Reyhan

Reyhan
ep 61



"Dulu manggilnya Lo gue, sekarang aku kamu nih, gimana hubungan kalian?" Goda Judy dengan menyenggol lengan Reyhan.


"Kasih tau jangan?" Tanya Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan.


"Kasih tau aja, biar mama tau." Bisik Reyhan kepada Nikita.


"Aku sama Reyhan pacaran Tante." Jelas Nikita dengan menggenggam tangan Reyhan.


"Hah!? Pacaran? Serius kalian berdua?" Tanya Judy dengan sedikit terkejut.


"Iyah, kita berdua pacaran Tante." Kata Nikita dengan Tersenyum.


"Ternyata, apa yang di prediksi oleh Galang beneran, mama udah tau itu dari Galang." Jelas Judy dengan Tersenyum.


"Galang? Jadi Galang ngasih tau mama kalo kita berdua bakalan pacaran?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Yah, bisa jadi begitu, yaudah yuk masuk ke dalam udah malam nih." Ajak Judy kepada mereka berdua.


"Aku mau istirahat, capek banget nih." Kata Reyhan dengan beranjak masuk ke dalam.


Judy dan Nikita pun tidur bersama, sedangkan Reyhan tidur sendiri seperti biasanya, mereka berdua pun tertidur dengan pulas, bahkan suara gaduh apapun itu tidak terdengar oleh mereka, beberapa hari kemudian tepatnya hari Senin, mereka sudah waktunya masuk sekolah pada saat itu.


Reyhan yang sudah siap dengan sepatunya, dan sudah berdandan layaknya laki-laki pada umumnya, kini dia sudah berada di halaman rumah untuk menghirup udara pagi hari, Reyhan yang sudah siap langsung menaiki motornya dan hendak pergi, tetapi di tahan oleh mamanya.


"Tunggu sebentar, warisan keluarga harus kamu jalankan." Tahan Judy dengan Tersenyum.


"Oh iya, jualan yah ma, mana nih jualannya." Kata Reyhan dengan Tersenyum.


"Ini ada nasi uduk sepuluh bungkus, dan juga lumpia sepuluh bungkus, jangan lupa setoran nanti pas pulang sekolah." Jelas Judy kepada Reyhan, dan Reyhan hanya mengangguk.


Reyhan yang sudah siap langsung berangkat ke rumah Nikita untuk menjemputnya di pagi hari, setelah beberapa menit kemudian, Reyhan sudah sampai di halaman rumah Nikita yang nampak luas, Nikita yang sedang memakai sepatu pun sedikit mendongak ketika mengetahui ada Reyhan yang baru saja datang.


"Hai, selamat pagi selebgram mukbang." Sapa Reyhan dengan mengusap rambut Nikita.


"Iyah pagi, nanti dulu ya, aku pake sepatu dulu." Kata Nikita seraya mengikat sepatunya.


"Iyah, gapapa kok, kamu udah makan?" Tanya Reyhan dengan Tersenyum.


"Udah dong, makan lima porsi bubur ayam." Seru Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan.


"Astaga, itu makan atau rakus?" Tanya Reyhan dengan terkejut.


"Kamu kayak gatau aku aja, kalo makan bisa berapa porsi." Goda Nikita dengan mengambil tasnya.


"Udah siap belom?" Tanya Reyhan dengan tersenyum.


"Udah dong, ayo kita berangkat." Kata Nikita dengan menaiki motor Reyhan.


Reyhan dan Nikita pun langsung berangkat ke sekolah dengan menggunakan motor, Nikita memeluk Reyhan sangat erat, dan Reyhan membiarkan saja, malahan Reyhan menikmati hal tersebut, beberpa menit kemudian mereka pun sampai di parkiran sekolah, dan turun secara bersamaan.


Seluruh murid yang sedang lewat langsung melihat ke arah mereka berdua yang nampak akrab sekali, layaknya orang pacaran, beberapa orang ada yang berbisik, dan bergosip sana sini, Reyhan dan Nikita tidak memperdulikan itu, mereka berdua tetap saja terus berjalan. Menuju kelasnya, hingga dia sampai di kelas dan melihat Dewa sedang bermain game dengan Alucard.


