
"Bangun!!!"
Bergencar mereka mempercepat langkah jari mengenakan seragam Akademi yang telah di kirim tadi malam oleh seorang pegawai misterius, di masa kritis itu ada yang masih menggosok gigi, juga ada yang sedang menyisir rambut, dan sebagian juga telah duluan keluar sambil menyandang tas. Anak-anak Asrama golongan umum, bukan bangsawan itu, pagi-pagi di hari pertama masuk kelas malah telat bangun tidur.
"Oi cepetan Ester, sudah telat banget ini!" Kanmu gregetan lihat Ester yang berleha-leha. Ia berdiri di dekat pintu hendak menutup.
"Aike harus tampil perfect lah hari ini, tak susah-susah tunggu aku." Amboy, gaya Ester versi banci ini kebangetan.
"Cih ..."
Ester akhirnya keluar dan Kanmu pun menutup pintu.
BUK!
*
Seluruh murid Akademi IU yang berjumlah 2.993 di tambah tujuh anak siswa golongan umum kini lengkap sudah menjadi tiga ribu orang. Mereka mengisi hamparan luas itu dengan jumlah segitu dalam barisan yang tertata dan disiplin sesuai ketentuan arahan para senior Agen UHP China yang menjabat sebagai guru di sana.
Terlihat seorang guru berjubah sarjana tinggi sedang memberi pencerahan dan kriteria maksud apa itu UHP di atas podium. Hal ini dilakukan setiap pagi Apel hari Senin dan Kamis.
"Haiss, bro aku sangat tidak suka masuk ke Akademi ini," bisik Boby pada Kanmu. Yang mana mereka berdua berdiri pada bagian aman, tersuruk di dalam lautan manusia.
"Ha, Kenapa?"
"Gaji kita kan di tunda oleh kantor Korea, tunggu sampai selesai proses belajar di sini."
"Hah, trus jajan kita?" Kanmu kaget.
"Yah, mungkin saja untuk biaya sekolah ini." Boby Menarik nafas dalam-dalam.
"Hei ada apa?" tanya Oval pada mereka berdua.
Keduanya geleng-geleng.
*
Beberapa saat kemudian Murid telah dibubarkan.
Suara mikrofon stereo speakers untuk sekolah bangsawan seperti itu, pastinya mahal karena suara yang didengar begitu bersih dan jelas sampai ke telinga murid paling belakang.
"Kami beritahukan kepada tujuh siswa baru untuk hadir ke kantor Pemimpin Akademi."
Paham akan peringatan langsung melalui stereo speakers mereka bertujuh pun bersepakat untuk memenuhi panggilan.
Tapi seperti yang sudah kita ketahui, di sana mayoritas penduduknya adalah anak konglomerat dan bangsawan, jadi hati tujuh orang yang berjalan di lautan tatapan pedas itu pastilah meresa agak canggung, karena sepanjang jalan mereka bertujuh menuju pintu kantor Pemimpin Akademi, kerap sekali mendengar bisikan buruk dan cacian.
Akademi IU memang di bangun untuk kepentingan UHP cabang China, tapi setelah bangku sekolah itu membludak dipenuhi dengan anak-anak bangsawan dari segala penjuru negeri, terjadilah reformasi, bahwa tamatan Akademi tidak di haruskan masuk ke dalam UHP, boleh melanjutkan kuliah ke universitas yang di inginkan dan pastinya di terima. Apapun tempat kuliahnya, bukan untuk negara China saja berlaku. Tapi sudah sepakat seluruh universitas di dunia.
Alasannya adalah, didikan Akademi IU itu bukanlah manusia biasa dan telah diakui oleh dunia, karena murid yang lulus dari tahun ke tahun di Akademi ini hanya seratus orang terbaik dari seribu yang terpilih sesuai rangking, bagi yang belum lulus boleh pindah atau mengulang. Begitu beruntungnya seratus orang terbaik itu, tapi untuk mencapai tahta itu sangatlah sulit tak semudah membalikkan telapak tangan dan harus penuh dengan perjuangan.
