Over Power

Over Power
Aku yakin



"Apakah itu kau?"


Wajahnya merona, sudah lama tidak berjumpa dengan orang yang di sukainya dari lubuk terdalam bukan karena keterpaksaan keluarga, ataupun kontrak pernikahan keputusan dua keluarga besar yang tega sekali.


Pertemuan berbulan-bulan lalu, sungguh sangat membekas pada dirinya, walau bersama hanya beberapa menit saja sampai di pisahkan oleh pesawat yang akan lepas landas. Ciuman itu apakah masih diingat oleh orang ini, atau hanya sebuah angin lalu baginya. Yang bisa dilupakan begitu saja, tapi bagi putri bangsawan nomor satu keluarga Zhang hal itu sungguh sangat berarti.


"Maaf, siapa kamu?" lepas lidahnya berujar.


"Apakah kau lupa aku?" harap cemas.


"Maaf, kita tidak saling kenal." Mengemasi barang, buku kuno yang dipegang pun didekap dalam keadaan tertutup. Sean acuh tak acuh beranjak dari tempat duduknya di bibir kolam.


"Hai!!! Tunggu!!!" bentak tuan putri Zhang, memastikan apakah itu benar-benar ia.


"Kamu Sean kan, dari Seoul." Menebak dalam kebimbangan hati, apakah benar dia itu adalah sosok yang telah diberikan ciuman pertama dengan ketulusan waktu itu.


Geresek sepatu, saat menginjak daun kering, laki-laki berwajah tampan ini berhenti berjalan setelah mendengar suara wanita yang memanggil namanya. "Benar namaku Sean."


Berbalik arah menatap wajah wanita itu seksama. "Tapi, aku benar-benar tidak kenal sama kamu, maaf mungkin bukan Sean yang ini."


Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka berdua.


Mata Xin yu berkaca-kaca, ingin menangis. Pasrah sajalah dengan perjodohan yang telah di sepakati oleh keluarga, tidak perlu berharap lagi. Bertemu dengan sosok yang selalu menjadi mimpi.


Menyeka bibir mata, ia menatap ada tahi lalat di jempol kanan Sean. "Dia benar-benar dia, aku tidak mungkin salah," gumamnya dalam hati.


Walaupun dulu hanya bertemu beberapa saat. Xin yu adalah perempuan berkepribadian yang suka memerhatikan banyak hal di sekitar apalagi untuk laki-laki yang dia sukai. Waktu itu saat makan malam bersama tak sengaja matanya melirik tangan kanan Sean lagi megang sendok, dan di jempol itu ada tahi lalat. Persis dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Nah, kalau begitu aku pergi dulu."


Melihat Sean pergi mengacuhkan dirinya, Xin yu ngambekan. Teriak sekencangnya. "Aku yakin itu pasti kamu!!! Berani mengabaikan putri nomer satu ini ya, lihat saja nanti. Huh."


Mengguncang kebun itu, burung-burung pada kabur. Semua makhluk hidup di sana terusik, termasuk itu ikan yang di kolam.


"Haiss, aneh," desah nafas Sean. "Perempuan itu merepotkan saja."


*


Klak, pintu kamar ketiga Asrama membuka lebar, Sean pun masuk. Di sana sudah ada Zack yang lagi tiduran.


"Hai, baru balik kok lama banget." Zack bertanya kepada Sean yang kini bermuka masam dan agak loyo.


"Ha, tidak ada masalah apa-apa, gimana enak tidak di kelas Giok Hijau." Menggantungkan tas di tempat gantungan yang baru dibuat kemarin.


"O, di kelasku orangnya lumayan seru-seru. Karena mereka bukan dari bangsawan atas, jadi mereka menganggap kami sepantaran, apalagi ketua kelas itu, dia orangnya terbuka dan memang cocok sebagai citra seorang pemimpin, baik juga padaku dan Yoona."


Sean melompat ke atas kasur, bantal yang ditindih mengempis. Ia menempelkan pipinya sembari menutup mata ingin sekolah ini cepat berlalu.


