
"Iyah pagi, Lo udah makan belom?" Kata Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Itu apaan? Lo beli jam tangan baru?" Tanya Nikita dengan melirik ke arah jam tangan Reyhan yang berada di tangan kanan.
"Iyah nih, dikasih mama gue entah kenapa secara tiba-tiba, katanya sih buat jaga-jaga." Kata Reyhan dengan menundukkan jam tersebut kepada Nikita.
"Jaga-jaga? Maksudnya?" Tanya Nikita dengan kebingungan dan duduk di samping Reyhan.
"Ah nggak kok, Lo gaperlu tahu ini urusan laki laki." Kata Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Iih, kasih tau dong, gue kan penasaran ayo kasih tau kalo nggak gue kelitikin nih." Ancam Nikita dengan perlahan mengelitiki pinggang Reyhan.
"Jangan dong, geli anjir." Kata Reyhan dengan menghindar dari kelitikan Nikita.
"Makanya kasih tau, atau gue kelitikin nih ya." Ancam Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Tetep gamau, hahaha!" Ledek Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
Seketika nikita pun mengelitiki pinggang Reyhan dengan sangat cepat, dan itu membuat Reyhan kegelian hingga dia berejolak Karen geli yang dirasakan, dan mereka pun secara tak sengaja saling tatap tatapan dalam waktu yang cukup lama, hingga Reyhan tiba-tiba salah tingkah.
"Emm, maaf yah maaf." Kata Reyhan dengan tersenyum dan agak salah tingkah.
"Ngapain minta maaf anjir, punya salah aja kagak Lo sama gue." Kata Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.
"Oh Iyah, gue kan gak ada salah apa-apa sama Lo!" Ucap Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Oh ya, temenin gue beli buku yuk? nanti pas pulang sekolah, kira-kira Lo bisa gak?" Kata Nikita dengan melihat Reyhan secara serius.
"Hmm, bisa deh kayaknya, nanti gue usahain yah!" Kata Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
Kring!!!
Itu adalah tanda bahwa bel masuk sudah berbunyi, dan semua murid pun memulai pelajarannya Seperti biasa, hingga beberapa jam kemudian, kini bel pulang sekolah sudah berbunyi dan semua anak langsung keluar kelas, Reyhan yang sudah siap di depan gerbang, sedang menunggu Nikita yang sedang ke toilet, dia masih menunggu,sampai ada Roy yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Lo nungguin siapa?" Tanya Roy singkat dengan tersenyum.
"Gue lagi nunggu Nikita nih, Lo kenapa gak pulang?" Tanya Reyhan dengan memberikan senyuman kepada Roy.
"Ini gue mau pulang lagi buat sebuah senjata untuk melawan geng Halilintar." Bisik Roy dengan melirik ke arah kanan dan juga kiri, dan Reyhan juga ikut ikutan.
"Yaudah, buat yang keren yah gue juga bikinin jangan lupa!" Ujar Reyhan dengan menepuk pundak Roy yang baru saja pergi.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Nikita sudah selesai dari kamar mandi dan dia sudah berada di atas motor Reyhan, Reyhan pun seketika langsung pergi ke mall, menemani Nikita membeli sebuah novel.
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, dia pun sudah sampai di mall tersebut dan Nikita memilih novel tersebut dengan sangat cepat dan sudah ditentukan dari jauh hari sebelum dia membeli novel tersebut.
"Buset, biasanya lama kalo anterin cewek beli novel, ini Lo belom baca atau apa main ambil aja." Ucap Reyhan dengan melihat ke arah Nikita.
"Gue kemaren udah baca buku ini, duitnya kurang pas mau beli kemaren, jadi gue balik lagi hari ini dengan uang yang pas!" Jelas Nikita dengan membawa novel tersebut ke kasir untuk membayarnya dan Reyhan pun mengikutinya.
Setelah selesai membayar di kasir, Reyhan dan Nikita pun berjalan Menuju keluar mall tersebut, tetapi Reyhan ingin membelikan Nikita eskrim yang ada di mall tersebut, setelah selesai membeli eskrim mereka pun duduk terlebih dahulu untuk menikmati eskrim yang ada, agar tidak mencair.
"Enak kan Eskrimnya?" Tanya Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Nggak sih, biasa aja kok." Kata Nikita singkat dengan terus memakan eskrimnya.
