
...Penusukan Joko (I)...
Setelah kejadian yang dibuat oleh Robert dan dia berhasil ditangkap polisi. Suasana sekolah kembali damai dan Hirano kembali menjadi Ketua Murid Platinum.
Dan, Felix sendiri menjalani kehidupan sekolah nya dengan normal.
# 1 November 2008
Saat ini Felix, Aziz dan Michelle sedang olahraga bersama. Ditengah itu, Felix mendapatkan pesan yang berisikan Joko masuk rumah sakit dan mengalami pendarahan yang dalam. Saat ini, Boim dan Ayu sedang menunggu hasil operasi nya.
Felix yang melihat pesan itu sontak terkejut hingga membuat lainnya menyadari kagetnya Felix.
"Felix, ada apa? keliatannya ada yang serius?" tanya Aziz.
"Lix, ada apa?" sambung Michelle yang merasa khawatir dengan sikap Felix.
Felix pun melihat Michelle dan Aziz dengan ekspresi yang serius.
"Joko, masuk rumah sakit dan saat ini, dia sedang dioperasi," jawab Felix.
"Apa?!" kaget Aziz.
Michelle yang mendengar itu, dia sontak menutupi mulut dengan kedua tangannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Aziz.
"Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku akan kesana sekarang," ucap Felix.
"Jangan membuang-buang waktu lagi, Ayo! kita bergegas!" seru Aziz.
Lalu, mereka pun pergi ke rumah sakit.
Setibanya di sana, Felix melihat Boim dan Ayu yang sedang menunggu dengan gelisah di pintu masuk ruang Operasi.
"Ayu?!" sapa Michelle.
Saat Michelle mengatakan itu, Ayu dan Boim melihat kearah Felix dan lainnya. Terutama Ayu, dia sontak beranjak dari kursi dan berlari menghampiri Michelle yang juga berlari kearah Ayu.
Lalu, mereka pun berpelukan dan Ayu menangis di pelukan Michelle. Sedangkan, Felix menghampiri Boim.
Boim pun berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Boim, apa yang terjadi?" tanya Felix.
Boim yang mendengar itu, dia menghela nafas dan sepertinya dia sulit untuk menceritakan nya.
Namun, Boim mengumpulkan tekad dan menenangkan dirinya.
"Awalnya ..."
Boim pun mulai bercerita, saat tadi Boim dengan biasanya berkumpul di cafe Joko dan Ayu pun ada disana.
Awalnya berjalan biasa saja sampai beberapa saat kemudian, sekelompok orang berjaket hitam mendatangi cafe.
Hal itu tentu membuat para pengunjung risih dengan kehadiran mereka. Tidak hanya penampilan preman mereka tapi juga omongan yang kasar, menepuk pntat pelayan disana dan tertawa keras.
Boim dan Ayu serta pengunjung lainnya hanya terdiam ada juga yang lebih memilih pulang. Joko sebagai pemilik cafe juga hanya bisa berdiam diri.
Namun, beberapa saat kemudian. Salah satu preman menghampiri Ayu dan menggoda nya bahkan sampai bersikap kurang ajar dengan memegang buah dada nya. Ayu pun sontak menamparnya.
Preman itu pun menjadi kesal begitu pun juga teman-teman. Mereka beranjak dari kursi dan ingin membantu temannya itu.
Namun, preman yang ditampar itu tidak membutuhkan nya dan dia pun melesatkan tamparan lagi ke pipi ayu hingga membuatnya terjatuh.
Joko pun tidak bisa membendung kemarahan nya lagi. Lalu, perkelahian pun terjadi. Meski begitu, Joko tidak bisa menang melawan enam preman yang ada di cafe bahkan serangan terakhir preman menusuk Joko hingga dia tidak sadarkan diri.
Itulah cerita dari Boim. Mendengar itu, Ayu menangis kencang lagi.
"Maaf, maaf, maaf, maaf! Ini semua salahku!" ucap Ayu seraya air mata yang menetes
Michelle yang rangkul Ayu mencoba menenangkan nya . Namun, dia menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter bersama satu suster keluar dari ruangan dalam kondisi pakaian hijaunya.
Felix dan lainnya sontak menghampiri nya.
"Bagaimana, dok?" tanya Felix.
"Syukur kepada Tuhan, operasi berhasil dan masa krisis nya sudah lewat. Namun, saat ini pasien masih belum stabil dan harus dirawat secara intensif," ucap Dokter.
Mendengar itu, Felix dan lainnya menghela nafas lega.
"Terima kasih, dok," ucap Felix.
"Sama-sama dan Saya pamit undur diri!" ucap dokter.
"Silahkan, dok!" jawab Felix.
"Siapa keluarga atau walinya yang akan mengurus administrasi nya?" tanya suster.
"Saya... mari, Sus! " jawab Aziz yang mengajukan diri.
Aziz dan suster itu pun pergi.
Meski Joko sudah melewati masa kritis namun, Felix tidak bisa menerima temannya diperlakukan seperti itu dan dia juga menahan rasa amarahnya hingga dia memutuskan untuk melakukan sesuatu lantaran Quest yang diterima nya.
Kling!
[Quest. Menuntut Keadilan.
Kalahkan semua monster preman. Hadiah: Kartu Status Acak, 5.000G.]
Melihat Felix yang sedang marah, Michelle pun menjadi cemas.
"Felix, ada apa?"
Felix pun tersenyum lebar dan memegang kedua bahu Michelle.
"Michelle, aku ada urusan. Kamu pulang saja dahulu biar diantar oleh kak Aziz atau Boim. Oiya, satu hal lagi. Michelle, tolong temani Ayu! Dan, bawa dia ke rumahmu. Kamu mengerti?" seru Felix.
"Ya," jawab Michelle.
Felix pun melihat kearah Ayu, "Ayu, kamu pulang saja dahulu, ya. Jika kamu begini, Aku akan dimarahi oleh Joko nanti, ya!" ucap Felix.
"Iya, Lix," jawab pelan Ayu.
Setelah itu, Felix dan Raya pun meninggalkan rumah sakit.
"Felix!" seru Michelle.
Felix pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Berhati-hatilah! Dan, Jangan pulang pagi!" seru Michelle.
Felix pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu, Felix berbalik badan dan pergi meninggalkan Michelle dan lain nya lantaran quest yang diterima nya.
Bersambung ... Tragedi Joko (II)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...