
...Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (IV)...
Felix yang telah berhasil menyelamatkan Lisa dan dia pun membawa Lisa ke tempat yang lebih aman melalui jendela.
Dalam pemikiran, Felix tidak ingin membawa Lisa pulang lantaran ada nya kemungkinan para preman masih di rumah Lisa.
Lalu, Felix dan Lisa bersembunyi di sebuah gudang yang jauh dari lokasi sebelum nya dan terlihat aman sebagai tempat bersembunyi.
Setibanya disana, Felix mengambil tong dan beberapa kayu bekas. Lalu, dia membuat api unggun dalam tong tersebut.
Felix dan Lisa pun duduk berdampingan dengan tangan diluruskan untuk menghangatkan badan mereka lalu, berbincang-bincang.
“Lisa, bagaimana kamu bisa terlibat dengan mereka?” tanya Felix seraya melepaskan jaket yang dikenakan dan memakaikannya kepada Lisa.
Lisa pun menatap Felix dengan senyuman yang sudah tenang, “Terima kasih, Felix!”
Setelah itu, Lisa menghela nafas panjang dan memulai ceritanya pada saat perayaan kesembuhan dirinya hingga bertemu dengan seorang pria berjas hitam yang menembaki orang-orang Thailand beserta teman-temannya yang membuat mereka meninggalkan dunia juga Ibunya yang diculik oleh para preman yang tidak dikenalnya.
Saat bercerita itu, Lisa tidak kuasa menahan air matanya.
Felix yang bersimpati dengannya mengarahkan Lisa agar menangis di bahunya.
“Lisa, jangan menangis! Aku berjanji akan menyelamatkan Ibumu dan membalaskan dendam teman-temanmu,” ucap Felix dengan mengelus-ngelus kepala Lisa.
Lisa tidak menjawab apapun dan saat melihat ke arah Lisa terlihat dia sudah tertidur. Felix membiarkannya dia tertidur.
Pagi hari pun tiba, Lisa yang berlahan membuka matanya dan dia pun terbangun dengan posisi dirinya yang bersandar di tembok dengan jaket Felix yang menempel di punggung Lisa.
“Lisa, kamu sudah bangun?” tanya Felix yang mendekati Lisa.
Lisa yang melihat Felix, dia terkejut dan langsung berdiri.
“Maaf, Felix. Aku sudah merepotkan!” ucap malu Lisa.
Sesaat kemudian, Felix mendengar suara kendaraan yang datang dari luar. Felix pun menduga mereka adalah para preman.
“Shhhttt!!!” seru Felix dengan telunjuk dimulut untuk Lisa diam.
Dan, Lisa pun menuruti nya.
Lalu, Felix bergegas mendekati Lisa dan membimbingnya untuk bersembunyi dan berada didekatnya
Sesaat kemudian, enam orang berpakaian jas hitam mendobrak gudang dengan berjalan pelan dengan menodongkan senjata berat nya seraya bersiaga untuk menembaki targetnya.
Felix yang melihat itu, dia melangkah dengan berhati-hati disisi sudut barang-barang gudang.
Saat menemukan barang yang besar serta terlihat aman untuk Lisa bersembunyi, Felix menyuruhnya untuk bersembunyi dan Lisa pun menuruti nya.
Felix melangkah dengan hati-hati begitu juga para berjas hitam berhati-hati dari serangan targetnya. Disaat salah satu pria jas hitam berada disisi tembok, Felix dengan cepat menendang salah satu berjas hitam tersebut.
Dor! Dor!
Tembakan asal diluncurkan karena terkejut dan orang berjas hitam itu terjatuh.
“DISANA!!!” teriak rekan jas hitam yang melihat Felix menyerang salah satu dari mereka.
Dor! Dor! Dor!
Rekan lainnya meluncurkan serangan tembakan beruntun kepada Felix. Namun, Felix dengan cepat berguling dan mengambil senjata berat pria berjas hitam yang di serangnya.
Lalu, bersembunyi di sisi benda sampingnya untuk berlindungi dari tembakan. Sedangkan, pria berjas terus melesatkan tembakan kearah Felix.