"Lo beli novel genre apaan tuh?" Tanya Reyhan yang nampak penasaran.
"Kepo Lo!! Udah kayak wartawan infotainment aja, suka kepoin orang dan gosipin orang" Ketus Nikita dengan kesal kepada Reyhan.
"Hahaha, Lo lucu kalo lagi marah dan pas bilang 'kayak wartawan infotainment aja!' lucu banget Anjir mukanya." Ucap Reyhan dengan tertawa
"Yah, Lo malah ngeledekin gue, yuk kita main dulu bentar." Ajak Nikita dengan menarik tangan Reyhan menuju ke Timezone.
"Wah, perasaan gue gak enak nih, gue rasa gue ada yang ngikutin nih daritadi." Gumam Reyhan dengan melihat sekeliling mall tersebut yang nampak ramai.
"Reyhan, Lo kenapa bengong aja? Ada masalah?" Tanya Nikita dengan melihat Reyhan secara seksama yang dari tadi hanya bengong saja dan tidak fokus.
"Eeh nggak kok, yaudah ayo kita ke Timezone!" Ucap Reyhan dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada Nikita.
Mereka berdua pun berjalan ke Timezone, dan dari kejauhan ada orang yang memperhatikan Reyhan dengan penuh kekesalan, dan itu adalah mata mata dari geng halilintar dia sedang membuntuti Reyhan sedari tadi sewaktu pulang sekolah, dan dia pun menghubungi Michael.
"Halo bos, gue udah buntutin anak yang bos bilang, Reyhan nih bos." ucap mata mata tersebut lewat telepon.
"Baiklah, terus buntuti dia hingga dia berada di jalanan sepi, baru kalian hajar, kalau perlu bunuh!" Kesal Michael dengan senyuman ingin membunuh.
"Baiklah bos, saya akan usahakan." Ucap orang tersebut dengan mematikan telepon.
Kini Reyhan sudah berada di Timezone, dan dia sedang bermain bola basket bersama dengan Nikita, pada saat sedang bermain Reyhan mendapat telepon dari orangtuanya, Reyhan pun segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo ma? Kenapa?" Ucap Reyhan yang sudah mengangkat telepon.
"Kamu lagi dimana?" tanya mama Reyhan singkat dengan nada khawatir.
"Kamu gak tahu seberapa bahayanya di luar sana? Kamu dan teman teman kamu itu sudah di incar oleh geng Halilintar!" Ucap Judy dengan nada agak kencang.
"Yaudah ma, sebentar lagi aku pulang kok, tenang aja." Ucap Reyhan dengan mematikan teleponnya dan kembali ikut bermain bersama dengan Nikita.
"Haduh, nih anak semoga dia pulang kurang dari jam 6 sore." Keluh Judy dengan mengusap dadanya.
"Siapa tadi? Kayaknya lama banget?" Tanya Nikita dengan melirik Reyhan.
"Biasa, mama gue tuh" Ucap Reyhan dengan tersenyum.
"Kenapa mama Lo nelepon?" tanya Nikita kebingungan.
"Ah biasa, urusan anak sama orangtua, udah ayo lanjutkan mainnya." kata Reyhan dengan santai dan melanjutkan mainnya bersama dengan Nikita.
"Yah, parah bener gue gak dikasih tau." Ucap Nikita dengan menunduk.
"Yaelah, gue disuruh pulang, soalnya diluar bahaya banget kata mama gue." Ucap Reyhan dengan nada pelan kepada Nikita.
"Bahaya? Maksud Lo bahaya?" Tanya Nikita kebingungan dengan melihat ke arah Reyhan.
"Gue sedang diincar oleh anggota geng Halilintar, gue punya feeling bahwa gue bakalan dibunuh!" Jelas Reyhan dengan berbisik kepada Nikita.
"Hah? Kok bisa? Ceritain dong!" Tanya Nikita dengan terkejut.
"Ceritanya panjang, udah gausah gue ceritain." Cegah Reyhan agar tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya
"Gue punya perasaan gak enak nih, udah jam empat juga nih, pulang yuk takut gue kalo pulang lewat dari jam enam." ucap Nikita dengan menggandeng tangan Reyhan agar pulang.
"Yaudah, gue juga punya perasaan gak enak jika kita lama lama diluar begini." Ucap Reyhan dengan berjalan menuju keluar mall.
