
...Juan (II)...
Ini kisah dari seorang pemuda yang memiliki tubuh yang tidak bagus dan tidak berwajah tampan. Dia memiliki fisik yang pendek gemuk dengan kacamata yang selalu di kenakan nya. Meski begitu, pemuda itu tidak pernah memikirkan fisik nya lantaran dia terlalu sibuk untuk belajar dan bekerja paruh waktu.
Dia bernama Juan, 16 tahun dan masih duduk disekolah menengah atas. Lalu, dia tinggal bersama adik perempuan nya yang masih berumur 12 tahun, dia bernama Yui.
Kehidupan Juan tidak seperti keluarga pada umumnya. Setahun yang lalu, Juan dan Yui mengalami kemalangan yang dimana kedua orang tua mereka meninggalkan dunia dan sejak saat itu, Juan lah yang menjadi tulang punggung adiknya meski ada bantuan dari sanak saudaranya namun itu tidak membantunya untuk bisa makan setiap harinya apalagi biaya sekolah yang tidak kecil.
Juan bukanlah pemuda yang bodoh, selama sekolah Juan selalu mendapatkan beasiswa bahkan dia mampu masuk sekolah Utopia kelas biasa dengan beasiswa nya.
Meski begitu, kepintaran Juan tidak menunjang perekonomian dan meski juga biaya sekolah tidak bayar namun, Juan masih membutuhkan biaya untuk memenuhi kehidupan nya sehari-hari. Maka dari itu, Juan mau tidak mau harus bekerja paruh waktu dan belajar saat bekerja serta memiliki waktu tidur hanya 2 jam perhari nya.
Dan, pada hari itu. Juan sedang menunggu hasil ujian dan sesaat kemudian guru datang ke kelas dengan membawa setumpuk kertas.
"Ayo anak-anak! Semuanya duduk!"
Semua para murid dikelas pun bergegas kembali ke bangku mereka dan duduk dengan rapih.
"Anak-anak hasil ujian kalian sudah keluar. Jadi, persiapan diri kalian."
Beberapa murid merasa antusias terutama para murid wanita yang mungkin sudah bekerja keras untuk belajar namun tidak sedikit yang cuek dan tidak peduli dengan hasil ujian.
"Oke, Ibu akan bagikan!"
Guru itu pun memanggil satu persatu muridnya sesuai absen dan tibalah nama Juan disebut. Sebelum Juan menerima itu, teman-temannya sudah tertawa kecil dan berbisik-bisik seraya melihat Juan.
Meski, Juan menyadarinya. Dia lebih memilih diam dan terus melangkah kedepan menghampiri guru untuk mengambil hasil ujian. Setibanya di dekat Bu guru, beliau menatap tajam sambil memberikan kertas ujian.
"Juan, ikut ibu ke kantor jam istirahat nanti!"
"Baik, Bu."
Juan pun menerima hasil ujian itu dan membalikan badan untuk kembali ke bangkunya sambil melihat hasil nilai yang didapatkan nya. Juan pun mendapatkan nilai 65 dan hasil itu sudah kedua kalinya jadi wajar jika Juan dipanggil oleh guru nya.
Lalu, Ada juga siswi yang mencuri pandang kepada Juan dengan tatapan simpatik namun, disaat Juan melihatnya kembali. Dia membuang muka.
Jam istirahat pun tiba ...
Sesaat bel berbunyi, banyak teman sekelas Juan yang langsung menghampirinya.
"Juan, ini list yang harus kamu beli!" seru Bondan sambil memberikan catatan kecil kepada Juan.
"Dan, ini uang nya! Seperti biasa kembaliannya untuk mu, pengemis!" ucap seorang murid wanita bernama Alexa.
Alexa merupakan siswi yang cantik dan besar di keluarga yang kaya raya. Tentu, banyak siswa yang menyukainya bahkan tidak satu dua orang yang pernah menyatakan perasaannya namun, banyak dari mereka yang ditolaknya lantaran siswa itu miskin, bodoh atau jelek. Dia pun juga tidak ingin jomblo maka, dia pun selalu berganti-ganti pacar.
Juan menerima list dan uang itu dan menjalankan perintah mereka. Juan pun meninggalkan kelas.
Pembelian makan siang itu juga sudah menjadi rutinitas Juan dan dia pun tidak mempermasalahkan meski harus mengantri dan berdesakan dengan murid lainnya lantaran uang jasa pun lumayan untuk membeli bensin motor miliknya.
