Reborn Genius

Reborn Genius
Bab 69 | Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (I)



...Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (I)...


Beberapa waktu yang lalu sebelumnya yang mana Felix memberikan bukti dari foto kamera, situs dan beberapa dokumen secara anonim untuk menangkap Robert beserta siswa lainnya yang terlibat dalam bukti tersebut. Kepala sekolah dan seluruh staf pengajar beserta karyawan sekolah itu diberhentikan.


Selain itu, Presiden Indonesia, Presiden Jowy memutuskan untuk mengawasi langsung karena sekolah Utopia merusak citra bangsa Indonesia dan masa depan anak-anak bangsa.


Setelah kejadian itu juga, Lisa masuk rumah sakit untuk merawat mental dan fisiknya semua itu dibiayai oleh pemerintah dengan kelas VIP.


Disana, Lisa dikunjungi oleh paman dan Ibunya.


“Ibu, Paman Katsuo!” ucap senang Lisa.


“Lisa, keponakan ku,” ucap Ibunya Lisa yang berlari memeluk Lisa yang sedang duduk diatas kasur.


“Haha. Iya!” jawab Lisa yang tersipu malu.


Paman Katsuo pun menghampiri Lisa dengan membawa banyak buah di katung belanjanya.


“Lisa, kamu ingin buah,” ucap Paman Katsuo yang memamerkan kantong yang dibawanya.


“Hmm, terima kasih Paman Katsuo,” ucap Lisa dengan senyum senangnya dan menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Paman Katsuo menaruh plastik itu keatas meja.


Dan, tidak lama kemudian suara ponsel Paman Katsuo berbunyi.


“Maaf, paman keluar dulu,” pamit Paman Katsuo.


Lisa menjawabnya hanya menganggukkan kepalanya.


“Lalu, bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Ibunya Lisa dan mereka pun mulai berbincang-bincang.


Paman Katsuo yang menerima telepon meninggalkan mereka dan pergi halaman untuk menerima telepon.


“Lipan 1, terima!” jawab telepon Paman Katsuo.


“Maaf, Pak. Saya tidak dapat menemukan kecurigaan data Felix Megantara. Kemampuan bela dirinya didapat dari tempat pelatihan nya sendiri,” penjelasan dari penelepon.


“Begitu, aku mengerti! Kerja bagus dan Kembali bertugas!” seru Paman Katsuo.


“Siap, pak!” jawab dari penelepon.


Katsuo pun menutup teleponnya dan dia mengelus-elus dagunya.


“Siapa sebenarnya dia? Bahkan Database dari Badan Intelijen Negara pun tidak ditemukan,” batin Katsuo.


Di Negara Bangkok, Thailand, ada sebuah gedung berlantai empat yang sangat tertutup. Salah satu ruangannya terdapat laboratorium tertutup dengan peralatan laboratorium yang lengkap digunakan oleh seorang pria paruh baya dengan mengenakan pakaian ilmuan.


“Aduhh … sakit sekali …” ucap bahasa thailand seseorang wanita yang berada di kasur kecil pasien.


Wanita itu dihubungkan ke sebuah selang yang menempel pada tulang ekornya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena kondisinya yang sangat lemah. Dari tulang ekor itu, sebuah cairan kromosom di transfusikan ke sebuah tabung kaca yang berada diatas wanita tersebut.


Disaat penuh, pria paruh baya itu mengambilnya dengan sebuah alat khusus.


“Sempurna! Laporkan kepada Lee,” ucap ilmuan kepada penjaga yang berada di dekat pintu.


Disaat mendengarkan itu, penjaga menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan.


Dua minggu pun berlalu setelah penutupan sekolah, Lisa yang di rumah sakit baru saja pulang dengan diantar oleh Ibunya serta pamannya.


“Yaaa … Akhirnya, kita sampai,” ucap Katsuo yang berhenti tepat di rumah Lisa.


Paman Katsuo pun turun dan membuka pintu Lisa.


“Silahkan tuan putri!” ucap Paman Katsuo


“Paman, Bisa aja!” ucap malu Lisa yang turun dari mobil.


Setelah itu mereka pun masuk ke rumah dan Lisa pergi ke kamarnya.


Setibanya dikamar, Lisa melemaskan bahunya serta menghela nafas panjang.


“Ahh, akhirnya aku bisa pulang,” ucap Lisa sembari menaruh barang-barangnya.


Setelah itu Lisa membuka jendelanya dan bersandar dengan melihat pemandangan rumahnya.


“Lisa! Kamu udah pulang!” teriak teman rumahnya dari bawah jendela.


Terlihat seorang pria seumurannya melambaikan tangan.


“Iya, aku udah pulang!” jawab Lisa yang melambaikan tangannya juga.


“Lisa, nanti malam aku jemput ya. Yang lainnya juga nanti ngumpul di tempat biasa,” teriak ajakan temannya tersebut.


“Iyaa, nanti aku kesana!” sahut jawab Lisa.


Setelah mengatakan itu temannya melambaikan tangannya dan pergi.


Bersambung ... Kegiatan Gelap Wijaya Farmasi (II)