
"Untuk Lo, gue saranin, ubah gaya rambut Lo jadi seperti dia, gue yakin akan ada banyak cowok yang melirik Lo nanti." Jelas Bobi dengan menunjuk ke arah Milea yang sedang berdiri di hadapannya.
"Baik, saran yang cukup bagus, gue akan mencobanya." Batin milea dengan berjalan ke dalam rumah dan berdandan.
Setelah selesai berdiap siap, kini mereka sudah berada di dalam mobil bersama dengan Bobi, tetapi mobil yang ditumpangi hanya muat beberapa orang saja, sisanya ikut mobil yang dikendarai oleh siti, yaitu pacar dari Bobi, mereka pun langsung berangkat menuju tempat yang dimaksud.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di parkiran tempat kuliner yang dimaksud, di sepanjang jalanan mereka melihat ada banyak sekali makanan khas puncak, dan juga cukup ramai orang berlalu lalang pada saat itu, Bobi pun membina mereka agar tidak tersesat, untuk berkeliling tempat tersebut.
Tempat itu cukup ramai, dengan pemandangan pohon yang cukup indah, taman yang cukup luas, kebersihan yang selalu terjaga, hembusan angin di siang hari yang cerah, serta juga hamparan rumput yang halus, itu semua membuat mereka menikmati liburan yang cukup menyenangkan.
"Wah, indah banget dong!" Seru Galang dengan melihat pemandangan yang cukup indah.
"Disini adalah tempat wisata paling populer di puncak, karena semua fasilitas ada disini!" Jelas Bobi dengan melihat sekeliling.
"Yakin semua fasilitas ada? Contohnya apa aja?" tanya Santi berusaha meyakinkan.
"Yakin, kalian mau beli oleh oleh? Ada, mau piknik? Bisa, mau nyari jodoh? Bisa ditanyakan sama sang peramal." Jelas Siti dengan memberikan senyuman.
"Ah, masa sih? Emang beneran ada peramal?" tanya Lauren kebingungan.
"Iyah, dia bisa tahu segalanya tentang kalian." Jelas Bobi dengan memberikan senyuman.
"Kalo gitu, Galang juga bisa sih, ya gak?" Kata Reyhan dengan menyikut lengan Galang.
"Jelas, bahkan gue bisa tahu segalanya tentang kalian." Jelas galang dengan memberikan senyumannya.
"Gue sama yang lainnya mau keliling dulu ya, nanti kita kumpul lagi disini jam lima sore." Jelas Rizky dengan mengajak teman temannya dan juga mauren untuk ikut bersama dengannya.
"Baiklah, terserah kalian mau kemana, bersenang senanglah, selagi masih liburan." Kata Bobi dengan memberikan senyuman kepada mereka semua.
"Tunggu dulu, ada satu hal yang kalian harus tahu." Tegas Siti kepada mereka semua, dan mereka pun kembali berkumpul.
"Apaan nih Bob? Satu hal apa?" Tanya Roy dengan kebingungan.
"Kita jangan pulang ke villa lewat dari jam enam, kalo pulang ke villa lewat dari jam enam, kemungkinan besar mereka akan ada lagi." Bisik Siti kepada mereka semua.
"Ayolah, ini kan lagi liburan, mana ada sih mereka." Kata Willy dengan merentangkan tangannya dan Tersenyum.
"Terserah, yang penting gue udah ngasih tau." Jelas Siti Dengan duduk di kursi yang tersedia.
"Nikita, kayaknya kalo sepedaan di tempat begini enak nih." Kata Reyhan dengan memberikan kode kepada Nikita agar ikut bersamanya.
"Emangnya ada rental sepeda?" Tanya Nikita kebingungan.
"Jelas ada, gue pernah kesini waktu masih sd, harganya cuma lima ribu pada waktu itu." Jelas Aulia dengan melihat sekeliling.
"Ya waktu itu lima ribu, sekarang entah berapa harganya." Kata Reyhan dengan beranjak pergi meninggalkan mereka semua.
