Reborn Genius

Reborn Genius
Bab 24 | Hari pertama sekolah di Utopia



...Hari pertama sekolah di Utopia....


# 4 Agustus 2008.


Setelah liburan panjang, Felix pun akhirnya memulai langkah nya disekolah baru. Meski masih ada kesedihan yang mendalam, Felix harus maju depan.


Ada beberapa perubahan di keluarga Felix, sang Ibu yang masih belum bisa banyak melakukan aktifitas membuat Renaldy terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaan nya sedangkan Nova fokus pada kuliahnya begitu juga Felix yang mana juga dia baru masuk ke kelas sebelas Sekolah Utopia.


Walaupun Felix masih kelas sebelas dan berumur 15 tahun namun, dia memiliki jiwa pria dewasa 28 tahun. Maka dari itu, dia lebih mampu menghadapi dunia dengan sikap yang lebih dewasa.


Felix yang sudah rapih, dia pun pergi ke kamar ibunya yang sedang duduk melamun. Melihat itu, dia pun menghela nafas.


Adapun Felix pernah bertanya kepada sistem cara untuk mengobati penyakit psikologis namun, Viki menjawab penyakit itu hanya bisa diobati dengan Hipnoterapi. Mengetahui itu, Felix pun enggan untuk melaksanakan nya dan memutuskan untuk penyembuhan alami saja.


Lalu, Felix melangkah menghampiri ibu nya untuk mencium tangan dan kening nya.


"Ibu, aku berangkat sekolah dulu."


Tanpa ada respon dari sang Ibu, Felix pun berbalik badan dan melangkah keluar kamar yang mana dia juga menghampiri foto ayahnya yang masih terpasang dupa dan bunga.


"Ayah, aku berangkat dulu," pamit Felix dengan tangan yang disatukan.


Seusai itu, Felix melangkah keluar rumah yang mana berpapasan dengan Renaldy yang sedang mengurusi taman depan.


"Kakak, aku berangkat dulu."


"Oh, iya. Hati-hati dijalan ya!" ucap Renaldy.


Felix tersenyum dan menganggukkan pelan. Lalu, dia pun pergi meninggalkan rumah dan pergi ke sekolah dengan mengunakan kendaraan umum.


Dihari pertama nya sekolah, dia pun tidak ingin tampil mencolok dan menarik perhatian maka dari itu, dia akan mengikuti murid Utopia lain nya yang mengunakan transportasi umum untuk pergi ke sekolah.


Setibanya di terminal bis, di dekat Felix tiba-tiba ada sepeda motor yang melaju ugal-ugalan hingga menabrak seorang wanita di dekat nya. Motor itu pun sontak pergi dan Felix sepintas mengingat kejadian yang menimpah dirinya dan keluarga.


"Cih ... Si-al!" gumam Felix seraya melepaskan lamunannya.


Beberapa orang yang ada disekitar Felix langsung turut membantu wanita yang menjadi korban tabrak lari itu.


"Polisi, disini ada kejadian tabrak lari! .... Plat Nomor? Hemmm ..." ucap pria dewasa yang ragu dikarenakan tidak melihat plat nomor yang menabrak wanita tersebut.


Felix yang memiliki kemampuan unik Photography memories membuat nya mendapatkan informasi yang pria itu inginkan dan Felix sontak menjawab nya.


"B 56389 FG. Motor matic."


Pria dewasa itu pun mengikuti ucapan Felix untuk memberikan informasi kepada polisi.


Sesudah itu, Felix pun meninggalkan mereka dan menaiki Bis menuju Pulau pendidikan tempat Utopia High school berada.


Dikarenakan Bis itu khusus untuk para murid Utopia jadi, dipenuhi oleh para murid yang mengenakan jas abu-abu, dasi merah dengan garis putih yang merupakan seragam dari sekolah Utopia.


Felix duduk di kursi paling belakang dengan terus memandangi langit dari balik jendela untuk menemani perjalanan nya.


Ditengah perjalanan, Felix mereka sedikit terusik dengan ada nya dua murid yang salah satunya sedang memainkan rubik 5x5.


"Kamu tidak bisa. Sini! Aku coba!" ucap murid yang satunya lagi.


Murid yang memegang rubik memberikan rubik nya kepada temannya itu namun, temannya tidak bisa bermain.


"Yee, kamu lebih tidak bisa dan malah merusak. Sini!" ucap murid yang sebelumnya langsung meraih rubik yang dipegang temannya.


Felix hanya menghela nafas panjang dan kembali memandangi langit.


Beberapa menit pun Felix dan lainnya sampai didepan gerbang Utopia High school. Semua penumpang yang ada di Bis itu pun turun semua termasuk dua murid yang berada duduk disamping Felix. Karena terburu-buru, kedua murid itu beranjak dari kursinya dengan meninggalkan rubik nya.


Felix yang melihat rubik itu merasa tertantang. Lalu, dia pun mengambil rubik itu dan menyelesaikan nya dengan cepat setelah itu barulah Felix turun dari bis dan berpapasan dengan salah satu murid yang memiliki rubik tersebut. Dirinya pun terkejut oleh rubik yang terselesaikan dan menoleh kearah belakang.


"Siapa yang menyelesaikan nya?"


Saat murid itu menoleh kearah Felix sudah tidak melihat sosok yang menyelesaikan rubiknya itu karena Felix sudah berada diluar bis dan melihat gerbang sekolah barunya.


"Inikah sekolah baru ku, Boarding Internasional School Utopia," batin Felix seraya menatap tajam gerbang sekolah.