Disaat melihat kesempatan, Felix membalas tembakannya dan mengenai satu persatu dari pria berjas hitam tersebut.
Lisa yang melihat aksi dari Felix membuat dirinya tertegun dan terdiam antara kaget dan takut kepadanya.
Lisa yang masih kaget kepada teman nya itu, dia sempat terdiam meski begitu, dia percaya Felix akan melindunginya. Lisa pun bergerak dengan hati-hati.
Setibanya didekat pintu keluar, Felix dan Lisa menempel di tembok samping pintu.
Brum! Brum!
Felix melirik kearah luar ada mobil besar yang menyusul dan orang-orang yang sama seperti sebelumnya turun dari mobil dengan membawa senjata berat ditangannya.
Melihat keadaan itu, Felix memeriksa senjatanya yang ternyata sudah habis pelurunya maka dia pun mengantinya dengan pistol yang didapatkannya dari pria berjas hitam itu juga.
Dor! Dor!
Tembakan yang terarah mengenai salah satu pria berjas hitam sedangkan yang lainnya bergegas melindungi dirinya di belakang pintu mobil juga melancarkan tembakan beruntunnya.
Dor … Dor … Dor!!!
Felix yang sedang bersandarkan di tembok, dia menunggu tembakan dari pria jas hitam itu berhenti. Sedangkan, Lisa terus menatap wajah Felix itu dengan tatapan serius karena dalam benaknya tersimpan banyak pertanyaan kepada diri nya.
Ciung … Ciung
Sesaat mendengar suara tembakan tanpa suara tersebut. Tembakan dari berjas hitam itu pun terhenti. Felix yang menyadari itu, dia pun melirik keluar dan melihat Pria berjas hitam itu sudah tumbang terkena tembakan seseorang.
“POLISI! ANGKAT TANGAN KALIAN DISANA!” teriak seseorang dari luar.
Felix yang mendengar itu, dia mencari sumber suara tersebut yang mana suara itu berasal dari Paman nya Lisa, Katsuo yang sedang berjalan pelan masuk kedalam gudang seraya menodongkan pistol.
“Saya tahu kamu didalam, Felix! Keluarlah!” teriak Katsuo yang terus berjalan pelan dengan siaga.
Felix yang menempel ditembok, dia menghela nafas panjang dan tersenyum menghadap Lisa.
“Lisa, kamu sudah aman,” ucap Felix yang memegang kedua bahu Lisa.
“Terimakasih, Felix," ucap Lisa yang melihat Felix. Dia menduga bahwa Felix akan meninggalkannya.
Felix pun hanya menganggukan kepala dan tersenyum kepadanya.
“Jaga diri!” nasihat Felix yang mengelus-ngelus kepala Lisa dan tidak lama, Felix pun pergi meninggalkannya.
Lisa hanya terdiam dan melihat Felix pergi keluar gudang melalui sisi yang lain.
“Angkat tangan!!” teriak Katsuo yang menodongkan pistolnya kearah Lisa.
Lisa membalikan badannya, “Paman Katsuo!” teriak Lisa yang memeluk paman nya tersebut.
Katsuo memperhatikan sekitar Lisa yang sudah aman dan terlihat jasad-jasad pria berjas hitam membuat dirinya menurunkan senjatanya.
Lalu, Katsuo melepaskan pelukan Lisa.“Lisa, kamu tidak apa-apa?” tanya panik Katsuo terhadap Lisa.
“Iya,” jawab Lisa dengan menganggukkan kepalanya.
Katsuo melihat lagi sekeliling Lisa dan dia tidak menemukan seorang pun disana namun, dia curiga terlihat ada senjata berat di bawah kaki Lisa.
“Felix kah?! Dimana dia sekarang?” tanya paksa Katsuo.
Lisa tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya.
"Siapa sebenarnya teman mu itu?" gumam Katsuo.
Lisa tersenyum, "Berhati-hatilah, Felix!" batin Lisa.
Bersambung .. Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (V)