribu, Puas deh kalo beli yang itu." Kata Roy dengan Tersenyum kepada Galang.


"Udah gila Lo, itu kan petasan yang habisnya kalo udah dua jam kemudian." Kata Galang dengan menggelengkan kepalanya.


"Okeh, gaperlu berlama-lama lagi, langsung aja mencar." Perintah Roy dengan tegas kepada mereka, seketika mereka pun langsung berpencar mencari barang-barang yang dibutuhkan.


Sementara itu dengan kelompok Roy, mereka semua sudah berada  di toko bulan, yaitu toko yang dimana banyak sekali barang-barang elektronik dan juga peralatan rumah yang bagus kualitasnya serta mahal, Roy bersama yang lainnya memilih panggangan untuk memanggang makanan nanti malam.


"Yang mana yah yang bagus?" Tanya Reyhan dengan melihat panggangan tersebut.


"Yang paling mahal itu, adalah yang paling bagus, kita coba cari panggangan yang paling mahal." Perintah Roy dengan tegas.


"Pala Lo meledak, mahal belom tentu kualitasnya bagus, nih yang ini gue yakin kualitasnya bagus banget." Seru Shannia dengan menunjuk ke arah panggangan di sampingnya.


"Ah masa sih? Emang Lo pernah beli?" Tanya Reyhan dengan sedikit tidak percaya.


"Justru papa gue jualan sosis bakar di rumah, pake panggangan yang ini, awet sampe sekarang." Jelas Shannia dengan Tersenyum kepada mereka semua.


"Apa Lo yakin? Kalo jelek gimana?" Tanya Aulia.


"Kalo jelek, ya tinggal beli lagi aja, kan Roy punya banyak uang." Jelas Zoey dengan terkekeh.


"Lebih baik kita cepat, ambil aja yang menurut Lo bagus." Kata Roy dengan tegas.


"Selanjutnya kita beli pisau? Dimana tempat pisau?" Tanya Reyhan dengan melihat sekeliling.


"Disana, ayo cepet Reyhan." Ajak Nikita dengan berusaha melangkah, tetapi kakinya menginjak tali sepatu yang dia pakai, reflek Reyhan pun menangkap Nikita.


Reyhan menangkap Nikita, dan mereka berdua pun saling bertatapan satu sama lain, yang membuat pengunjung sekitar melihat ke arahnya dengan jelas, Roy pun langsung berdehem agar mereka Berdua tidak bermesraan di depan umum.


"Ehem, gue rasa kita harus cepat sebelum jam enam sore." Tegas Roy dengan berjalan menuju tempat pisau bersama yang lainnya.


Reyhan pun langsung membuat Nikita berdiri, dan mereka menyusul Roy yang sedang berjalan bersama yang lainnya, Reyhan kini berdiri di samping Roy dan menyikut siku Roy.


"Lo kenapa sih ninggalin gue?" Tanya Reyhan dengan kesal.


"Lagian, Lo jangan mesraan depan umum terus dong, bikin orang salah paham aja." Ketus Roy dengan melihat Reyhan.


"Yaelah Roy, Lo kenapa sih? Gak biasanya Lo begini?" Tanya Reyhan dengan menepuk bahu Roy.


"Maafin gue karena jutek ke Lo, gue lagi dilanda keresahan." Jelas Roy dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Keresahan? Lo emang resah kenapa?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Gue resah, takut Aulia kenapa-napa sama geng suruhan Michael." Jelas Roy kepada Reyhan.


"Udah Roy, kalo Lo takut Aulia kenapa-napa, lebih baik kita cepat belanjanya, sebelum jam enam sore." Jelas Reyhan dengan tegas kepada Roy.


"Yaudah, lebih cepat lebih baik." Kata Roy dengan Tersenyum.


"Roy, yang ini pisaunya, gimana?" Usul Nikita dengan menyodorkan pisau kepada Roy.


