Reborn Genius

Reborn Genius
Reborn Genius | Bab 53. Kenakalan yang tidak wajar (I)



...Kenakalan yang tidak wajar (I)...


#13 Oktober 2008.


Di pagi hari yang cerah, Felix dan seluruh sekolah dikejutkan dengan kehadiran beberapa pria berjas masuk kedalam ruang Murid Platinum.


Meski kehadiran sosok itu menghebohkan satu sekolah namun, para guru membiarkan nya.


Sedangkan, Felix sendiri hanya bisa melihat dan ada dugaan Robert menemui gangster atau mafia. Ini terlihat dari penampilan pria berjas yang menjaga pintu tersebut.


Untuk mencari informasi, Felix pun terpikir sesuatu saat melihat Yeon Jin. Lalu, dia pun menghampiri Yeon Jin dan mengandeng nya serta membawanya ke sebuah tempat.


Sikap Felix itu membuat Yeon Jin terkejut namun, dia memasrahkan diri diseret dan digandeng oleh Felix.


Dan, Felix pun membawa Yeon Jin ke halaman samping sekolah.


"Yeon Jin, kamu tahu siapa mereka?" tanya Felix.


"Ah, mereka yang berjas hitam itu. Kenapa kamu ingin tahu?" jawab Yeon Jin seraya melipatkan kedua tangan nya.


Felix yang melihat respon Yeon Jin yang sedikit gelisah, dia pun mencoba menjebaknya.


"Mungkinkah mereka penyuplai obat-obatan?"


Mendengar pertanyaan Felix membuat Yeon Jin panik dan salah tingkah, "Kenapa kamu tahu?" Lalu, Yeon Jin mendekatkan jaraknya kepada Felix, "Mungkinkah kamu polisi?"


"Tidak perlu khawatir, aku juga penguna," jawab bohong Felix.


Meski Felix berbohong namun ucapan itu bisa mengelabui Yeon Jin.


"Syukurlah, aku pikir kamu sedang menyamar. Kalau mau beli nanti aku akan bilang sama Robert. Oke!" ucap Yeon Jin.


Felix pun tersenyum dan mengangguk kepalanya.


Sesudah itu, Yeon Jin memegang tangan dan menatap Felix dengan penuh gairah. "Felix, malam ini rumah ku kosong. Bagaimana kalau kita bermain di rumahku?"


Felix pun tersenyum lalu, mengelus-elus pipi kanan Yeon Jin. "Dengan satu pembayaran!" ucap Felix.


"Apa?" ucap manja Yeon Jin.


"Ceritakan semua yang kamu tahu tentang Robert dan bisnisnya," ucap Felix.


"Hm, aku akan menceritakan semuanya," jawab Yeon Jin yang menganggukkan kepalanya.


Lalu, Yeon Jin dan Felix berciuman namun itu tidak lama dan Yeon Jin pun meninggalkan Felix.


Felix yang melihat kepergian Yeon Jin, dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Tidak selang lama, tiba-tiba ada tas yang melayang dari balik tembok dan tanpa melihat arah datang nya tas, Felix menangkapnya dengan mudah.


Lalu, Felix pun mengalihkan pandangannya kearah sumber lemparan tas yang mana dari balik tembok terlihat Karina sedang memanjat ingin menerobos masuk lantaran dia telat masuk sekolah.


Melihat sikap Karina itu membuat Felix tersenyum senang dan terhibur. Lalu, Felix pun melihat Karina yang sedang kesulitan dan ragu untuk turun dari tembok.


"Karina, kamu butuh bantuan?" tanya Felix dengan senyuman ramah.


Melihat respon jawaban Karina itu, Felix mendekati nya dan mengulurkan tangan kanan nya.


"Lompat lah! aku akan menangkap mu!" ucap meyakinkan Felix.


"Yang kuat ya!" jawab Karina.


Felix mengangguk kepalanya. Lalu, Karina yang percaya dengan jawaban Felix. Dia pun melompat kearah Felix dan Felix pun menempatkan Karina ditangan nya seperti layaknya tuan putri dan Karina yang juga mengalungkan tangannya di leher Felix, dia turun memandangi Felix dengan senyuman.


Felix yang menyadari itu, dia juga terus memandangi Karina sampai Karina menyandarkan lamunan nya.


"Maaf, Felix. Bisa turunkan aku?" tanya Karina.


Felix pun sontak menurunkan Karina dan tangan nya, "Iya, Maaf. Karina." jawab Felix.


"Felix, ayo kita masuk!" seru Karina.


Felix pun mengangguk kepalanya. Lalu, Felix dan Karina melangkah bersama masuk ke kelas dengan bergandengan tangan.


Di ruang Murid Platinum, salah satu pria berjas duduk di sofa satu tempat biasa Robert duduk dan dua orang berjas hitam berdiri disisi pria yang duduk itu sedangkan, Robert duduk di sofa samping nya.


Dan, mereka sedang membicarakan sesuatu.


"Robert, bos meminta uang muka lebih besar dan pengedaran dipercepat seminggu ini!" seru pria berjas.


"Saya mengerti, pak," jawab Robert seraya menundukkan kepalanya.


Sesudah itu, pria berjas yang duduk menoleh ke salah satu anak buahnya yang sedang memegang koper dan memberikan isyarat.


Lalu, anak buah itu menghampiri Robert dan menaruh koper di hadapan Robert serta membuka nya yang mana koper itu berisikan penuh obat-obatan.


Robert yang melihat itu, dia pun terpana dan mencoba menyicipi nya dengan menyobek salah satu obat lalu, meminum nya.


Dan, Robert pun tersenyum senang sendiri. "Saya mengerti."


Lalu, Robert beranjak dari kursi dan mengambil beberapa gebok uang rupiah dan membayarkan obat tersebut.


"Terimakasih, saya senang berbisnis dengan anda," ucap Pria berjas dan memberikan tangan nya.


Lalu, Robert juga beranjak dari kursinya dan mereka pun berjabat tangan.


Sesudah itu, pria berjas pergi meninggalkan sekolah dengan beberapa anak buah nya.


Mulai saat itu peredaran obat-obatan pun terjadi. Victor pun yang memimpin peredaran obat-obatan dengan jumlah yang kecil dan penjualan itu diterima baik oleh kalangan murid yang nakal seluruh kota.


Felix pun hanya mengawasi dari kejauhan lantaran Felix belum cukup bukti untuk mengungkapkan kegiatan tersebut.


Meski begitu, Felix yang menyamar sebagai pembeli. Namun, Felix tidak menggunakan nya melainkan membakarnya.


"Bisnis yang sungguh busuk," gumam Felix seraya melihat api hijau dari obat yang dibakar Felix.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...