Reyhan

Reyhan
ep 40



beberapa hari kemudian, lebih tepatnya hari Selasa, tepatnya jam istirahat, Roy pun langsung mengumpulkan mereka semua di kantin untuk makan bersama, Roy nampak serius dan nampak gugup untuk bilang ke mereka semua.


"Bilang ajah sih, sebenernya dia Nerima ajakan Lo atau nggak?" Tanya Verrel dengan penuh penasaran.


"Duh, gua masih grogi nih." Kata Roy dengan memegangi dadanya yang sedari tadi berdebar kencang.


"Kalo gue udah kesel sama orang, gue biasanya ambil pisau terus nusuk orang yang ngebuat gue kesel nih." Canda Lauren dengan menyenggol lengan Galang.


"Baik, dia Nerima ajakan gue, tapi kalian harus ikut sama gue." Kata Roy dengan keadaan masih grogi dan tersenyum kepada mereka semua.


"Gue sih ikut aja, mumpung liburan akhir tahun gak ada yang ngajak kemana mana." Jelas milea dengan tersenyum.


Semua pun menyetujui untuk ikut bersama dengan Roy, tetapi mauren sedari tadi hanya diam saja dan tidak berbicara satu kata pun, Reyhan yang curiga langsung menggoyangkan badan Mauren agar dia tersadar dari lamunannya.


"Mauren! Mauren! Jangan bengong aja Lo, nanti kesambet." Kata Reyhan dengan memanggil nama Mauren dan menggoyangkan tubuhnya.


"E-eh, gue boleh ajak dia gak?" Tanya Mauren dengan tersenyum kepada Roy.


"Hah? Ajak siapa nih?" Tanya Verrel penasaran.


"Ajak Rizky dan teman teman, dia juga kan pernah membantu kalian melawan--" belum sempat mauren melanjutkan kata-katanya, tiba tiba saja Reyhan membekap mulut Mauren.


"Jangan bahas masalah itu lagi, udah selesai kok dipermasalahkan lagi." Kesal Reyhan dengan membuka mulut Mauren Secara perlahan dari bekapannya.


"Kalo dia mau, ajak aja, apa salahnya? Ya kan Roy?" tanya Santi dengan melirik ke arah Roy.


"Nah! Bener tuh, Biar makin ramai dan makin asik." Seru Roy kepada mereka semua.


"Yaudah, nanti coba gue ajak dia." Jelas Mauren dengan malu malu kucing.


"Oh, jadi itu orang yang lu maksud?" tanya Reyhan dengan sedikit terkekeh.


"Iiih, jangan gitu dong, kan gue jadinya malu." bisik Mauren dengan mencubit lengan Reyhan.


"Roy, deketin gih, biar makin suka dia sama Lo." Bisik Reyhan kepada Roy yang berada di sampingya.


"Nanti aja deh, gue malu sama temen temennya." Jelas Roy dengan melanjutkan makannya.


"Tenanglah, biar gue yang atur ini." Jelas verrel dengan beranjak pergi ke meja milik Nikita dan teman temannya.


Entah apa yang Verrel bisikkan kepada Nikita, seketika mereka langsung pergi dari tempat duduknya masing masing dan pergi entah kemana, membiarkan Aulia sendirian di kursi tersebut, semua langsung memberikan sebuah kode kepada Roy, Roy pun langsung ke tempat duduk Aulia dan duduk di samping Aulia.


"Asik, semoga dia cepet jadian!" Bisik Reyhan kepada mereka semua.


"Emang kenapa kalo udah jadian?" Tanya Santi penasaran.


"Kali aja Roy mau mentraktir kita, sebagai pajak jadian!" Jelas Reyhan dengan terkekeh.


Sementara itu dengan Roy, dia sudah duduk di samping Aulia dan nampak canggung dengan Aulia, Aulia yang sedang makan pun tetap melanjutkan makannya tanpa mengobrol satu kata pun, hingga akhirnya Roy yang membuka pembicaraan tersebut.


"Lo makan apa?" tanya Roy dengan melihat wajah Aulia yang putih dan juga manis.


"Gue lagi makan soto nih, Lo emang gak makan?" tanya Aulia dengan melirik ke arah Roy.


"Gue udah selesai makan kok." Ucap Roy dengan tersenyum.


"Oh ya, gue mau ngomongin soal kemaren." Kata mereka secara bersamaan,dan entah mengapa Roy langsung menatap Aulia sangat jelas dan sangat serius.


"Eh, jadi barengan gini dong!" Kata Aulia dengan tersenyum Malu kepada Roy.


