Over Power

Over Power
Tragedi Shicang



Sean dan kakek koki berjalan di trotoar, ia membantu sang kakek untuk membawa barang-barang bawaan.


Siang ini Sean sedang melaksanakan tugas yang telah dipilihnya beberapa saat yang lalu. Mambantu sang kakek untuk berbelanja kebutuhan bahan baku masakan ke pasar tradisional yang letaknya tidak jauh dari Akademi.


"Kek, kakek sudah berapa lama menjadi koki?" Sean memulai percakapan.


Tertawa dengan suara khas serak seorang yang telah berumur tua. "Aku, sangat mencintai dunia koki dari waktu kecil. Semenjak merasakan masakan ibuku. Dan aku hidup untuk memasak."


Wajah Sean agak melongo. "Jadi kakek memang dari kecil pandai memasak."


Jalan kakek itu agak lamban maklum sudah tua, jadi Sean agak memperlambat langkah kaki.


"Benar ..."


"Kek, kakek kayaknya nggak orang sini deh, ngomong-ngomong kalo boleh tau asal kakek dari mana?"


"Wuuuung." Mobil sport mahal lewat di jalan sepi itu, di dalamnya ternyata ada sosok Queen sebagai penumpang, dengan bergaya seperti bos. Sepintas lalu saja.


Kemudian diikuti oleh beberapa mobil dan motor berkompoi lewati jalan yang sama.


"Aku bukan orang sini, aku berasal dari Indonesia. Di Indonesia waktu aku muda dikenal sebagai chef Juna." Kakek itu menanggapi pertanyaan Sean barusan.


"Wah pantesan nasi padang buatan kakek maknyooss, ternyata kakek dulu adalah seorang chef hebat."


"Kek, berapa lama lagi baru bisa sampai ke pasar tradisional?"


"Kalo jalan kayak gini palingan nanti sore baru sampai," menjawab ketus.


Sean berhenti, sepintas ada kesan terbesit dalam fikirannya, wajahnya dingin pasi, pucat banget. Alasan utama membantu Kakek Juna, dia kan pengen cepet-cepet makan gratis. Kalo nunggu sampai segitu lamanya mana mungkin bisa.


"Kek, naik ke punggung aku." Sean menunduk membuka bahu untuk menggendong.


"Wah, ini yang aku suka dari anak muda." Kakek Juna langsung menggapai pundak Sean.


"Pegang yang erat ya Kek Jun." Mengambil ancang-ancang Sean melompat begitu tinggi.


Wooof


"Uhuuuuu." Kakek Juna berteriak riang. Angin kencang menerpa wajah keriputnya, mulut ternganga lebar mendapat tekanan serupa. Satu kali lompatan, Sean sudah seperti Hulk di film-film.


"Uaaaaaaa." Sang kakek mendapat jiwa muda kembali, teriaknya terdengar begitu keras.


*


"Hidup itu keras, kami adalah para pembenci kaum bangsawan negeri ini!!!"


Beberapa orang dari segala umur tersekap dalam penjara tempat gelap dan sepi itu seperti di bawah tanah.


Anak-anak berseragam IU ada diantaranya. Pejabat pemerintah, bocil masih ingusan udah berkalung emas, dan wanita kaya. Mereka ketakutan, takut apabila nanti kenapa-kenapa oleh segelintir orang berjubah hitam itu. Tatapan mereka jahat bikin bulu merinding.


Seorang bermata tersayat menatap bagai sebilah pedang hadir menghampiri mereka, lantas setiap berjubah menunduk beri hormat padanya.


"Tidak ada ampun dari sifat keserakahan manusia binatang. Bunuh pejabat korup, anak-anak jadikan tebusan, untuk wanita terserah kalian mau diapain." Suara ngebass bicara lantang di pantulkan oleh gema ruangan hampa bawah tanah.


Zreeng!!


Pintu jeruji besi bagian pejabat korup terbuka, "Jangan bunuh kami apa mau kalian akan kami beri ... Uaaaaaaa." Teriakan-teriakan penderitaan dan sakitnya kematian mengguncang.


"Tidak ada ampun bagi kalian," ucap salah satu dari penyiksa.