Mereka semua pun pergi bersama dengan pasangannya masing masing, walau belum menjadi pacar, sedangkan yang jomblo pergi bersama dengan temannya untuk melihat pemandangan dan menikmati angin yang cukup sejuk di siang hari pada saat itu.
Sementara itu dengan Reyhan dan juga Nikita, mereka sedang bermain sepeda yang menyambung di taman, dan berkeliling taman yang cukup indah itu, seraya mengobrol dan bercanda.
"Enak juga ya, pemandangan di puncak ini." Jelas Reyhan. Dengan menggoes sepedanya bersama Nikita.
"Iya sih, sejuk banget apalagi kalo berduaan gini." goda Nikita dengan memberikan senyuman kepada Reyhan.
"Maksudnya?" Tanya Reyhan singkat dengan memberhentikan sepedanya.
"Ah, nggak kok, gausah dipahamin." Kata Nikita dengan tersenyum.
"Eh, ada tukang gulali tuh, jajanan jaman dulu." Seru Reyhan dengan menunjuk arah tukang gulali yang sedang ramai.
"Gue mau coba dong, yuk beli kesana." Seru Nikita dengan mengarahkan Reyhan untuk membeli gulali tersebut.
Reyhan dan Nikita pun menggoes sepeda itu secara bersamaan menuju ke tukng gulali yang nampak perlahan mulai sepi, mereka pun membeli gulali itu dan duduk di kursi yang tersedia dia di samping tukang gulali.
"Enak juga ya, apalagi kalo ditraktir gini." Sindir Nikita dengan melirik ke arah Reyhan.
"Hahaha, bisa aja Lo Nikita." Tawa Reyhan dengan Tersenyum kepada nikita.
"Gue rasa kita harus coba semua makanan disini deh." Ajak Nikita dengan melihat sekeliling yang nampak banyak sekali tukang jajanan.
"Apa perut Lo bakalan muat? Gak takut gendut?" Goda Reyhan dengan menyenggol lengan Nikita.
"Gue kan sering mukbang, apa Lo pernah liat gue keliatan gendut gitu?" Goda Nikita seakan akan memberikan tantangan kepada Reyhan.
"Oh ya, sering makan tapi gak pernah gendut, selalu aja segitu berat badannya." Jelas Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.
"Iyah nih, entah kenapa gue mencoba untuk merasakan gendut seperti orang pada umumnya, tapi selalu gak bisa." Kata Nikita dengan menundukkan kepala dan menekan nekan perutnya.
"Mungkin memang itu kemampuan khusus dari Lo, hahaha!" Gurau Reyhan dengan memberikan lelucon kepada Nikita.
"Jalan jalan lagi yuk? Kayaknya asik nih." Ajak Nikita dengan menggandeng tangan Reyhan agar menaiki kembali sepedanya.
"Nanti dulu dong, gue masih pengen duduk, cape daritadi ngegoes terus." Jelas Reyhan dengan kembali duduk dan menyuruh Nikita untuk duduk di sampingnya.
Sementara itu Reyhan pun bersantai sejenak di kursi tersebut bersama dengan Nikita, sementara itu dengan Galang dan juga Lauren, mereka Sedang duduk di sebuah taman yang cukup indah baginya, siang hari yang cerah dan juga angin yang sejuk menenangkan hati mereka berdua.
"Gue baru kali ini merasakan ketenangan dalam diri gue." Kata Lauren dengan memandang langit.
"Gue juga baru merasakan kalo gue adalah manusia biasa." Jelas Galang dengan melirik ke arah Lauren yang sedang meminum jus buah.
"Maksud Lo?" Tanya Lauren dengan kebingungan.
"Gue selalu berharap gak pernah lahir di keluarga seperti ini, gue selalu ingin merasakan menjadi manusia biasa." Jelas Galang kepada Lauren.
"Maksud Lo? Gue masih gapaham." Kata Lauren yang masih kebingungan.
