Reborn Genius

Reborn Genius
Bab 79 | Ujian Akhir Sekolah (II)



...Ujian Akhir Sekolah (II)...


Disaat Felix ikut dengan Bu Maya ke kantor kepala sekolah, Lisa melihat Hirano yang juga ada disana, dia pun menarik Hirano dan membawanya ke belakang gedung asrama.


"Hirano, apa maksud dari semua? ini kah ancaman untuk ku?!" ucap kesal Lisa.


Hirano pun melempar tangan Lisa dan merapihkan baju dan rambutnya.


"Iya, itu salah satunya dan Lisa, kamu tidak tahu siapa sebenarnya?" jawab Hirano.


"Apa katamu?"


Hirano pun tersenyum. Lalu, dia mengambil ponsel dan menunjukkan beberapa video Felix sewaktu di gudang dan melukai banyak orang mengunakan senjata api.


"Dia penjahat, Lisa. Dan itulah kenyataannya," hasut Hirano.


Lisa pun mengepalkan tangannya dengan kuat dan menitihkan air matanya.


"Hirano, dia bukan orang yang bodoh dan pasti ada alasan," ucap pembelaan Lisa.


"Alasan apapun. Penjahat tetap penjahat itu tidak akan merubah kenyataan. Baiklah, Lisa. Lebih baik kamu jauhi dia," ucap Hirano yang memegang kedua bahu Lisa yang sedang menangis.


Sesudah mengatakan itu, Hirano membalikan badan dan meninggalkan Lisa namun, Lisa menghentikan nya.


"Hirano, Tunggu!" seru Lisa.


Hirano pun tersenyum dan menghentikan langkahnya. Lalu mengembalikan wajahnya dengan ekspresi empati.


"Ada apa, Lisa?"


"Aku akan menjual jawaban ujian ku. Tapi tidak dengan uang!" ucap Lisa dengan tatapan tajam.


"Lalu?"


"Aku ingin kamu membantu Felix!" ucap tegas Lisa.


"Baiklah aku akan bantu akan tetapi, kamu harus memegang janjimu!" tegas Hirano.


"Aku berjanji!" tegas Lisa juga.


Sesudah itu, Hirano pun pergi meninggalkan Lisa.


Lisa terduduk dan menangis, "Maafkan aku, Felix."


Lisa meminta maaf dikarenakan dirinya pernah berjanji kepada Felix untuk tidak melakukan kecurangan lagi. Hal itu pun mengingatkan kejadian saat diatap sekolah.


Waktu itu Lisa baru masuk Utopia High school yang dimana saat Lisa ingin makan siang diatap, dia melihat Felix.


"Hei, Felix!" sapa Lisa yang menghampiri Felix.


Felix yang sedang merebahkan diri di kursi atap sekolah hanya meliriknya lalu, kembali menutup mata dengan sikap tidak peduli.


Saat sudah berjarak dekat dengan Felix, Lin pun mendekatkan wajahnya dan melihat Felix yang sedang menutup matanya.


"Kamu tidur atau pura-pura tidur?" gumam Lisa.


"Aku tidak mencari mu. Ge er banget kamu," ucap Lisa yang melihat ke langit seraya senyum diwajahnya.


Felix pun bangun dari rebahannya dan duduk dengan menghadap arah yang sama dengan Lisa.


"Lalu, kamu sedang apa disini?" tanya Felix.


"Aku ingin belajar. Disini lebih tenang daripada di perpustakaan," jawab Lisa.


"Lisa, apa kamu masih menjual jawaban ujian?" tanya dingin Felix.


Lisa yang terkejut mendengar pertanyaan Felix itu dan menatap heran.


"Darimana kamu tahu?" tanya Lisa.


Felix pun tersenyum kecil dan beranjak dari kursinya lalu, berdiri disamping Lisa.


"Apa alasannya?" tanya Felix kembali.


"Jika alasannya bukan uang itu pastilah bohong tapi, aku tidak ingin dicurangi dunia ini maka dari itu, aku harus bertindak curang untuk melawannya," jawab Lisa yang memasang wajah kecewa.


"Jadi, begitu. Menurut ku, kamu melakukan itu hanya akan menjadi masuk kedalam kecurangan yang lebih dalam lagi," jawab Felix.


Lisa pun merasa tertarik dengan jawaban dari Felix itu. Lalu, melihat kearah Felix.


"Bagaimana cara mu melawan kecurangan?"


Felix pun tersenyum dan melihat Lisa, "Keadilan. Meski harus mengunakan kecurangan namun jika itu demi keadilan dan kebaikan akan ku lakukan."


Lisa pun tersenyum senang, "Wow ... pemikiran mu seperti pahlawan dalam film saja," ucap bangga Lisa.


"Entahlah. Tapi, itulah prinsip ku dan apa kamu mau bergabung dengan ku menjadi kelompok pahlawan?" ucap Felix yang menyambung ucapan Lisa.


Lisa pun tertawa kecil, "Baiklah, aku akan bergabung dengan mu."


"Terimakasih, langkah awal nya. Kamu hentikan perdagangan jawaban ujian dan kita selesaikan rumusan kimia. Tentu jika ada yang membeli hak cipta nya, aku akan membagi dua dengan mu. Bagaimana kamu setuju?" ucap Felix seraya memberikan tangannya.


Lisa tersenyum seraya menerima tangan Felix itu, "Baiklah, aku setuju."


Felix melepaskan jabat tangan nya dan memberikan jari kelingking nya, "Kamu janji?!"


Lisa pun menatap Felix dan menerima jari kelingking itu dengan jari kelingking nya, "Aku berjanji."


Felix dan Lisa pun saling bertukar senyum.


Grukk!


Suara petir menyambar dan menyadarkan lamunan Lisa.


"Felix, Maaf. Sungguh aku minta maaf," ucap Lisa yang menitihkan air mata.


Bersambung ... Ujian Akhir Sekolah (III)