Mereka berdua pun sekarang sudah berada di parkiran, dan dia merasa bahwa di parkiran tersebut sedang ada yang mengamatinya entah darimana, Reyhan merasa bahwa kejadian dewa diserang akan terulang kepadanya.
"Ayo naik cepetan, gue rasa geng Halilintar lagi mengincar kita berdua!" Ucap Reyhan dengan terburu buru kepada Nikita.
"Sebentar dulu, gue susah naik motor Lo, roknya terlalu ribet anjir." Ketus Nikita dengan berusaha naik di motor Reyhan.
Setelah berhasil naik motor Reyhan, kini Reyhan sudah bersiap untuk pulang ke rumah masing masing, namun pada saat di perjalanan dia melihat dari kaca spion bahwa ada yang sedang mengikutinya, Nikita juga merasakan hal yang sama, dan Nikita mulai panik.
"Reyhan, gimana nih? Gue takut." Kata Nikita dengan memeluk Reyhan erat.
"Tenang aja Nikita, gue bakal lawan mereka kalo mereka udah lawan kita." Jelas reyhan dengan berbisik kepada Nikita.
"Kalo Lo kalah gimana?" Tanya Nikita dengan nada khawatir.
"Gue bakalan berusaha melindungi Lo dengan cara apapun, nyawa pun taruhannya!" Ucap Reyhan dengan tersenyum kepada Nikita.
"Tapi, jam tangan itu gunanya buat apaan?" Tanya Nikita dengan melihat ke arah jam tangan Reyhan.
"Gue juga gatau, lihat saja nanti kalau sudah melawan mereka." ucap Reyhan dengan melihat ke belakang dan tidak ada siapa siapa.
"Mereka udah nggak ikutin kita lagi?" Tanya Nikita dengan melirik ke arah belakang.
"Yang gue kenal dan gue denger, geng Halilintar tidak mungkin seperti itu, dia akan lakukan cara apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau." Jelas Reyhan dengan berbisik di tengah perjalanannya.
"Reyhan, di depan sana ada apa tuh?" Kata Nikita dengan menunjuk ke arah depan Reyhan.
"Waduh, kita dikepung nih!" Ucap Reyhan khawatir dengan melihat sekeliling, dan sudah ada banyak geng Halilintar yang mengepungnya.
"Reyhan, apa Lo bisa lawan mereka yang banyak begitu?" Tanya Nikita dengan nada khawatir.
"Gue yakin gue bisa, Lo tunggu disini dan jangan kemana mana." Perintah Reyhan dengan turun dari motor dan bersiap dengan pisaunya.
Sementara itu dengan ketua geng yang lainnya, mereka sedang asik bersantai di markas milik Judy, dan pada saat itu langsung berbunyi alarm bahwa Reyhan dalam bahaya, sang ahli teknologi, yaitu orang berjas hitam langsung berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Reyhan.
"Ternyata dia dikepung oleh pasukan geng Halilintar." ucap orang berjas hitam tersebut dengan mengendalikan drone miliknya.
"Gawat, dia bawa seorang wanita, kita harus bantu dia!" Ucap tofu dengan menunjuk ke arah wanita tersebut.
"Itu seperti Nikita, teman anak gue, cepatlah sebelum terlambat." Ucap ruby dengan panik dan melihat ke arah mereka semua.
"Siapa yang mau keluar duluan bantu mereka?" Tanya orang berjambul tersebut.
"Telepon geng tupai terbang, suruh dia bantu Reyhan, markas geng tupai terbang ada disekitar situ." Usul snake Dengan tersenyum kepada orang berjas hitam tersebut.
"Baiklah, akan gue usahakan!" Ucap orang berjas hitam tersebut dengan tersenyum.
Reyhan kini sudah turun dari motor dan sudah bersiap dengan pisau di tangan kirinya, sudah lama dia menunggu tetapi para anak buah geng Halilintar tersebut belum menyerang dia, dan muncullah orang bertopeng badut dan sudah dilengkapi dengan jaket berlogo petir, dia keluar dari kerumunan para anggota geng Halilintar tersebut dengan membawa sebuah pisau.
"Hahaha, kita bertemu lagi Reyhan!" Ucap orang topeng badut tersebut dengan tertawa.
"Mau Lo apa? Kenapa jadi gue juga yang kena?" Tanya Reyhan dengan sangat kesal dan penuh kebingungan.