Reborn Genius

Reborn Genius
Bab 70 | Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (II)



...Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (II)...


Malam pun tiba, Lisa diajak teman-temannya untuk nongkrong bareng di pelabuhan tapi berbeda dari malam-malam sebelumnya. Lisa bersama dengan teman-temannya merayakan kesembuhan Lisa dengan kembang api dan petasan serta ada yang membawa kue dengan suka ria mereka merayakannya.


Disaat mereka sudah bermain-main dan berbincang. Salah satu temannya Lisa melihat orang-orang Thailand sedang membawa barang ke sebuah mobil.


Beberapa orang itu ada yang menyadari tatapan temannya Lisa tersebut. Saat mereka saling menatap hingga teman Lisa pun kesal dan menghampiri orang Thailand tersebut.


“Nyolot benget ini orang!” ucap kesal teman Lisa kearah orang-orang tersebut.


“Oi, Suryo, gak usah diladeni,” ucap Lisa yang menahan temannya tersebut namun, Lisa tidak dihiraukannya.


Suryo pun pergi dan teman Lisa lainnya saling menatap dan memutuskan untuk mengikutinya.


“Hei, bule item. Ngapain lu liat-liat gua aah?!” ucap Suryo yang mendorong orang Thailand tersebut.


Orang Thailand itu hanya terdiam namun, matanya semakin tajam saat Suryo menarik baju dari orang Thailand.


“Nantangin Lu!” ucap kesal Suryo.


Lalu, Suryo pun melesatkan pukulan akan tetapi tusukan pisau besar meluncur ke tangan Suryo yang membuat tangannya terputus.


“Ahhhhhhh!!!!” teriak kesakitan Suryo dan dia mundur beberapa langkah seraya memegang tangan yang terluka tersebut.


“Sialan!” umpat kesal temannya yang menghajar orang Thailand lainnya.


Dan perkelahian pun terjadi, Lisa yang tidak bisa bertarung dia hanya mundur dan mengamati.


Disisi lain, Lisa masih trauma akan kejadian di gudang yang membuatnya ketakutan meski begitu, dia teringat akan keberanian Felix lalu, Lisa pun memberanikan diri untuk menghentikan mereka.


“Semuuaaaaa, Hentikannnn!!” teriak Lisa yang berdiri jauh dari perkelahian.


Tidak lama kemudian, dari sisi belakang mereka ada mobil sedan berhenti dan sosok pria berjas dan berkacamata hitam berjalan dengan tangan kanan pistol dan tangan kirinya koper kecil.


Ciung!!


Ciung!!


Tembakan tanpa suara menembaki perkelahian mereka dari orang-orang Thailand juga teman-temannya Lisa. Lisa yang berada dibelakang dengan cepat bersembunyi.


Lisa yang melihat teman-temannya yang mati, dia tidak tahan mengeluarkan air matanya dan dia pun menangis dengan mulut yang ditutupnya.


Pria berjas hitam itu berajak ke sebuah kotak panjang disana dan mengambil tabung yang berisikan cairan lalu, dimasukannya ke dalam koper.


Suryo yang masih hidup dan sedang menahan rasa sakitnya, dia pun melompat kearah pria berjas hitam itu dan membuat pria itu terjatuh dijalan.


Saat pria berjas hitam itu terjatuh, tabung yang diambil juga jatuh dan tepat di samping Lisa. Dia yang ingin membantu temannya itu, dia bergegas mengambil tabung itu dan memukulkan kepala pria berjas hitam tersebut.


“Suryooo! Ayo kita pergi!” seru Lisa yang mengangkat Suryo untuk bangun dan mereka pun berlari cepat meninggalkan lokasi tersebut.


Disaat mereka berhasil bersembunyi di sebuah gang kecil, mereka mengambil nafas dan menenangkan diri.


“Mati … Semua mati … mati gua,” gumam sendiri Suryo.


Lisa yang mendengar gumam Suryo, dia menamparnya.


“Suryo, tenanglah!” ucap Lisa dengan nafas yang terengah-engan karena kelelahan.


