Reborn Genius

Reborn Genius
Bab 31 | Permintaan eskul game



...Permintaan eskul game...


# 19 Agustus 2008 (Siang)


Di lorong sekolah terlihat Roman yang sedang berjalan lemas dengan bahu yang turun serta menghela nafas panjang berkali-kali lantaran dia tidak bisa membuat game yang cocok untuk kompetisi apalagi memenangkan Festival Game Indie.


Roman pun terus berjalan hingga masuk ke ruang Eskul game yang dimana Eskul itu berisikan berbagai jenis game papan juga video game.


Didalam ruangan itu terlihat Karina yang mana Karina sendiri memiliki hobi bermain game. Tidak hanya Karina terlihat juga siswa Korea yang sebelumnya membawa kimchi di aula pertemuan, Dia bernama Tae Won.


Sedangkan, anggota Eskul Game sudah tidak ada karena Eskul game dianggap rendah dan Eskul yang selalu bermalas-malasan tanpa ada prestasi sedikit pun. Maka dari itu, banyak murid-murid Sekolah Utopia yang ragu untuk bergabung dalam Eskul tersebut.


Karina dan Tae Won yang melihat Roman masuk sontak mereka menghampiri nya.


"Roman, bagaimana? berhasil kah membujuk ketua?" tanya penasaran Tae Won.


"Tidak lulus kualifikasi. Aaa ... Aku sama sekali tidak bisa membuat game. Bagaimana ini?"


Karina dan Tae Won saling bertukar pandang bingung.


Lalu, Roman melihat kearah Karina dan Tae Won.


"Karina, Tae Won. Apakah ada diantara teman kalian yang bisa membuat game? Jika kalian tahu, aku bersedia membayar mahal untuk jasanya," tanya Roman.


Tae Won menggelengkan kepalanya namun, tidak dengan Karina. Dia teringat akan teman Genius nya, Felix. "Ah, Felix. Aku pikir dia akan bisa membantu kita."


Roman dan Tae Won yang mendengar itu, dia pun terkejut. "Jadi, kamu mengenalkan nya.'


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Wow! Hebat, bisa berteman dengan siswa hebat seperti nya," kagum Tae Won.


"Sebenarnya aku baru kenal dan dia orang yang baik. Namun, aku tidak enak meminta tolong kepada nya," sambung Roman.


"Kalau masalah itu, serahkan kepada ku!" jawab Karina.


# 19 Agustus 2008 (Sore)


Sepulang sekolah, Karina menghampiri Felix dan meminta nya untuk pergi cafe yang tidak jauh sekolah. Lalu, disana Karina dan Felix duduk saling berhadapan.


Melihat Karina yang senyum-senyum sendiri dan mentraktir, Felix pun menaruh curiga kepada Karina bahwa ada maksud dengan sikap nya tersebut.


"Karina, apa yang kamu inginkan?"


"Hihihi ... Felix, Gua boleh minta tolong gak?" pinta Karina dengan senyuman lebar.


"Tolong apa? Selama yang bukan aneh-aneh pasti aku bantu."


Karina melihat sekeliling. Setelah itu, mendekatkan kepalanya ke arah dan berbisik.


"Felix, Gua minta tolong buatin game dong. Bisa gak?"


Permintaan itu sebenarnya sulit bagi Felix lantaran dia sama sekali tidak mengerti coding game namun, permintaan itu juga menjadi tantangan untuk diri sendiri.


Meski Felix menyetujui nya namun, dia ingin tahu alasan Karina.


"Sebelum aku menjawab nya, bisakah kamu menjelaskan alasan ingin aku membuat game?"


Karina yang mendengar itu, dia menghela nafas panjang dan mengembalikan posisi badannya.


"Sebenarnya ..."


Karina menjelaskan tentang Eskul game yang dimasukinya akan bubar jika tidak memenangkan Festival Game Indie. Dia tidak ingin kan hal itu karena di New Indonesia sangat jarang ada ekskul Game dan itulah tujuan Karina ikut tes kelas Internasional sekolah Utopia.


Felix yang mendengar itu, dia pun memahami situasi nya.


"Baiklah, aku akan membantu mu."


"Terimakasih, Felix."


Felix dan Karina pun saling bertukar senyum.


# 19 Agustus 2008 (Malam)


Felix yang mendapAtkan permintaan dari Karina, dia pun memulai belajar tentang pembuatan game dari dasar sampai ahli dan berkat kemampuan unik;


Fast learning;


Dan, Photography memories.


Felix dengan cepat memahami dan menguasai nya. Lalu, dia sontak membuka laptop nya. Namun, sebelum memulai pembuatan game. Dia meminta bantuan Viki.


