
Kepulan asap hitam makin membumbung naik ke atas langit penuhi atmosfer dengan beberapa komponen gas berbahaya bagi kesehatan paru-paru, karbondioksida, karbon monoksida, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida.
"Uhuk-uhuk. Tolong aku ...."
Seorang wanita janda terperangkap di reruntuhan bangunan pasar, kakinya tersangkut oleh tali yang menggelayut terjerat pada benda mati. Terlihat kakinya terikat simpul susah untuk dilepaskan.
Hanya dalam hitungan beberapa detik lagi bagian atas bangunan itu akan terjatuh ke arahnya, lantaran tiang pondasi berupa kayu telah habis di rayap api.
"Jangan khawatir, rileks."
Sean membuka tali tersebut, untung dia bisa datang lebih cepat, menarik tubuh wanita janda itu keluar dari bangunan bergerak jatuh mau menimpa.
Sedikit terpekik karena tertarik spontan oleh Sean, wanita janda itu bangun dalam keadaan nada nafas tersengal-sengal.
"Bu, lewat ke arah ini, kamu akan selamat." Sean menunjuk.
"Baiklah." Wanita janda itu mengikuti arahan Sean berlari tinggalkan pasar yang hampir mau ludes terbakar.
Seorang anak kecil menangis di aspal jalan pasar, kaki kanannya patah tulang mungkin terinjak-injak saat para warga berlarian keluar dengan berkerumun.
Bujunya penuh dengan kotoran alas kaki. Hidungnya berdarah tidak kuasa untuk mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
"Jangan menangis, aku datang." Sean menggendong anak kecil itu keluar dari pasar.
Sekitar enam puluh persen api sudah memakan pasar tradisional. Para unit kebakaran baru sampai dan hanya memulai pekerjaan mereka dari tepi.
Di bagian lainnya, unit bantuan palang merah ikut berkontribusi terhadap musibah yang dialami pasar. Banyak korban luka bakar di temukan oleh mereka, patah tulang dan lain-lain.
"Pak ini anak yang saya temukan di dalam pasar, kondisinya kritis." Sean menyerahkan anak kecil pingsan di punggungnya pada salah satu perawat.
"Ada apa denganmu nak, mana orang tuamu?" Bapak itu prihatin melihat kondisinya, dengan senang hati meletakkan tubuh kecil itu ke atas ranjang mobil palang merah untuk segera diobati.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Eps, berhenti di sana. Pake ini dulu." Bapak itu menyarungkan masker ke wajah Sean.
"Ada apa pak?"
Sean agak menghindar tapi langsung di timpalnya, "Copid, copid. Pake!!"
"Copid?" nggak paham dengan apa yang di maksud.
Dengan pasrah Sean pun memakai masker yang di pasang penuh perhatian oleh Bapak perawat.
"Ha, sudah pergi lah lagi."
"Kalo begitu saya pergi pak." Berlari masuk lagi ke dalam kobaran api pasar.
"Dasar, jadi anak muda itu jangan terlalu bersemangat. Ckckckck." Bapak itu menggeleng sambil lanjut memberikan penanganan pertama yang terbaik pada anak kecil yang nantinya bakal dioper kerumah sakit.
*
Sebuah Lamborghini yang diikuti oleh mobil-mobil pengikutnya berhenti di depan pintu masuk pasar. Pada setiap bagian samping mobil punya lambang elang emas.
Keluar dari pintu Lamborghini seorang pria berparas sinis dengan reben hitam mengaca di wajah. Cukup keren dengan pakaian kerjanya sebagai salah satu atasan di UHP cabang Baijing timur. Sepatu lokak hitamnya menghentak-hentak saat dia berjalan.
"Jendral Xiao Chen di dalam masih terjadi baku hantam." Salah satu anggota agen UHP datang melapor.
"Umm, kalian semua bantu para tentara, kita habisi mereka." Suara berat.
"Siap!!!"
Tidak takut sama api yang masih belum padam mereka mengabaikan langsung masuk ke dalam pasar.
Di tengah pasar masih panas sama pertarungan antara para abdi negara dengan anggota penjahat kelas dunia Black Demond. Yang terjadi adalah para abdi negara sudah banyak tumbang dengan kekuatan sihir mereka, walaupun para abdi ini awalnya menang jumlah.
Bergerak dalam bidang mereka para kesatuan agen hebat dari UHP memberikan bantuan pada para abdi negara untuk dapat mengalahkan keroco kulit-kulitnya Black Demond.
Kekuatan agen UHP tidak dapat diremehkan, mereka menumpas para penjahat itu dengan mudah. Menangkap lalu menyekap untuk interogasi lebih lanjut nantinya.
Xiao Chen berjalan lambat di tengah pasar memperhatikan TKP dengan seksama. "Apa jenis bom yang bisa meledak seperti ini?" Sedikit pertanyaan ada dalam pikirannya.
"Apa Black Demond sudah memiliki ahli peraciknya?" Ia melompat ke dasar tanah runtuh, diikuti beberapa anggotanya.
Setelah mereka masuk, barulah para pasukan militer yang tersisa ikut masuk menggunakan tali, maklum mereka bukan jenis manusia yang punya kekuatan abnormal seperti agen-agen UHP.
Bau amis menyengat merasuk masuk ke dalam hidung. "Ah, seharusnya aku pake masker," keluh salah satu agen.
"Pak kenapa kamu menyuruhku keluar?" Tidak terima.
