
...Money...
Hari ini merupakan hari duka untuk Felix sekeluarga meski, satu rumah sakit dihebohkan dengan sebuah keajaiban yang dimana terjadi kecelakaan hingga mobil terpental namun, hanya satu yang meninggal yakni sang ayah.
Sedangkan, saat dokter memeriksa keempat anggota keluarga nya yang lain mereka baik-baik saja hanya ada noda darah namun, tidak memiliki luka sekecil apapun.
Meski begitu, Sarah, Renaldy dan Nova tidak berbangga dan senang akan Keajaiban itu lantaran mereka harus dihadapkan sebuah kenyataan ayahnya telah meninggal mereka.
Tidak terkecuali Felix, dia hanya bisa menyalahkan diri sendiri lantaran tidak bisa menyembuhkan dan menyelamatkan sang ayah.
...# 30 July 2008 (Pagi)...
Felix dan sekeluarga mengadakan pemakaman yang tidak begitu besar di rumah duka. Hanya tetangga dan beberapa teman dekat saja.
Tidak ada kata, tidak ada bahasa.
Sampai Sarah tidak bisa berbicara dan hanya terus menangis. Sedangkan, ketiga anak nya yang membantu sang Ibu dalam pengaturan dan sebagainya.
Tidak lama kemudian, datang dua tamu yang berpakaian polisi memasuki pemakaman. Kehadiran mereka tentu membuat Felix sekeluarga terkejut namun, mereka belum bisa menyapa polisi itu lantaran para polisi itu masih memberikan penghormatan untuk Andika, ayah mereka.
Setelah itu, para polisi menghampiri Felix dan keluarga nya.
"Selamat malam, apakah anda sekalian keluarga dari korban kecelakaan Andika Megantara?" tanya salah satu polisi.
Sesaat mendengar ucapan polisi itu, Sarah tiba-tiba pingsan yang membuat Felix, Nova dan Renaldy panik.
"Kak Nova, Kak Renaldy. Tolong rawat dan jaga ibu. Lalu, izin aku untuk mewakili keluarga untuk berurusan dengan bapak polisi ini!"
Nova dan Renaldy saling bertukar pandang. Lalu, memberikan anggukan kepala.
"Baiklah, kami serahkan kepada mu, Lix!" ucap Renaldy.
"Iya, selesaikan baik-baik dan sampai tuntas," sambung Nova.
Felix tersenyum seraya mengangguk kepalanya.
Lalu, Renaldy mengendong Ibunya dan Nova mengikuti langkah kakaknya.
"Maaf, pak polisi sekalian. Aku Felix Megantara, putra dari Andika Megantara. Jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan, aku akan mewakili nya."
"Jika begitu, silahkan ikut dengan kami ke kantor polisi untuk meminta keterangan," ucap polisi.
"Baiklah," jawab Felix.
Sesudah itu, Felix pergi ke kantor polisi dan Felix mengatakan semua kronologi yang terjadi.
"... Mobil yang kuingat, mobil Jeep Wrangler berplat nomor B 7777 RBT."
Polisi yang ada dihadapan Felix pun saling melihat dan salah satu nya ada yang mengelengkan kepalanya.
"Maaf, dek Felix. Seperti kamu telah salah melihat," ucap polisi.
"Apa?" kaget Felix karena diri nya yakin dengan ingatan nya lantaran dia memiliki kemampuan unik Photography memories.
"Dari laporan yang kami terima. Pelaku yang menabrak anda sekeluarga sudah menyerahkan dirinya dan hasil otopsi. Pengemudi mabuk hingga tidak sengaja menabrak mobil adek sekeluarga hingga membuat korban Andika Megantara meninggal dunia didepan jadi kami dan kejaksaan akan memberikan hukuman kepada pelaku seberat-beratnya seusai hukum yang berlaku." Polisi yang ada hadapan Felix memberikan sebuah amplop tebal. "Pelaku juga memberikan biaya kompensasi."
Felix masih terdiam dan menerima amplop itu dan saat dilihat nya terdapat tumpukan uang merah. Hal ini tentu membuat Felix curiga.
"Boleh aku bertanya apakah pekerjaan dari si pelaku?"
"Dia supir truk," jawab Polisi.
Mendengar itu, kecurigaan Felix semakin bertambah. Meski, Felix sedikit kesal namun dia masih mencoba untuk tenang.
"Baiklah, bolehkah aku melihat mobil pelaku?"
"Maaf kami tidak bisa menunjukkan dikarenakan itu bukti dari pelaku kejahatan," ucap polisi.
Lagi-lagi Felix ingin emosi namun, dia tetap menenangkan diri nya dengan mengepal keras tangan nya sampai berdarah di bawah meja sehingga polisi tidak melihat kepalan nya tersebut.
"Lalu, apakah aku bisa bertemu dengan pelaku?"
"Hal itu juga tidak diperbolehkan," jawab polisi.