"Pagi Dewa, lagi main apa nih?" Tanya Nikita dengan Tersenyum kepada Dewa.


"Diem dulu Lo, sebentar lagi gue menang nih." Ketus Dewa yang masih fokus bermain game.


"Main game terus, belajar nggak Lo." Kata Shannia dengan Berkacak pinggang di hadapan Dewa.


"Oh, jadi Shannia sekarang sama Dewa?" Goda Nikita dengan Tersenyum kepada Shannia.


"Diem Lo mata empat, gue lagi main nih." Ketus Dewa dengan terus bermain.


"Siapa Lo bilang mata empat? Gue bukan mata empat yah." Ketus Shannia dengan menjewer telinga Shannia.


"Saya mencium bau-bau orang akan jadian sebentar lagi." Kata Reyhan dengan mengikuti gaya Galang.


"Gaya gue bukan begitu, nyari gue sentil Lo." Ketus Galang yang tiba-tiba menyentil Reyhan.


"Astaga, kebiasaan Lo yah, pagi-pagi udah buat orang jantungan." Ketus Nikita dengan mencubit pinggang Galang.


"Hahaha, ini gak ada apa-apanya dibandingkan cubitan Lauren." Remeh Galang dengan tertawa.


"Sebenernya Lo pacaran gak sih sama Lauren?" Tanya Reyhan kebingungan di tengah keramaian kelas, seketika kelas langsung menjadi hening.


"Astaga, kok jadi sepi kayak kuburan?" Batin Galang dengan melihat sekeliling.


"Jawab pertanyaan gue dong, pacaran gak Lo sama dia?" Tanya Reyhan kepada Galang.


"Ada satu masalah yang belum gue selesaikan, kalo gue pacaran sama dia gue yakin akan ada yang iri." Kata Galang dengan memejamkan matanya.


"Iri? Maksud Lo?" Tanya Nikita.


"Iyah, soalnya ada satu cowok yang suka sama dia dari semenjak pertama kali ketemu sewaktu kelas sepuluh." Jelas Galang kepada mereka.


"Terus? Lo bakal merjuangin dia?" Tanya Reyhan dengan penasaran.


"Entahlah, kalo gue perjuangin salah, gak di perjuangin juga salah, jadi serba salah." Kata Galang dengan memejamkan matanya.


"Apa yang Lo lihat? Apakah cowok tersebut cemburuan kayak Michael?" Tanya Reyhan dengan melihat sekeliling.


"Gue rasa cowok tersebut adalah mata-mata Michael." Jelas Galang kepada mereka.


"Siapa mata-matanya?" Tanya Shannia yang ikut bergabung.


"Anak kelas dua belas IPA dua, bahaya kalo gue kasih tau namanya." Kata Galang dengan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa bahaya? Apa kita bakal di incar juga?" Tanya Dewa dengan penasaran.


"Dia adalah ketua geng batu kali, mereka geng terkuat nomor sembilan di Indonesia." Jelas Galang kepada mereka.


"Kenapa di sekolah ini jadi banyak geng sih?" Tanya Nikita dengan geram.


"Karena Michael yang mengirim mereka kesini." Jelas Galang kepada mereka.


"Michael? Jadi geng suruhan Michael itu ada disini?" Tanya Shannia dengan penasaran.


"Jelas iya, Michael sudah merencanakan ini semua." Jelas Galang kepada mereka.


"Merencanakan ini semua? Maksud Lo?" Tanya Reyhan kebingungan.


"Galang! Lo ikut gue sekarang!" Panggil Lauren dari luar kelas dengan menunjuk Galang.


"Gue rasa ada yang kangen nih sama Galang." Bisik Dewa kepada mereka semua.


Galang pun hanya diam ketika mendengar suara panggilan Lauren yang dia tahu, bahwa suara panggilan tersebut artinya dia nampak serius dan akan marah dengan Galang, Galang bisa merasakan hal tersebut, kini mereka berdua sudah berada di gazebo, di gazebo cukup ramai dikarenakan ada beberapa anak yang sedang nongkrong di sana.


"Kenapa Lauren?" Tanya Galang singkat dan dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan Oleh mereka berdua.


