Over Power

Over Power
Choice



Roda kehidupan itu tidaklah pasti akan berubah sesuai dengan pilihanmu, bagaikan langit takkan selalu cerah dan salju takkan selalu turun, jadi semuanya tergantung pada pilihan.


°°°


"Jadi apa kau akan menerimanya?"


Surat itu melambai di depan mata Sean, putih bersih dengan sebuah logo elang emas terstenpel tulisan U.H.P (United Human Protection) di sana. Jin masih memasang senyuman datar di sore itu, melihat Sean yang masih memikirkan pilihan ya atau tidak.


"Maaf aku masihlah seorang pelajar, akan ku pikirkan terlebih dahulu." Sean pergi dari Jin yang masih memegang surat itu dengan wajah dingin seperti membeku.


"Kutunggu jawaban darimu," ujar Jin dengan nada yang tidak terlalu tinggi tapi itu sudah dapat didengar Sean yang jaraknya tidak terlalu jauh.


" ... " melambaikan tangan.


Kruuuuuk kruk.


Kaboom, suara perut Sean meledak. Ternak pita cacingnya merengek ke Papa minta disuapi makan, wajah Sean berubah dari sok cool menjadi tengik boy yang kelaparan.


"E-eto ..." langkah kakinya balik ke arah Jin yang masih berdiri mematung di sana dengan kecepatan tinggi.


Memasang wajah amboy, "Bos ada gajinya nggak?" Sean seperti minta dikasihani.


Jin pun masih memakai wajah datar diterpa angin sore yang berglamor, matanya makin datar, semakin datar dan masih datar.


"Ada dong." Suara fales itu menjawab pertanyaan Sean.


"Berapa?" lanjut nanya memasang mata berbinar menunggu harapan untuk si kantong keringnya yang sudah berdebu.


"Sepuluh ribu dolar," jawabnya santai menusuk jantung memecahkan telinga.


"Buset, se-sepuluh ri-ribu dolar, oi jangan bercanda itu dolar lho, dolar yang hijau itu, kan," Batin Sean memanas seperti mendapatkan harapan baru.


"Itu untuk pemula yang diundang langsung, bagi peringkat lanjutan hingga Senior yang sudah peringkat S dan SSS itu bisa mencapai jutaan dolar." Lanjut Jin memperparah jantung Sean yang masih belum sanggup menahan.


"Jutaan dolar, astaguaaa." Matanya memutih dan pingsan begitu saja. Tepar di taman dengan hantaran suara burung gagak.


Jin yang tidak paham dengan tingkah Sean masih memasang wajah datar berkeringat dingin. "Kenapa sih nih anak?" gumamnya melihat Sean yang sudah berguling di tanah sambil tidur. Aneh bermimpi sampai kayak gitu.


Kruuuuuk kryuk.


Suara perut Sean makin keras, itu jelas terdengar oleh Jin dan mulai mengerti bahwasanya Sean lagi kelaparan sangat hingga pingsan, dan sampai-sampainya berhalusinasi di dalam mimpi, lihat gaya tidurnya berguling-guling kegirangan.


Beberapa saat kemudian



🎶 J-HOPE


Chicken noodle soup


Chicken noodle soup


Chicken noodle soup with a soda on the side


Chicken noodle soup


Chicken noodle soup


Chicken noodle soup with a soda on the side (hey)


🎶 Suara musik di sebuah restoran Gangnam.


Aroma masakan yang menggiurkan menari-nari di sepanjang restoran top itu, di gemari oleh semua kalangan dan sangat terkenal terutama di kota Seoul dengan masakan andalannya Chicken noodle soup.


Di tambah musik yang sangat terkenal dalam persaingan K-POP karya J-Hope BTS (feat Becky G) makin mewarnai restoran yang punya khas penyaji Chicken noodle soup.


Asap dari hidangan terhirup daun hidung Sean yang tengah tertidur di meja makan, "Ping" matanya langsung menyala. Disampingnya sudah ada Jin yang lagi menyantap makanannya.


Sean pun tidak segan lagi, jemarinya langsung bergerak menghampiri mangkuk dengan sendok, lidahnya memainkan noodle dengan handal, mengunyahnya hingga ***** lalu telan, lezat.


Sruuuup.


Kaldunya sudah tersedot habis. "Kenyangnya." Sean tersenyum bahagia dengan pelangi di tengah perut.


"Sean ambillah surat ini, dan datang sesuai jadwal yang sudah tertera di dalam." Jin menyodorkan surat undangan itu ke tangan Sean.


"Baiklah aku terima." Sean bersemangat dengan diundangnya ia untuk bergabung dalam forum gerakan dunia yang sangat besar U.H.P mungkin inilah jalan yang terbaik baginya untuk menjadi kuat dan membalas dendam.


\*\*\*


Beeem beeem.


Klakson Ferrari merah jin memberi salam perpisahan pada Sean yang sedang melambai kepergiannya. Setelah mengantar jauh-jauh dari restoran ke rumah.


"Aku tidak menyangka kalau Boss Jin itu orangnya cukup baik di balik sifatnya yang dingin dan tajam," curhat Sean pada dirinya sendiri, membuka pintu rumah.


"Aih, aku juga harus belajar giat pula, baiklah sekarang aku akan mulai study hard agar tidak mempermalukan Lisa."


Tangannya menggapai sebuah buku tebal dari rak yang terpampang di dalam kamar. English Lesson judul buku yang ia ambil. Baginya dari dulu bahasa Inggris adalah hal yang tersulit.


