Reyhan

Reyhan
ep 42



"Waduh, gue gamau ah, pokoknya gue gamau!" Jelas Reyhan dengan beranjak pergi meninggalkan Nikita, tetapi Nikita mengejarnya dan tersenyum.


"Kenapa gamau? Emang ada apa?" Tanya Nikita dengan memberikan senyuman manisnya.


"Gue trauma dengan kebun binatang, Gue gasuka!" Bentak Reyhan dengan meninggalkan Nikita dan pergi ke rumah yang ditempati olehnya.


Dengan terburu-buru Reyhan berjalan ke arah Roy yang sedang bersantai bersama yang lainnya di taman, dan saling bercanda, Reyhan yang masih kesal dengan Nikita ikut bergabung dengan Roy, Galang yang sudah tahu apa kejadian yang sebenarnya langsung memberikan sebuah kode kepada mereka yang ada disitu.


"Kenapa Lo? Ada masalah apa sama Nikita? Kok muka Lo ditekuk gitu?" tanya verrel dengan menepuk pundak Reyhan yang baru saja duduk di sampingnya.


"Bisa gak kita pindah villa? Kenapa disini ada kebun binatang mini?" tanya Reyhan dengan memandang Roy sangat serius.


"Gue tau, Lo pasti diajak sama Nikita ke kebun binatang itu kan?" Tebak Roy secara asal dan tersenyum kepada Reyhan yang sedang kesal.


"Kenapa harus ada kebun binatang sih?" Tanya Reyhan dengan kesal kepada Roy.


"Reyhan, Lo kenapa lari ninggalin gue sendirian disana? Kenapa Lo ketika gue sebut kebun binatang, Lo langsung lari?" tanya Nikita yang sudah berada di samping Dewa.


"Lo gak tau ya, kalo dia trauma sama yang namanya kebun binatang?" tanya dewa dengan menunjuk Reyhan.


"Trauma apanya? Kenapa harus trauma sih?" tanya Nikita dengan kebingungan.


"Dulu dia itu pernah hampir mati di kandang harimau, untungnya ada orang misterius yang menyelamatkan dia." Jelas Willy kepada Nikita, dan Nikita pun terkejut.


"Sudahlah! Gausah bahas itu lagi!" Bentak Reyhan dengan menutup kedua telinganya.


"Reyhan, tenang ya, gue yakin disini gak ada kandang harimau, jadi tenang yah?" kata Nikita dengan berusaha menenangkan Reyhan Yang mulai kesal.


"Yaudah, gue mau deh, asalkan mereka ikut juga!" Jelas Reyhan dengan melihat ke teman temannya.


"Yaudah, makin rame makin asik." Seru Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan.


"Baru pertama kali semenjak Reyhan trauma sama kebun binatang, ada cewek yang bisa membuat dia mau ke kebun binatang lagi." Bisik Dewa kepada verrel dan Verrel hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Gue rasa dia Cocok sama Reyhan, gue yakin itu." Bisik verrel dengan tersenyum kepada dewa.


"Yaudah, kira-kira kebun binatang itu ada dimana Roy?" Tanya Reyhan yang kini sudah bangkit berdiri.


"Lo yakin mau ke kebun binatang itu jalan kaki? Kira kira 500 meter dari tempat ini." Jelas Roy dengan memberikan Sebuah kode kepada mereka semua.


"Jauh banget, terus kita kesana pake apa dong?" tanya Reyhan dengan kebingungan


"Kan ada Galang, kita bisa langsung hilang aja." Seru willy dengan menepuk pundak Galang.


"Sembarangan! Kekuatan gue bakal gue keluarin ketika kita dalam bahaya, jadi gue gak akan menggunakan kemampuan gue sembarangan." Bentak Galang dengan menjitak kepala Willy.


"Pake sepeda, ayo ikut gua, silahkan pilih sepeda yang mana yang mau kalian naikin." Ajak Roy dengan berjalan menuju ke sebuah garasi yang cukup besar.


