
...Kenakalan yang tidak wajar (Selesai)...
Beberapa saat sebelumnya, Juan secara tidak sengaja melihat Lisa pergi bersama dengan Yeon Jin.
Sebuah kejadian langka itu membuat Juan curiga lantaran seorang Lisa yang polos tidak mungkin dekat dengan siswi nakal, Yeon Jin.
Maka dari itu, Juan pun membuntuti Lisa dan sampai di gudang yang mana dugaan Juan benar, Lisa dipaksa masuk ke dalam gudang terbengkalai yang sudah di jaga oleh anggota Murid Platinum.
Melihat itu, Juan sontak berbalik arah dan berlari untuk mencari Felix. Dalam pikirannya, Juan ingin memberitahu Felix dulu sebelum bertindak.
Di lorong kelas, Juan pun bertemu dengan Felix.
“Felix!!” teriak Juan dari kejauhan.
Felix yang sedang berjalan terhenti karena teriakan Juan.
“Ada apa?” tanya dingin Felix.
“Felix, Lisa dalam bahaya,” ucap terengah-engah Juan seraya menaruh kedua tangan nya di lutut.
“Apa?!” kaget Felix.
Setelah mendapat informasi itu, Felix bersama dengan Juan pergi ke lokasi yang disebutkan oleh Juan.
Disisi lain, Robert memulai aktifitas hina nya yang mana dia mulai membuka setengah bagian baju Lisa dengan mulut yang di tutup oleh kain.
Tawa m*sum dari para siswa disekitar Lisa membuat dirinya ketakutan dan berontak tapi karena dia yang tidak memiliki kekuatan maka dia tidak bisa berbuat banyak.
Lalu, Robert pun sedang mempersiapkan sesuatu.
“Kamera siap!” seru Robert seraya melihat Lisa dengan m*sumnya.
Lisa tetap menolak namun dia hanya bisa berdengung dengan gerakan kecil.
Mendengar seruan Robert itu, salah satu anggota Murid Platinum mengajukan jempolnya dan Robert memulai Live streaming nya.
“Hey, Guys. Gua Robert, pada hari ini akan ada yang istimewa yaitu." Robert memamerkan Lisa yang sedang terikat. "Jreng .. Jreng."
Kamera pun tersorot kepada Lisa yang berontak diatas kasur lipat. Tayangan itu merupakan tayangan live hingga beberapa siswa dan siswi menontonnya melalui situs khusus.
Sesudah itu, kamera kembali kepada Robert.
“Yups, dia adalah gadis cantik, pintar, polos, dan ramah. Sosok wanita sempurna dan pada hari ini, aku akan menjadi pertama yang mencicipinya. Oke guys, saksikan ya!” ucap siaran Robert.
Setelah mengatakan itu, Robert pun memulai menindihnya, Lisa yang tidak terima dia terus melancarkan tendangan dan dorongan. Meski begitu, Robert tidak bergeming dan dia hanya tertawa mesum sambil melanjutkan aksinya.
“Ayo mulai sayang!” ucap senang Robert.
Robert pun memulai tindakannya dengan mencium dan meremas buah dada Lisa dengan penuh nafsu.
Perlakuan itu disaksikan oleh teman-teman Robert dengan tawa dan senyuman juga para siswa yang terngsang melihatnya.
Setelah Robert puas dengan remasan dan ciumannya. Dia memulai memasukan tangannya kedalam rok dan membuat Lisa tambah berontak tapi rekan Robert menahan tangan dan kaki Lisa.
“Sekarang waktunya,” ucap genit Robert.
Robert menarik paksa seragam Lisa hingga seluruh kancing copot dan pakaian dalamnya terlihat. Lalu, dia memulai mencium dari kepala, leher sampai pusarnya seraya tangan bermain di buah dada dan dalam roknya.
Lisa yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menangis dan dia berteriak dalam hatinya.
“Felix … Tolong aku!” seru Lisa.
Sesaat kemudian, suara gemuruh terdengar dari luar dan pintu pun terbuka yang membuat langkah Robert terhenti dan menoleh ke arah pintu masuk.
"Maaf, aku telah mendobrak pintu ini," ucap santai Felix dengan senyuman.
Selain Robert, Lisa juga melihat kesamping dan melihat Felix yang menolongnya yang membuat dirinya menangis.
“Brngsek, apa yang kalian lakukan! Habisi Dia!” teriak Robert yang memberikan kode kepada siswa yang ada di ruangan itu untuk menghajar Felix.
“Aduh! kalian ini,” gumam Felix seraya tersenyum remeh.