"Jadi gini, gue selama ini selalu saja disuruh menerawang apa yang akan terjadi di masa depan nanti, dan gue udah cukup sakit, gue selalu berharap gak ingin punya kekuatan seperti ini, dan selalu ingin menjadi manusia normal kayak Lo." Jelas Galang dengan tersenyum kepada Lauren.
"Gue juga tahu perasaan Lo kayak gimana, tenang aja Galang gue bakal berusaha bantu Lo untuk menjadi manusia normal kayak yang lainnya." Jelas Lauren dengan memegang tangan Galang.
"Gue harap kita akan selalu bersama." Kata Galang dengan membalas genggaman tangan Lauren.
"Mulai dari sekarang, Lo harus menjadi manusia normal, jangan gunakan kekuatan Lo, gimana?" Tantang lauren kepada Galang.
"Baiklah, mungkin mulai sekarang gue gak akan gunakan kekuatan itu lagi." Kata Galang dengan Tersenyum kepada Lauren.
"Janji gak nih?" Kata Lauren dengan menjulurkan kelingkingnya ke Galang, dan Galang pun membalasnya.
"Gue janji, gue akan jadi normal dan gak akan gunakan kekuatan itu lagi." Jelas Galang dengan berjanji dengan Lauren.
sementara itu dengan para wanita yang jomblo, seperti Jessica, angel, shannia, Milea, serta juga Santi mereka sedang berjalan di pasar tradisional yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir, mereka berinisiatif untuk membeli bahan makanan agar bisa memasak di rumah dan makan bersama sama, ketimbang beli makanan dari luar.
"Enaknya masak apa nih?" tanya Shannia dengan milih sebuah sayuran.
"Gue juga gatau, bingung sih." Jelas milea dengan mengangkat kedua bahunya.
"Sudah, kalian ambil apa yang gue suruh, biarkan gue yang memasak nanti!" Seru Angel dengan memberikan sebuah kode kepada mereka semua.
"Yakin Lo yang masak? Apa enak?" tanya Santi yang seakan akan meremehkan masakan angel.
"Wah, Lo nantangin duel masak sama gue?" Tantang Angel yang nampak mulai kesal.
"Gue sih gak nantangin Lo, kan gue cuma nanya, makanya jadi orang jangan emosian dong!" Jelas Santi dengan membuang muka.
"Ngapain Lo begitu? Ngeremehin gue?" Kesal angel dengan menunjuk ke arah Santi.
"Sudah, sekarang ikut gue, gue yakin nanti malam kita akan makan enak!" Jelas Angel dengan memberikan instruksi kepada mereka semua.
Angel pun memberikan instruksi kepada mereka agar membeli bahan bahan yang dimaksud, pada saat sedang membeli sebuah cabai, dari jauh terdengar ada seorang ibu ibu yang kecopetan, dan copet itu datang ke arah mereka semua yang sedang membeli cabai, Angel dan yang lainnya pun langsung menghalangi jalan copet tersebut.
"Heh gadis kota, awas Lo sialan!" Ucap preman itu dengan mengeluarkan sebuah pisau dari jaketnya.
"Mainnya pisau, jadi takut gue." Kata jessica yang berpura pura ketakutan.
"Lo serahin tas ibu itu, kalo nggak Lo akan terima akibatnya!" Ancam angel dengan menunjuk ke arah tas yang dibawa olehnya.
"Gausah ikut campur, atau gue akan bunuh Lo semua!" Teriak copet tersebut dengan bersiap untuk melawan mereka.
"Wah, nantangin nih gue rasa, Jessica keluarin senjata itu!" Seru Santi dengan memberikan sebuah kode.
"Senjata apaan anjir? Gak ada bawa senjata gue." Kata Jessica dengan kebingungan.
"Nih, penyemprot cabai, mata Lo bakal buta kalo gue semprot ini ke mata Lo!" Ancam Santi dengan mengeluarkan sebuah penyemprot cabai.
"Gue rasa Lo beneran nyari mati Sama gue!" Kata copet tersebut dengan berbalik badan, dan tampaklah jaket tersebut dengan logo angin.