Pintu itu sangat besar, mungkin memiliki tinggi sekitar lima meter. Sangat eksotis.
Lambang Elang emasnya berkilau akibat terpapar sinar matahari, agak menganggu pengelihatan mereka bertujuh yang sudah sampai.
Zack hendak mengetuk pintu itu, "Masuklah." Tapi suara serak dari dalam mengagetkan. Apa dia sudah menyadarinya?
Zack pun mengalihkan gerakan tangan langsung saja ke gagang pintu, lalu dibukanya.
WUSH!!
Sosok berambut gimbal yang telah memutih, dengan sebuah kaca lensa di sebelah mata kirinya, duduk dengan keeleganan para kaum berilmu tinggi di meja kerjanya. Namanya T.n Liu Alberto biasanya di panggil Master Albert.
"Baiklah, seperti pepatah mengatakan waktu adalah uang, ambil kotak di atas meja ini sesuai nama kalian. Di dalam sana sudah lengkap, buku peraturan, kartu pelajar, dan instruksi lainnya termasuk nama kelas mana yang akan kalian tempati. Sekian, aku kasih waktu dua menit, dan keluar dari sini."
Respek terhadap ucapan Master Albert, mereka di kejar waktu bergegas mengambil kotak nama mereka kemudian pergi dengan cepat tinggalkan ruangan.
Boby ada di urutan paling terakhir, yang lainnya sudah pada keluar, ia masih tergopoh-gopoh baru mau sampai di meja kotak namanya. Master Albert menatap dengan sangat sinis. Tapi dicekal dengan senyum lebar pipi gemuknya menganggukkan dagu ke bawah. "Master, hehe." Akhirnya kotak nama sudah berhasil didapatkan.
Berbalik dengan lari kecil susah mengimbangi badan, tinggalkan ruangan itu.
"Hai aku nggak sabar nih dapat kelas apa ya?"
Yoona berseru pada Zack dan Sean.
"Semoga kita bertiga satu kelas," harap Sean.
"Ya, kau benar." Zack sudah membuka dan melihat apa nama kelas yang ia dapatkan. "Wah, nama kelasku kelas tiga Giok Hijau."
"Aku juga!!!" teriak Yoona, mengekspresikan kegembiraan.
Sejenak Sean termenung setelah melihat kertas ditangannya.
"Hei, Sean kau dapat kelas apa?"
"Aku, kelas Giok Biru." Mengatakan dengan wajah kecewa.
Perasaan yang dirasakan Sean sangat tidak enak, digambarkan oleh dahi yang menyeringit dalam. Jadi anak pindahan di kelas IU yang membenci orang luar benar-benar parah men. Tapi semoga saja semuanya berjalan lancar.
Yang lain bagaimana?
Kanmu dan Boby di kelas yang sama, kelas dua anggrek putih. Sedang Ester dan Oval ada di kelas anggrek biru.
Mencar dari titik pusat depan pintu masuk kantor itu, Sean juga akhirnya memisahkan diri dari Zack dan Yoona, berjalan sendirian mengikuti petunjuk denah Akademi yang luas.
Sekian menit, akhirnya kelas Giok biru berhasil ia temukan.
*
Seorang guru wanita berkacamata sedang berdiri di depan kelas, melihat Sean hadir di dekat pintu itu ia pun langsung mengerti.
"Baiklah anak-anak kita hari ini kedatangan murid baru, masuklah."
Sean pun masuk dengan wajah yang agak malu-malu, tapi tetap bergaya keren dengan tatapan dingin. Ia sudah siap akan memperkenalkan diri seperti biasanya kalau jadi murid baru
"Kyaaa."
Bersorak gembira para murid wanita bikin halu para murid laki-laki, ketampanan Sean buat hati meleleh kelpek-klepek. "Hei lihat, jadi ini yang namanya Oppa Korea."
"Huh, dia bukan bangsawan," iri seorang murid laki-laki.
"Yang penting kan, tampan dari kalian semua." sanggah pemimpin wanita di kelas Giok Biru.