"Gue hanya memberitahu mereka bahwa ada mata-mata Michael disini." Jelas Galang kepada Lauren.


"Ngasih tau? Kan Lo bilang sendiri ke gue, kalo Lo mau jadi manusia normal kayak gue." Kata lauren dengan membentak Galang.


"Tapi Lauren, itu biar mereka--" ucapan Galang terhenti ketika Lauren sudah nampak kesal dan nampak marah kepadanya.


"Biar mereka apa? Biar mereka bersedia kapanpun untuk melawan geng Halilintar lagi!" Potong Lauren dengan membentak Galang.


"Bukan gitu Lauren, dengerin dulu penjelasan gue." Kata Galang hendak memegang tangan Lauren.


"Apa yang Lo janjikan sama gue? Di puncak?" Tanya Lauren dengan serius.


"Gue berjanji akan menjadi manusia normal sama kayak Lo." Jelas Galang kepada Lauren.


"Kenapa Lo gunakan kekuatan Lo?" Tanya Lauren dengan kesal.


"Gue hanya membantu mereka, gue hanya--" ucapan Galang terhenti lagi ketika Lauren sudah sangat marah.


"Hanya membantu kata Lo? Lo udah terlalu sering menggunakan kekuatan Lo untuk membantu mereka, kenapa Lo bilang masih membantu mereka!!!" Teriak Mauren dengan melihat Galang sangat serius.


"Tapi lauren--" ucapan Galang terhenti dan membuat Lauren sangat marah kepadanya.


"Gak ada tapi-tapi! Gue udah kecewa berat sama Lo!" Teriak Lauren dengan meninggalkan Galang.


"Lauren! Dengerin penjelasan gue dulu." Kata Galang dengan mengejar Lauren.


"Apalagi yang mau dijelaskan? Gue hanya mau Lo menjadi manusia biasa dan tidak menggunakan kekuatan Lo." Kata Lauren dengan perlahan mengeluarkan air mata.


"Lo kenapa nangis?" Tanya Galang dengan mengusap pipi Lauren.


"Gue gak mau Lo sakit lagi gara-gara harus menggunakan kekuatan itu, gue gamau Lo kenapa-napa." Kata Lauren dengan memeluk Galang sangat erat, yang membuat seluruh orang di gazebo melihat ke arah mereka berdua.


"Sssst, tenang Lauren, gue akan baik-baik aja." Kata Galang dengan berusaha menenangkan Lauren.


"Gue mau Lo jangan langgar janji lagi, atau kita gak akan pernah ketemu selamanya." Jelas Lauren dengan Tersenyum kepada Galang.


"Tapi, kalo mereka muncul lagi gimana?" Tanya Galang dengan kebingungan.


"Kalo mereka muncul, suruh Abang Tristan bantu Lo lawan mereka, biar dia yang gunakan kekuatan itu." Ucap Lauren dengan melepas pelukannya.


"Tapi, kalo misalnya dia nolak?" Tanya Galang dengan terkekeh.


"Banyak banget alasannya, nyari gue jitak!" Ketus Lauren dengan menjitak kepala Galang sangat keras.


"Haha, gue becanda kok, yaudah ayo kita ke kelas." Ajak Galang dengan menggandeng tangan Lauren.


Kringgg!!!


Kini bel masuk pun sudah berbunyi, semua murid masuk ke kelasnya, nampak tempat duduk mereka dirubah oleh wali kelasnya masing-masing, dan kini Reyhan duduk bersama dengan Nikita, walau teman sekelasnya belum tahu mereka berpacaran, tetapi pak Gavyn nampak sudah mengetahuinya.


Beberapa jam kemudian setelah pulang sekolah, semua murid kini berada di parkiran, Reyhan sudah berada di parkiran bersama dengan Nikita, dan hendak pergi pulang ke rumah, tetapi Nikita mengajaknya ke suatu tempat.


"Aku mau nunjukin kamu sesuatu." Kata Nikita dengan memakai helmnya.


"Nunjukin apa? Jangan kodok ya." Kata Reyhan dengan bergidik ketakutan.


"Udah, jalan dulu, nanti juga kamu tahu sendiri." Kata Nikita dengan menepuk pundak Reyhan.


