
...Sunshine Crew (II)...
Felix dan Aziz telah berhasil mendapatkan Aparppptment Matahari. Itulah nama yang diberikan oleh Felix untuk apartemen yang dibelinya itu.
Sesudah transaksi usai, Felix menyarankan untuk Gunawan beserta keluarganya pindah rumah ke luar negeri dengan segala biaya yang ditanggung oleh Felix.
Gunawan pun menerima saran itu dan hari itu juga, Gunawan memutuskan untuk menjual rumah beserta perabotnya dan pergi pindah hanya membawa baju dan gadget serta barang-barang berharga lainnya.
Sedangkan, Felix dan Aziz pergi ke suatu tempat. Awalnya, Aziz ingin mengajak Felix untuk pergi ke sebuah tempat namun, dia mengurungkan niatnya itu dengan pergi menjenguk pengacara yang dahulu menangani kasus apartemen yang sedang tidak sadarkan diri di rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Felix melihat kondisi Pengacara Haikal yang sudah kurus tidak sadarkan diri dengan infus tangannya.
Lalu, Aziz memegang tangan Haikal.
"Pak Guru, akhirnya aku berhasil mendapatkan Apartemen yang anda perjuangkan," ucap Aziz.
Felix yang berdiam diri di samping dan merasa perihatin dengan keadaan Pengacara Haikal.
Sesaat kemudian, Aziz memperkenalkan Felix kepada guru nya tersebut.
"Pak Guru kenalkan. Dia Felix sahabat ku."
Felix pun maju selangkah mendekati pengacara Haikal.
"Halo, om. Saya Felix," ucap Felix seraya senyum kearah pengacara Haikal.
Setelah itu, Felix dan Aziz pergi ke kantin rumah sakit. Felix mentraktir makan siang Aziz disana. Sambil menyantap makanan, Aziz menceritakan kronologis penyebab pengacara Haikal mati otak.
Dua tahun yang lalu, Pak Haikal dipecat oleh kejaksaan karena dirinya yang tidak mau membela petinggi dari Wijaya Group. Setelah itu, Haikal menjadi pengacara dan membuka praktek hukum di apartemen tua tersebut.
Semua penghuni apartemen sangatlah ramah dan dekat dengan pengacara Haikal hingga suatu ketika Wijaya Group datang untuk membeli apartemen itu dengan memberikan biaya kompensasi yang kecil sehingga penghuni disana tidak mau menerima kompensasi itu dan lebih memilih untuk tinggal.
Haikal pun berusaha keras untuk memperjuangkan apartemen agar tidak dibeli oleh Wijaya Group hingga beliau mengetahui alasan mengapa perusahaan besar seperti Wijaya Group namun sesaat setelah itu, Haikal mengalami kecelakaan mobil dan mengakibatkan beliau tidak sadarkan diri.
Tidak hanya itu, bukti gelap tentang Kebenaran Wijaya Group yang dibawa oleh Pengacara Haikal menghilang. Meskipun, Aziz berusaha mencari bukti-bukti itu lagi. Semuanya nihill bahkan sampai saat ini.
Felix yang mendengar itu, dia pun memahaminya.
Beberapa saat kemudian, Felix dan Aziz pun meninggalkan rumah sakit seusai berpamitan dengan pengacara Haikal.
Lalu, mereka pergi ke apartemen matahari yang dimana setibanya disana, Aziz sontak memberikan sambutan nya.
"Welcome, Felix. Di Apartemen matahari!" ucap Aziz yang memperkenalkan lokasi yang saat ini berhenti.
Felix pun melihat apartemen itu memanglah apartemen tua berlantai 10. Ini terlihat dari cat tembok yang memudar serta beberapa peralatan yang berkarat.
Aziz pun memarkirkan mobilnya disana yang membuat beberapa penghuni apartemen yang berada di luar melihat kehadiran Felix dan Aziz.
Seusai, itu Aziz pun menyapa mereka dan mereka juga membalas sapaan Aziz dengan ramah.
Terlihat dari itu, Aziz memang orang yang cukup dikenal oleh penghuni apartemen.
"Sore, pak Aziz. Bagaimana kabar anda?" sapa satpam.
"Sore juga, Pak Somat. Saya ingin mengumpulkan semua kepala keluarga apartemen ini. Ada sesuatu yang ingin ku sampai kan!" seru Aziz.
"Baik, Pak!" jawab Satpam.
Seusai itu, Felix dan Aziz masuk kedalam dan mereka pun pergi ke lantai 10 dan masuk ke kamar 1001.
Pada pintu kamar itu terlihat berbeda dari kamar lainnya karena pintu menggunakan pengunci digital dengan password.
Aziz pun memencet password nya sambil mengatakan password itu dengan pelan.
"Felix, ingat password kamar ini 110111," ucap pelan Aziz.
"Iya, aku ingat tapi, kamar apa ini?" tanya Felix.
"Kamu akan tahu," jawab Aziz sambil tersenyum dan membuka pintu.
Setibanya didalam, suasana kantor terasa hingga Felix dan Aziz tiba di tengah kamar yang dimana terdapat beberapa orang yang sedang duduk di kursi dengan komputer canggih dihadapan nya terlihat ruangan itu seperti warung internet namun, mereka bukanlah bermain atau browsing melainkan Felix melihat gerakan grafik saham.
"Ini ruangan apa?" tanya Felix.
Aziz tersenyum dan memberi tahu kepada orang-orang disana, "Semua hentikan aktifitas kalian!"
Sekitar 6 orang menghentikan aktifitasnya dan berdiri menghadap Felix dan Aziz.
"Semua perkenalkan, dia Felix. Pemimpin dari Tim Cyber Sunshine ini," ucap perkenalan Aziz.
Felix pun memperkenalkan dirinya, "Saya Felix, Salam kenal!" ucap Felix sambil tersenyum.
Semua orang di sana meyambut hangat kehadiran pemimpin mereka. Ditengah perkenalan itu, seseorang masuk dan Felix mendengar suara yang tidak asing.
"Guys, sorry. Boba coklatnya abis!"
Sesaat kemudian, Felix melihat Baim yang ternyata juga ada disana.
"Baim?!" sapa Felix.
Langkah Baim terhenti dan melihat Felix, "Bro, akhirnya kita bertemu lagi disini." Baim pun langsung menaruh belanjaan nya dibawah dan memeluk Felix, "Wuaa, wanginya ... Felix, aku merindukanmu," ucap Boim didalam pelukan Felix.
Felix hanya tertawa kecil dan membiarkan Boim memeluknya. Tidak hanya Felix, semua orang dibuat tertawa kecil oleh tingkah laku Boim.
Sejak saat itulah, Felix mengenal tim Cyber Sunshine. Sebuah kelompok hacker yang membantu pekerjaan Felix.
Bersambung ... Sunshine Crew (III)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...