"Viki, bisakah kamu membuatkan AI untuk pembuatan game agar lebih mudah dalam membuat game?"


Kling!


Pertanyaan itu membuat Felix menjadi dilematik lantaran game pada tahun ini lebih dominasi game dancer Ayo dance, FPS point' black dan Counter strike. Sampai Felix teringat akan game yang akan tenar di tahun 2009. The Lost Fighter Saga.


"Seperti nya, aku harus meniru nya. Lagipula, sponsor festival itu jewelcool."


Lalu, Felix pun menjawab nya. "3D Fighting."


Kling!


[AI game 3D Fighting telah berhasil terbuat dan data tersimpan didalam flashdisk yang ada di Menu penyimpanan. Biaya: 20G. Saldo: 119.374G.]


Felix yang melihat itu, dia pun tersenyum kecil. "Terimakasih, Viki. Selebihnya, serahkan kepada ku."


Lalu, Felix mengambil flashdisk dari menu Inventori dan memulai pembuatan game nya yang mana dalam waktu semalam, Felix berhasil membuat 2 karakter yang bisa saling beradu dengan skill dari perlengkapan karakter yang merupakan ciri khas game.


Selain itu, karakter game di buat imut agar gamer wanita seperti Karina senang memainkannya.


# 20 Agustus 2008 (Pagi)


Sebelum masuk kelas, Felix dan Karina pergi bersama ke ruang ekskul game yang mana Felix memperkenalkan dirinya yang membuat Roman serta Tae Won terkejut.


"Salam kenal, aku Felix dan ..." Felix menoleh kearah Karina. "Atas permintaan Karina, aku akan membantu kalian. Mohon kerjasama!"


Roman dan Tae Won sontak tersenyum lebar. Lalu, mereka menghampiri Felix.


"Terimakasih, Felix. Kehadiran mu sangat membantu tapi ... Apakah kamu bisa membuat game?"


"Tentu saja. Aku sudah membuat program nya dan kalian hanya perlu mendesain dan mengembangkan nya hingga membuat game ini menjadi praktis karena aku memiliki AI nya," jawab Felix.


Roman, Tae Won dan Karina bingung dengan perkataan Felix dan saling bertukar pandang. Lalu, Felix yang memahami situasi kebingungan mereka. Dia hanya bisa menghela nafas.


"Baiklah, aku akan memperlihatkan versi demo nya."


Felix pun ingin mencoba di komputer namun, di ruang eskul itu tidak ada komputer ataupun laptop yang ada hanya mainan papan dan video game yang berserakan dan keadaan itu membuat Felix menghela nafas panjang kembali.


"Ahuufuu ... Ini ruang eskul game?" tanya sindir Felix.


"Maaf, tapi, begitulah meski sedikit berantakan," ucap Roman dengan senyuman lebar.


"Lalu, diantara kalian ada yang punya pengalaman membuat game?" tanya Felix.


Roman dan lainnya serempak menggelengkan kepalanya.


Lagi-lagi Felix menghela nafas panjang.


"Tae Won, kamu pintar pelajaran matematika, bukan?" tanya Felix.


Informasi itu didapatkan oleh Felix saat dia mengingat pengumuman nilai dari semua murid termasuk Tae Won yang mana juga dia mendapatkan peringkat 15 dari 100 murid kelas internasional.


Tae Won mengangguk kepalanya, "Iya, saya sangat menyukai matematika."


"Kalau begitu, aku akan ajarkan coding program game!"


"Iya," jawab Tae Woong.


"Dan untuk animasi serta musik background. Aku serahkan kepadamu, Karina!"


"Oke, Felix." jawab Karina.


"Roman karena kamu ketua klub dan pengelolaan di sini. Jadi, kamu bertanggungjawab dengan peralatan yang dibutuhkan. Berapa kamu akan membayar ku?"


"Itu ... Saya bisa membayar 20 juta. Bagaimana?" ucap Roman.


"Tidak masalah, gunakan itu untuk membeli beberapa peralatan disini!"


Roman dan lainnya pun terkejut.


"Tapi, Felix itu kan uang mu?!"


Tae Won dan Karina menganggukkan kepalanya.


"Anggap saja, aku meminjam kepada kalian dan lindungi lah apa yang pantas kalian lindungi."


Roman dan lainnya mengangguk kepalanya dengan penuh semangat.


"Lalu, tema game apa yang ditentukan di festival game indie?"


Roman pun mengambil brosur festival game indie dan menunjukkan nya kepada Felix


"Game bertema Fighting."


Felix pun tersenyum mendengar itu dikarenakan dia sudah menduga nya bahwa Jewelcool sedang mencari game yang menarik untuk bersaing melawan perusahaan game Pegasus dan Grina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...