Reborn Genius

Reborn Genius
Bab 25 | Kelas XI D



...Kelas XI D....


...# 6 Agustus 2008....


Kelas XI D, itu lah kelas yang ditempati oleh Felix dan dia juga tidak menyangka bahwa Rachel akan sekelas dengan nya.


Setibanya dikelas, semua arah pandang siswi langsung tertuju pada Felix dengan penuh tatapan kekaguman seakan-akan melihat Felix seperti melihat taman berbunga yang sedang bermekaran.


Felix yang menyadari tatapan itu, dia hanya memberikan senyuman kecil dan dia pun duduk di tengah paling belakang.


Alasan Felix duduk di bangku paling belakang, dia tidak mau lagi sikap menonjol untuk menghindari perhatian dari Wijaya Group apalagi sekarang salah satu putri keluarga Wijaya sekelas dengan nya.


Ditengah lamunan Felix itu, siswa disebelah menyapanya. Sosok siswa yang mengenakan sweater hitam dengan rambut undercut serta ada sepasang anting hitam ditelinga nya.


"Yo, Aku Lee Jin Seong," sapa siswa yang akrab di panggil Jin Seong.


Mendengar itu, Felix menyadarkan lamunan nya dan berbalik arah berkenalan dengan nya.


"Oh, iya. Aku Felix."


Saat perkenalan itu, Jin Seong menyadari sesuatu bahwa semua gadis selalu curi pandang ke Felix dan dia pun menduga sesuatu.


"Mungkin kah, Cindy juga?"


Jin Seong sontak melihat kearah siswi yang berseragam sederhana dengan dandanan gadis pada umumnya serta mengenakan kacamata yang tebal, dia bernama Cindy.


Cindy pun sama seperti siswi lain nya yang mana dia terus memandangi Felix dengan wajah yang memerah.


Melihat itu, Jin Seong pun menjadi sedih. "Cindy!" batin teriak Jin Seong.


Setelah itu, Jin Seong kembali melihat Felix dengan tatapan kemarahan.


Felix yang menyadari itu, dia memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak melihat nya.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita berpakaian blazer hitam dengan stelan rok hitam memasuki kelas dan Felix berpikir, dia walikelas dari kelas nya.


"Selamat pagi, kelas!" ucap Bu Guru.


Semua murid dikelas kembali ke tempat duduknya.


"Saya Anastasia. Selama setahun ini saya yang akan menjadi wali kelas kalian. Baiklah, selamat kepada kalian yang telah berhasil memasuki kelas internasional ini. Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui dan untuk lebih jelasnya buka buku panduan kalian!"


Felix dan para murid lainnya membuka buku panduan sekolah sambil mendengarkan penjelasan Bu Anastasia yang mengatakan bahwa ada beberapa peraturan sekolah yang harus di patuhi. Ada beberapa peraturan yang sama seperti pada sekolah umunya namun ada satu poin utama yang berbeda dari sekolah-sekolah lainnya yaitu sistem kurikulum kelayakan.


Sebuah sistem yang dimana setiap murid harus menambah dan mempertahankan poin kelayakan mereka sebagai contoh jika salah satu murid di kelas Internasional melakukan pelanggaran maka poin yang terkurangi dan jika poin sudah habis maka secara otomatis murid itu akan dikeluarkan dari sekolah secara langsung.


Selain itu juga, poin kelayakan bisa ditukar dengan barang apapun yang terdaftar di menu penukaran seperti paket liburan, gadget, voucher dan sebagainya.


Dan menurut penjelasan Bu Anastasia, para murid diwajibkan mengunduh aplikasi Blackberry Utopia School untuk melihat poin yang didapatkannya. Itulah kenapa setiap murid yang masuk sekolah Utopia harus memiliki Blackberry. Lalu, Bu Anastasia pun menyuruh para muridnya untuk mengunduh aplikasi tersebut.


Felix pun menuruti nya dan memasukan id siswa untuk login ke aplikasi tersebut. Terlihatlah disana poin awal yang diberikan berjumlah 10 poin.


Melihat itu, Felix pun sontak terkejut. "Eh, poin nya tidak terlalu kecil untuk poin awal. Jika, ada murid yang melanggar pasti dia akan dikeluarkan." batin analisa Felix.


