Reborn Genius

Reborn Genius
Reborn Genius | Bab 49. School Party (II)



...School Party (II)...


...# 2 Oktober 2008....


Saat jam istirahat, Felix dan Lisa sedang makan bersama di kantin yang mana dia cukup senang mendengar semua kisah-kisah Lisa dan Felix mengikuti nya.


Meski banyak tatapan iri mengarah kepada Felix dan Lisa namun, hal itu tidak menganggu kenyamanan kebersamaan mereka berdua.


Ditengah itu, ada beberapa yang menghampiri nya.


"Kamu Felix, bukan?" tanya salah satu siswa.


Felix tidak mempedulikan dan menjawab nya dengan dingin. Lisa yang memahami situasi itu, dia juga terdiam.


"Iya, ada apa?"


"Bisakah kamu ikut dengan kami?!" seru salah satu siswa.


Felix tahu bahwa ada kemungkinan, dia akan dijebak namun, Felix tidak takut bahkan tidak peduli akan hal itu.


Mendengar itu, Felix melihat kearah siswa itu dan menjawab dingin. "Kemana? Temui siapa?"


Beberapa siswa yang menghampiri Felix saling bertukar pandang. Lalu, salah satu dari mereka ada yang menjawab nya.


"Ketua murid Platinum ingin bertemu dengan anda," ucap siswa.


Mendengar itu, Felix tersenyum yang mana dia sudah mengetahui kekuatan ketua murid Platinum di sekolah nya saat ini. Maka dari itu, dia tidak ingin melewatkan nya.


"Oh, ketua Murid Platinum. Baiklah, tunjukkan jalan!" ucap Felix seraya beranjak dari kursi.


Lalu, Felix pun berpamitan dengan Lisa dan pergi ke ruang murid Platinum bersama beberapa murid disana.


Setibanya disana, salah satu siswa membukakan pintu untuk Felix. "Silahkan masuk, Felix!" seru siswa.


Dengan tatapan dingin, Felix pun masuk kedalam ruangan yang mana disuguhi dengan ruangan klasik bergaya Eropa dengan perabot mewah serta karpet bulu di sisi tengah ruangan itu bahkan terlihat grand piano disana. Melihat ruangan itu, Felix tersenyum.


Setibanya didalam ruangan itu ada beberapa murid disana diantara nya Hirano dan Yeon Jin. Mereka hanya terdiam di ruangan tersebut.


"Kekuatan uang memang luar biasa," batin Felix.


"Jadi, Lu yang bernama Felix?" ucap Robert yang duduk di kursi besar.


"Iya, Kenapa?" ucap dingin Felix.


Saat Felix mengatakan itu, semua mata para murid yang ada diruangan itu tertuju pada Felix dan Robert pun beranjak dari sofa nya. Lalu, menghampiri Felix.


"Mungkin, Lu sudah mengenal Gua. Tapi, Gua akan memperkenalkan diri lagi. Nama Gua Robert Wijaya. Ketua murid Platinum di sekolah indah ini," ucap Robert seraya memberikan tangan nya kepada Felix.


Mendengar itu, Felix menoleh kearah Hirano yang mana dia hanya memalingkan wajahnya kesamping. Lalu, Felix kembali melihat Robert.


"Iya, Aku Felix dan aku tidak menyangka akan menemukan fasilitas mewah seperti ini di sekolah," jawab Felix dan dia pun menolak berjabat tangan dengan Robert.


Mendengar perkataan Felix, Robert membalikan badan dan berjalan pelan sesudah itu dia membentang kan kedua tangan nya seraya berkata sombong, "Tentu saja, Kami bukanlah murid-murid biasa."


Murid-murid yang berada di ruangan itu tersenyum bangga sedangkan Felix tersenyum kecil. Lalu, Felix memasukan kedua tangan kedalam saku celananya.


"So, ada keperluan apa memanggil ku?" ucap sombong Felix.


Mendengar perkataan itu, Robert tertawa kecil dan menyadari bahwa dirinya juga murid-murid yang ada di ruangan itu diremehkan oleh Felix. Tapi, Robert masih menahan emosinya.


"Gua mendengar Lu mengalahkan murid dari anggota Murid Platinum dengan mudah dan lebih dari itu kamu juga terkenal pintar, Si pengkhianatan Murid Platinum," jawab Robert seraya menghampiri Felix.


"So?" sambung datar Felix.


Lalu, Robert pun memegang bahu kanan Felix, "Gua ingin kamu berpartisipasi dalam School party!" ucap Robert.


Mendengar itu, Felix mengerutkan dahinya. "School Party?"


"Lu juga akan tahu nanti yang penting datanglah ke gedung sekolah lama akhir pekan ini!"


"Aku akan datang jika ada bayaran nya," jawab santai Felix.


"Tenang saja, Lu akan kaya dalam waktu semalam saja," jawab percaya diri Robert.