Lalu, Felix melangkah masuk kedalam gerbang sekolah yang dimana seluruh siswi yang dilewati oleh Felix menatap nya dengan ekpresi kekaguman seperti layaknya seorang selebriti yang bertemu fans nya.


"Keren ..."


"Tampan nya ..."


"Kira-kira tingginya berapa?"


Berbagai komentar kagum terus dilontarkan saat Felix melewati seorang siswi akan tetapi, kekaguman itu berefek terbalik kepada siswa yang mana juga menatap iri kearah Felix.


Mendengar itu, Felix pun tersenyum kecil.


Saat melangkah, Felix pun melihat spanduk besar yang bertulis kan dengan bahasa Inggris.


Selamat datang untuk para siswa / siswi High kelas internasional angkatan 2008 / 2009 di Boarding Internasional School Utopia.


Harap seluruh siswa / Siswi berkumpul di ruang pertemuan!


Felix pun hanya melihat sekilas tulisannya itu dan mengikuti petunjuk arah ruang pertemuan. Dalam perjalanan ke ruang pertemuan, Felix melihat beragam ras yang ada di sekolah itu dari berwajah Republik Cina, Imperial Japan, Theorical India, Monarch South Korea, Holyland Arab dan berbagai belahan dunia lainnya.


Hal itu mengingat kan Felix bahwasannya kelas yang ditujunya merupakan kelas internasional jadi sudahlah wajar nya jika ada berbagai ras disana.


Setibanya di ruang pertemuan, Felix pun duduk di kursi barisan tengah yang dimana Felix tidak ada satu pun murid yang dikenalnya. Meski begitu, banyak siswi yang mencuri pandang ke arah Felix sampai akhir Karina datang.


"Pagi, Felix," sapa Karina dengan senyuman kecil.


"Pagi, Karina," jawab ramah Felix.


Setelah menyapa, Karina pun duduk disebelah Felix dan bercerita sedikit tentang dirinya. Felix pun dengan setia mendengar nya.


Tak lama kemudian, seorang siswi juga menghampiri Felix dan menyapa nya yang tidak lain, dia Rachel.


"Kakak, disini juga?"


"Iya, Rachel. Aku baru masuk kelas internasional."


Felix dan Rachel pun saling bertukar senyum.


Karina yang melihat itu, dia terheran dan berisik. "Felix, siapa dia?"


Bisikan itu terdengar oleh Rachel yang mana dia sontak batuk sengaja. "Hugh!"


Mendengar kode itu, Karina sontak melihat Rachel yang mana Rachel menatap tajam Karina seraya memberikan tangan nya.


"Salam kenal, Gua Rachel!"


"Karina," jawab Karina yang menerima tangan Rachel dan saling bertukar senyum dingin.


Felix yang melihat itu, dia tersenyum kecil. Lalu, Rachel pun duduk di sebelah Felix sehingga Felix terhimpit oleh dua siswi cantik yang membuat para siswa lain nya menjadi iri dan menatap tajam Felix.


Beberapa saat kemudian, ada seorang siswa korea yang memiliki penampilan yang culun.


Sebelumnya acara dimulai, dia membuka bekal yang di bungkus kain untuk melihat isi bekal itu membuat semua murid disekitarnya kebauan oleh aroma makanan kimchi yang dibawanya.


"Bau apa ini?" tanya salah satu murid disekitarnya.


"Hei, kamu cepat singkirkan benda itu!" seru murid yang lainnya.


Siswa korea hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk meminta maaf dan dia pun menutup bekalnya kembali. Felix pun tersenyum dan sekilas berpikir walaupun sekolah Utopia merupakan sekolah elite tapi dia akan berhadapan dengan para murid seperti di sekolahnya dahulu.


Felix pun tersenyum remeh, "Ini menjadi menarik," batin Felix.


Beberapa saat kemudian, seorang pria tinggi naik keatas panggung dan pembawa acara mengatakan bahwa dia ketua Platinum Student atau OSIS yang juga berada di kelas Internasional nama Hirano. Seorang pemuda blesteran Indo dan Jepang.


Hirano pun memberikan pidatonya yang intinya. Dia menjelaskan bahwa tidak ada tempat untuk orang bodoh di dunia ini. Jika, ada orang bodoh maka dunia akan terjadi krisis moneter. Yang dimana, Felix mengingat sejarah di tahun 1998. Semua negara belahan dunia terjadi krisis moneter yang membuat ratusan ribu pengusaha dari seluruh belahan dunia jatuh bangkrut dan Seorang sarjana asal Indonesia bernama Hatta Kusuma berhasil membuat solusi untuk memperbaiki krisis moneter itu dengan memperkuat sistem ekonomi dan Pendidikan. Beliau juga pendiri dari Sekolah Utopia


"Maaf, kamu mau permen?" ucap pria Korea yang sebelumnya membuka makanan dan kali ini dia menawarkan permen kepada Felix.


Felix pun menerima permen itu dengan senyuman, "Terima kasih."


Beberapa saat kemudian, ketua OSIS itu pun menyelesaikan pidatonya setelah itu, kepala sekolah pun juga memberikan pidatonya. Dia bernama Maya Kusuma. Putri dari Hatta Kusuma.


Beberapa saat kemudian acara pertemuan pun usai. Felix beserta lainnya pergi ke loket admistrasi dan mengantri di sana. Tidak lama, kini giliran Felix tiba di loket admistrasi.


"ID?Nama?" tanya petugas administrasi.


"111093, Felix Megantara."


Sesudah Felix mengatakan itu, petugas administrasi memberikan beberapa perlengkapan seperti buku panduan sekolah, seragam dan sebagainya.


"Terimakasih," ucap Felix seraya menerima perlengkapan itu semua dan Felix pergi ke kelas nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...