Zreeng!!!


Pintu jeruji kedua anak-anak bangsawan masih ingusan termasuk murid Akademi IU ada di sana sudah mati kutu takut dengan tubuh besar para manusia misterius berjubah.


"Keluar!!!"


Terperincit kencing, mereka yang masih bocil dan remaja lemah terpaksa mengikuti perintah. Sambil terisak-isak.


Zreeng!!!


Jeruji penjara ketiga tempat para gadis dan wanita janda bangsawan. Pria-pria berjubah itu menghampiri dengan logat penuh nafsu tersenyum sadis.


"Ampuni kami ... ampun!!


"Zehahahaha." Tawa mereka di atas penderitaan kaum wanita.


"Tidak!!"


Disaat yang sama


Sean dan Kakek Juna telah sampai di pasar tradisional, mengiringi Kakek Juna ke setiap tempat favoritnya untuk berbelanja rempah dan bahan pilihan demi kelezatan nasi padang dan cita rasa masakan buatannya yang terkenal di seantero Akademi.


"Kamu sangat handal nak." Kakek Juna melempar-lempar bahan yang dibeli, Sean dengan sigap menangkap untuk dimasukkan ke dalam kantong belanjaan.


"Tambah kecepatan kek," pinta Sean mewakili perutnya yang sudah lama menahan rasa lapar.


"Kau ini anak yang energik, okelah kalo begitu."


Zung! Zuing! Zung! Melempar dengan lebih cepat, hap-hap-hap ligat Sean menangkap.


"Hei lihat, ambil videonya!!" Para pengunjung pasar merasa terhibur melihat atraksi kakek dan cucu. Langsung ter-upload ke media sosial.


Queen dan anak buahnya beserta rombongan murid Akademi berada tidak jauh dari Sean dalam keadaan seperti mencari sesuatu, karena merasa tertarik dengan keramaian yang tidak terlalu jauh dari mereka, Queen menyempatkan diri untuk melihat sebentar.


"Apa itu Kakek Juna, ngapain dia di pasar tradisional sekarang sih. Eh laki-laki itu siapa coba." Melihat sebentar saja lalu menggusur dari keramaian.


Di pojokan pasar itu sepi tapi setelah kedatangan Queen ke sana mendadak jadi rame.


"Tidak ada disini Queen." Seorang pelayan melapor.


"Kita mendapatkan misi mencari murid IU yang hilang, anak-anak, pejabat, dan wanita bangsawan. Aku punya firasat memang di sekitar daerah inilah markas mereka. Perluas cakupan pencarian!!" Queen kursi pertama di Akademi ia memberi komando pada seluruh anak buah dan pengikutnya.


"Siap laksanakan." Berlari tinggalkan tempat.


*


Sean dan Kakek Juna telah menyelesaikan urusan mereka, Kantong bawaan yang di papah Sean dari tadi selama perjalanan kini telah berisi penuh sama bahan baku.


"Terima kasih anak muda karena kamu kita bisa menyelesaikan pekerjaan ini lebih cepat dari biasanya." Kakek Juna berterimakasih.


"Oh, kan ini memang tugas saya Kek." Sean tersenyum lebar.


"Kek saya mau tanya, kenapa harus membawa barang bawaan seperti kantong dari Akademi, kan di pasar telah di sediakan???" Sean bertanya saat ia dan kakek beriringan berjalan menuju gerbang keluar pasar.


"Aku juga tidak tahu, ini adalah kebiasaan ku nak. Kebersihan kantong belanjaan bahan mentah seperti ini bagiku termasuk ke dalam bahagian faktor yang menentukan higienis masakan. Aku adalah seorang chef yang perfeksionis, apakah kamu mengerti?" Logat bahasa Kakek itu seperti pernah dengar di televisi.


"Haha, kakek betul, saya mengerti maksud Kakek."


BOOOM!!!


Ledakan besar terjadi di tengah-tengah pasar, bikin kaget mereka berdua yang sudah hampir keluar pasar.


"Huakhhh!" Kakek Juna seperti kena serangan jantung, nafasnya tersengal. "Hu, ha, hu, ha." Tangan kanannya menahan sesak nafas.