Roy pun membuka garasi tersebut, dan tampaklah sepeda untuk anak anak, sampai sepeda gunung, semua jenis sepeda ada disitu, Willy yang nampak bahagia pun langsung memilih sepeda mana yang akan dia naikin.


"Waaah! Asik nih, main sepeda di sore hari!" Seru willy dengan menaiki sepeda yang menurutnya bagus.


"Jangan yang itu, yang itu remnya sudah putus." Kata seorang penjaga villa dengan menunjuk kepada Willy.


"Putus, kayak hubungan gue sama dia." Kata Dewa dengan Tersenyum.


"Tenang, Masih banyak lagi!" Seru Roy dan mereka pun memilih sepeda mana yang akan mereka gunakan.


Mereka pun memilih sepeda, setelah selesai memilih sepeda yang akan dipakai, kini mereka sedang menuju perjalanan ke kebun binatang.


Sore hari yang cukup sejuk, pemandangan yang indah, pepohonan yang banyak, dan wangi yang cukup alami di villa tersebut, Reyhan bersama dengan Nikita menikmati angin sejuk yang menerpanya, dan kini mereka sudah sampai di depan kebun binatang yang dimaksud oleh Roy.


"Nah, ini dia kebun binatangnya, gimana? Asik kan?" Seru Roy dengan turun dari sepedanya.


"Langsung masuk yuk lah, gak sabar gue pengen foto di dalam." Seru Nikita dengan menggandeng tangan Reyhan untuk masuk ke dalam kebun binatang itu.


Mereka semua pun masuk ke kebun binatang mini, disana hanya ada sepuluh hewan saja, yaitu kelinci, monyet, burung hantu, burung kakaktua, iguana, kelelawar, marmut, merak, elang, dan kelelawar yang cukup besar.


"Wah, lihat tuh kelelawarnya gede banget anjir!" Kagum Willy dengan menunjuk kandang kelelawar yang ada di depan mereka.


"Ini dia besar gini dikasih apa?" Tanya verrel dengan melihat kelelawar itu.


"Reyhan, fotoin gue disini!" Seru Nikita dengan memberikan handphonenya dan berpose di depan kandang kelelawar itu.


"Sebentar yah, gue fotoin setengah badan jangan?" Gurau Reyhan yang sudah siap mengambil foto Nikita yang sedang berpose.


"Ribet Lo, ganggu pemandangan aja." Geram verrel dengan melihat hewan lainnya secara cermat.


"Nikita! Kelelawarnya bangun tuh!" Teriak Dewa dengan menunjuk sayap kelelawar yang nampak terbuka, dan Nikita pun terkejut ketika melihat ke belakang.


"Uwaa!! Reyhan tolong!!" Teriak Nikita dengan terkejut, dan dia tak sengaja memeluk Reyhan dengan sangat erat, Reyhan yang dipeluk pun hanya pasrah dan gugup setengah mati.


"Waduh, Reyhan Lo gapapa? Kok diam aja?" Tanya Willy dengan menjentikkan jarinya di depan wajahnya.


"Udah, kita tinggalin aja mereka, biarin mereka berpelukan gitu, kasih waktu berdua." Jelas Galang dengan memberikan Sebuah kode kepada mereka semua.


"Nikita, jangan kenceng kenceng peluknya, gue jadi gabisa nafas nih." kata Reyhan dengan berusaha melepaskan pelukan Nikita.


"Eh, maaf yah Reyhan, gue terlalu kenceng meluk Lo." Jelas Nikita yang baru saja melepaskan pelukannya.


"Reyhan, Lo berdua yakin masih mau disini?" Tanya Roy yang sudah bersiap untuk meninggalkan mereka berduaan.


"Woi! Tungguin gue!!" Teriak Reyhan dengan menggandeng tangan Nikita untuk berlari bersamanya.


"Sabar Reyhan, jangan langsung lari dong." Kata Nikita dengan mengikuti Reyhan dan memperbaiki posisi larinya.


Mereka pun sudah keluar dari kebun binatang tersebut dan Pergi menggunakan sepeda menuju villa yang akan mereka gunakan untuk tidur, setelah beberapa menit mereka menggoes sepeda, sekarang mereka sudah berada di depan villa itu, Willy yang kecapean pun duduk di teras rumah itu, dan bersantai.


