Reborn Genius

Reborn Genius
Reborn Genius | Bab 55. Kenakalan yang tidak wajar (III)



...Kenakalan yang tidak wajar (III)...


# 23 Oktober 2008.


Tiga hari kemudian, Felix dan Pak Edi bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya. Lalu, Felix memberikan passport dengan nama yang baru untuk Pak Edi.


"Ini seperti yang sudah ku janjikan," ucap Felix seraya memberikan passport nya.


Melihat kerja Felix yang begitu cepat membuat pak Edi terheran-heran. "Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana bisa seorang siswa mendapat passport palsu secepat ini?"


Felix tidak menjawab hanya memberikan senyuman kepada nya dan Passport itu pun diterima oleh Pak Edi dan memeriksa nya yang mana pak Edi merasa puas.


Sesudah itu, Pak Edi juga memberikan flashdisk kepada Felix, "Ini datanya dan ku percayakan kepadamu!"


Felix tersenyum dan mengangguk kepalanya seraya menerima flashdisk tersebut. Lalu, Felix mencoba mengintrogasi pak Edi.


"Pak Edi, apa kamu tahu tentang hilangnya siswi di sekolah ini salah satunya Karina?"


Pak Edi sontak menggelengkan kepalanya, "Maaf, permasalahan itu. Aku tidak tahu bahkan aku pernah mempertanyakan kepada Robert namun, dia menjawab jika kamu sayang sama nyawamu lebih baik jangan menyelidiki kasus itu. Itu saja yang ku tahu," jawab pak Edi.


Felix yang mendengar itu, dia pun mengerutkan dahinya. Dalam dugaan nya Karina diculik oleh Organisasi lain.


"Aku mengerti," jawab santai Felix.


Sesaat kemudian, Felix mendengar banyak langkah kaki menuju arah dirinya dan pak Edi.


"Seperti nya, Robert dan Murid Platinum mengetahui nya," ucap Felix.


Pak Edi pun bingung, "Apa maksud mu?"


Sesaat kemudian, pintu pun terbuka dengan sangat keras hingga Felix dan Pak Edi melihat kearah pintu masuk yang mana Felix dan Pak Edi melihat Victor bersama siswa nakal lainnya.


"Felix, Pak Edi. Jangan sok jadi pahlawan! saat nya kami bertugas untuk menutup mulut kalian!" Victor melihat anak buahnya. "Kalian! Habisi mereka!" seru Victor yang menunjukkan jarinya kepada Felix dan Pak Edi.


"Baik," jawab serempak siswa nakal lainnya.


Lalu, sekitar 20 siswa nakal maju selangkah kearah Felix dan Pak Edi seraya merenggangkan tangan dan leher mereka.


Felix yang melihat sikap mereka dia pun maju selangkah dan memberikan peringatan kepada Pak Edi, "Pak Edi, lebih baik anda mundur. Biarkan aku yang menghadapi mereka!" seru Felix.


"Baiklah, berhati-hatilah!" jawab pak Edi.


Felix tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Setelah itu berjalan menghampiri siswa nakal.


"Lalu, siapa yang akan menjadi lawan ku?" tanya remeh Felix.


Ucapan Felix itu membuat para siswa nakal kesal dan mereka pun menyerang Felix secara bersamaan meski begitu mereka hanya menang jumlah dan tidak memiliki seni bela diri hingga membuat Felix dengan mudah menghindar dan melakukan serangan balik dengan cepat hingga membuat mereka meringis kesakitan di tanah.


Lalu, Felix melihat Victor dengan tatapan remeh. "Bagaimana dengan mu? mau menyerang?" tanya Felix.


Mendengar provokasi dari Felix membuat Victor marah dan mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.


"Kali ini Lu, Mati! Bngsat!" seru kesal Victor lalu, dia melesatkan serangan dengan pisau nya.


Felix tersenyum seraya menangkap tangan Victor lalu, memutarnya hingga hingga pria besar kesakitan dan pisau terjatuh Setelah itu, Felix memukul menendang lurus kedepan hingga membuat Victor terjatuh.


Dan, pertarungan pun selesai. Felix menoleh kearah pak Edi yang sedang terbujur kaku melihat kecepatan bertarung Felix.


"Pak Edi, anda baik-baik saja?" tanya Felix.


Pak Edi menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah, lebih baik anda bergegas pergi dari sini!" ucap Felix.


"Aku mengerti. Felix, berhati-hatilah!" ucap Pak Edi.


Felix pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Pak Edi pergi meninggalkan Felix.