"Buset, gue udah kayak di rampok aja." Kata Roy dengan mengangkat tangannya.


"Haha, lebay Lo Roy jadi makin sayang gue." Kata Aulia dengan tertawa melihat kelakuan Roy.


"Idih, najis ah bucin banget." Ketus Zoey dengan memilih sebuah blender.


"Diem Lo, yang ngeliat Verrel pegangan sama Santi terus cemburu sampe nangis, siapa kali?" Sindir Shannia dengan terkekeh melihat kelakuan Zoey.


"Astaga, jangan dibahas yang itu lagi dong, gue udah gamau bahas itu lagi." Ketus Zoey dengan sedikit menaikkan nada berbicaranya.


"Kenapa emang? Lo udah gak Deket lagi sama Verrel?" Tanya Roy dengan sedikit tertawa kecil.


"Entahlah, kita udah lama. Banget gak ngobrol, semenjak liburan di puncak." Jelas Zoey dengan memilih sebuah blender.


"Lo serius? Terus hubungan Lo sama dia gimana? Bukannya Verrel suka sama Lo?" Tanya Shannia dengan banyak pertanyaan.


"Iyah, dia memang suka sama gue, gue berharap bisa pacaran sama dia, tapi nyatanya apa? Dia aja selalu asik sama yang lain." Ketus Zoey dengan duduk di sebuah kursi yang tersedia.


"Sudahlah Zoey, mungkin dia lagi pengen sendiri dulu." Jelas Nikita dengan berusaha menenangkan Zoey.


"Ngomong-ngomong soal sendiri, kayaknya kita ditinggal sama Reyhan nih." Kata Shannia dengan melihat sekeliling yang tidak ada tanda keadaan Reyhan serta juga Roy.


"Kemana mereka? Kok kita ditinggal?" Tanya Aulia dengan melihat sekeliling.


"Ciee nyariin gue nih?" Kata Reyhan yang berada di belakang mereka dengan tersenyum.


"Ngagetin aja Lo, kayak Galang tau gak." Ketus Nikita dengan menjitak kepala Reyhan.


"Yaudah, Ayo kita lanjut lagi, gue merasakan bahwa disini akan ada sesuatu." Jelas Roy dengan menirukan gaya Galang.


"Jangan ngikutin gaya gue, sentil nih!" Kata suara misterius tersebut.


"Suaranya ada, orangnya gak ada, langsung pergi ke kasir yuk, buat bayar ini, serem juga Disini" Ajak Reyhan dengan bergidik ketakutan karena mendengar suara misterius tersebut.


Mereka semua pun berjalan ke kasir untuk membayar beberapa barang yang mereka beli, seperti pisau, panggangan, blender, gelas, dan masih banyak lagi, setelah selesai membayar mereka pun duduk terlebih dahulu di kursi yang tersedia di depan toko bulan tersebut.


"Mau beli minuman gak? Pada haus gak?" Tanya Roy dengan melihat ke mereka semua.


"Gue haus banget, pengen yang dingin-dingin." Kata Aulia dengan Tersenyum kepada Roy dan memberikan sebuah kode.


"Gue beliin eskrim pada mau nggak?" Usul Roy dengan melihat ke mereka.


"Gamau ah, kalo meleleh nanti kena tangan, jadi kotor deh tangan gue." Tolak Shannia.


"Terus kalian maunya apa?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Terserah Lo aja." Kata mereka dengan berbarengan.


"Bisa serentak gitu anjir, pusing gue." Kata Reyhan dengan mengacak-acak rambutnya.


beberapa jam kemudian, lebih tepatnya pukul tiga siang, mereka semua sudah berkumpul di parkiran dengan barang bawaan masing masing, Roy pun langsung menyuruh Snake untuk segera pergi ke villa, agar tidak terjadi sesuatu yang lainnya, di dalam mobil Reyhan, mereka pun saling bercanda ria.