Setelah beberapa lama, Juan pun berhasil membeli semua makanan yang ada di list dan kembali ke kelas namun, ditengah perjalanan siswi kakak kelas Juan menghampiri nya dan tanpa basa-basi dengan wajah yang masam menampar Juan.
Plak!
sebuah tapak merah menempel pada pipi Juan.
"Hei, gua ingetin loe ya. kacung. Kalau mau jadi pacar gue, kaca dulu loe. Dasar jelek dan pengemis!" maki siswi tersebut.
Nama siswi itu, Siska. Dia siswi kelas 12 yang juga primadonanya kelas 12 sama seperti Alexa. Siska tidak pernah sendiri, dirinya selalu ditemani oleh keempat temannya atau satu gang cheerleader nya yang saat ini sedang menertawakan Juan.
Juan tidak marah dengan perlakuan itu dan diam. Sebenarnya, dia tidak sungguh-sungguh menyatakan perasaannya namun, Bondan dan Alexa menyuruh Juan untuk berkenalan dan meminta nomor Chat nya kepada Siska beberapa hari yang lalu, Juan berhasil.
Setelahnya, Bondan dan Alexa menyuruh Juan untuk menyatakan perasaan nya kepada Siska dan Juan pun menuruti nya dan Juan pun mendapatkan 200 ribu rupiah dari mereka.
Meski, resikonya saat ini menerima tamparan dari Siska.
"Maaf," ucap pelan Juan sambil menundukkan kepalanya.
Sesaat kemudian, Siska dan gangnya pergi meninggalkan Juan dengan tatapan dan tawa remeh.
Sesudah itu, Juan kembali ke kelas dan memberikan semua makanan yang dipesan kan oleh teman-temannya.
"Lama banget loe!" ucap kesal Alexa yang langsung merampas kantong makanan.
"Dan, ini upah loe!" ucap Bondan yang memberikan 20 ribu rupiah. "Tunggu! Karena loe telat potong setengahnya," ucap Bondan sambil mengambil 10 ribu dari tangan Juan. "Udah sana!"
"Iya. ya," jawab Juan yang berbalik badan dan meninggalkan kelas lagi untuk mendatangi gurunya yang ada di kantor guru.
"Juan, kalau nilai mu begini terus kamu bisa dikeluarkan dari sekolah," ucap peringatan Bu Guru
"Iya, Bu. Saya akan usahakan."
"Ibu tahu kamu harus mengurusi adik mu tapi kamu harus lebih mementingkan belajar daripada bekerja, ya. Juan."
"Iya, Bu."
"Yasudah, kamu kembali ke kelas."
"Iya, Bu. Saya pamit dulu."
Setelah itu, Juan pun pergi meninggalkan kantor guru dan setibanya, diluar Juan berpapasan dengan siswi yang sering mencuri pandang kearahnya.
Nama nya Nabila Putri, siswi yang ramah dan pandai dikelas.
Juan dan Nabila pun saling menundukkan kepalanya. Lalu, dia melewati Nabila.
"Tunggu!" seru Nabila.
Langkah Juan pun terhenti dan menoleh kebelakang.
"Ada apa?"
"Kamu tidak apa-apa hidup seperti itu?" tanya Nabila.
Juan memberikan senyuman, "Saya baik-baik saja."
"Oh, begitu. Jika ada apa-apa, beritahu Saya saja ya."
Juan menganggukkan kepalanya lalu, membalikan badannya dan meninggalkan Nabila untuk kembali ke kelas.
Jam sekolah usai ...
"Hei, lihat! ada pengemis lagi pulang!" seru kencang Bondan.
Ucapan Bondan itu tentu membuat semua murid disekitarnya tertawa senang.
Juan pun tidak mempedulikan nya dan terus melajukan motornya.
Juan tidak langsung pulang lantaran harus mampir ke pasar dan membeli beberapa bahan makanan dan membeli sebisanya.
Sesudah itu barulah pulang ke rumah petakan yang berada didalam perkampungan dan gang kecil. Rumahnya pun menyatu antara tempat tidur, tempat tv, dapur dan lainnya. Ruangan terpisah hanya kamar mandi. Jika diperkirakan rumahnya itu seluas garasi rumah.
Meski begitu, Juan dan kedua adiknya hidup damai.
"Kakak, pulang!" seru Juan yang membuka pintu.
Adiknya yang sedang menonton televisi sontak menghampiri kakaknya.
"Kakak!" teriak Yui
Kedua adiknya mencium tangan. Setelah itu, Yui mengambil plastik yang dibawa oleh Kakaknya.