Ditempat berbeda, Lisa berdiam diri dikelas seraya mencoba terus menerus menghubungi Karina dan teman-teman serta sanak saudaranya namun, Lisa tidak menemukan keberadaan Karina.


"Lu Lisa?" tanya Yeon Jin.


Mendengar itu, Lisa menghentikan aktifitas nya dan melihat kearah Yeon Jin.


"Iya, ada apa?" tanya Yeon Jin.


"Bisa ikut kita sebentar? Teman mu Karina dalam masalah besar!" bujuk Yeon Jin.


Lisa yang mendengar itu sontak beranjak dari kursi dan mengikuti Yeon Jin hingga ke sebuah tempat yang sepi dan tiba di gedung bekas olahraga indoor yang sudah terbengkalai.


Lisa yang menyadari situasi nya menaruh curiga kepada Yeon Jin dan lainnya.


"Kita mau kemana? Dan dimana Karina?" ucap gelisah Lisa.


“Tenang saja, kami membawa lu ke tempat yang menyenangkan,” jawab Yeon Jin dengan senyuman picik.


"Apa maksudmu?" tanya Lisa.


Lisa yang sudah curiga, dia pun membalikan badannya dan ingin pergi meninggalkan mereka, "Maaf, gua tidak bisa."


Saat Lisa melangkah, dia dihentikan oleh dua siswa yang tersenyum lebar yang mana kehadiran mereka di tidak diketahui oleh Lisa.


"Minggir!" seru kesal Lisa. Namun, para siswa tidak mau menyingkir.


Setelah itu, Yeon Jin memberikan kode untuk menangkap Lisa dan Lisa pun tangkap oleh dua siswa Murid Platinum dan dipaksa untuk masuk.


"Hei, lepaskan Gua, Njing!" seru kesal Lisa yang berontak namun, tidak berhasil.


Sedangkan, Lisa melihat Yeon Jin serta siswi yang lain tidak ikut dan melambaikan tangan kepada Lisa. "Selamat bersenang-senang!"


Lalu, Lisa pun dipaksa untuk masuk ke gedung itu yang mana Lisa semakin takut saat melihat di tengah gudang ada beberapa alat seperti kamera lengkap dengan lampu mengelilingi sebuah kasur lipat ditengah nya serta pintu yang sudah terkunci oleh siswa yang lain.


"Oii, apa yang akan lagian lakukan? Lepaskan, Njing!" seru kesal Lisa.


Ucapan Lisa itu tidak membuat mereka marah malah tersenyum msum. Lalu, tangan dan kaki Lisa pun diikat lalu, didorong ke kasur.


"Lepaskan, Kalian memang perkumpulan orang bngsat!" seru kesal.


Lalu, seseorang pun ada yang menjawab nya. "Nona cantik, tidak perlu berkata seperti itu. Nanti, kecantikan mu akan hilang!"


Mendengar itu, Lisa melihat kearah sumber suara yang mana ucapan itu berasal dari Robert. "Najis, lepasin gua. Njing!"


Robert yang mendengar itu, dia tersenyum senang lalu, dia pun menghentikan langkah didepan Lisa setelah itu menyamakan ketinggian lalu, membelai wajah Lisa.


"Lisa, dari dulu gua menyukai mu bahkan ingin sekali meremas tubuhmu," tangan Robert pun menempel pada buah dada Lisa dan dia pun meremasnya.


"Najis gua!" seru kesal Lisa sesudah itu Lisa meludahi wajahnya.


Gerakan Robert pun terhenti dengan wajah yang tersenyum. Dia mengusap ludah Lisa yang ada diwajah nya lalu, menyedot. "Ahhh, nikmatnya! Bahkan ludahmu sangat nikmat!"


Lisa yang ada didekat Felix merasa jijik melihat nya. Namun, Robert tidak peduli.


Setelah itu, Robert mengembalikan pandangan kearah Lisa. "Sebelum gua memberikan lu kepada atasan untuk dijual, gua ingin menikmati nya terlebih dahulu."


"Taei!" seru kesal Lisa.


Lalu, Robert dengan wajah dan senyum mesumnya mendorong Lisa ke kasur dan memulai permainan.


Lisa pun menangis dan berteriak, "Felix, Tolong!"


Sesaat kemudian, suara gemuruh terdengar dari luar dan pintu pun terbuka yang membuat langkah Robert terhenti dan menoleh ke arah pintu masuk.


"Maaf, aku telah mendobrak pintu ini," ucap santai Felix dengan senyuman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...