Seusai penjelasan itu, Bu Anastasia memulai pelajarannya.


Jam istirahat pun tiba yang mana Felix yang sudah sedikit lapar, dia melangkah pergi ke kantin.


Awalnya kantin itu terlihat biasa saja dengan aktifitas mereka masing-masing sampai Felix tiba didalamnya yang mana merupakan ekpresi seluruh murid terutama para siswi nya yang sontak mencuri pandang Felix dan membicarakan nya.


"Astaga, dia manis sekali!"


"Lihat tubuh nya juga atletis!"


"Tampan nya ..."


....


Beberapa bisikan pujian terdengar oleh Felix namun, Felix hanya tersenyum kecil dan pandangan pun teralih saat beberapa murid berpenampilan beda. Salah satu nya ada didepan Felix yang mana dia memakai celana jean, Sweater dan aksesoris lain nya dengan gaya hip-hop.


Lalu, tanpa sadar Rachel sudah berada disamping Felix dan menjelaskan sosok nya.


"Dia dari Ekstra kurikuler musik. Di sekolah ini terkenal dengan ekstra kulikuler nya. Dengan kamu ikut salah satu ekstrakulikuler disini akan dipastikan kamu bisa menjadi atlite. Banyak pemain profesional olahraga lulusan dari sekolah ini seperti anggota Timnas sepak bola, pemain basket yang di rekrut NBA dan lainnya."


"Oh, begitu."


Lalu, Rachel melihat kearah salah satu kursi yang dimana terdapat beberapa siswa berbadan besar.


"Mereka dari ekstrakulikuler olahraga." Rachel merubah pandangan ke meja yang lain, "Mereka dari musik dan itu ... Kosmologi atau penata rambut."


Dan, sesuai ekstrakulikuler nya. Rambut mereka di warna-warni hingga Felix terheran.


"Aku tidak tahu kalau gaya rambut seperti itu diperbolehkan."


"Itu karena selebritas," jawab Rachel dengan senyuman kecil.


Tidak hanya ekskul kosmologi namun, banyak murid yang berpakaian bebas dan sesukanya. Hal itu menurut Felix menentang dengan hukum kelayakan dan itu membuat nya terheran lagi.


"Bukan kah ada peraturan tentang poin kelayakan?"


"Ah, poin itu hanya berlaku sikap dikelas, nilai ujian dan..." Rachel mendekat kan telinga Felix. "Suap."


Mendengar itu, Felix tersenyum kecil. "Oh, begitu."


Itulah informasi yang didapatkan pada hari pertama sekolah dan sepulang sekolah, Felix bergegas pulang untuk membantu Renaldy mengurus ibunya yang sedang sakit.


# 7 Agustus 2008.


Setibanya Felix dikelas dan hendak duduk, dia sontak dihampiri Rachel.


"Pagi, Felix," sapa Rachel.


"Pagi juga."


"Hei, Felix. Kemarin, dia punya cerita lucu," ucap Rachel yang menunjuk kepada siswa kurus tinggi.


Pria kurus itu memiliki wajah eropa bernama Bean.


"Kami bahkan memotretnya."


"Memotret apa?" tanya Rachel.


Bean pun tertawa kecil, "Hehehe. Ini foto ba-bi bu-gil yang jin Seong pukuli!"


"Apa? Foto bu-gil? Apa-apaan itu? Menjijikkan!" jawab Rachel.


Mendengar itu, Felix hanya menghela nafas panjang.


Lalu, siswi bertubuh besar menjelaskan kronologis nya.


"Tidak tahu kenapa, Jin Seong tiba-tiba kesal dan mulai memukuli ba-bi ini."


"Lalu, aku ambil foto memalukan agar dia bungkam," sambung Bean.


"Pukulan jin Seong sangat cepat," sambung siswi besar.


"Aku bahkan tidak bisa melihat nya," sambung Bean.


"Hei, hentikan. Itu hanya gerakan kecil, sebagai petinju. Aku hanya perlu menggunakan Jab dan mengalahkan nya langsung itu memalukan," ucap senang Jin Seong.


