
...Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (III)...
Sejak terungkapnya kasus di Utopia. Felix ditangkap dan ditahan oleh kepolisian Felix lantaran terlibat perkelahian dan percobaan pembunuhan saat menyelamatkan Lisa.
Lisa sudah menjelaskan semua kejadian yang menimpah dirinya namun, Paman Katsuo tidak percaya lantaran kemampuan Felix yang diatas rata-rata bahkan Felix mampu menghindari tembakan pistol dan melumpuhkan nya.
Disaat Felix di investigasi, dia dengan lihai nya membuat keterangan palsu.
Setelah melewati 2 minggu ditahan, Felix pun dibebaskan.
Grubrak!! Krekkk!!
“Felix, anda bebas dan ada yang ingin bertemu dengan anda!” ucap seseorang yang mengenakan seragam polisi membuka pintu tahanan dan mempersilahkan Felix untuk keluar.
“Iya aku mengerti,” jawab Felix yang membuka mata. Lalu, dia pun berjalan keluar dari tahanannya.
Felix yang baru saja keluar, dia menganggukkan kepala dan tersenyum kepada beberapa petugas disana untuk menambah citranya agar terlihat ramah. Sebelum keluar, Felix juga diberikan barang-barang pribadinya.
“Terima kasih,” ucap Felix yang menerima barang-barangnya.
Setelah Felix menerima barang-barangnya, dia pun pergi keluar yang diantar oleh salah satu petugas kearah sebuah mobil yang sedang memarkirkan mobil di depan pintu masuk dan mobil itu bersiap untuk berangkat.
Saat kedatangan Felix di mobil, petugas yang mengantar Felix membukakan pintu mobilnya dan didalam ada seseorang yang mengenakan jas hitam dengan dasi.
“Hormat, Pak!” seru petugas yang melihat ada atasannya didalam mobil tersebut.
Felix pun menganggukkan kepalanya kepada sosok pria paruh baya yang berada didalam mobil.
“Felix, Masuklah!” ajak pria paruh baya kedalam mobil.
“Baik,” jawab Felix yang masuk kedalam mobil.
Setelah Felix masuk ke mobil, pintu pun ditutup dan mereka menjalankan mobilnya.
“Felix, kamu tahu siapa saya?” ucap pria paruh baya tanpa melihat Felix
Melihat sosok pria paruh baya itu, Felix pun sontak mengenal nya.
“Tentu, Jenderal besar kepolisian Indonesia, Jeremy Kusuma,” jawab Felix yang menghadap Jeremy dan dia menundukkan kepalanya untuk memberikan penghormatan.
Jeremy tersenyum, "Felix, kemampuan mu luar biasa dalam menangani kasus. Aku ingin kamu mengungkapkan perusahaan gelap Wijaya Group. Apakah kamu bisa?"
"Iya, aku akan lakukan. Karena aku juga memiliki sedikit masalah kepada perusahaan itu."
"Aku mengandalkan mu."
Setelah itu, Felix turun dari mobil disembarang tempat dan Jeremy pun meninggalkan Felix.
Felix membungkukan badannya untuk memberikan penghormatan kepadanya dan saat Jeremy yang sudah jauh, Felix mengembalikan posisi badannya dan melihat ponsel pintarnya.
“Lisa,” ucap kaget Felix saat melihat banyaknya miss call dari Lisa.
Disaat Felix menghubungi balik, ponsel Lisa tidak dijawab.
“Aku punya firasat buruk. Aku harap dia baik-baik saja,” gumam Felix.
Felix pun bergegas memanggil taksi menuju rumah Lisa.
Di rumah Lisa banyak orang-orang berpakaian preman dengan dipimpin oleh satu pria yang mengenakan jas kantoran.
“Aishhh, kenapa gua harus disini sih?!” ucap kesal pria berpakaian kantor.
Disampingnya terdapat Ibunya Lisa yang sedang diikat di kursi.
“Siapa kalian?! Mau apa kalian?!” teriak Ibu Lisa kepada pria berjas tersebut.
“Oiii, Bu. Gua tidak ada urusan denganmu tapi anak lu. Dia telah mencuri barang kami!” jawab teriak dengan menjambak Ibu nya Lisa
Katsuo yang baru saja pulang dari mencari ikan, dia terkejut saat ada orang asing yang menjaga pintu masuk.
“Indah!” gumam Katsuo dan dia berlari ke rumah Lisa.
“Oi, mau apa lu? Sana pergi!” teriak nyolot penjaga pintu yang menahan Katsuo.
“Indah! Indah!” teriak Katsuo yang mengkhawatirkan keadaan Ibunya Lisa, Indah.
Indah yang mendengar suara Katsuo, dia pun melihatnya dan memasang wajah khawatir.
“Siapa sih lu? Sana pergi!” teriak pria berjas.