"Kek Jun, tenang!!" Sean memapah tubuhnya yang tua dan ringan.


"Sudah tidak apa-apa, jangan khawatir," ujar Kakek Juna nafasnya kembali baikan seperti sedia kala.


Semua orang dari dalam pasar berlarian menuju gerbang keluar dalam ketakutan dan kecemasan. Anak-anak bahkan ada yang terinjak. Ibu tua tergolek, barang belanjaan bahkan dibiarkan tercecer begitu saja.


"Kyaaa!!! Lari-lari!!!"


Demi menyelamatkan Kakek Juna dari tabrakan orang-orang yang berlarian itu, Sean merelakan tubuhnya menjadi tameng.


Pasar tradisional China ini sangatlah ramai bagaimana tidak karena ia adalah sentral perdagangan bebas. Tercatat dalam hitungan masuk pengunjung ekonomi pasar, bahwa pasar ini bisa mencapai seratus ribu orang per hari. Begitu padatnya.


"Awas!!"


Seorang laki-laki bongsor mendobrak tubuh Sean, tapi yang terpelanting malah dia. Tubuh Sean seperti tonggak listrik yang keras seperti besi.


Semua orang awam yang tidak tahu apa-apa itu hanya mementingkan keselamatan sendiri, setelah melihat bencana yang menggemparkan pasar.


"Apa yang sedang terjadi???" Sean bertanya-tanya penasaran.


"Kakek Juna, ikut aku." Sean lebih mementingkan keselamatan kakek ia menggiringnya untuk segera meninggalkan pasar.


Mobil-mobil militer negara yang dikomandoi oleh seorang letnan militer cepat tanggap langsung mendatangi tempat kejadian setelah mendapatkan berita pemboman di tengah pasar, serta adanya pertarungan abnormal.


Setelah disurvei pertarungan itu adalah antara siswa IU Academy dengan organisasi yang belum di ketahui. Karena Berjubah hitam para informan menyimpulkan bahwa itu adalah Black Demond.


"Bravo one one, bersama saya. Menuju TKP."


Bersenjata api, para tentara itu bergerubung melacak dan memulai ekspedisi pengepungan. Mereka menfokuskan diri untuk menyerbu bagian tengah pasar.


Di saat yang sama.


Sean telah berhasil membawa Kakek Juna ke terminal busway terdekat. Mengantar hingga Kakek Juna sudah berdiri di pinggir pintu busway. Barang bawaan juga selamat tertata di sana dengan aman.


"Terima kasih, nak sudah mau menyelamatkan nyawa saya." Kakek Juna mendengus dalam-dalam.


"Kakek sekarang kembali ke Akademi terlebih dahulu," ucap Sean dalam nada tergesa.


"Lalu bagaimana denganmu?" Kakek Juna mencemaskan Sean.


"Saya tidak bisa membiarkan sesuatu seperti ini terjadi begitu saja di depan mata saya Kakek," antusias Sean menatap dengan wajah begitu peduli.


"Baiklah kalau begitu, kembalilah, akan aku buat masakan nasi padang spesial khusus hanya untukmu." Kakek Juna tersenyum seiring bersama roda busway yang ia tumpangi berputar meninggalkan daerah itu.


Sean melambaikan tangan. Kemudian beranjak kembali menuju pasar.


Di dalam pasar. Aksi saling bunuh membunuh terjadi. Beberapa murid IU Academy wafat dalam keadaan tertusuk bahkan ada yang mati kena sihir jahat.


Tak ada yang bisa mengalahkan dua orang berjubah itu dari kalangan bawahan Queen, dan dia Queen juga dalam keadaan sekarat sekarang. Pipi cantiknya tergores sayatan pedang dua inci sehingga bekas luka itu mengeluarkan darah yang mengalir. Beberapa luka lecet di lutut dan dan pergelangan juga tampak jelas.


"Hei gadis kamu itu cantik dan seksi. Mau ama Abang? Nggak bakal disakiti kok." Pria itu memegang samurai dengan wajah psikopat.


"Oi Sieji, jangan lupa apa tujuan kita datang ke tempat ini." Teman pria Samurai itu menegur.