Tiba-tiba saja mobil yang ditempati oleh Reyhan langsung berhenti seketika di perjalanan, Snake pun membuka pintu mobil dan mengecek apakah ada yang salah dengan mobilnya, dan ternyata bensinnya habis.


"Waduh, bensinnya habis lagi." Kata Snake Dengan kebingungan.


"Kenapa om snake?" Tanya Roy dengan sedikit mengeluarkan kepalanya.


"Bensin habis Roy, kita harus gimana? Mana jalannya sepi gini lagi..." Kata Snake dengan bergidik ketakutan.


"Yang lain udah duluan yah om?" Tanya Roy seraya membuka pintu dan menghampiri snake yang sedang berdiri.


"Waduh, Iyah nih kayaknya, mereka udah pergi duluan." Jelas Snake dengan menggaruk kepalanya.


"Oke, kita telepon aja suruh kemari lagi." Kata Roy dengan mengambil handphone dan hendak menelepon mereka.


Roy pun menelepon Galang yang berada di mobil dua, tetapi sayangnya di tempat tersebut tidak ada sinyal sama sekali, Roy pun kembali menelepon lagi dan hasilnya tetap sama, yaitu tidak ada sinyal.


"Waduh, gak ada sinyal lagi." Kata Roy kebingungan.


"Gimana dong Roy? Gue punya feeling kalo sendirian gini, kita bakalan diserang lagi." Bisik shake dengan melihat sekeliling.


"Ada apa nih? Bannya bocor?" Tanya Reyhan yang baru saja keluar dari mobil.


"Bensinnya habis, padahal tadi sebelum kesini udah gue isi." Jelas Snake Dengan Kebingungan.


"Apakah ini ulah geng suruhan Michael?" Bisik Reyhan dengan melihat sekeliling yang sepi.


"Gue rasa gamungkin, soalnya tadi gue jagain nih mobil sama yang lain." Jelas Snake kepada mereka.


"Lalu? Kenapa bensinnya bisa habis?" Tanya Reyhan kebingungan.


"Masih menjadi misteri, sebaiknya kita dorong aja dulu sampe ketemu pom bensin." Jelas snake Dengan berjalan ke belakang mobil dan siap untuk mendorong.


"Om snake, ngapain Lo?" Tanya Aulia yang membuka jendela belakang.


"Bensinnya habis, terpaksa kita dorong sampe ketemu pom bensin." Jelas snake Dengan mendorong mobil tersebut bersama Reyhan.


"Roy, kalo udah nyala langsung bilang yah." Kata Reyhan dengan sedikit berteriak.


Mereka berdua pun mendorong mobil tersebut dengan sekuat tenaga, walau sore hari yang cerah, tetapi tetap saja mereka berkeringat dan kecapean, kini sudah hampir lima ratus meter mereka mendorong mobil tersebut, tetapi tidak menyala, Reyhan dan snake terpaksa berhenti mendorong mobil itu.


"Udah dulu om, kecapean gue." Kata Reyhan dengan mengelap keringat yang di dahinya.


"Udah iya, gue kira mobilnya enteng, ternyata berat juga." Kata snake Dengan menyandarkan tubuhnya di mobil.


"Reyhan, sebaiknya cepat Rey, sudah hampir jam lima sore nih." Perintah Nikita dengan melihat jam tangannya.


"Lo pikir gue robot? Istirahat dulu lah, Gue capek sayang." Kata Reyhan dengan mengeluh kepada Nikita.


"Hahaha, kasihan nih pacar kesayangan gue." Kata Nikita dengan Tersenyum manis.


"Bantuin dorong kalo mau cepet, ayo bantu dorong." Suruh Reyhan dengan menarik tangan Nikita.


"Apa-apaan Lo? Gue cewek anjir, gue mana kuat dorong mobil." Ketus Nikita dengan menyentil tangan Reyhan.


"Terus aja mesraan, terus aja terus." Sindir Shannia dengan melihat mereka berdua.