Suryo menjadi sedikit tenang lantaran tamparan Lisa meski begitu, dia tetap menangis dengan mulut yang ditahannya. Rasa sakit ditangannya tidak lebih dari rasa sakit dia yang menghadapi pembunuh didepannya.


Sedangkan, Lisa mengambil ponselnya dan dia menelepon seseorang yang bisa diandalkannya yaitu paman Katsuo namun, telepon tidak kunjung diangkat.


“Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif. Harap hubungi beberapa saat lagi!” jawab operator yang tidak terhubung.


“Felix, aku mohon angkatlah!” seru Lisa seraya terus menelepon.


Lisa terus menelponnya tapi tetap tidak dianggat.


“Lisa, gua ngantuk banget!” ucap Suryo yang duduk didepan Lisa.


Lisa pun yang mendengar ucapan Suryo dan dia menyamakan ketinggian dihadapan Suryo.


“Suryoo! Jangan tidur!” seru Lisa seraya memegang kedua bahu Suryo.


Suryo yang mendengar teriakan Lisa membuat semangat membuka mata dirinya yang sudah tidak kuat.


“Lisa, ada sesuatu yang ingin aku katakan,” ucap pelan dan terbata-bata Suryo.


“Suryo, aku mohon bertahanlah!” seru Lisa yang memegang tangan kiri Suryo.


Suryo yang terluka parah memaksakan dirinya untuk bicara.


“Sebenarnya, aku sudah lama menyukaimu,” ucap pelan Suryo dan dia memaksakan untuk memegang pipi Lisa.


“Aku tahu!!” jawab Lisa yang memegang tangan Suryo di pipinya.


“Apa kamu menerimaku?” tanya Suryo yang nadanya sudah semakin lemah.


“Hmm,” jawab Lisa dengan anggukan kepala.


“Syukur-“ sebelum Suryo menyelesaikan kalimatnya, dia melemas dan menutup matanya.


“Oii … Suryoo! Bangun!” ucap dengan tangisan serta Lisa yang berusaha membangun Suryo dengan menampar pipi Suryo tapi tidak ada reaksi.


Ngung … Ngung.


Lisa yang mendengar suara getaran dari ponselnya. Dia bergegas mengangkat telepon itu karena didalam pikirannya Felix yang meneleponnya.


“Felix! Tolong saya!” ucap panik Lisa di telepon.


“Haha … maaf, gua bukan dia. Serahkan formula itu atau ibu lu gua bunuh!” ancam orang asing.


“Iya, tolong tunggu sebentar! Gua akan kasih!” jawab Lisa yang panik dan langsung menutup teleponnya.


Setelah itu Lisa berdiri dan memeriksa saku jaketnya yang masih tersimpan tabung formula itu dan dia membulatkan tekad untuk pergi menghadapi mereka meski taruhannya itu nyawa.


“Suryo, Maaf! Semoga kamu damai di sana!” doa Lisa ke hadapan Suryo.


Setelah Lisa memanjatkan doa, dia pun meninggalkan jasad Suryo dan pergi menuju rumahnya.


Di Kantor Polisi yang besar, ada seseorang yang terkurung serta menjadi tahanan di ruangan besi yang kecil hanya ada karpet tipis didalamnya. Tapi tidak menjadi masalah kepada orang tersebut. Dia hanya menyilakan kaki serta menutup mata dan bermeditasi dalam ruangan tersebut. Orang itu tidak lain adalah Felix yang ditangkap lantaran terlibat perkelahian dan percobaan pembunuhan saat menyelamatkan Lisa.


Lisa sudah menjelaskan semua kejadian yang menimpah dirinya namun, Paman Katsuo tidak percaya lantaran kemampuan Felix yang diatas rata-rata bahkan Felix mampu menghindari tembakan pistol dan melumpuhkan nya.


Grubrak!! Krekkk!!


“Felix Megantara, anda bebas dan ada yang ingin bertemu dengan anda!” ucap seseorang yang mengenakan seragam polisi.


“Iya aku mengerti,” jawab Felix yang membuka matanya dan keluar dari tahanan.


Bersambung ... Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (III)