Reborn Genius

Reborn Genius
Bab 75 | Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (VII)



...Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (VII)...


Saat ini Felix sedang melajukan motor dengan cepat ke sebuah gedung pabrik yang didapatkan dari informasi System.


Setibanya disana, Felix pun turun dengan membawa pistol tanpa suara dan helm yang masih dipakainya. Lalu, masuk ke gudang tersebut.


“Ingat kalian! mata harus selalu siaga mengantisipasi penyusup datang masuk!” seru salah satu berjas hitam kepada pria berjas lainnya.


Beberapa saat kemudian, Felix berjalan dengan pelan kearah mereka dan para penjaga yang sedang mendengarkan instruksi.


“Siapa kamu?!” ucap salah satu orang berjas hitam yang mendekati Felix.


Felix yang melihat itu, dia pun menodongkan pistolnya kearah mereka.


Ciung!


Dalam sekejap, orang jas hitam didepan Felix tertembak.


“Sialan!” teriak serempak dan mereka mengarahkan senjata beratnya kearah Surya.


Dor! Dor! Dor!


Tembakan beruntun dilesatkan tapi tembakan itu tidak mengenai Felix karena dia mengunakan jasad orang berjas hitam yang sudah tertembak dijadikan perisainya. Dia pun juga melancarkan serangan balik dengan mudahnya dia menembaki satu persatu pria berjas hitam yang menembakinya.


Ciung! Ciung!


Satu persatu mereka pun tumbang. Setelah tidak ada yang menembakinya, Felix menjatuhkan perisainya dan melanjutkan langkahnya untuk menemui Kutosewu.


Felix pun naik kelantai dua, disana tidak ada siapapun tapi, Felix tetap siaga dengan menodongkan pistolnya kearah depan.


Disaat beberapa langkah, dia merasakan sesuatu yang berbahaya. Maka, Felix dengan cepat berguling kedepan dan menoleh kebelakang seseorang menyerangnya dengan pedang katana.


Ciung!!


Felix bergegas menembaki pria tersebut dan tumbang.


“Hiyaaaa!!!” teriak penyerang lain yang mengunakan pedang katana dari sisi samping.


Disaat Felix menarik pelatuknya, peluru tidak keluar karena kehabisan amunisi maka dengan cepat dia berguling ke samping lagi dan membuka helmnya. Lalu dengan helm itu menghajar pria katana itu dengan kencang serta dilanjutkan memukul dadanya yang pria itu mundur.


Felix yang melihat kesempatan itu, dia berputar dan menendang kepala pria itu hingga pria itu terjatuh dan tidak sadarkan diri.


“Padahal aku tidak ingin direpotkan!” keluh Felix yang menggarukan kepala belakang nya.


Setelah itu, Felix mengambil pedang katana dan melangkah menuju ke ruangan Kutosewu. Disaat, Surya akan masuk ke sebuah ada seseorang yang sudah menodongkan pistol.


“Mati, Lu!”


Dor! Dor!


Felix dengan cepat menghindarinya ke samping pintu masuk.


Tembakan terus dilesatkan hingga beberapa saat tembakan pun terhenti dan Kutosewu yang panik dia pun berjalan pelan kearah pintu.


“Dimana lu! keluar!” teriak Kutosewu.


“Ahhhhhh!!!” teriak kesakitan dari Kutosewu dan dia melihat kearah Felix.


Felix tanpa ragu-ragu menebas leher Kutosewu dan dia pun mati dibawah kaki Felix.


“Ahuufuu! Selesai juga!” gumam Felix sembari menghela nafas panjang.


Sesudah itu Felix membuang pedang katana nya dan meninggalkan gedung itu dengan pakaian yang sudah berdarah-darah dari lawannya.


Beberapa jam kemudian, Katsuo memeriksa TKP pembantaian di gedung tempat Kutosewu berada. Pada ruangan itu, Katsuo yang melihat orang-orang dan Kutosewu yang sudah tidak bernyawa serta bau busuk pada ruangan tersebut.


“Aku pikir ini dilakukan oleh pembunuh professional,” batin Katsuo disaat melihat korban yang berjatuhan.


Tim forensic dan kepolisian lainnya mengamankan jenasah dengan memasukannya kedalam kantung. Saat Katsuo sedang memeriksa ruangan Kutosewu dan dia juga menemukan beberapa bukti keterlibatan Kutosewu di perusahaan Eternal.


Salah satu polisi bagian kriminal datang menghampiri Katsuo.


“Pak! Saya menemukan orang-orang yang selamat!” lapor dari polisi tersebut.


“Benarkan tunjukan kepadaku, dimana mereka?!” ujar Katsuo yang bergegas bersama polisi itu ke orang-orang yang selamat tersebut.


Setibanya disana, Katsuo membuka salah satu ruangan dan dia terkejut saat melihat banyak gadis muda seumuran Lisa yang mendiami ruangan itu dan mereka hanya mengenakan pakaian dalam saja.


“Astaga! Kamu?!” kaget Katsuo saat melihat salah satu dari mereka adalah teman Irina.


Katsuo pun menghampirinya gadis tersebut.


“Kamu, Tiara kan? Teman Lisa?!” tanya Katsuo kepada salah satu gadis tersebut.


Gadis muda itu hanya menganggukkan kepala. Katsuo pun kesal dengan perlakuan dari Kutosewu tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sosok yang dikesalkan itu sudah mati.


“Kalian bawa mereka ke rumah sakit!” ujar Katsuo yang menoleh ke beberapa polisi disampingnya.


“Baik, pak!” jawab polisi.


Tiara dan lainnya pun dibawa ke rumah sakit untuk melakukan perawatan kepada mereka.


Kring … Kring.


Suara ponsel Katsuo berbunyi dan dia melihat dari layar ponselnya, komandannya Jeremy yang menelponnya.


“Pagi, Dan!” jawab Katsuo.


“Bagaimana keadaan disana?” suara tanya Jeremy.


“Terkendali, Dan!” jawab Katsuo.


“Bagus, kerjakan serapih mungkin. Selamat berkerja!” suara tegas Jeremy.


“Siap, Dan!” jawab tegas Katsuo yang menutup teleponnya.


Setelah itu Katsuo melanjutkan investigasinya didalam gedung tersebut.


Bersambung ... Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (VIII)