"Ya, ya," tanggapnya kurang senang.


"Sieji, kita harus cepat, karena UHP China lebih berbahaya dari Korea." Ia mengajak supaya lebih tanggap dengan keadaan.


"Haish, baiklah. Bye-bye Nona." Dua orang itu menghilang seketika.


Tapi setelah menghilangnya dua orang berjubah dengan wajah jahat itu, keluar dari balik reruntuhan gerombolan berjubah sama dan seragam, bedanya ada banyak bercak-bercak darah seperti habis ngebantai.


"Apa-apaan ini," desah Queen dengan mata terbelalak.


"Bunuh yang tersisa di pasar ini. Kita libas semuanya, apalagi itu berdarah bangsawan," sahut sadis pria bekas luka di mata.


Maka bergencarlah pasukan berjubah hitam itu mematuhi perintahnya, hingga nanti setelah sepuluh menit lebih terjadi baku hantam dengan para prajurit militer yang melakukan ekspedisi penyerbuan.


"Umm jadi ini ya murid Akademi IU yang berani membongkar sarang rahasia kita. Cantik, dan pasti lezat untuk di cicipi. Tapi sayang kamu itu pasti dari keluarga bangsawan dan aku sangat hate, maaf ya. Hoi beri aku pedang." Mata orang yang punya luka sayatan itu membesar sambil ngulur-ngulurin tangan pada anak buahnya.


Queen yang dalam keadaan lemah tidak bisa bergerak maupun kabur. Apakah ini akhir baginya. "Manaku habis. Kaki ku sangat berat untuk diangkat," kesah sedih di tahan dalam hati.


Anak buah itu telah datang memberi sebilah pedang tajam ke tangan pemimpinnya. Lantas ia bergerak cepat menuju Queen bermaksud membunuh menggunakan pedang itu.


"Oh tidak, seseorang tolong aku. Jika dia perempuan maka akan aku angkat menjadi saudara, bila laki-laki apapun marganya akan aku jadikan suami!!" teriak kata hati Queen bernazar itu dikarenakan saking terlalu sangat ia membutuhkan pertolongan.


"Hiho, berangkatlah menuju sang penciptamu makhluk sombong." Melayangkan pedang menuju ke arah leher Queen.


Queen memejamkan mata pasrah, hatinya gundah gulana. "Aku tidak tahu kalau mati itu semenakutkan ini."


Begitu banyaknya perbuatan nista yang telah ia lakukan selama ini. Menyindir setiap orang yang berstatus di bawahnya, suka menginjak harga diri orang lain. Sombong, berlagak seperti ratu sekolah karena statusnya adalah putri bangsawan Wen yang ditakuti oleh siapa saja.


Tapi sebenarnya nama aslinya adalah Wen Qing bergelar wanita tak tersentuh, siapapun lelaki yang menyatakan cinta pasti tertolak dan mendapatkan cercaan.


Ia sangat membenci kaum Adam karena baginya laki-laki itu semua sama saja. Fakboy, playboy yang suka mempermainkan hati wanita, dan mungkin ada trauma masa kecil soal hal itu yang menjadikan dirinya sedingin sekarang.


Tepat disaat kematian akan datang menghampiri dirinya. Di saat hal itu akan terjadi ....


Sean hadir pada waktu yang tepat sebelum mata pedang itu akan menebas kepalanya. Jarak kurang lebih 70 meter Sean berdiri dengan tatapan tajam.


"Untuk inilah kekuatan ini aku mewarisinya, melindungi siapapun yang ada disekitar ku!!"


ZUFFT!!! Kecepatan suara. Sean tiba-tiba sudah sampai di depan Queen begitu cepat menepis pedang yang sedetik lagi pasti bakal berhasil membunuh.


Tring!!! Pedang itu tidak jadi menyayat leher Queen. Tapi malah patah karena beradu kekuatan dengan tangan Sean.


Mata Queen begitu terpukau dengan punggung pria yang datang secara mendadak di waktu segenting itu untuk menyelamatkan hidupnya. Jantungnya berdegup, wajahnya merona.


Siapakah dirimu?


To be continued


_________________________


Wen Qing