"Jomblo mah diem aja udah." Ledek Aulia dengan terkekeh.


"Gue rasa kalian salah masuk daerah nih." Kata seseorang dari belakang dengan jaket berwarna hitam.


"Hah? Siapa kalian?" Tanya snake yang sudah siap dengan pisau di tangannya.


"Reyhan, hati-hati Reyhan." Kata Nikita dengan khawatir kepada Reyhan.


"Reyhan, gue rasa kalian harus pergi dari sana." Kata Shinta yang berbicara lewat earphone


"Reyhan, kalian kemana aja? Udah jam segini belom pulang?" Tanya Santi dengan sedikit berteriak.


"Berisik sialan, telinga gue sakit." Ketus Reyhan.


"Gue rasa kalian akan mati disini." Kata orang tersebut dengan Tersenyum.


"Hah? Dia? Bukankah Lo ketua geng ranting pohon? Yang handal dalam persenjataan dengan berbahan dasar kayu." Jelas snake Dengan terkejut ketika melihat sosok tersebut keluar dari sebelah kanan mereka yang tampak gelap.


"Hahaha, kita akhirnya ketemu lagi Snake." Kata orang tersebut dengan mengeluarkan sebuah kayu yang di runcingkan.


"Reyhan, kita terkepung Rey." Teriak Roy dengan melihat sekeliling mereka.


"Reyhan, kalo memang kalian mau selamat, cepatlah masuk ke dalam mobil." Tegas Jessica dari earphone mereka.


"Memangnya kenapa? Gue bisa lawan ini semua." Kata Snake dengan Tersenyum.


"Tapi, mereka semua bukankah sangat kuat?" Tanya Reyhan dengan melirik ke Snake.


"Mereka memang kuat, tapi tidak bisa berpikir dengan cepat." Jelas Snake.


"Maksudnya? Kok gue gapaham?" Tanya Reyhan kebingungan.


"Ya, mereka tidak cerdas dan cukup bodoh." Ledek snake Dengan Tersenyum.


"Lo bilang kita bodoh? Nyari mati Lo snake!!!" Teriak orang tersebut dengan melempar kayu runcing kepada snake, dan snake pun menghindari serangan kayu runcing tersebut, lalu mematahkannya menjadi dua bagian.


"Sama seperti dulu, hahaha." Kata Snake Dengan tersenyum kepada mereka.


"Sama seperti dulu? Maksudnya?" Ucap Reyhan kebingungan.


"Reyhan, Lo harus segera pergi dari sana, kalian semua dalam bahaya." Perintah Galang dari earphone tersebut.


"Tapi? Bagaimana caranya kita pergi? Be-be-bensin aja abis." Kata Shannia dengan gemetar ketakutan.


"Kalian semua gaboleh takut, semakin kalian takut, mereka akan terus meneror kita." Ucap Roy dengan berusaha menenangkan mereka.


"Gue rasa gue harus bantu Reyhan, boleh gak Roy?" Tanya Nikita dengan mengeluarkan nampan.


"Jangan Nikita, lebih baik kita diam disini." Perintah Roy dengan khawatir kepada mereka.


"Lo takut kan? Bilang aja Lo, hahaha." Ledek Nikita dengan tertawa.


"Gue udah lebih kuat dari dulu snake, gue rasa Lo akan mati disini." Ucap orang misterius tersebut dengan menepuk tangannya.


"Gawat, itu adalah anjing liar, lebih baik kita masuk anak SMA." Jelas snake Dengan ketakutan, karena dia takut dengan anjing.


Lalu tiba-tiba saja Reyhan langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan, dengan memegang sebuah tongkat baseball dia gemetar ketakutan, dan pandangannya masih lurus ke depan, Nikita pun menepuk pundak Reyhan seraya bertanya.


"Kenapa Lo Reyhan?" Tanya Nikita dengan kebingungan.