
ZRIIING
Pagar besi mengunci sosok Asyura yang tidak sadarkan diri di dalam bui berlapis baja. Lilitan rantai besi mengekang kebebasannya.
Zico dan seorang petugas eksekutif penjara bawah tanah yang biasa di sebut unit Saber, nampak mereka berdua ini berdiri di depan pintu jeruji besi yang memenjarai Asyura itu.
"Eksekutif Saber Antonio, apakah anda ketua cabang koreanya saat ini?" Zico bertanya pada sosok pria berdasi rapi dengan kumis tebal yang berdiri di sampingnya.
"Benar wahai Zico sang raja petarung. Aku adalah ketua kelompok Saber yang baru di lantik," jawab Sang eksekutif.
"Jangan biarkan orang berbahaya ini lepas, dia sudah berani ingin membunuh adik ipar ku." Pesan Zico melangkah pergi tinggalkan penjara bawah tanah.
"Yes agen rangking S." Di balik senyuman palsu itu ia punya niat terselubung.
*
Tangan yang penuh dengan kasih sayang mengelus rambut calon suaminya yang kini tengah dirawat di ruang pemulihan. Melihat bekas luka perut berlubang pada kekasihnya membuat ia sangat khawatir sehingga tidak tahan dengan linangan air mata.
"Jika kau berani meninggalkan aku, aku sungguh tidak rela. Jin semoga lekas sembuh."
Klak, ada orang membuka pintu. "Helo adikku tercinta ..." berlari menghampiri dengan kantong buah. "Cipika dulu."
Kesal mendengar suara lebai itu, langsung buat Ayana naik pitam. "Buk," sebuah pukulan melesat.
"Nice Ayana. Kamu semakin kuat saja." Zico malah bahagia di tampolin adek sendiri.
"Dasar kakak ini, sudah tua masih bertingkah kekanakan. Buat malu saja." Mengepalkan tangannya dengan pipi yang menggembung imut. "Huh ...."
"Lihat ini apa looo." Zico memperlihatkan sebungkus buah strawberry kesukaan, lantas Ayana langsung menggarapnya dengan cepat. "Bilang dari tadi."
Zico berjalan mendekati kasur peristirahatan Jin yang sedang memulihkan diri, hingga ia berdiri tepat di samping Ayana yang duduk di atas kursi dekat bagian kepala kasur lalu ia berkata, "Aku beruntung melihat anak yang sangat berbakat," ujar Zico.
"Maksud kakak?" Ayana pun bertanya-tanya.
"Ayana kamu juga harus berterimakasih padanya, karena ialah yang telah menyelamatkan Jin dari kematian."
"Siapa itu kak?" Menoleh kepada kakak.
Wajah bodoh. "Aku lupa menanyakan namanya, haha maaf." Menggaruk kepalanya yang gondrong.
"Ishh, gimana sih." Sebal Ayana melihat tingkah kakaknya.
Jari Jin bergerak itu sinyal bahwa ia akan segera bangun, melihat hal itu Ayana sangat bahagia. "Kak, Jin sudah sadar ...."
"Mana???"
Perlahan mata pria yang berbaring itu terbuka dengan view pandangan yang agak buram, lambat laun lensa matanya menjadi normal mulai terbiasa menerima pantulan cahaya. Maka wajah yang ia lihat pertama kali adalah Ayana.
"Syukurlah!!!" Melempar pelukan hangat Ayana sangat bahagia mendapati Jin yang masih baik-baik saja.
"Ayana, kakak?? Di, dimana aku?" Clengak-clengokan masih dalam kondisi bingung.
"Yo adik ipar, kita sudah ada di markas. Tenang jangan khawatir," sahut Zico menyambut kesembuhan Jin.
"Nah, Jin apa kamu lapar?" Ayana memberikan perhatiannya yang lebih pada Jin.
(Menganggukkan kepala)
"Baiklah kalau begitu tunggu sebentar ya."
Disaat Ayana pergi ke dapur kesehatan, maka tinggallah Jin dan Zico yang punya banyak pembahasan soal kehancuran Busan, hingga pada akhir percakapan mereka Jin melontarkan unek yang dari tadi ia sembunyikan.
"Aku punya pertanyaan kak, bagaimana dengan Asyura?"
"Dia sudah di tahan ..."
Wajah Jin menunduk dan mengerti kenapa sahabatnya itu sekarang harus di tahan.