"Beruntungnya kalian berdua."


"Yang sabar kawan, kita kan cuma bakal beberapa bulan saja di sini. Kalau nggak lulus ya tinggal pulang, lanjut jadi agen UHP, nggak usah dibawa pusing." Zack ikut prihatin sama Sean. Melihat raut wajahnya sekarang pasti dikelasnya tadi banyak terjadi hal-hal berkesan buruk.


"Zack, tujuanku di sini sebenarnya bukan untuk sekolah tapi mencari adikku," sahut Sean dengan suara serak.


"Apa benar!!" Zack tidak menyangkal kalau Sean punya masalah begitu. "Bolehkah aku membantumu bro."


"Hal itu juga yang kuinginkan darimu, tapi jangan buru-buru. Kita harus mempersiapkan segalanya matang-matang, aku juga ingin membuktikan diriku terlebih dahulu pada kakekku."


"Kakek, apa maksudnya," buah pikir Zack, ia belum tahu kalau sebenarnya Sean adalah cucu pemimpin keluarga Xiao era ini."


***


Keesokan harinya


Ketenangan belajar di kelas Giok Biru sangat bagus hari ini nggak kayak biasa yang ribut antar ras cowok dan cewek yang sama sekali tidak kompeten, di saat seorang pria dewasa berbadan besar dengan otot super gede itu menerangi bahan pelajaran. Mukanya sangar, hanya melihatnya saja buat bulu kuduk merinding.


Sean pun jadi keheranan dan ikut terbawa suasana untuk lebih serius memperhatikan.


Tak, hentakan kapur patah di papan tulis.


"Murid-murid sekalian, hari ini ikut semuanya ke Aula penilaian fisik. Ganti baju kalian aku kasih waktu lima detik. Di mulai dari sekarang."


Langsung kosong melompong.


Sean tertinggal aksi, ia berjalan santai. Tidak tahu begitu bengis wajah Pak guru.


"Sean namamu. Murid baru, kan." Mata melotot


"Iya pak," santainya menjawab.


"Sekarang lari lapangan Akademi, sepuluh keliling." Menunjuk ke arah luar.


"Yang benar aja Pak," wajahnya datar.


"Masih menjawab, kamu bakal dikeluarkan," mulai geram. "Kalau bukan murid baru udah habis kamu."


"Ok."


Lapangan Akademi IU sangatlah besar. Berbentuk persegi panjang bagaikan sebuah lapangan bola kaki, dengan ukuran dua kali lipatnya. Gedung-gedung sekolah mengitari lapangan itu. Seperti lapangan ini dinobatkan sebagai pusat Akademi. Di tengahnya berdiri tiang bendera UHP, dan China.


Jadi, setiap ada murid yang kena hukuman berlari di lapangan, pasti jadi tontonan semua warga Akademi.


Tepi-tepi kaca setiap gedung putih diisi dengan para perempuan yang terpesona karena adanya Sean di tengah lapangan itu.


"Hei-hei, jadi itu ya murid pindahan yang rumornya sangat cogan, sekarang aku percaya." Bisik-bisik rumpi menyebar kemana-mana.


"Nggak tega aku melihatnya."


"Oppa ... !!!"


Berdesak-desakan di tapi kaca gedung transparan itu, mereka berebutan ambil posisi paling pas. So, api kebencian terhadap Sean dari kalangan Adam kini telah meluas hingga ke seluruh sekolah. Kecemburuan merasa cinta mereka direbut, sangat melukai hati dan perasaan pria. Klub heaters Sean akan mengibarkan bendera mereka.


Xin yu nampak fokus belajar di gedung kelas Bintang yang lebih megah dari yang lain. Bangkunya persis bersebelahan dengan kaca yang menghadap ke lapangan.


Mendengar hiruk-pikuk suasana luar buat ia jadi penasaran, menoleh ke arah lapangan, matanya membesar. Tapi langsung mengerut. "Dasar cowok bodoh, bodoh, bodoh." Masih belum puas mencaci, catatannya jadi korban kekesalannya yang belum dilampiaskan dari kemaren.