"Huh, kau lagi-lagi mau berantem sama aku!" Laki-laki itu berdiri dari kursinya. Di balas oleh cewek tomboi itu. Mata mereka saling memancarkan aura permusuhan. "Apa maksud lo."
Para kaum murid laki-laki Giok Biru mendukung laki-laki itu, sedangkan para kaum perempuan mendukung wanita tomboi. Apa kelas ini selalu seperti ini? Kaum wanita tauran sama laki-laki, setiap beda pendapat.
Kerusuhan mengacaukan ketenangan kelas.
"Aku hitung sampai tiga, jika kelas ini tidak tenang aku laporkan ke Tankman. Mau!!" ancam guru.
Krik-krik, hening seketika duduk dengan rapi.
"Perkenalkan dirimu anak muda."
"Perkenalkan, namaku Sean. Salam kenal, mohon bimbingannya," memperkenalkan diri dengan ramah tamah.
"Yaya," jengkel murid laki-laki.
"Yuhuuuuu," goda para murid wanita.
"Baiklah, Sean duduklah."
Sean pun terpaksa harus memilih kursi yang kosong. Bangsa bangsawan laki-laki sudah merencanakan untuk mengasingkan Sean, kursi kosong tergeletak jauh di belakang. Sendirian tanpa teman.
Kesepian dikucilkan, Sean menganggap enteng dan fokus mendengarkan mata pelajaran yang dijabarkan oleh setiap guru yang masuk pada jadwalnya. Tak terasa kelas selesai, Sean yang belum mendapatkan teman meninggalkan kelas dalam kesendirian, di tatap tidak suka oleh laki-laki yang iri padanya. Apalagi ia belum di akui untuk menyandang nama marga Xiao.
*
Di IU ada namanya kelas Bintang, dan itu hanya diisi oleh anak-anak dari tiga keluarga bangsawan raksasa Tiongkok. Zhang, Xiao, dan Wen. Kelas paling bergengsi, dan rata-rata setiap tahun hanya mereka sajalah yang selalu memegang rangking tertinggi, bukan karena keluarga atau suapan, tapi karena bakat sendiri dalam pembuktian.
Lihat, di depan pagar masuk ke kawasan kelas Bintang, penuh dan ramai yang berdesak-desakan. Apakah gerangan yang sedang terjadi?
Penuh kekaguman dari seluruh kalangan di Akademi baik itu murid perempuan maupun laki-laki, bahkan ada yang buat kelompok fansnya, rata-rata semua murid mengidolakan sosoknya yang anggun dan mempesona, baik dan penuh karisma di masa muda.
Berjalan di tengah lautan fans, jadi artis nomor satu di sekolah bergengsi tingkat dunia memang susah, atau apakah karena terlalu cantik juga. Puluhan bodyguard dikerahkan hadir untuk melindungi tuan putri. Pria berbadan kekar dan wanita sangar was-was dan meminta mereka semua untuk tidak menghalangi jalan atau mendekati tuan putri itu.
"Minggir-minggir beri jalan."
Semakin padat, para bodyguard sudah mencapai batas, sedikit lagi bakal jebol.
Sang putri yang dicintai oleh semua kalangan itu, terpaksa kabur seperti biasa. Memakai alat sihir bantuan teleportasi, memindahkan diri secara instan.
"Huh, leganya, eh dimana ini." Mendapati dirinya di dalam rimbun semak dan ladang.
Terkadang alat sihir itu bisa berbuat salah, keheranan terpaksa mencari jalan untuk kembali ke mansion Akademi khusus miliknya.
Ia berjalan mengendap-endap dan di dekatnya itu ada sebuah kolam indah.
Srek-srek, ia menembus semak itu untuk menuju kolam.
Secara tidak sengaja ada seorang laki-laki tampan duduk di dekat kolam itu. Membaca sebuah buku kuno di tangannya. Ia fokus dan tidak memperhatikan kalau sebenarnya ada wanita cantik hadir di kolam itu juga.
"Hei apa itu kau?" Mata wanita bangsawan primadona Akademi IU itu berkaca-kaca.
Laki-laki itu pun menoleh ke arahnya, sehingga kedua mata mereka saling beradu tatap.
To be continued