Katsuo tidak mempedulikan pria berjas tersebut, ia hanya mengkhawatirkan Indah.
“Indah! Kamu tidak apa-apa?” tanya Katsuo seraya melihat Indah yang terikat.
Indah menganggukkan kepalanya dan pria jas yang melihat itu membuat dirinya kesal.
“Aisshhh, Gua diabaikan!” teriak pria berjas dan dia memberikan kode kepada penjaga pintu untuk menghajar Katsuo.
Penjaga itu pun menurutinya.
“Pergi, Lu!” teriak penjaga seraya ingin mendorong Katsuo.
Akan tetapi, Katsuo pun menangkisnya dengan mudah dan dia membalas dengan cepat.
Rekan preman yang lain tidak terima dan mereka pun mulai maju menyerang Katsuo.
Melihat itu, Katsuo mundur beberapa langkah dan pertarungan pun dimulai. Beberapa pukulan pun dilancarkan oleh para preman namun, Katsuo dengan mudah menghindar dan menyerang balik hingga satu persatu mereka tumbang.
“Sialan!” teriak kesal pria berjas dan dia mengeluarkan pisau lalu, berlari menyerang Katsuo.
Katsuo sangat berhati-hati saat menghadapinya tapi disaat melihat selah, Katsuo langsung menangkap tangan nya, memutarkan tangan pria berjas hingga pisau terjatuh lalu, membantingnya.
Semua preman sudah terkapar ditanah dan Katsuo pun mencari petunjuk identitas mereka dengan memeriksa jas nya lalu, dia mengambil dompet pria berjas dan terlihat disana ada kartu nama dirinya yang bekerja di perusahaan biotechnology Eternal.
“Seperti yang aku duga!” gumam Katsuo.
Setelah itu, dia bergegas melepaskan ikatan Indah.
“Lisa! Lisa! Dimana dia? aku harus cepat menyelamatkannya?” gumam Indah dengan panik karena kekhawatirannya yang ingin beranjak diri. Namun, dihentikan oleh Katsuo.
“Indah, tenanglah! Aku akan mencarinya!” teriak Katsuo yang memegang erat kedua bahu Indah.
“Tidak! Tidak! Aku harus bergegas, ayahnya bisa membunuhnya!” sambung gumam Indah yang panik serta ketakutan.
“Indah!! Yang penting, kita harus pergi ke tempat yang aman!” ucap Katsuo yang berusaha menenangkan Indah.
Segala perkataan Katsuo tidak didengarnya,dia pun terpaksa menekan saraf leher Indah hingga membuatnya pingsan. Lalu, Katsuo membawanya ke tempat yang aman.
Beberapa menit kemudian sesaat kepergian Katsuo dan Indah, Lisa pun datang berlari pulang ke rumahnya. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat melihat banyak kerumunan preman yang terkapar juga ada beberapa yang memeriksa keadaannya dan salah satunya saat mereka melihat keadaan, mereka pun melihat kehadiran Lisa.
“Hei, itu dia, anak nya!!” teriak salah satu preman yang melihat Lisa.
Lisa yang mengetahui hal itu, dia pun bergegas melarikan diri.
“Berhenti, lu!” teriak para preman.
Pelarian Lisa pun terhenti di sebuah gedung-gedung tua dan dia bersembunyi dengan menutup mulutnya.
“Keluar, lu!” teriak preman yang juga berhenti sedang mencari Lisa disekitarnya.
Kreng!!
Tanpa sengaja Lisa menjatuhkan sesuatu hingga membuat salah satu preman menyadari tempat persembunyian Lisa.
Maka, preman pun pelan-pelan menghampiri Lisa yang sedang bersembunyi. Akan tetapi, Felix datang dari belakang. Dia chop leher preman dengan tangannya hingga membuat preman itu pingsan.
“Sialan! Lu!” teriak rekannya yang melihat Felix.
Dan pertarungan pun terjadi, Felix menghajar mereka dengan pukulan dan tendangan yang sangat cepat hingga para preman itu pun tidak bisa melukai Felix.
Lisa yang tengah ketakutan di tempat persembunyian, dia pun mendengar pertarungan itu hingga membuat dirinya menutup telinga dan mata nya lantaran trauma nya belum sembuh.
Setelah beberapa saat kemudian, suara preman dan pertarungan pun terhenti. Lisa pun memberanikan diri membuka matanya dan dia terkejut senang saat mendengar suara dan seseorang yang memegang bahunya.
“Kamu baik-baik saja?!” Suara Felix.
Saat Lisa melihat Felix, dia pun sontak menangis seraya menganggukkan kepalanya.
Felix pun tersenyum lalu, memegang kepala Lisa. "Syukurlah, kamu baik-baik saja!" ucap Felix dengan senyuman lebar.
Bersambung ... Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (IV)