Matanya mulai memperhatikan kosa kata demi kosa kata dan rumus, Saat otaknya difungsikan untuk menghafal terjadilah hal yang janggal pada dirinya lagi, matanya bersinar seperti menscan halaman buku, fungsi otaknya telah berevolusi tiga kali lebih smart dari manusia biasa.


Dengan mudah Sean menghafalkan dan mempelajari segalanya yang ada pada buku.


Dirinya sama sekali belum paham kenapa dia sangat mudah mengingat hal-hal yang ada pada buku? Dia pun berasumsi bahwa semua hal janggal ini terjadi karena cahaya aneh yang bersatu dengannya pada malam itu.


"Heh kok mudah sekali, kalo dipikir-pikir belajar itu menyenangkan juga ya, seperti main game. Awas kau Bu kepsek" Senyum lebar di wajah Sean seperti Joker, betapa senangnya hati seorang siswa dapat cheat seperti itu.


"Hahahahaha," gelak tawa Sean semalaman mengisi malam panjang itu sampai mengganggu ketenangan burung hantu yang sedang bertengger di pohon sebelah.


•••


The next day at school


"Sean apa kamu nanti jadi mampir kerumah buat belajar?" Lisa bertanya kepada Sean yang sedang duduk rapi di bangku dekat jendela.


"Siip aku mampir dong, tapi kamu harus ikat anjingnya ya, a-aku takut banget sama anjing," ucap Sean mengutarakan keinginannya yang phobia sama binatang berkaki empat itu.


"Hahaha, Hello Kittyku takut banget sama anjing, Ok nanti aku pastikan anjingku terikat ..." Lisa sudah bermuka picik merencanakan sesuatu.


"Terima kasih Lisa."


Beberapa jam kemudian


Sean sudah berpakaian rapi mengenakan pakaian santai Ayah yang cocok buat badan idealnya sekarang, membawa perlengkapan belajar dengan tas sandang.


Berjalan di perumahan itu hingga nampaklah rumah termewah di distrik. Pagar yang ia hampiri begitu besar. "Teeet" suara tombol khusus menandakan ada tamu yang datang.


"Siapa?" suara dari speaker pagar.


Sean pun mendekatkan mulutnya ke alat penghantar suara yang sudah tersedia di dekat tombol. "Ini aku Sean."


Gerbang rumah perlahan terbuka otomatis, Sean pun masuk kedalam tanpa berhati-hati karena ia telah berpesan pada Lisa untuk mengikat anjing. Setelah masuk pintu gerbang menutup dengan cepat.


Hati Sean mulai merasakan ada yang tidak beres, ia pun melangkah ke depan dengan cepat, "Guk guk ... guk, guk," gongongan anjing-anjing Lisa yang lumayan banyak menyerbu Sean.


Matanya melotot ketakutan, berlari sekuat tenaga di halaman luas itu. "Aaaaaaa mamak. Aaaaaaa dareka taskete(seseorang tolong aku)." Hingga nampaklah Lisa yang keluar dari pintu rumah. Sean spontan melompat ke arah Lisa masuk dalam pangkuan. Keadaan yang terbalik, kini Sean seperti Cinderellanya.


"Hai, Hello Kittyku."


Sungguh memalukan pipi Sean merona melihat kecantikan Lisa, "Glum" liur yang terkumpul di tenggorokan sehabis lari ditelan, jantung yang bergoncang menjadi tenang setelah melihat wajah Lisa dari dalam pangkuannya.


Seekor anjing Chihuahua imut datang menghampiri kaki Lisa di tengah adegan itu. "Guk". Spontan Sean melonjak minta dibawa ke dalam. "Ke dalam, ke dalam uaaaa."


"Tenang-tenang." Lisa yang sedang menggendong Sean dengan sekuat tenaga bergerak masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu itu sehingga anjing-anjing tadi tidak ada yang bisa masuk.


Setelah suasana kembali menjadi tenang tanpa kehadiran guguk, Sean tidak sadar dirinya digendong oleh Lisa dalam pangkuannya kayak putri Cinderella.


Mukanya padam setengah mati, tidak sanggup untuk hidup lagi kalau seperti ini. "Oh siapapun bunuh saja aku, tolong." Suara hati Sean dimakan rasa malunya yang sudah berada di level maksimal.


"Ehem ... ehem enak ya masa muda," sindir Bunda Lisa memergoki mereka berdua.


Wajah Lisa seketika diisi warna cabe, merahnya pipi sangat pekat, dengan tidak sengaja ia melempar Sean terjatuh ke lantai.


"Bunda mau pergi dulu ada urusan, Lisa kamu yang giat belajar sama Sean. Sean jaga Lisa ya. Bye bye." Salam Bunda Lisa keluar dari rumah.


"Baik Bunda"


"Oke Bibi."


Malam itu akhirnya mereka terpaksa belajar dalam keadaan super canggung. Walau begitu, lama kelamaan jadi terbiasa dan kembali ke keadaan semula. Sean dengan mudah mengerti bahan-bahan yang di terangkan Lisa, dan mereka juga saling bertukar ide dalam menyelesaikan soal-soal.


Setiap hari Sean mampir ke rumah Lisa untuk study hard. Berusaha memanfaatkan cheat pintarnya demi mematahkan tantangan Buk kepsek hingga hari itu datang.


To be continued