"Sebagai petinju kah?" ucap siswi besar.


Jin Seong yang dipuji itu, dia sontak melirik kearah Felix dengan senyuman kecil.


Felix yang menyadari tatapan itu, dia juga tersenyum kecil.


"Aku yakin ayahnya juga gemuk," ucap Bean.


"Iya, darimana lagi dia gemuk?"


"Aku rasa nanti ayah ba-bi akan muncul. Kalau begitu, aku akan menelanjangi keduanya," ucap Bean.


Pembicaraan itu membuat Felix kesal dan marah lantaran untuk sesaat di teringat akan ayah nya yang kecelakaan sampai akhirnya, Felix memutuskan untuk membela nya.


"Oi, tolong jangan bawa-bawa orang tuanya!" ucap dingin Felix.


Bean dan siswi besar terdiam, "Apa?!"


Jin Seong yang mendengar itu, dia sontak menatap tajam Felix dan ditengah itu, dia melihat Cindy yang terus menatap Felix.


Tatapan Cindy itu membuat Jin Seong geram dan kesal yang mana dia sontak bangkit berdiri hingga kursi nya terjatuh.


"Kamu!"


Jin Seong sontak melihat kearah Felix, "Kamu orang yang lucu."


Perdebatan itu sontak membuat perhatian murid-murid yang lain yang dimana mereka yakin bahwa akan ada perkelahian.


Jin Seong merupakan atlet tinju muda yang terkenal maka dari itu membuat semua murid berantusias untuk menyaksikan pertarungan nya dan dia pun bertarung dengan murid tampan yang memiliki peringkat satu dalam ujian masuk kelas internasional.


Sesaat kemudian, Jin Seong langsung memasang kuda-kuda tinju nya. Namun, Felix tidak ingin meladeni nya.


"Tunggu, aku tak mau berkelahi."


"Iya, aku bisa lihat itu," jawab santai Ji Seong lantaran melihat Felix yang tidak memasang kuda-kuda.


Cindy yang melihat itu, dia coba menghentikan nya. "Jin Seong, jangan lakukan!"


Meski Cindy berkata seperti itu, perhatian masih tertuju kepada Felix yang mana menurut Jin Seong, dia khawatir Felix akan terluka oleh nya.


Memahami itu, Jin Seong semakin kesal dan dia tanpa ada keraguan lagi melesatkan pukulan nya ke Felix.


Sesaat Felix teringat akan ucapan Bean yang mengatakan bahwa pukulan Jin Seong sangat cepat akan tetapi, saat ini Felix bisa melihat nya dengan jelas. Maka, Felix dengan mudah menghindari serangan tinju lurus tersebut.


Penghindaran Felix itu mengejutkan gang nya begitu juga Jin Seong dan semua murid-murid yang menyaksikan nya.


"Tidak mungkin. Dia menghindari nya!" batin heran Jin Seong.


Para murid juga terkagum dengan kecepatan Felix menghindari serangan pukulan Jin Seong.


Karena pembicaraan murid itu membuat Jin Seong malu dan melihat Cindy masih khawatir menatap Felix.


Jin Seong yang melihat itu, dia semakin kesal.


"Dasar breng-sek!" seru kesal Jin Seong.


Lalu, Jin Seong terus melesatkan tinju nya secara bertubi-tubi meski begitu, semua Tinju nya berhasil di hindari nya sampai akhir Felix terpojok di dinding.


Dengan senyuman bangga, Jin Seong menguatkan kepalan tangan dan melesatkan tinju nya kearah Felix.


"Seperti nya aku harus melawannya," batin Felix.


Felix yang sudah memutuskan untuk melawan balik, dia pun sontak menangkap tangan Jin Seong. Lalu, Felix menangkap tangan Jin Seong dan membanting nya.


Buk!


Jin Seong pun tersungkur di lantai dengan geram sakit.


Semua murid pun terkejut dan bersorak.


"Apa itu?"


"Satu bantingan KO!"


"Lee Jin Seong dikalahkan!"


"Dia hebat sekali."


....


Dalam geram sakitnya, Jin Seong tidak marah dengan kekalahan nya melainkan dia malu karena telah tampil memalukan didepan Cindy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...