"Capek banget, daritadi belom istirahat gue!" Keluh Willy dengan melepaskan bajunya dan nampak kecapean.


"Woi Nikita! Lo darimana aja? Ayo kumpul sini! Kita bakar makanan!" Ajak Aulia dengan menarik lengan Nikita yang baru saja ingin duduk.


"Sabar woi, Reyhan, Lo semua ayo gabung." Teriak Nikita dengan memberikan kode secara cepat.


"Bakar-bakar dia bilang?? Ayok langsung." Kata Dewa dengan menatap mereka satu sama lain.


"Gue duluan yang makan jagung bakar." Kata Willy yang secara cepat langsung berlari ke arah mereka berkumpul.


"Giliran makan aja cepet, dasar Willy." Kata Dewa dengan menepuk jidatnya dan Tersenyum melihat kelakuan Willy.


Reyhan dan yang lainnya pun berjalan ke arah gazebo, dan disana cukup ramai dikarenakan ada beberapa pengunjung yang lainnya sedang bersantai di Gazebo, Roy langsung duduk di samping Aulia dan tersenyum kepada Aulia.


"Kenapa Lo? Mau jagung?" Tawar Aulia dengan menyodorkan sebuah jagung yang dipegang olehnya.


"Di puncak, malam hari ternyata dingin yah?" kata Roy dengan merapatkan jaketnya.


"Gak tuh, gue biasa aja, karena gue dulu tinggal disini waktu kecil." Jelas Aulia dengan tersenyum kepada Roy.


"Ini siapa yang punya ide untuk bakar-bakar jagung?" tanya Roy dengan melihat ke arah mereka semua.


"Nah, ini udah mateng nih, siapa yang mau?" Seru Mauren dengan mengangkat jagung yang baru matang tersebut ke piring.


"Wah, akhirnya gue bisa makan jagung, selamat makan!" Seru willy yang langsung mengambil sebuah jagung bakar yang masih panas.


Dia pun mulai menggigitnya, tetapi karena jagung tersebut masih panas, akhirnya mulutnya pun serasa terbakar dan Willy berteriak kepanasan karena jagung yang dia makan itu sangat panas.


"Huaaa!! Panas banget!" Teriak Willy dengan mengibas ngibas mulutnya yang kepanasan.


"Hahaha! Lagian Lo, bukannya ditiupin, malah langsung di makan, ya jelas panas lah." Kata Dewa dengan mentertawakan Willy yang sedang merintih kesakitan Pada bibirnya.


"Gantian dong ngebakarinnya, badan gue udah bau asap nih!" Kata Rizky dengan bangkit berdiri dan memberikan sebuah kode kepada yang lainnya.


"Udah, biar gue aja yang bakar bakar." Seru willy dengan Berjalan ke arah Rizky dan menggantikan posisi Rizky.


"Reyhan, Lo gak ambil jagung bakar?" tanya Nikita dengan memberikan senyuman kepada Reyhan.


"Nanti aja, masih panas nanti mulut gue kayak si Willy lagi." Ledek Reyhan dengan melirik ke arah Willy.


"Udah dong, jangan buat gue malu disini." Jelas Willy dengan memberikan sebuah kode kepada Reyhan.


"Mauren, ikut gue sebentar yuk." Ajak Rizky dengan menggenggam tangan Mauren dan pergi entah kemana.


"Wah, mau ngapain tuh berdua? Jangan jangan?" kata Willy dengan melihat ke mereka semua.


"Najis ah! Mesum banget sih lo pikirannya!" Bentak angel dengan bergidik ketakutan melihat tingkah Willy, dan menjitak kepala Willy sangat keras.


"Aduh, kenapa sih gue sering banget jadi korban jitakan kalian?" Kata Willy dengan mengusap kepalanya yang kesakitan.


"Karena Lo pantas untuk dijitak, hahaha." Ledek Shinta dengan tertawa.