"Iyah deh, yang udah pacaran, pasti pulang bareng." Sindir Willy dengan tersenyum.


"Eh jomblo, diem Lo ya." Ketus Reyhan dengan menoyor kepala Willy.


"Udah sayang, ayo kita jalan." Suruh Nikita dengan memeluk Reyhan.


"Astaga, enak banget dipeluk sama dia." Kata Willy dengan tersenyum melihat kemesraan mereka berdua.


Reyhan pun mengikuti arahan yang diberikan oleh Nikita, beberapa menit kemudian, kini mereka sudah berada di taman yang cukup luas tersebut, dengan banyak aneka makanan dan juga air mancur yang indah, Reyhan dan Nikita pun berjalan ke arah kursi yang tersedia di depan air mancur tersebut.


"Ini tempatnya? Bagus juga yah." Kata Reyhan dengan melihat sekeliling.


"Ini adalah tempat dimana waktu aku kecil sama orangtua aku, main disini." Jelas Nikita dengan menggenggam tangan Reyhan.


"Wih, pasti asik dong kalo waktu kecilnya main disini?" Goda Reyhan dengan menyikut lengan Nikita.


"Emang tempat ini asik, tapi semakin hari semakin berubah, yang dulunya ada arena bermain anak-anak, menjadi tidak ada." Kata Nikita dengan melihat sebuah perkarangan yang kosong.


"Jangan sedih, kan sekarang kamu udah dewasa, gak cocok main perosotan lagi." Goda Reyhan kepada Nikita.


"Iih kamu, selalu aja ngeledekin aku!" Ketus Nikita dengan cemberut.


"Walau aku selalu godain kamu, tapi kamu sayang kan? Hahaha." Goda Reyhan dengan tertawa.


"Nggak ah, aku udah gak sayang lagi sama kamu!" Ketus Nikita dengan cemberut.


"Yah, gitu ya? Yaudah deh aku pasrah." Kata Reyhan dengan menundukkan kepalanya.


"Sayang, aku cuma bercanda doang kok." Kata Nikita dengan mengelus pipi Reyhan.


"Hahaha, ketipu nih, hahaha." Ledek Reyhan dengan tertawa.


"Ada tukang gulali, aku mau dong." Kata Nikita dengan menunjuk tukang gulali.


"Sebentar yah, aku beliin dulu." Kata Reyhan dengan beranjak pergi meninggalkan Nikita.


Reyhan pun langsung ke tukang gulali tersebut, dan dia membeli dua gulali untuk makan bersama dengan Nikita, setelah beberapa menit menunggu akhirnya gulali Reyhan sudah siap dan Reyhan kembali duduk bersama Nikita.


"Nih punya kamu." Kata Reyhan dengan memberikan Gulali Tersebut.


"Makasih ya sayang, aku suka banget sama gulali ini." Kata Nikita dengan Tersenyum kepada Reyhan, dan bersandar.


"Hmm, Iyah sayang, aku akan selalu membuat kamu senang, apapun itu caranya." Jelas Reyhan dengan mengusap rambut Nikita.


"Taman ini dulu ramai sekali, sekarang jadi seperti ini, makin hari semakin sepi nih taman." Kata Nikita dengan tersenyum kepada Reyhan.


"Udah sayang, gausah dipikirin lagi, mungkin pemerintah sedang mempersiapkan sesuatu." Kata Reyhan dengan mengusap rambut Nikita.


"Aku beruntung bisa dapetin kamu, cowok biasa aja dan tidak terlalu terkenal, aku sangat beruntung." Kata Nikita dengan memeluk Reyhan sangat erat.


"Beruntung? Maksud kamu beruntung?" Tanya Reyhan kebingungan.


"Iyah, selama ini aku kalo mau deketin cowok itu, kayaknya harus sesama selebgram biar makin nambah followers aku, hahaha, lucu banget sih." Jelas Nikita dengan tertawa.


"Kok ketawa? Lucu darimananya?" Tanya Reyhan dengan kebingungan.


"Iya, lucu aja gitu, kenapa setiap selebgram kalo mau pacaran itu harus milih orang yang followernya lebih banyak dari dia." Kata Nikita dengan terkekeh.