"Apa apaan? Sebenernya Lo siapa?" Tanya Jessica dengan terkejut.
"Gue adalah geng angin sejuk, percayalah kalian akan mati sama gue!" Kata copet tersebut dengan tertawa.
"Sebaiknya kita lari, dia berbahaya!" Bisik Jessica dengan memberikan sebuah kode kepada mereka semua.
"Lari? Apa Lo serius?" Tanya milea dengan ketakutan.
"Tunggu aba-aba dari gue, kalian lari keluar dari pasar ini!" Bisik Jessica dengan melirik ke arah belakang.
"Gue bakal habisin kalian, karena udah ikut campur urusan gue!" Jelas orang tersebut dengan tersenyum dan mulai memainkan pisaunya.
"Cepatlah, lari!!" Teriak Jessica dengan menggandeng tangan Milea dan berlari menuju keluar pasar.
Semua pun berlari menuju pintu keluar pasar, tetapi pada saat hendak keluar, ternyata pintunya dijaga oleh preman yang lainnya, alhasil Jessica bersama yang lainnya berbelok ke arah kanan dan terus berlari berusaha mencari jalan keluar dari pasar tersebut.
"Kenapa jadi ada geng lagi sih?" Geram Angel dengan kebingungan.
"Sudah, lebih baik kita lawan saja mereka!" Kata Santi dengan mengeluarkan sebuah handphone dari kantongnya.
"Mau ngapain Lo?" Tanya Shannia dengan kebingungan.
"Kita harus keluar dari sini, ikut gue!" Kata Santi dengan melihat handphonenya dan berlari ke arah kiri.
"Itu pintu keluarnya, kita harus cepat sebelum gue hack sistem keamanan di pasar ini, dan pintu akan menutup dengan sendirinya." Jelas Santi dengan memainkan handphone miliknya.
Mereka pun berlari sekuat tenaga dan keluar dari pasar, Santi pun sudah menekan tombol di handphone miliknya, dan otomatis pintu keluar serta pintu masuk pun langsung tertutup dengan otomatis yang membuat copet tersebut tidak lagi mengejarnya.
"Kita sudah aman sekarang, ayo kita kembali ke parkiran di taman!" Ajak Milea dengan Menghela nafas lega.
"Kalian, sudah Ikut campur urusan gue! Jadi kalian gak akan bisa lepas dari gue!" Teriak copet tadi dengan membuka paksa rolling door tersebut.
"Waduh, kita lari sekarang!!" Teriak Jessica dengan berlari keluar pasar.
"Kata siapa kalian bisa lari dari kita?" Tanya salah seorang copet lainnya, dan Tersenyum di hadapan mereka.
"Bos, yang itu cantik banget bos, jadi pengen main sama dia!" Seru seorang preman dengan menunjuk ke Milea.
"Gue rasa kita terjebak deh!" Kata Angel dengan melihat keadaan sekitar mereka yang sudah ada banyak sekali para preman.
Sementara itu, di parkiran, semua sudah berkumpul dan mereka Sedang menungggu Angel bersama dengan yang lainnya, sudah lama menunggu tetapi belum datang juga, dan jam sudah menunjukkan pukul lima sore, sudah saatnya mereka kembali ke villa.
"Kemana nih angel?" Tanya Nikita dengan melihat sekeliling.
"Gue gatau, gue tadi abis main skateboard sama yang lain." Kata Anto dengan mengangkat kedua bahunya.
"Galang, gunakan kekuatan Lo buat mencari tahu dimana mereka berada." Kata Roy dengan menepuk pundak Galang dan Tersenyum.
"Nggak bisa, gue mau jadi manusia normal, gue gamau gunakan kekuatan itu." Kata Galang dengan menggelengkan kepalanya.
"Ayolah Galang, sekali aja, gue mohon." Kata Reyhan dengan memohon kepada Galang.
"Gue udah jadi manusia normal sepenuhnya, dan gue udah bertekat gak akan menggunakan kekuatan itu lagi." Kata galang dengan menggelengkan kepalanya.