Sementara itu, Mauren dan Rizky berjalan di tengah rembulan malam hari yang menyinarinya, rembulan tersebut cukup terang, menerangi mereka berdua yang sedang berjalan ke arah, Rizky yang memakai jaket pun merapatkan jaketnya, dan juga mauren, malam hari yang sejuk dan juga dingin di puncak.


"Dingin banget yah, gak kayak di Tangerang." Jelas Rizky dengan tersenyum manis kepada Mauren.


"Namanya juga puncak, ya jelas dingin, kalo panas itu gurun Sahara." Jelas Mauren dengan sedikit memberikan lelucon.


"Ya jelas dong, tapi lebih panas mana? Gurun Sahara, atau ngeliat mantan asik sama yang lain?" Ledek Rizky dengan melirik Mauren yang sedang berdiri di sampingnya.


"Aduh, kenapa jadi bahas itu sih? Ini kan momen paling indah." Batin Mauren dengan berdiam diri dan memandang langit malam yang cerah.


"Haha, gue bercanda kok, lama lama kok disini dingin banget yah?" Gurau Rizky dengan terkekeh, dan semakin merapatkan jaketnya.


"Kenapa Lo? Lo gak suka sama suasana dingin begini?" Tanya Mauren dengan sedikit melirik ke arah Rizky.


"O-o-obat asma gue, gue sesak nafas, to-to-tolong!" kata Rizky dengan nafas yang terengah engah dan memegangi dadanya, Mauren pun terlihat panik.


"Eh, Rizky Lo kenapa? Kenapa Rizky?" Tanya Mauren dengan panik dan bingung harus apa


"Asma gue-gue-gue kambuh, tolong obat asma gue di tas-tas-tas gue!" kata Rizky dengan terengah engah dan pandangan pada matanya mulai kabur, secara tiba-tiba tubuh Rizky pun tumbang.


"Rizky! Roy, tolong Roy tolong!!" Teriak Mauren dengan panik dan kebingungan harus apa.


Dari kejauhan, Roy mendengar suara minta tolong, Roy yang pada saat itu sedang berjalan bersama dengan Aulia pun langsung menghampiri Mauren yang meminta tolong dan bertanya dalam keadaan panik.


"Rizky kenapa? Ada apa?" Tanya Roy panik dan memeriksa keadaan Rizky.


"Panggil dokter, cepatlah!" Kata Mauren dengan menggoyangkan tubuh Roy.


"Baiklah, kita bawa dia ke klinik di sekitar villa ini." Kata Roy dengan membopong tubuh Rizky yang sudah terkapar lemas.


"Obat gue di dalam tas, bagian depan, a-a-ambil." Kata Rizky dalam setengah sadar, dan nafas terengah-engah.


"Gue bawa Lo ke klinik dulu, biar di cek keadaannya sama dokter." Jelas Roy yang membawa Rizky ke klinik bersama dengan Aulia.


Sementara itu dengan mauren, dia sedang berlari menuju kamar tidur Rizky, dan dia mencari tas Rizky secara cepat, setelah dapat obat asmanya, dia langsung keluar dari kamar Rizky dan bergegas ke klinik yang dimaksud, tetapi pada saat sedang berlari dia melewati Reyhan dan yang lainnya, mereka pun bertanya kepada Mauren.


"Mauren, buru-buru amat Lo, kenapa?!" Tanya Lauren dengan melihat ke arah mauren dan nampak serius.


"Rizky, asmanya kambuh!" Kata Mauren singkat dan berlari menuju ke klinik.


"Hah?!! Kambuh??" Kata Anto dengan terkejut dan mengikuti Mauren yang sedang berlari ke arah klinik.


"Ayo kita lihat keadaan Rizky!" Kata Alucard dengan menarik tangan Andre, dan berlari bersama dengan yang lainnya.


"Gue penasaran deh, ayolah kita lihat dia!" Kata Reyhan dengan penuh penasaran dan berlari bersama yang lainnya.


"Kok kayak lagi dikejar Satpol-PP anjir, pada lari lari begini!" Kata Willy dengan heran dan ikut berlari.