"Yaudah, biar gue aja yang duluan, mereka katanya mau ikut juga." Jelas Roy dengan tersenyum kepada Aulia.


"Nah, gue yakin liburan akhir tahun ini akan sangat menyenangkan." Jelas Aulia dengan tersenyum melihat keluar Kantin.


"Maksud Lo?" tanya Roy dengan kebingungan.


"Iyah, karena kalo tahun baru di puncak itu menyenangkan, suasananya adem, sunyi, dan cukup indah untuk menikmati kembang api dari atas puncak." Jelas Aulia dengan membayangkan betapa indahnya puncak itu.


"Wah, pasti asik banget nih, apalagi kita bakar-bakar." Seru Roy dengan melihat Aulia.


"Boleh aja bakar-bakar jagung dan yang lainnya, tetapi jangan bakar rumah." Gurau Aulia dengan memberikan sebuah lelucon.


"Gue boleh jujur? Jujur yah, lawakan Lo garing." Jelas Roy dengan sedikit mengusap rambut Aulia.


"Makasih ya Roy udah jujur kalo lawakan gue garing, gue suka sama orang yang jujur kayak lo" jelas Aulia yang tadinya bernada tinggi, dan agak pelan secara perlahan.


"Hah? Suka sama orang yang jujur?" Batin Roy dengan tersenyum kepada Aulia.


"Kenapa Lo senyum-senyum?" Tanya Aulia dengan menjentikkan jarinya.


"Ah, gapapa kok!" Jelas Roy dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada Aulia.


Bel masuk pun sudah berbunyi, kini akhirnya mereka kembali belajar hingga pukul 13:00 wib, Setelah beberapa jam mereka belajar, Reyhan yang sedang naik motor bersama dengan Nikita, mampir dulu ke taman di dekat rumah Nikita, untuk memakan eskrim yang dijual oleh penjual yang berjualan disitu.


"Wah, gue baru tau kalo ada orang yang jualan eskrim seenak ini." Seru Reyhan dengan Tersenyum kepada Nikita.


"Harusnya Lo itu keluar rumah, sekali kali kesini, disini suasananya adem kok!" Jelas Nikita dengan memberikan senyuman manisnya kepada Reyhan.


"Emang sih, banyak juga ibu-ibu dan anak-anak yang bermain disini." Jelas Reyhan dengan melihat sekeliling yang nampak ramai di siang hari.


"Iyah nih gue diajak sama Roy, Lo ikut?" Tanya Reyhan kepada Nikita.


"Gue ikut dong! Kira-kira nanti kita bakal ngapain aja yah di puncak?" kata Nikita dengan penasaran dan memandang langit siang hari yang cerah.


"Gue rasa bakalan asik nih kalo kita bakar-bakar!" Seru Reyhan kepada Nikita.


"Wah, jadi gak sabar nunggu liburan akhir tahun." seru Nikita dengan Tersenyum.


Beberapa Minggu kemudian sebelum mereka semua berangkat ke puncak, tepatnya hari Sabtu, dan mereka sedang berkumpul di dalam sebuah ruangan milik ayah Roy yang sering digunakan untuk rapat, mereka semua berkumpul disitu untuk membicarakan liburan yang akan mereka jalankan bersama.


"Oke, semua udah kumpul kan?" Tanya Roy dengan melihat sekeliling.


"Udah nih Roy, emangnya mau membicarakan masalah apa?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Gue ada usul nih." Kata Roy dengan bangkit berdiri dan naik ke atas meja.


"Apaan tuh usulnya?" Tanya Lita penasaran.


"Gue rasa kita harus bawa senjata untuk melindungi diri, karena itu bukan daerah kita, itu adalah daerah orang lain, takutnya kita dibegal atau apa gitu?" Usul Roy dengan sangat serius kepada mereka semua, dan mereka pun mengangguk menandakan sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Galang.


"Wah, benar juga tuh, apalagi kalo ada--" ucap Shannia, belum sempat dia menyelesaikan kata katanya, Willy langsung membekap mulutnya.


"Jangan bahas itu lagi, kalo Lo gamau celaka!" Kesal Willy dengan melepaskan tangannya dari bekapan Shannia.


"Baiklah, tanggal lima belas Desember kumpul di rumah gue jam delapan pagi, kita akan berangkat pake bis!" jelas Roy kepada mereka semua.


"Hah? Bis?! Lo seriusan?" tanya verrel dengan kebingungan.


"Iyah, masa sih mau pake mobil? Kita kan banyak orangnya!" Jelas Roy kepada verrel dengan beranjak keluar dari ruangan tersebut bersama dengan yang lainnya.