"Begitu. Yasudah, terimakasih telah mengusut kasus ini."
Sesaat kemudian, Polisi memberikan sebuah kertas kepada Felix.
"Dek Felix, silahkan tanda tangan disini!"
"Dengan ini kasus selesai, terimakasih atas kerjasama!" seru polisi yang berdiri lalu, memberikan tangannya.
Felix pun juga berdiri dan menerima tangan polisi dengan tangan kanan nya sedangkan, tangan kiri yang berdarah disembunyikan pada punggung nya. "Terimakasih."
Sesudah itu, Felix pun keluar dari kantor dengan perasaannya yang ganjil. Dia pun menoleh kearah kantor polisi.
"Ini terlalu dibuat-buat. Sepertinya, aku harus mencari tahu sendiri."
Setelah itu, Felix kembali ke rumah duka dan tidak lama juga mereka mengebumikan sang ayah dengan rasa duka yang mendalam.
Sosok ayah yang sempurna bagi anak-anak kini telah tiada namun, ketiga anak nya berjanji untuk tidak mempermalukan nama Megantara demi sang ayah.
...# 31 July 2008 (Dini hari)...
Felix belum bisa kembali ke rumah kontrakan nya lantaran kondisi ibunya yang masih belum stabil.
Meski begitu, Felix akan berusaha untuk mencari pelaku sebenarnya dengan laptop yang dimiliki nya yang mana juga saat ini Felix sedang duduk di kursi komputer seraya mengendalikan komputer nya dengan bantuan Viki.
"Viki, bisakah kamu tunjukkan pelaku sebenarnya yang telah menabrak kami?"
Kling!
[Tidak bisa. Silahkan bertanya yang lebih rinci!]
Lalu, Felix pun coba bertanya berdasarkan clue yang dimilikinya.
"Jika begitu, cari pemilik mobil Jeep Wrangler dengan plat nomor B 7777 RBT."
Kling!
[Data ditemukan. Mobil itu dimiliki oleh ...
Robert Wijaya.]
[Biaya: 100G. Saldo: 129.997G.]
Melihat nama itu, Felix sontak mengerutkan keningnya dan menduga sesuatu. "Mungkinkah dia sanak saudara dari Hassan dan keluarga Wijaya Group? Jika iya, ini masuk akal. Keluarga mereka mengeluarkan 100 juta rupiah dan membuat drama pelaku pasti sangat mudah bagi mereka. Uang mengerakkan manusia dan menutup kebenaran. Jika begitu, aku harus merampas sesuatu yang berharga bagi mereka juga dan ini cara ku membalas dendam."
Dengan tekad yang matang, Felix pun memulai balas dendamnya hanya dengan mengunakan laptop nya.
"Viki, tunjukkan kepada ku daftar keluarga Wijaya Group!"
Kling!
[Data Keluarga telah terunduh. Biaya: 3G. Saldo: 129.994G.]
Setelah terunduh, Felix pun mempelajari nya yang dimana Robert Wijaya merupakan putra ketiga, setelah Hassan Wijaya dan Jonathan Wijaya. Dibawah Robert Wijaya, ada seorang putri. Dia bernama Rachel Wijaya.
Melihat nama dan foto dari Rachel Wijaya, Felix pun terkejut bahwasanya Rachel Wijaya merupakan sosok gadis SMA yang pernah ditemuinya saat di supermarket. Hal itu membuat Felix tersenyum kecil.
"Ini kah yang disebut takdir. Sungguh menarik!" gumam dingin Felix.
Dan, terakhir ibunya bernama Zavira yang mana Zavira ini merupakan putri dari Menteri ekonomi saat ini dan menjalankan beberapa perusahaan cabang Wijaya Group.
Felix yang memahami itu, dia pun menghela nafas panjang. "Ini sungguh target ikan paus. Tapi, aku akan hancurkan demi ayah yang sudah diatas."
Lalu, Felix mengawali langkah dengan meretas semua tabungan milik Robert Wijaya dengan jumlah 5 milliar rupiah dan disimpan ke rekening S-Banking.
Sebenarnya, Felix bisa saja meretas semua uang seluruh keluarga Wijaya namun, dia tidak mau menjadi pencuri dan koruptor. Felix melakukan itu hanya ingin memberikan pelajaran dan meminjam tangan ayahnya, Agung Wijaya untuk memukul nya.
Kling!
[S-Banking: Dana berhasil ditransfer sejumlah 5.000.000.000 rupiah. Saldo: 27.298.800.000 rupiah.]
[Total biaya.
Biaya Peretasan, -500G;
Biaya semua informasi, -100G;
Saldo: 129.394G]
Felix yang melihat itu, dia tersenyum senang. "Terimakasih buat sumbangan nya. Aku akan gunakan sebaik-baiknya dan biarkan ayahmu yang menghajar mu atas perbuatan mu sendiri."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...