Reborn Genius

Reborn Genius
Bab 29 | Kesembuhan sang Ibu dan Maaf Michelle



...Kesembuhan sang Ibu dan Maaf Michelle....


...# 14 Agustus 2008....


Pagi hari ini, Felix, Renaldy dan Nova dikejutkan dengan sang Ibu yang sudah memasak sarapan di dapur.


Ketiga anaknya itu saling bertukar pandang sampai Nova mempertanyakan nya.


"Ibu, bagaimana keadaan ibu? Biar aku saja Bu yang buat sarapan."


Sarah tersenyum kecil dan menoleh kearah ketiga anak nya.


"Ibu sudah sehat dan sudah lama sekali, ibu tidak membuatkan sarapan untuk kalian. Juga, maaf. Selama beberapa hari ini, ibu telah menyusahkan kalian."


Mendengar perkataan sang ibu, Nova dan kedua saudara nya sontak memeluk sang ibu. Lalu, mereka pun membuat dan menyantap sarapan bersama-sama.


Ditengah sarapan mereka, sang ibu pun mempertanyakan kegiatan dan perkembangan ketiga anak nya hingga sarapan itu berisikan suka cita dan tawa. Meski Felix tidak mengatakan yang sebenarnya tentang sisi gelap sekolah dan dia memutuskan untuk mengatasi nya seorang diri dan tidak ingin membebani sang ibu.


Disaat sarapan usai, Sarah meminta sesuatu kepada ketiga anak nya.


"Mau kah kalian menemani ibu ke makam ayah?"


Mendengar itu, Felix, Renaldy dan Nova dengan serempak mengangguk kepalanya disertai senyuman lebar.


"Tentu saja, ibu. Kami akan menemani," jawab Felix yang juga mewakili kedua saudara nya.


Setelah itu, mereka pun mempersiapkan diri untuk berziarah yang mana mereka pergi dengan mobil Pajero yang sudah diperbaiki dan mobil itu diwariskan untuk Renaldy.


Dan, siang hari nya Felix sekeluarga tiba di pemakaman, mereka menaruh bunga, dupa dan memanjat doa bersama-sama.


Sepulang dari pemakaman, mereka pun makan bersama di restoran mahal dan disana, Sarah sempat ragu untuk memesan makanan.


"Felix, makanan disini mahal-mahal. Ketempat yang lain aja ya," bujuk Sarah.


Nova pun memperkuat ucapan ibunya, "Tau nih. Borosin uang aja."


Renaldy lebih milih diam, dia lebih menikmati rokok dan fokus pada layar ponsel. Melihat sikap itu, Nova pun menjadi kesal.


"Kak Renal, kenapa diam aja? Tegur kek si Felix ini."


"Kalau kakak sih, gimana yang traktir aja. Mau makanan murah atau mahal hayuu... Hihihi ..." jawab santai Renaldy.


Melihat respon itu, Nova pun menghela nafas panjang.


Felix tersenyum kecil lalu, menjawab pertanyaan ibu nya tersebut.


"Ibu kan habis sakit. Jadi, harus makan banyak dan bergizi untuk menambah stamina ibu dan aku yakin ayah akan senang jika dapat makan lezat disini."


Sarah pun tersenyum kecil dan menerima saran Felix.


"Baiklah, ibu akan terima traktiran ini."


"Awas lu ya jangan sampe nyesel!" sambung Nova dengan menunjuk kecil jarinya.


"Iya, pesan aja sesuka nya," jawab Felix dengan senyuman kecil.


Dan, mereka pun memesan seusai serela mereka disertai tawa dan canda dimeja tersebut.


Melihat kebersamaan dan senyuman dari sang ibu serta kedua kakaknya membuat Felix merasa lega.


Kling!


[S-Banking: 1.000.000 telah dikeluarkan untuk kebutuhan keluarga. Saldo: 27.296.800.000 rupiah.]


# 14 Agustus 2008 (Malam).


Pada malam hari nya Felix mendapatkan undangan dari Joko untuk berkunjung ke cafe nya dimana sedang ada acara syukuran setahunan berdiri nya cafe.


Felix yang mengendarai mobil Sport tentu menjadi perhatian untuk para pengunjung disana termasuk Ayu dan Michelle yang sudah tiba terlebih dahulu.


Tidak lama Felix pun keluar dari mobil nya yang membuat Michelle terkejut sampai memegang dada nya.


Kaget nya Michelle itu dikarenakan kejadian semalam sebelum nya yang mana dirinya menunjukkan sisi memalukan bahkan menciumnya tanpa izin sampai-sampai wajahnya yang putih mulai memerah.


Ayu yang berada di samping tersenyum melihat sikap Michelle.


Tidak hanya Michelle namun, pengunjung yang lain terutama wanita langsung terpesona dan berbisik-bisik pujian.


Lalu, Joko dan Boim yang juga sudah tiba disana, mereka sontak menghampiri Felix.


"Thanks, man. Lu udah datang!" sapa Joko yang sontak berjabat tangan segitiga.


"Buset dah. Lu tambah ganteng aja, Lix. Iri Gua jadinya. Apa sih rahasia lu? Pasti lu kebanyakan makan makeup ya," sapa ngelantur Boim.


Felix yang mendengar itu, dia hanya memberikan tawa kecil.