"Eh, nggak ada apa-apa Bu, tangan Xin yu kepeleset. Hihi." Berdalih dengan senyuman palsu.


*


Setelah menyelesaikan hukuman lari sepuluh keliling, Sean akhirnya dapat bergabung dengan yang lainnya untuk mengikuti kelas penilai fisik atas bimbingan dari seorang Tankman, yang memberikan Sean hukuman barusan.


Saat kelas penilaian fisik berlangsung cowok sama cewek di pisahkan menurut peraturan yang berlaku.


"Oi, lihat tuh. Masih juga berani datang," tepuk pundak kawan.


"Jangan buat malu woi, cogan masa kayak cewek." cacian beberapa siswa laki-laki yang sudah selesai dinilai. Duduk disebelah sana kurang senang dengan kehadiran Sean.


"Hahahaha." Mereka menertawai Sean. Tapi hanya dibalas dengan memalingkan wajah, orang kayak gitu diladeni nggak akan pernah selesai-selesai.


Giliran demi giliran telah berlalu untuk dinilai.


"Baiklah sekarang giliran absen terakhir. Sean kamu maju." Tankman memberikan perintah.


Pertama adalah lari seribu lima ratus meter. Di garis start wajah Sean berubah jadi serius, Sufth, gerakan satu langkahnya saja punya kecepatan tinggi. Menyelip absen sebelumnya yang sudah duluan berlari.


"Alamak," kaget para saksi.


Pritt. Coach meniup peluit. "7,1 detik."


"Astaga, aku tidak percaya anak ini telah mengalahkan rekor anak kelas Bintang, yang hanya 10 detik," dercak kagum Tankman.


Kedua lempar lembing. Baru tiup pluit Wuush, bolanya sudah jauh terbang ke ujung Aula melampaui target terjauh.


"Anjay," telan ludah si tong kosong.


Ketiga lompat jauh. Wiuuu, bruk. Terlalu tinggi kepalanya nyangkut di loteng Aula, tinggi dua puluh meter.


"Buset, aku nggak nyangka. Dia ini seharusnya kita panggil bos," jilati lidah mereka sendiri. Nyali mereka tadi jadi kemana?


Keempat adu tinju khusus untuk anak laki-laki dengan alat bantu keluaran UHP China. Lo jual ane ngebeli. Jangan main-main sama pukulan Sean. Bonyok kan jadinya.



"Astaga, seharusnya dia ini dimasukkan ke kelas Bintang, seandainya Akademi ini tidak memandang status," plongo para pelatih terkaget dengan aksi pembuktian Sean.


Kelima adalah yang terakhir untuk hari ini, uji kekuatan lewat mesin pengukur.


"Pilih opsi kamu untuk dinilai, pilih sihir apa tinju?"


Yah, karena Sean tidak bisa sihir jadi ia langsung memilih penilaian kekuatan secara manual atau real dari kekuatan tubuhnya bukan bantuan mana.


Boom, saat pukulannya membentur alat itu, jarum pengukuran jadi gagal fungsi.


"Jadi di tulis berapa Tankman?" nanya karena nggak tau hasil, coach itu terpaksa harus berkonsultasi sama Wali Kelasnya.


"Buat aja lima ribu ton," ceplos Pak Tankman.


Kelas penilaian fisik berakhir, selesai dengan pencapaian Sean yang menduduki kursi nomor satu di kelas Giok Biru.


"Anak ini, bakal menjuarai liga Akademi pastinya nanti ini, aku harus memberlakukan dia dengan baik-baik supaya kelas Giok Biru berjaya." Pak Tankman sudah bersiasat ingin memanfaatkan kehadiran Sean dikelasnya.


Keluar dari Aula, Sean dikerumuni sama siswa laki-laki di kelasnya buat kenalan dan SKSD (sok kenal sok dekat) kayaknya ada sedikit manfaat dari penampilan tadi. Anak laki-laki Giok Biru baru mengakui keberadaan Sean, yang awalnya hanya mengucilkan. Sifat yang sangat kotor, dan tidak boleh dicontoh.