*
"Nah, karena kamu sudah sembuh aku pergi dulu, nikmatilah waktu kalian berdua." Zico pergi meninggalkan ruangan itu dimana kini Jin tengah di suapin bubur sama Ayana.
Tuk, pintu tertutup.
Di balik pintu itu. "Oh tidak jiwa jombloku meronta!!!" Mengepalkan tinju karena meratapi nasibnya, oh jodoh kenapa kau tak kunjung menyapa Abang ini.
.
.
.
.
Posko pengungsian di desa Yangdong. Terlihat tenda-tenda putih serta berbagai macam bantuan dari pemerintah turun untuk warga Busan yang berhasil selamat dari bencana perang yang mengguncang Korea.
Setiap stasiun televisi swasta maupun lokal menyiarkan berita tentang Busan yang sudah hilang dan menjadi kota reruntuhan, serta seluruh stasiun CNN yang ada di seluruh dunia ikut berpartisipasi dalam menyampaikan informasi itu.
"Ayah, makanlah mie instan ini." Nara memberikan sebuah mangkuk dengan sumpit pada Ayah yang masih merenung di dalam tenda.
"Ah, terima kasih putriku," ucap Ayah. "Mana Kanmu?" Pak Wali Kota menanyai si calon ini.
"Dia lagi menyiapkan mie buat kami berdua," jawab Nara.
Sruuuup, "Ooooh." Lanjut makan.
"Permisi." Baru dibilangin si dia sudah muncul, tapi hanya dengan satu mangkuk dua sumpit. "Maaf Nara mangkoknya sudah habis terpakai para pengungsi yang lain."
Mereka berdua pun akhirnya terpaksa menikmati mie instan berbagi dalam satu mangkuk. Pak walikota hanya melihat saja, karena ia merestui hubungan mereka berdua jika lebih dari itu.
Setelah mereka bertiga kenyang, Pak Wali Kota mengambil inisiatif langkah awal untuk langsung memiliki menantu.
"Wadidau, Kanmu kamu mulai sekarang harus bertanggung jawab, sekarang Nara adalah tunanganmu, kewajibanmu adalah menjaganya, awas saja kalau kamu berani membuat putriku bersedih," ucapnya dengan kinclong keningnya berseri.
"Ayah!!!" Mendengar hal itu dari mulut Ayah sendiri untuk orang yang disukai, Nara sangat malu. Maksudnya malu-malu kucing. "Kenapa Ayah bicara seperti itu pada Kanmu."
"Diam putriku, ini adalah pembicaraan antara sesama pria." Tatap wajah Pak Wali Kota dengan serius.
"Baiklah sekarang aku juga harus berani untuk melepas status jomblo!!!"
Kanmu berdiri kemudian bersujud di kaki Pak Wali Kota. "Sumpah atas nama margaku aku tidak akan mengecewakan anda."
Panah cinta menusuk hati Nara, apakah ini mimpi? Ini terjadi begitu saja. "Ka-kanmu, benarkah itu?" Mata Nara berbunga menatap wajah Kanmu yang punya sikap seorang pria sejati, berani berkata berani bertanggung jawab.
"Nara mulai dari sekarang hingga akhir hayat."
Menutup separuh muka dengan kedua tangannya, Nara tersipu tidak bisa mengatakan apapun, air mata kebahagiaan berlinang, apa lagi di sambut dengan wajah senyum Kanmu. Ia sangat bersyukur bertemu dengan laki-laki bersifat pasti yang memegang kata-katanya. Bukan laki-laki yang hanya memberi harapan palsu, membuang kehormatan kaum Adam.
"Baiklah, sudah di putuskan. Kanmu, Nara aku ingin kalian berdua nikah muda. Setelah masa SMA kalian berakhir, maka saat itulah pernikahan akan di selenggarakan." To the point Pak Wali Kota memastikan.
"Siap, Pak. Aku sebagai seorang pria akan menepati janjiku. Untuk masalah pekerjaan dan uang ekonomi keluarga nantinya, saya sudah punya sebagaimana saya adalah seorang agen U.H.P yang telah diakui. Tinggal nanti saya akan menabung untuk membeli rumah sendiri." Ikrar Kanmu.