"Galang, gue khawatir Santi sama Milea kenapa kenapa, jadi gue mohon sama Lo, cari dimana mereka." Kata Lauren dengan memberikan senyuman manisnya kepada Galang.
"Tapi kata Lo, gue gaperlu gunakan kekuatan itu lagi, kita udah janji loh tadi, masa lupa?" Kata Galang dengan melihat sekeliling.
"Baiklah, kalau Lo emang gamau bantu pake kekuatan itu, biar gue yang turun tangan." Kata Shinta dengan mengeluarkan sebuah drone dan mulai mengendalikan drone tersebut.
"Kira-kira kemana yah mereka?" Tanya Lita dengan wajah yang khawatir.
"Gue ingat! Tadi Shannia bilang ke gue, mereka mau belanja ke pasar, buat makan nanti malam." Kata Aulia dengan menjentikkan jarinya.
"Baiklah, om Bobi kemana arah pasar?" Tanya Shinta yang fokus dengan drone tersebut.
"Ke arah sana, sebaiknya cepat, perasaan saya mulai gak enak." Kata Bobi dengan khawatir dan terus melihat sekeliling.
Shinta pun mengendalikan drone tersebut dengan laptop miliknya, dan melihat sekeliling, setelah beberapa saat memeriksa daerah pasar, kini mereka semua sudah ditemukan dalam keadaan sedang dikepung oleh beberapa preman yang akan menghajar mereka, dan juga para masyarakat sekitar yang hanya melihat saja dan tidak bisa membantu.
"Itu mereka! Kayaknya lagi dalam bahaya deh!" Kata Reyhan dengan menunjuk layar laptop milik Shinta.
"Kira-kira kita kesana keburu nggak?" Tanya Roy dengan melihat ke arah Shinta.
"Gue rasa nggak, takutnya kalo kita kesana pake mobil nanti malah kejebak macet." Kata Shinta dengan menggelengkan kepalanya.
"Gue rasa giliran gue yang turun tangan membantu mereka." Kata Anto dengan mengeluarkan sebuah sepatu roda.
"Gue juga ikut bantuin, gue harap kita keburu." Jelas Rizky dengan mengeluarkan skateboard.
"Gue juga ikut dong, kayaknya bakalan seru nih!" Kata Alucard dengan melihat sepeda yang ada di sampingnya.
"Baiklah, kalian pakai ini, kalo ada sesuatu tinggal hubungi kami aja." Jelas Roy dengan memberikan sebuah earphone kepada mereka.
"Baiklah, saatnya menjadi pahlawan kesiangan." Kata Rizky dengan Tersenyum dan bersiap.
"Pahlawan pala Lo pitak! Udah gausah lama-lama, nanti mereka keburu di hajar sama para preman itu." Jelas Willy dengan menjitak kepala Rizky.
"Rizky hati-hati yah, jangan sampai terluka!" Kata Mauren dengan menggenggam tangan Rizky secara halus.
"Tenang aja Mauren, gue akan jaga diri gue." Kata Rizky dengan Tersenyum lalu pergi bersama dengan yang lainnya.
"Terus kita ngapain disini?" Tanya Roy kebingungan.
"Kita susul mereka, cari jalur terdekat ke arah pasar itu, kita harus bantu mereka juga." Jelas Siti Dengan Tersenyum kepada Bobi dan memberikan kode rahasia.
"Baiklah, semuanya masuk ke mobil, disini udah gak aman!" Perintah Bobi dengan tegas dan mereka pun masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Lauren dan galang duduk bersebelahan dan Galang pun hanya terdiam seakan-akan menjadi orang yang tidak berguna dalam menyelamatkan teman-temannya.
"Kenapa Galang? Gak biasanya Lo diam gini." Kata lauren dengan merangkul Galang yang sedari tadi hanya diam.
"Gue merasa gak berguna." Kata Galang dengan tersenyum secara terpaksa.
"Gak berguna? Maksudnya?" Tanya Lauren dengan kebingungan.