"Sudah, biar mereka yang lihat Rizky, kita jagain nih makanan jangan sampai gosong." Jelas Shinta dengan tersenyum ke arah mereka semua.


Sementara itu, Roy yang sudah menaruh Rizky di klinik, dan keadaan pada saat itu Rizky sedang sesak nafas, pada akhirnya Rizky pun diperiksa oleh dokter tersebut, beberapa menit kemudian setelah pemeriksaan Rizky, dokter menyarankan agar Rizky beristirahat sejenak, dikarenakan dia terlalu capek dan suhu pada malam hari sangat dingin, Mauren yang nampak khawatir dengan Rizky pun mulai menghampiri Rizky yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan.


"Rizky, gimana keadaan Lo?" Tanya Mauren dengan menghampiri Rizky dan nampak khawatir.


"Gue hanya butuh istirahat, gue terlalu capek karena kegiatan satu hari ini." Jelas Rizky dengan berjalan ke arah Mauren.


"Sudahlah Rizky, Lo sebaiknya istirahat aja, daripada asma Lo kambuh lagi." Kata Anto dengan khawatir terhadap Rizky.


"Maafin gue udah ngajak Lo kemana- mana, sampai lupa kalo Lo juga butuh istirahat." Jelas Mauren dengan menundukkan kepalanya.


"Sudah, ini semua bukan salah Lo kok, tenang aja Mauren." Kata Rizky dengan mengangkat kepala Mauren dan Tersenyum kepadanya.


"Ini obat asma Lo, maafin gue karena gue telat ngasihnya." Jelas Mauren dengan menyodorkan sebuah obat asma.


"Makasih ya, anterin gue ke kamar gue dong, pengen istirahat nih." Ucap Rizky dengan memberikan sebuah kode kepada yang lainnya.


"Ayo Rizky, kita pergi ramai-ramai, biar kalo asma Lo kambuh lagi gue langsung bisa bantu Lo." Ajak Anto dengan merangkul Rizky dengan tersenyum.


"Sekali lagi, makasih ya mauren."  Jelas Rizky dengan memberikan senyuman manisnya.


Rizky pun berjalan bersama teman temannya untuk masuk ke villa, dan Rizky setelah Masuk pun langsung berisitirahat dengan nyenyak, sementara itu Mauren dengan perasaan menyesal keluar dari klinik bersama yang lainnya, dan masih dengan Perasaan bersalah terhadap Rizky.


"Udah mauren, Lo gausah pikirin." Jelas Reyhan yang mengusap rambut Mauren dan mengacak acaknya.


"Lebih baik sekarang kita tidur, udah jam segini nih." Kata Willy dengan melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam.


"Yaudah Reyhan, gue duluan yah." Kata Mauren dengan beranjak pergi ke kamarnya untuk tidur.


Sementara itu dengan Reyhan, dia sudah berada di dalam kamarnya dan di kamar tersebut dia tidur bersama dengan Willy, Reyhan pun tertidur dengan sangat nyenyak dan cukup sejuk pada malam itu, yang membuat dia mimpi indah.


Selasa, pukul 03:00 dini hari, Reyhan tak sengaja terbangun dari tidurnya dikarenakan Willy yang tidurnya ngorok dengan sangat keras, membuatnya terbangun dan tidak bisa tidur lagi, Reyhan yang tidak tau harus ngapain, dia pun keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai satu, membuat kopi sendiri di dapur.


Tetapi pada saat sedang membuat kopi dia melihat pintu belakang rumah itu terbuka, Reyhan pun berjalan ke arah pintu tersebut dan mengintip, ternyata ada Nikita yang sedang bersantai di teras belakang rumah, dengan meminum sebuah teh, Reyhan pun duduk di samping Nikita dan menyapanya.


"Hai Nikita, kok Lo belom tidur?" Tanya Reyhan yang sudah duduk di samping Nikita.


"Eh Reyhan, gue kebangun nih." Kata Nikita dengan mengusap matanya yang belum sama sekali mengantuk.