
...Law Sunday...
# 5 September 2008 (Felix 15 ).
Hari Minggu pagi tiba, Felix mengenakan pakaian olahraga dan lari pagi. Seperti biasa, Felix bertemu dengan Boim dan Joko untuk lari bersama.
Setibanya di taman olahraga, Michelle menghampiri Felix.
"Felix, pagi!" sapa Michelle.
"Pagi juga Michelle," jawab Felix.
"Hei," sapa Ayu.
"Hei, Ayu," jawab Felix.
"Kalian mau lari lagi atau istirahat?" tanya Joko.
"Kita baru satu putaran, Jadi. Yuk, bareng larinya!" ucap Michelle.
"Yuk," jawab Felix.
Felix dan lainnya pun lari bersama. Sedangkan, Michelle yang awalnya lari didepan Felix, dia memperlambat langkah hingga berlari disamping Felix.
"Felix, kemarin kemana? gue ke rumah Lu tapi, kayaknya lu gak ada," ucap Michelle.
Felix sedikit terheran dengan gaya Michelle yang berubah. Namun, dia tidak mempermasalahkan nya.
"Iya, aku ada urusan dan rumah memang kosong," jawab Felix dengan senyuman.
"Udahlah, gak penting juga. By the way, nyokap dan bokap ngundang Lu ke rumah buat makan siang bersama. Dateng ya kalo gak, gue yang dimarahin," ucap Michelle.
"Iya, nanti aku datang," jawab Felix sambil tersenyum.
Michelle pun juga tersenyum menatap Felix.
Ditengah berlari, Joko bertanya kepada Boim yang membuat pandangan Michelle dan Felix melihat Boim.
"Im, tumben Lu diem aja? cacingan ya?" ucap Joko.
Boim pun memasang wajah biasa dengan senyuman paksa, "Gak apa-apa," jawab Boim.
Joko yang mendengar jawaban Boim, dia melihat Felix dan Michelle lalu, menaikan kedua bahunya.
Felix dan Michelle pun juga tidak mengetahui penyebab diem nya Boim.
Siang pun tiba, Felix mengunjungi rumah Michelle dengan berpakaian rapih casual. Setibanya, disana Felix menekan bel rumah.
"Ya, tunggu!" suara Michelle menjawab.
Tidak lama, Michelle pun keluar dari pintu dan menghampiri Felix dengan wajah yang penuh senyuman.
"Felix, akhirnya lu dateng juga!" ucap Michelle sambil membukakan gerbang.
"Maaf, aku sedikit telat," jawab Felix.
"Udah gak apa-apa lagian, lauk juga baru dateng," jawab Michelle.
Felix dan Michelle pun masuk ke dalam rumah.
"Ma, Pa. Mas Felix Dateng nih!" ucap Michelle saat masuk kedalam rumahnya.
"Permisi!" ucap Felix.
Tidak lama kemudian, Bu Rani datang dan menyambut Felix dengan hangat lalu, mengantar Felix ke ruang makan yang dimana Ayah Michelle dan seorang pria lebih dewasa sudah duduk di kursi makan. Pria itu kakaknya Michelle, Aziz.
Aziz dan Ayahnya Michelle tersenyum kepada Felix serta mempersilahkan Felix untuk duduk di kursi yang kosong.
Felix pun menuruti nya dan Michelle juga duduk disebelah Felix. Diatas meja sudah terhidang berbagai makanan.
"Maaf, nak Felix. Makanan ini ala kadarnya saja," ucap merendah Bu Rani.
"Tidak, Bu. Ini sudah istimewa untuk Saya," jawab Felix.
Mendengar jawaban Felix, Michelle dan keluarganya tersenyum kepada Felix. Lalu tidak lama, mereka menyantap makanan diatas meja.
Obrolan kecil pun mengiringi santapan makan siang itu, Ayah Michelle, Andre menceritakan tentang Michelle masih kanak-kanak yang membuat Michelle sedikit malu dan kesal.
Obrolan itu membuat Felix tersenyum dan dia semakin memahami sifat dan perilaku Michelle. Lalu, Felix juga mendapatkan info yang mengejutkan dimana ayah Michelle dan Kakak prianya, Aziz. Mereka bekerja di Firma hukum. Sang ayah seorang jaksa dan Aziz seorang pengacara dan Felix tidak menyangka bahwa Michelle keluarga dari ahli hukum.
Memahami itu, Felix hanya tersenyum kecil.
Sesaat Felix makan bersama dirumah Michelle. Felix dan lainnya yang berada dirumah itu mendengar suara sirine mobil polisi.
Hal itu membuat obrolan mereka dan aktifitas makan mereka berhenti.
"Ada apa itu?" tanya Ayah Michelle.
Tidak ada yang menjawab malah Felix dan lainnya langsung minum dan beranjak keluar melihat apa yang terjadi?
Semua nya bingung dan mobil polisi itu berhenti tepat di kosan Boim.
"Itu Kosan Boim!" ucap Michelle yang sontak berlari melihatnya dari dekat. Felix yang berada disamping nya pun mengikuti langkah Michelle.
Di kosan Boim sudah berkumpul banyak orang disana salah satunya Ayu dan Joko.
"Aku juga tidak tahu," jawab Ayu.
Felix pun coba bertanya kepada Joko namun, Joko hanya menggelengkan kepala.