"Udah kayak mau study tour aja nih!" jelas Reyhan yang masih memakan cemilan yang tersedia, dan keluar dari ruangan tersebut.


"Ingatlah, geng Halilintar punya banyak mata-mata, jadi berhati-hatilah pada saat disana." Jelas Galang dalam keadaan memejamkan matanya.


"Udah Galang, nanti Lo sakit lagi." Kata Lauren dengan nada khawatir kepada Galang.


Semua pun langsung keluar dari ruangan tersebut dan pergi ke rumah masing-masing, sekarang yang tersisa disitu hanyalah Reyhan dan kawan-kawan, serta juga Mauren dan kawan-kawan, mereka sedang berkumpul di ruang tamu milik roy yang cukup luas, dan sedang bersantai.


"Hadeh, kira-kira Lo mau nembak dia gimana Roy?" Tanya verrel yang berada di samping Roy, dan sedang tiduran.


"Hah? Nembak? Nembak siapa nih?" Tanya Roy dengan berpura-pura tidak tahu.


"Alasan Lo! Mau nembak Aulia pake apa nih?" tanya Willy dengan penuh rasa penasaran, dan mereka pun menunggu Roy berbicara.


"Gue bingung, soalnya gue gapernah pacaran sebelumnya." Jelas Roy kepada mereka semua.


"Waduh, susah kalo kayak gini." Jelas Dewa dengan menepuk jidatnya.


"Tenang Roy, kita bakal bantuin Lo buat nembak dia." jelas Lita dengan Tersenyum kepada Roy yang sedang gugup.


"Tapi? Bagaimana caranya?" tanya Roy dengan kebingungan.


"Udah, serahin aja sama kita semua, Lo tinggal terima beres!" jelas Reyhan dengan melihat ke mereka semua, dan memberikan kode, semua pun mengangguk mengerti apa yang dimaksud oleh Reyhan.


"Yah, semoga gua diterima sama dia." Jelas Roy dengan menghela napas panjang.


"Oh ya Mauren, kok Lo ajak Rizky sih? Kenapa?" tanya Reyhan kepada Mauren yang sedang asik bermain PS4.


"Eh? Apa salahnya ngajak dia? Biar lebih seru dan asik kan?" tanya Mauren dengan melirik ke arah Reyhan dan yang lainnya.


"Gue tau kok, kalo Lo suka sama Rizky, ya kan?" Goda Willy dengan tersenyum menggoda.


"Hmm, nggak kok, gue sama dia cuma teman doang, apa salahnya sih ngajak?!!" Kesal Mauren kepada Willy yang menggodanya.


"Roy, Lo gamau buat barang-barang yang menarik gitu?" tanya Shinta dengan memberikan sebuah kode kepada Roy.


"Maksudnya barang-barang menarik?" tanya Roy kebingungan kepada Shinta.


"Iya, Lo coba buat sesuatu yang baru lagi, topengnya diperbaharui." jelas Shinta kepada Roy, dan Roy pun mengangguk menandakan mengerti apa yang dimaksud oleh Shinta.


"Jangan Roy! Kita mau liburan, bukan mau lawan mereka lagi! Jadi gue rasa jangan!" Bentak Dewa dengan menahan tangan Roy yang hendak pergi.


"Apa salahnya memperbaharui topeng tersebut? Buat jaga-jaga." Kata Roy dengan melihat dewa sangat serius.


"Sudahlah Roy, kita mau liburan, gak akan berhubungan dengan mereka lagi." jelas Santi dengan tersenyum kepada Roy.


"HM, baiklah gua gak akan buat topeng lagi, tapi kalo kita dalam bahaya, kita harus bersiap untuk melawan." jelas Roy kepada mereka semua, dan mereka pun mengangguk.


"Percayalah Roy, gua akan bantu Lo untuk membuat topeng itu menjadi lebih canggih lagi." Batin Shinta dengan melihat terus ke arah Roy.


Beberapa hari kemudian, tepatnya hari dimana mereka berangkat menuju ke puncak bersama-sama, dan naik bus milik Roy, mereka sedang berkumpul di rumah Roy dan hanya baru ada Mauren dan kawan-kawannya, Roy yang sedang duduk menghampiri Mauren yang sedang duduk di taman.


"Kemana nih yang lain?" tanya Roy dengan menghampiri Mauren yang sedang memandangi kolam ikan kecil di taman tersebut.


"Gatau nih gue, coba aja Lo teleponin." jelas Mauren dengan Tersenyum kepada Roy.


"Lo beneran suka sama Rizky?" tanya Roy secara Tiba-tiba yang membuat Mauren kaget.