"Yuri, taruh diatas meja. Kakak langsung memasaknya. Kamu sudah masak nasi?" ucap Juan.
"Iya, aku sudah bisa masak nasi di rice cooker. Hihihi ...." jawab Yui sambil mengacungkan dua jari piece nya.
Juan pun tersenyum senang, "Yui memang pintar."
"Iya, Kakak mandi saja dahulu baru masak!" ucap Yuda.
"Oke," jawab santai Juan.
Sesudah itu, Juan pergi ke kamar mandi dan setelah itu masak dan makan bersama dengan porsi yang minim.
Jam pun sudah menunjukan jam setengah tujuh yang bertanda bahwa Juan harus bekerja. Dia pun berganti pakaian kerja dan berangkat lagi.
"Ingat Yui! Jangan membuka pintu untuk orang asing! Dan, tidur jangan terlalu malam!" seru Juan saat ingin meninggalkan rumah.
"Baik, kak!" jawab serempak Yuda dan Yuri.
Sesudah itu, Juan pun berangkat.
Juan bekerja di minimarket dari jam 7 malam sampai jam 4 pagi sedangkan, Juan hanya membutuhkan waktu dua jam saja untuk tidur. Itulah setiap malam yang dilakukan oleh Juan.
Pada malam itu, hujan begitu deras dan petir menyambar dan waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.
"Juan, Saya pulang dulu." ucap pria rekan kerjanya Juan.
"Oh, iya. Kak! Hati-hati dijalan!"
"Oke, bye."
Sesudah itu, rekan kerjanya mengenakan jas hujan dan keluar pulang dengan motor Ninja nya pergi meninggalkan minimarket.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sport bermerk BMW M4 berhenti di minimarket. Lalu, keluarlah Siska dari mobil itu bersama seorang pria.
Pria itu Victor. Dia juga satu sekolah dengan Juan dan berada dikelas 12.
Mereka masuk ke minimarket dan membeli beberapa barang sampai tibalah mereka berdua di kasir.
"Selamat malam," sapa Juan sambil menghitung belanjaan mereka.
Siska yang ada disana terus memperhatikan Juan, "Loe Juan kan? ngapain loe disini? Kerja!" ucap sindir Siska.
"Ayang, kamu kenal?" tanya heran Victor.
"Si pengemis yang terkenal di sekolah kita dan mencoba untuk menembak ku padahal aku kan ada kamu, pangeran ku!" sinis Siska yang diakhiri dengan mencium Victor didepan Juan.
Juan sama sekali tidak mempedulikan nya dan terus menghitung tapi tidak dengan Victor. Dia yang mendengar itu sontak melepaskan ciuman Siska dan menarik Juan hingga badannya yang kurus mampu Victor tarik hingga melewati meja dan jatuh dilantai.
"Beraninya loe suka sama cewek gue!" ucap Victor yang langsung melesatkan pukulan kepada Juan.
Buk! Buk!
Pukulan terus dilesatkan hingga wajah Juan berlumuran darah.
Victor tidak puas disitu, dia menyeret Juan sampai keluar dan melemparnya ke lantai.
"Come on. Loe kan laki! berdiri Njing!" seru Victor
Juan pun mengumpulkan tenaganya untuk berdiri dengan wajahnya yang sudah babak belur.
Melihat itu Siska dan Victor tertawa. Lalu, Victor melanjutkan serangan dengan pukulan yang kencang kepada Juan.
Bukkk!
Pukulan yang telak mengenai Juan hingga terlempar dan giginya terlepas.
Karena rasa sakit yang amat, Juan terdiam di tanah yang hujan dan menutup dirinya dengan tangan.
"Hahaha .... Inilah akibat nya Lu berani-beraninya deketin cewe Gua!" Victor menindihnya Juan dan menaikan tangan kanan nya. "Sekarang, terimalah pukulan mematikan ini!"
Pukulan kencang dilesatkan kembali hingga membuat Juan menutup mata nya namun, ada seseorang yang menghentikan nya.
Victor yang penasaran dengan sosok yang menghentikan nya dia sontak menoleh ke belakang dan terlihatlah sosok yang tidak asing bagi Victor.
"Apa yang kamu lakukan, Bedebah?!"
"Itu pertanyaan ku, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu ingin mengutang tapi tidak bisa."
Mendengar makian itu, Juan membuka mata dan terlihat lah sosok pemuda tampan yang tidak asing baginya.
"Felix?"
Dan, sosok pemuda tampan yang membantu Juan tidak lain Felix dan dia hanya memberikan senyuman kecil.
Bersambung ... Juan (3)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...