"Aku sangat bersyukur mendapatkan menantu sepertimu Kanmu, biar saya yang menanggung semuanya nanti. Karena ini adalah kemauanku sendiri untuk menikahkan kalian berdua," ujarnya santai, mengingat tabungan seorang pejabat pemerintah termasuk jumlah yang cukup besar.
"Pak Wali Kota!!!"
"Jangan panggil aku Pak Wali Kota lagi. Mulai sekarang panggil aku Ayah," perintah mertua yang absolut dirasakan oleh Kanmu.
"Baiklah Ayah," bersujud di kaki mertua.
Menepuk-nepuk punggung dan mengusap kepala Kanmu. "Oh Tuhan, aku sangat bersyukur bertemu sosok pribadi seperti ini. Padahal aku tadi hanya bercanda."
*
Mobil Jeep itu melaju dalam kecepatan normal menembus jalan pintas lintas hutan menuju kota Seoul. Sean tengah tampak tertidur pulas di bangku samping pengemudi yang mana itu adalah Kak Angelina.
Di tengah perjalanan mereka, kak Angelina mendapatkan kontak dari markas untuk segera ke posko pengungsian di desa Yangdong. "Sean sekarang kita harus ke posko yang tidak jauh dari sini ...."
Tidak ada jawaban.
"Sean?" melihat ke samping, eh si Sean masih pulas dalam tidur.
Kak Angelina pun terus mengemudi Jeep dengan tujuan desa Yangdong. Sekitar setengah jam, mereka sudah sampai di desa.
Mendengar kebisingan di luar mobil Sean pun terbangun, dengan wajah kak Angelina yang begitu dekat karena hendak membangunkannya.
"Waaa."
Sean yang terkejut ingin bersigera untuk bangun dari bangku, masalahnya kak Angelina juga keget spontan ke jedot lagi oleh langit-langit atap Jeep, membuat kepala kak Angelina jatuh bertemu dengan wajah Sean, rapat wajah mereka untung tidak sampai ciuman gara-gara itu. Hanya bibir kak Angelina berada di kening Sean, bibir Sean berada di dagu kak Angelina.
* Di saat yang sama.
Sosok pria berseragam agen khusus U.H.P menghampiri Jeep tersebut. Deru langkah kakinya sigap, ia pun mengetuk pintu Jeep.
"Angelina, apa kau di dalam?"
Sean pun keluar dari pintu yang di ketuk. Begitupun kak Angelina juga keluar dari pintu sebelah sana. Membuat pria ini bertanya-tanya siap anak muda bersama Angelina.
"Angelina siapa anak muda bersamamu?"
"Perkenalkan ini Sean, dia adalah agen junior kita yang akan di lintik resmi bergabung pada bulan Mei mendatang, ya setelah mengikuti pelatihan khusus." Angelina menerangkan profil Sean pada rekannya.
"O, kalau begitu ikut aku ke tenda Jendral." Menarik tangan Angelina dengan rasa cemburu.
"Lepaskan!" Menarik tangan.
"Ayo Sean kamu ikut aku juga." Angelina mengabaikan rekan pria itu, ia malah menarik tangan Sean untuk ikut dengannya.
"Dasar cecunguk kecil, beraninya merebut wanitaku." Bibirnya bicara sambil naik-turun.
Secara tidak sengaja Sean dan kak Angelina yang sedang berjalan ke arah tenda khusus Jendral Kaja di kagetkan dengan Lisa dan asistennya dalam karir sebagai artis. Ia datang ke posko karena sangat memperdulikan Sean.
Melihat Sean hadir di posko pengungsian, Lisa berlari melompat ke arahnya langsung peluk. "Hello Kitty, aku bersyukur kau baik-baik saja."
"Siapa perempuan cantik ini?" Was-was kak Angelina. Punya pertanyaan yang dalam.
"Aduh, bajumu jadi seperti ini." Lisa yang sudah bersiap-siap dengan situasi seperti itu telah menyediakan baju ganti untuk Sean.
"Ini pakailah." Menyerahkan setelah mengambil dari tangan asisten.
"Terima kasih Lisa."
Angelina yang belum pernah melihat Sean tersenyum sangat tulus seperti itu pada seorang wanita, membuat ia paham kalau dirinya masih belum berarti bagi Sean yang sudah memiliki. Melihat Sean sedang reunian mesra dengan Lisa Ia pun pergi begitu saja.
"Mungkin ia belum jodohku."
To be continued
___________________________
Kwon Nara