Serangan pun dilancarkan oleh rekan-rekan Robert tapi tidak ada satu pun yang mengenainya dan Felix melakukan serangan balik dengan cepat membuat para anggota Murid Platinum itu terkapar dilantai dengan meringis kesakitan.
Disaat semua siswa anggota Murid Platinum yang menyerang Felix terkapar, dia membersihkan tangan dengan sapu tangan seakan-akan terlihat Felix habis memegang kotoran. "Sungguh menjijikkan kalian."
Sesudah itu, Robert melihat kearah siswa yang masih berdiri tegak termasuk kameraman yang sedang merekam Felix, "Apa kalian ingin melanjutkan? Jika, tidak ingin enyahlah dari sini!" ucap Felix dengan tatapan tajam dan mengeluarkan aura membunuhnya.
Para rekan Robert saling menatap satu sama lain, lalu kabur meninggalkan gudang dan Felix tersenyum remeh.
“Oi, Berhenti! Banci kalian semua! Awas kalian! ” umpat Robert yang melihat rekan-rekan nya kabur.
Meski Robert sudah mengancam nya, rekan-rekan nya Robert tetap kabur.
Lalu, Robert yang melihat anak buahnya kabur, dia pun berdiri menghadapi Felix.
"Felix, siapa kamu sebenarnya?" tanya dingin Robert.
"Aku hanya murid biasa," jawab santai Felix.
Tidak lama, Felix melihat gelagat mencurigakan dari Robert membuatnya berjalan pelan ke arah Robert dengan penuh kewaspadaan.
Dan, benar dugaan Felix. Robert pun sontak mengeluarkan pistol revolver dan menodongkan nya kearah Felix lalu, menembakinya.
"Mati Lu, Njing!"
Dor! Dor!
Felix yang sudah menduga tembakan itu, dia pun bergegas sembunyi untuk menghalau laju tembakan.
“Njing! Njing! Dimana lu, Njing?!” umpat Robert yang melangkah pelan kearah Felix dengan menodongkan pistolnya.
Saat bersembunyi, Felix melihat Juan yang ketakutan meski begitu, dia bisa bersembunyi membuat perasaannya tenang.
“Robert, kamu ketua Murid Platinum seharusnya kamu memikirkan masa depan kamu dan menjadi teladan untuk murid lainnya?” ucap alihan Felix mencari kesempatan untuk melawan balik Robert.
“Masa depan? Suri Tauladan?Omong kosong, itu semua!” teriak jawan Robert seraya terus mencari Felix.
Saat Felix melihat bayangan Robert yang mendekatinya, dia pun menemukan kesempatan untuk menghadapinya. Lalu, Felix memutari lemari tempat persembunyian nya untuk mencapai dibelakang Robert dengan berjalan mengendap-endap tanpa ada suara sedikitpun.
Robert yang percaya diri, dia pun sontak menembaki kearah tempat persembunyian Felix dan sontak menembaki nya.
"Mati Lu, Bngsat!"
Dor! Dor!
Setelah melesatkan tembakan, Robert pun tersadar bahwa Felix sudah tidak ada disana yang membuat nya kesal.
Disaat yang bersamaan, Felix berlari cepat menerjang Robert.
Robert yang menyadari itu, dia langsung menodongkan pistolnya kearah Felix. Namun, Felix dengan cepat menarik bagian atas pistol hingga peluru didalamnya terhempas keluar dilanjutkan dengan menekan knop pistol yang membuat tempat amunisi keluar dari pistol. Lalu, dengan cepat Felix mengambilnya dan melancarkan serangan pukulan kearah leher Robert dengan tempat amunisi itu hingga membuat Robert pingsan.
Pertarungan pun berakhir dan Felix bergegas melepaskan Lisa dari ikatan mulut, tangan, dan kakinya.
“Lisa, sekarang sudah tidak apa-apa, Tenang lah! ucap Felix untuk menenangkan Lisa seraya memegang kedua bahu nya dan tersenyum.
“Felix!!!! Wuahh!!” teriak Lisa yang sontak memeluk Felix dengan tangisan yang membasahi baju Felix.
Felix pun membiarkan nya dan membalas pelukan itu seraya menepuk pelan punggung Lisa.
Disudut lain, Juan memperhatikan sekitarnya yang sudah tenang dia pun berdiri dan menghela nafas tenang saat melihat Lisa yang sudah terselamatkan oleh Felix.
Beberapa saat kemudian, Pak Edi pun menelpon polisi dan Robert serta murid yang lain tertangkap dan ditahan di penjara anak.
Di gudang itu, ada beberapa gadis remaja lainnya salah satu nya, Karina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...