
...Lisa (I)...
Orang bijak mengatakan sesuatu yang jelas terkadang tak terlihat. Jika sebuah perdebatan dapat membuat kita berpisah dan menyisakan kesedihan yang begitu mendalam. Maka, lebih baik kita tidak pernah akrab.
# 12 September 2008 (Sore/ Felix 15)
Felix yang saat ini masih aktif di klub game, dia pun sering main bersama anggota klub lain nya.
Sore itu, Felix baru selesai membuat pengembangan game. Dia pun memutuskan untuk pulang. Sebenarnya, anggota klub lain sudah pada pulang. Namun, Felix lebih memilih lembur.
"Huaaa ... Capek nya!" gumam Felix dengan merentangkan tangan nya keatas. "Baiklah, sekarang waktunya pulang dan melakukan aktifitas malam."
Felix pun merapihkan beberapa barang nya dan beranjak diri dari kursi akan tetap saat melangkah keluar, Felix melihat ada buku saku yang terjatuh.
"Buku?"
Felix yang penasaran dengan hal itu, dia pun mengambil buku itu dan membukanya untuk mengetahui pemilik dari buku tersebut.
“Jurnal harian? Kenapa bisa jatuh disini?”
Felix pun membuka halaman selanjutnya dan membacanya didalam hati, dalam halaman itu tertuliskan bahwa ditanggal 10 Juli 2005, pemilik buku memulai menuliskan buku hariannya dan didalam halaman itu terdapat rahasia yang hanya diketahui oleh keluarganya saja bahwa dirinya divonis dokter akan meninggal dunia dalam waktu 3 tahun kedepan karena penyakit yang dialaminya, Kanker Darah (Leukimia).
Melihat itu, Felix pun menganalisa.
“Leukimia? Tiga tahun dari 2005, mungkinkah tahun ini?”
Sesaat kemudian, Felix mendengar suara gadis yang tidak asing.
"Buku punyaku?"
Mendengar itu, Felix sontak menoleh kearah sumber suara yang berasal dari pintu masuk dan dia pun terkejut lantaran pemilik buku itu berasal dari Lisa.
"Lisa? Kamu?" gumam Felix yang langsung terlontar saat melihat buku miliknya.
“Felix, kenapa kamu belum pulang?” tanya Lisa sambil menghampiri nya dengan senyuman kecil.
Felix yang melihat senyum Lisa dan sikapnya yang santai. Felix pun memutuskan untuk tidak membahasnya.
"Aku baru selesai membuat program," jawab santai Felix dengan senyuman kecil.
Sejujurnya, Felix bingung dan resah saat mengetahui keadaan yang menimpah Lisa tapi dia terlihat tegar dan kuat meski dia tahu dirinya akan meninggal dunia dan walau, rahasia sebesar itu diketahui oleh teman nya tapi dia tetap tersenyum seperti biasanya.
"Mungkin, aku harus juga bersikap yang sama seperti dirinya," batin Felix seraya melihat Lisa yang tersenyum.
Saat Lisa sudah berdiri depan Felix, Felix pun mengembalikan buku itu kepadanya.
“Ini bukumu.”
“Terima kasih, Felix. Jadi kamu sudah melihat buku ini kan?” ucap Lisa sambil mengambil buku itu dan tersenyum lebar kepada Rendy.
“Hm ... Maaf,” ucap Felix sambil menganggukkan kepala.
Lisa tertawa kecil sambil memasukan buku itu kedalam tasnya.
“Sekarang, kamu sudah tahu tentang rahasiaku maka kamu harus bertanggung jawab!” ucap Lisa sambil menunjukan jarinya kepada Felix.
“Bertanggung jawab? Apa maksudmu?”
“Pertama, pinjam ponselmu sebentar?” ucap Lisa sambil posisi tangan meminta.
“Baiklah.”
Felix pun mengambil ponsel dari saku. Setelah itu, dia memberikannya kepada Lisa.
“Ini.”
“Sebentar, ya!” ucap Lisa yang mengambil ponsel Felix
Lalu, Lisa menekan sesuatu didalam ponsel nya dan setelah itu, suara ponsel dari Lisa berbunyi. Seusai itu, Lisa mengembalikan lagi ponsel kepada Felix.
“By the way, kita sudah kenal cukup lama namun, aku tidak punya nomor mu tapi, sekarang, aku sudah simpan nomorku! Nanti, aku akan beritahu kepadamu, Oke!” ucap Lisa.
“Iya, iya,” jawab Felix sambil menerima ponsel nya.
“Ya sudah, sampai bertemu lagi, Rendy! Bye-bye!” seru Lisa sambil melambaikan tangan.
“Iya, sampai bertemu kembali!”
Setelah itu, Lisa membalikan badannya dan meninggalkan ruang klub dan tidak lama juga Felix meninggalkan kelas.
# 12 September 2008 (Malam/ Felix 15)
Klik!