Apapun warna kulitnya, bentuknya, harta, status, keturunan, bangsa, negara, mau miskin mau kaya. Kita tidak boleh memandang sebelah mata. Hidupkan sifat saling menghargai antar sesama manusia.


*


Jam sekolah telah habis. Sean terduduk diam menatap murid-murid yang habis berbelanja di Market Akademi menenteng berbagai macam makanan, melirik ke arah lain ada restoran yang dibangun atas inspiratif ekonomi sarjana petinggi UHP. Ini di sebut sebagai zona pasar atau perbelanjaan Akademi. Banyak hal ikonik di pasarkan di sana.


Seperti; Baju, perlengkapan dan kehidupan sehari-hari, perkakas, dan masih banyak lagi. Ini sekolahnya udah melebihi Akreditasi A.


Karena uang gajian dipotong untuk pembayaran sekolah, Sean terpaksa menahan lidah untuk menikmati santapan kuliner di zona pasar itu.


"Hai," sapa suara manis mengagetkan Sean. Setelah menoleh kesamping ternyata itu Xin yu dengan beberapa bodyguard yang menjaga.


"Aku tidak suka dengan yang berlebih-lebihan," kerut hati Sean dengan kehadiran Xin yu. Lantas dirinya tidak menghiraukan langsung tinggalkan tempat duduknya.


"Apa kamu lapar? Aku bisa membantu kamu." Xin yu sengaja memancing. "Aku tahu kamu pasti sangat suka makan."


"Nggak usah," nada tidak suka. Tapi lain di perut. Kruyk, kryuk. Ternyata di perut Sean ada pasarnya juga. Jadi malu sendiri deh.


"Nah, benar apa kataku."


Beberapa saat kemudian


Restoran RM sangat terkenal di kalangan warga Akademi IU. Dengan masakan khasnya sangat bervariasi dari belahan dunia, tapi yang buat restoran ini merajai lidah para pelanggan adalah karena Nasi Padang dan rendang yang bikin nendang. Setiap hari nggak bakalan sepi pengunjung. Baik itu guru maupun murid, apalagi pak satpam dan staf-staf pekerja yang menjaga lingkungan Akademi.


"Umm, enak. Boleh kenalan lagi. Aku Sean kamu?" Sean bicara sambil nikmatin mangkok-mangkok traktiran Xin yu yang sudah menggunung.


"Hahaha, habisin dulu yang dimulut kamu baru ngomong," terkekeh Xin yu melihat tingkah Sean. Seperti mengenang waktu di masa itu.


Para fans Xin yu berteriak dari luar restoran yang di jaga ketat, amukan kebencian kepada Sean menyeruak di langit zona pasar. Sekarang heaters-nya Sean sudah bertambah lagi. Kerap di awal-awal klub fans Xin yu bangun para guru sudah sering berupaya mendisplinkan mereka tapi apa daya tangan tak sampai. Sekarang mereka tidak peduli lagi sama klub fans itu.


"Ah, Kenyangnya, makasih Xin yu. Sekarang aku mengerti kenapa kau punya fans sebanyak ini di sekolah."


Xin yu kembali melihat noda di tepi bibir Sean, ia ingin mengulang ingatan itu. Mengambil tisu tanpa segan ia menyekanya pada noda yang ada pada bibir Sean, membuat hati para fans terpecah belah.


"Oh tidak, tuan putri kita sudah ternodai."


"Haaaaaa. Aaaaaaaagh." Teriak sekeras-kerasnya.


Tapi karena ruangan restoran itu kedap suara, mau sekeras apa mereka teriak tidak bakalan kedengaran sampai ke dalam. Bubar, mereka sudah patah hati dengan kebencian mendalam kepada Sean.


Mungkin kenangan kita itu hilang entah sesuatu atau perbuatan seseorang yang benar-benar tega padamu. Tapi apa sulitnya tinggal dibuat kembali.


Zhang Xin yu sangat bahagia sekarang, melihat ekspresi wajah yang Sean keluarkan juga sama persis dikala malam itu.