Michelle yang terus menatap Felix sontak terpesona. "Manis nya ..." gumam Michelle.


Ayu yang mendengar gumaman itu tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya.


Sedangkan, Joko menghentikan candaan Boim.


"Lu ngomong apa tim? Yuk! Masuk, anggap saja warung sendiri!"


Felix pun mengangguk kepalanya dan melangkah kedalam cafe.


Michelle yang melihat langkah Felix menghampiri dirinya, dia pun menjadi salah tingkah dan kebingungan.


"Bagaimana ini?!" gumam panik Michelle.


"Chel, santai aja kali!" ucap Ayu yang ingin mencoba menenangkan Michelle.


Akan tetapi perkataan Ayu itu tidak didengar, Michelle yang masih panik sontak bersembunyi dibawah meja.


Lagi-lagi Ayu tertawa kecil serta menggelengkan kepalanya melihat sikap teman nya tersebut.


Sesaat kemudian, Felix pun menghentikan langkah didekat meja Ayu dan Michelle.


"Hei, Ayu," sapa Felix.


"Hei, Felix," jawab Ayu seraya melihat Felix dengan senyuman dan lambaian tangan.


"Sudah lama sampai?" sambung Felix.


"Tidak juga, baru sampai juga kok," jawab Ayu.


Seusai menjawab itu, Ayu memberikan isyarat untuk melihat kebawah.


Felix yang mengerti isyarat itu, dia sontak membungkukkan melihat kearah bawah meja yang dimana Felix melihat sosok gadis yang tidak asing baginya sedang menutup wajahnya dengan posisi jongkok. Dia tidak lain Michelle.


Felix pun sontak tertawa kecil dan menyapa nya. "Hei, Michelle."


Saat Felix menyapa Michelle, dia pun terkejut lagi dan salah tingkah sampai kepalanya ingin terbentur meja namun, Felix berhasil menghentikan nya dengan memegang kepala Michelle.


Kejadian itu membuat Felix dan Michelle saling menatap. Lalu, tidak lama Michelle menyadarkan lamunan dan tersenyum paksa, "Hei juga Felix."


Felix menjawab nya hanya dengan senyuman.


Sesaat kemudian, Felix dan Michelle keluar dari bawah meja yang dimana Boim dan Joko sudah diantara mereka dan meledek nya.


"Ngapain lu pada?" tanya Boim.


Felix dan Michelle tidak menjawab, mereka hanya memberikan senyuman.


Joko pun mengerti dengan senyuman kedua teman nya itu dan sontak memotong ucapan Boim.


"Udah lah, tem. Mending lu duduk dan makan tuh pesanan Lu."


"Iya juga sih. Gua laper."


Boim pun langsung duduk dan menyantap makanan yang sudah dipesan nya.


Michelle yang sedang malu, dia sontak berduduk seraya merapihkan rambut yang ada ditelinga kanan nya. Tidak lama juga Felix ikut duduk dihadapan Michelle dan Ayu.


Joko yang tahu Felix belum memesan, dia pun mempertanyakan nya. "Felix, Lu mau pesan apa?"


"Yang terbaik disini," jawab santai Felix.


Joko yang mendengar itu, dia sontak membulatkan kedua matanya dan tersenyum. "Yakin lu?"


"Yakin," jawab Felix dengan percaya diri.


"Oke, Gua akan membuat makanan terbaik disini! Tunggu sebentar!"


Seusai mengatakan itu, Joko meninggalkan Felix dan pergi ke dapur.


Disisi lain, Michelle yang ada dihadapan terdiam hingga membuat Ayu menyenggol Michelle pelan seraya memberikan isyarat untuk berbicara.


Memahami itu, Michelle menarik nafas dalam-dalam dan memegang dadanya. Baru setelah kuat tekad nya, Michelle memberanikan diri untuk berbicara.


"Felix, sebenarnya aku ingin ucapkan terima kasih telah mengantarkan ku pulang juga lupakan semua yang terjadi selama aku mabuk tadi malam!" ucap Michelle sambil menundukkan kepalanya.


"Sama-sama dan tidak perlu dipikirkan," jawab Felix dengan senyuman kecil.


Michelle yang melihat itu, dia juga ikut tersenyum.


Sedangkan, Boim yang juga duduk satu meja menjadi penasaran dengan pembicaraan Felix dan Michelle.


"Kalian ngomongin apaan sih? Ada mabuk-mabukan segala. Jadi, penasaran Gua."


"Diem lu tem! Makan aja yang banyak sana!" jawab cules Michelle.


Felix yang melihat itu, dia pun tertawa kecil yang juga diikuti oleh Michelle saat melihat Felix tertawa.


Tidak lama kemudian, masakan terbaik dari Joko datang namun, karena terlihat lezat Boim pun meminta nya dan Felix pun memberikan setengah porsinya.


Setelah itu, mereka pun saling bertukar cerita dengan tawa dan canda.


Sejak saat itu, Felix dan Michelle saling membalas chat.


Disisi lain, Felix juga merasa nyaman jika chatting dengan Michelle yang memiliki sifat urakan dan blak-blakan.


Felix sama sekali tidak menyangka sosok siswi pintar yang arogan di sekolah dulu nya kini menjadi teman baik.


Ini semua berkat System dan Kesempatan Kedua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...