Saat mendengar itu, Felix mengambil ponsel dan memeriksa isi pesannya yang bertuliskan bahwa Felix harus bertemu dengannya pada hari Sabtu di dekat stasiun.
“Eh? Apa ini kencan?”
Felix pun sontak berpikir demikian karena temu janji yang dibuat oleh Lisa tapi Felix pun tidak mempermasalahkannya dan menjawab pesan itu dengan jawaban ...
[Iya, aku akan kesana.]
Mengingat Lisa, Felix pun teringat akan teman wanita nya saat masih di sekolah dasar. Hubungan Felix dengan wanita itu sangat lah dekat hingga sering bermain dan tawa bersama.
Sampai suatu kejadian, wanita itu mengalami kecelakaan saat bermain ayunan. Felix yang merasa tanggung jawab, dia pun meminta maaf.
Meski begitu, Felix masih merasa bersalah dan menghindari wanita itu sampai akhir dia pindah rumah yang tempat yang tidak diketahui oleh Felix.
# 15 September 2008 (Pagi/ Felix 15)
Pada hari ini merupakan hari yang cukup membahagiakan lantaran Felix akan jalan-jalan bersama Lisa.
Maka, Felix pun berpakaian rapih dan wangi agar tidak mempermalukan Lisa.
Lebih dari itu, ini kesempatan nya untuk mendapatkan poin dari Game Of Love dan poin itu, Felix bertekad untuk menyembuhkan penyakit Lisa dengan kemampuan sistem nya.
Beberapa saat kemudian, Felix tiba didepan stasiun akan tetapi Lisa belum tiba meski begitu, dia tidak mempermasalahkan.
Saat menunggu, Felix mempelajari penyakit leukemia atau kanker darah.
Dalam keterangan itu internet, Leukemia myeloid akut adalah jenis kanker darah yang terjadi karena produksi berlebihan dari jenis sel darah putih di sumsum tulang. Dan, penyembuhan nya hanya ada satu jalan yaitu pencangkokan kan sumsum tulang belakang yang cocok sedangkan, kecocokan untuk sumsum tulang belakang sangat lah kecil persentase nya.
Mengetahui itu, Felix hanya bisa menghela nafas. Namun, terpikir lah sesuatu yang bisa menjawab nya dengan cara yang berbeda.
"Viki, apakah sistem atau Fast Regeneration bisa menyembuhkan penyakit kanker?"
Kling!
[Tuan, efek dari Fast Regeneration tidak bisa digunakan lantaran skill itu akan memperkuat kanker yang lebih buruk lagi. Tapi, ada satu cara yang Tuan bisa gunakan yaitu Recovery. Dengan mengunakan fitur itu. Maka, Tuan bisa menyembuhkan penyakit dalam apapun meski begitu, setiap penggunaan akan memakan biaya yang cukup besar yaitu 50.000G.]
Mendengar itu, Felix pun terkejut saat melihat biaya yang akan dikeluarkan nya. Namun, keraguan itu ditepis oleh kenangan Felix dengan Lisa walau hanya sebentar di klub game.
"Baiklah, tidak masalah. Golden bisa dicari tapi, hidup hanya ada satu dan hari ini, aku harap bisa memberikan pengobatan itu," batin Felix.
Sesaat kemudian, Lisa pun datang dengan mengangetkan Felix.
“BANG!” seru Lisa dari belakang sambil mendorong pelan Felix.
Felix yang mendengar itu sontak berpura-pura terkejut dan bergerak kecil secara spontan sehingga membuat Lisa tertawa kecil.
“Hahaha … Imut nya,” tawa kecil Lisa
“Lisa, kamu telah mengejutkanku,” ucap Felix sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku sambil mengelus-ngelus dada.
“Felix, kamu lucu apalagi saat melihat kamu serius banget melihat layar ponsel,” ucap ledek Lisa.
“Begitu ya, Maaf,” ucap datar Felix.
“Aish, pelitnya kamu bicara. Baiklah, Ayo sekarang kita pergi!” ajak.
“Kemana?”
Lisa pun tersenyum dan mengambil buku hariannya lalu menunjukannya kepada Rendy.
“Jreng! Jreng! Ayo kita bertamasya di Metro bandung!” seru Lisa sambil menunjukan list lokasi yang akan dikunjungi nya.
“Panjang nya?!” ucap Felix saat melihat list yang begitu panjang.
“Hehe ... Begitu lah karena Kita akan berkunjung ke 50 lokasi berbeda disini."
“Eh? Serius?"
“Iya, serius. Ayo kita naik kereta kesana!" seru Lisa yang sontak meraih tangan Felix dan berjalan kedalam stasiun.
"Iya," jawab santai Felix dengan senyuman kecil.
Dan, Felix dan Lisa pun jalan bersama-sama diakhir pekan.
Bersambung ... Rahasia Lisa (II)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...