Beberapa saat kemudian, Beberapa polisi keluar dari kosan dengan saja yang sudah terborgol dan ditutup kain.
Felix menerobos kerumunan untuk bisa berjarak dekat dengan Boim. Michelle, Ayu dan Joko mengikuti langkah Felix.
Boim pun berhenti sejenak dan melihat teman-teman nya.
"Maaf, semuanya. Aku telah memalukan kalian semua!" ucap Boim sambil meneteskan air mata nya.
"Apa yang terjadi, Im?" tanya Felix.
Boim tidak bisa menjawab dan kedua polisi yang membawanya mendorongnya ke dalam mobil lalu, mobil itu pun berangkat dengan membawa Boim.
Ayu, Michelle dan Joko hanya bisa berdiam pasrah.
"Aku harus melakukan sesuatu!" gumam Felix.
Michelle yang ada disamping Felix, dia menoleh kearah Felix karena mendengar ucapannya, "Apa maksud lu, Felix?"
Felix sontak melihat Michelle, "Michelle, aku butuh bantuan kakak mu."
"Eh?" Michelle sontak tersadar sesuatu. "Oh, Iya. Benar."
Lalu, Felix dan Michelle kembali ke rumah Michelle untuk berbicara kepada ayah Michelle dan Aziz.
Felix pun melakukan negosiasi dengan Aziz yang dimana negosiasi itu berakhir dengan Aziz akan membantu Felix dan Felix sendiri bersedia membayar denda sebesar apapun.
Setelah itu, Felix dan Aziz pergi ke Polresta.
Didalam Polresta, Aziz memperkenalkan diri sebagai pengacaranya Boim sedangkan Felix sebagai temannya. Meski awalnya, ditolak dan mengharuskan keluarganya sendiri yang datang.
Aziz menyakinkan polisi agar tidak melibatkan keluarganya Boim. Pada akhirnya, polisi itu pun luluh dan menjelaskan kasus yang terjadi.
Polisi mengatakan bahwa Boim telah meretas akun bank milik Jonathan Wijaya, putra kedua dari keluarga Wijaya sebesar 12 milliar rupiah. Meski, uang itu sudah dikembalikan namun, Boim masih tersangka.
Mendengar itu, Felix mengeram kesal seraya mengepal tangan nya dengan keras, "Keluarga Wijaya lagi. Bedebah!"
Sesudah mendengar kan penjelasan dari Polisi, Felix dan Aziz mendatangi Boim yang sudah berada di jeruji tahanan polisi.
"Boim!" sapa Felix.
Boim yang awalnya termenung, dia pun langsung berdiri dan menghampiri Felix.
"Felix, gue dijebak. Gue sama sekali tidak tahu kalau itu kode akun bank!" ucap panik Boim.
"Jadi, kamu bisa meretas?" tanya Aziz.
Boim menganggukkan kepala nya, "Tapi, sumpah gue sama sekali tidak pernah meretas akun bank malah ada seseorang yang masuk ke IP Gue!" penjelasan Boim.
"Baiklah, pelan-pelan. Katakan semuanya!" ucap Felix.
"Iya, gue ceritain semuanya. Awalnya malam Sabtu ..."
Pada malam itu, Boim sedang bermain game. Dia seorang Cheater yang membuat program bug sendiri bahkan dia sering meretas soal ujian di kuliahnya sampai dia mendapatkan selalu nilai A.
Dan, pada waktu itu. Boim mendapatkan email yang tidak dikenal. Email itu berisikan kode mentah yang harus ku pecahkan dan setelah selesai, tiba-tiba akun tidak dikenal terkirim dengan sendirinya dan mengatas nama kan Boim.
Itulah penjelasan dari Boim dan Felix pun percaya kepada Boim. Ini dilihat dari kemampuan Felix yang sudah mempelajari pendeteksi kebohongan.
Kemampuan ini melihat rinci gerakan kecil dari kornea mata, Alis, kelopak mata, bibir dan jari.
"Oke, Im. Aku mengerti. Tunggulah disini! Saya akan membebaskan mu," ucap Felix.
"Benarkah, terima kasih, Felix. Lu memang pahlawan!" seru senang Boim.
Felix dan Aziz kembali ke polisi. Dalam perjalanan, Aziz bertanya kepercayaan untuk Boim.
"Felix, kamu percaya dengan nya?" tanya Aziz.
"Iya, Kak. Aku percaya tidak ada tanda-tanda kebohongan dari dirinya," jawab Felix.
"Baiklah, aku percaya kepadamu, Felix," jawab Aziz.
Lalu, Aziz dan Felix pun melakukan negoisasi dan diplomasi Aziz pun berhasil. Boim terbebaskan dengan syarat membayar denda 100 juta rupiah.
Kling!
[S-Banking: 50.000.000 rupiah telah dikeluarkan untuk modal usaha. Saldo: 27.143.100.000 rupiah.]
Tidak sampai sehari, Felix kembali ke rumah dengan membawa Boim. Temu haru pun dirasakan oleh Michelle dan lainnya.
Felix pun tersenyum melihat Boim yang saling berpelukan dengan teman-temannya. Michelle pun berjalan kearah Felix dengan wajah tersenyum.
"Felix, kak Aziz, kalian luar biasa!" ucap Michelle sambil memberikan jempol.
"Terima kasih," jawab Felix yang juga tersenyum.
Felix dan Aziz pun juga saling bertukar senyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...