"Baguslah kalau begitu. Ada yang lain kah?" sambung Felix.


Felix dan Robert pun saling bertukar senyum lalu, Felix membalikan badannya dan meninggalkan ruang Murid Platinum seraya mendengar suara Robert, "Felix, Gua tunggu!"


Felix tidak merespon dan terus melangkah.


...# 2 Oktober 2008 ( Siang/ Juan)...


Jam istirahat masih berlangsung. Ditempat yang berbeda, Juan yang sedang berjalan kembali ke kelas nya. Dia pun melihat Alexa sedang adu argumentasi kepada salah satu siswa berbadan besar.


Melihat itu, Juan pun penasaran dengan percakapan teman nya itu. Maka, Juan mengamati nya.


"Alexa, Lu tuh harus tahu diri, orang tua gue udah pelihara Lu! Jadi, lu harus nurutin gue!" seru kesal siswa besar.


Lalu, Alexa pun tidak mau mengalah, "Njing! gua gak butuh uang Lu!"


"Wanita jlang!" seru kesal pria seraya mengangkat tangan nya dan memasang posisi untuk penampar Alexa.


Awalnya, Juan tidak peduli namun dia tidak suka melihat seorang pria memukul wanita. Maka, Juan pun terpaksa ikut campur urusan mereka dengan menahan tangan dari siswa besar.


Lalu, siswa besar itu menyadari dan menoleh kearah Juan, "Siapa, Lu. Taei?!"


Selain siswa besar, Alexa pun terkejut dengan kehadiran Juan, "Juan!"


Siswa besar itu pun melihat Juan dan Alexa, "Kalian saling mengenal, Njing!"


Juan tidak menjawab hanya dengan senyuman kecil lalu, tanpa basa-basi lagi Juan menjatuhkan siswa besar itu dengan teknik Aikido nya.


Suara gemuruh dari jatuhnya dia pun terdengar hingga semua murid yang ada di sekitar Juan menatap dirinya.


Lalu, Juan menatap tajam siswa besar itu, "Kamu tahu hanya pria yang tidak memiliki ******** yang bisa menampar dan memukul wanita!"


Siswa besar itu tidak banyak merespon lantaran dia sedang meringis kesakitan.


Sesudah itu, Juan melangkah melewati siswa besar itu dan berhenti di dekat Alexa.


"Lebih baik kamu mencari teman yang lebih baik lagi," ucap pelan Juan di dekat Alexa.


Alexa tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya. Lalu, Juan pun menepuk pelan bahu Alexa dan pergi meninggalkan Alexa.


Saat Juan melangkah, siswa besar itu merangkak bangun dan berteriak, "Njing! Urusan kita belum selesai!"


"Aku tunggu," jawab santai Juan sambil melangkah.


Setibanya dikelas, Alexa masih berdiam dengan Juan. Dia ragu ingin memulai pembicaraan namun, Alexa memutuskan untuk menghampiri Juan yang sedang duduk seraya memperhatikan ponsel di tangannya.


"Juan, terimakasih atas bantuannya," ucap Alexa.


Mendengar itu, Juan tersenyum dan menghentikan aktifitasnya lalu, menoleh melihat Alexa.


"Tidak perlu sungkan. Kita kan teman. Tidak ada alasan untuk membantu seorang teman."


Juan dan Alexa pun saling bertukar senyum seraya berjabat tangan.


Diruang berbeda, siswa besar itu melaporkan kejadian yang dialami nya kepada ketua Murid Platinum. Dia melakukan itu karena siswa besar itu merupakan anggota Murid Platinum yang dipercaya oleh Robert.


Saat mendengar bahwa Juan telah mempermalukan teman nya itu, dia pun menjadi sangat marah. "Dia memang cari mati!" Lalu, Robert melihat kearah rekan-rekan lain nya yang ada di ruangan itu, "Kalian harus mencari orang kuat untuk memberikan pelajaran untuk dia."


Mendengar itu, siswa besar menyadari sesuatu. "Mungkinkah, anda mengundang pecundang itu untuk ikut Duel?!"


"Iya, ada apa?" jawab Robert


"Jika memang begitu izinkan! Gua untuk berpartisipasi dalam Duel! gua sangat ingin menghajar dia!" ucap kesal siswa besar.


Robert pun menoleh kearah siswa besar, "Gua Izinkan! Dan, bersenang-senang lah!" ucap Robert dengan senyuman lebar.


Lalu, siswa besar itu membungkukkan badannya, "Baik. Ketua!"


Sesudah itu, Robert melangkah pelan ke arah jendela seraya berkata, "Mari kita lihat! seberapa besar kemampuan pahlawan kemarin sore itu," ucap Robert disertai dengan senyuman remeh.


Siswa besar dan anggota OSIS lain nya juga tersenyum remeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...