"Kau tidak menghormati jiwa yang sudah mati, lebih baik kau keluar!!" Xiao Chen makin menatap tajam ke bawahannya. Suara keras seorang jenderal menggemparkan lorong sunyi itu. Membuat ekspedisi terhenti sejenak.
"Haissh. Jenderal memang seperti itu orangnya, jadi jangan di bawa ke hati ya." Asisten Jenderal Xiao Chen bernama Xiu Min menenangkan junior yang belum mengenal tempramental Xiao Chen.
Saat Xiao Chen bergerak masuk, yang dimarahin tadi juga malah berani mengikuti punggungnya masih ngeyel untuk ikut masuk, tapi begitulah kira-kira sifat Xiao Chen ia membiarkan saja.
Dalam hati junior itu, "Apa-apaan, orang seperti ini kok bisa jadi Jendral?"
"Hidupkan pencahayaan." Perintah Xiao Chen, dengan tanggap Xiu Min dan beberapa agen melakukannya.
WOSSH! Suasana jadi terang benderang.
Apa yang ada di hadapan mereka benar-benar bukanlah sesuatu yang manusiawi, semua terperanjat dengan banyaknya jasad bergelimpangan di setiap lorong bawah tanah ini.
Beberapa dari mereka jadi mulai mual, perut seakan-akan mau meledak naik-turun, pusing lebih mendominasi, apalagi para tentara bahkan ada yang muntah-muntah.
"Hueek ..." "Ueek."
Bahkan di antara jasad-jasad itu sudah ada belatungnya.
"Jenderal, apa perintah dari anda?" Xiu Min meminta instruksi.
"Angkut semua jasad ke atas lalu kubur sebagaimana manusia dikubur, ambil beberapa jasad yang lebih signifikan untuk di autopsi, antar ke badan Ahli Forensik Nasional."
Mendengar perintah Xiao Chen orang-orang sudah pada minder. Berat hati untuk memenuhi perintah.
Xiao Chen mengangkat salah satu jasad yang berbelatung tanpa raut wajah geli. Melihat yang lain belum bergerak ia langsung membungkam mereka yang sok jijik.
"Apa yang kalian tunggu!! Ha, sekian tahun yang akan datang, kalian yang bakalan menjadi mayat seperti ini."
Melihat Xiao Chen memberikan contoh bukan hanya sekedar perintah dengan hati berat satu persatu ikut naik dengan membawa jasad. Hingga nantinya jasad di sana sudah di angkat semua ke atas untuk dikubur.
Suasana pasar telah bebas api, jadi pemakaman masal bisa dilakukan tanpa ada halangan.
"Hei kak Xiu Min, mana Jenderal?" Junior yang habis kena marah tadi bertanya.
"Dia mungkin sudah pergi." 'Tak," suara cangkul. Terlihat mereka berdua sedang menggali tanah untuk memenuhi perintah Xiao Chen. Bukan hanya mereka tapi semua orang.
Xiao Chen terlihat berjalan-jalan mengitari beberapa tempat bekas kebakaran yang sudah di semprot habis oleh pasukan pemadam. Sekarang dengan rasa syukur api yang membakar pasar sudah mulai meredam padam. Terima kasih untuk para pejuang yang sudah menunaikan amanah mereka.
"Benar aku merasakan kekuatan besar di sekitar tempat ini, sangat dekat, apa salah satu orang kuat Black Demond masih ada di sini?" Xiao Chen pasang mode waspada.
Langkahnya menderu cepat untuk dapat menemukan orang yang dimaksud.
*
Sean berjalan sendirian di tengah pasar habis terbakar. Ia terlihat kurang fit saat ini, matanya melihat buram, bising menyengit rasa ada yang menggigit otaknya karena sangat pening. Suhu tubuhnya panas, kaki Sean terseok-seok.
"Ada apa denganku? Agh ..." Dunia baginya seakan berputar dan bergoncang.
Di belakang Sean letaknya tepat sejajar yang mana jika itu terjatuh bakal pasti tepat menimpa, sebuah tiang listrik besi besar diameter batang pohon gede. Kalo kena kepala manusia mungkin korban akan langsung geger bahkan pecah pala.
Tiang listrik itu sedari terjadinya ledakan bom yang membakar pasar memang sudah roboh tapi jatuhnya tertahan oleh kabel-kabel listrik, namun kebel yang menjutai panjang itu sudah tidak tahan lagi untuk dapat menahan.
"Aaghh ..." teriak karena kepala jadi makin buyah. Kedua tangannya memegang erat, wajah Sean makin lama jadi makin pucat.
Di saat kakinya berhenti melangkah kabel pertama putus, tinggal dua lagi yang masih menahan.
Mata Sean keluarkan air mata darah, "Ibuu apa itu kamu aku sudah lama tidak melihat senyummu," kadu batinnya berhalusinasi.
Kabel kedua putus 'krak' tonggak listrik besar itu bergerak cepat kebawah seakan tertarik gravitasi, namun kabel listrik terakhir yang masih bertahan mengendur, dapat menghalangi jatuhnya tiang untuk sedikit lebih lama lagi, tapi hanya dalam hitungan sepersekian detik.
Dari hidung Sean darah hitam meleleh, telinga tempat tangan yang menggenggam karena menahan pecahnya pusing kepala juga ikutan mengeluarkan darah.
"Struk," kedua lutut kakinya menyentuh aspal, posisinya tempat di bawah tiang yang bakal roboh.
TESSS!
Kabel terakhir yang dapat menahan tiang listrik super gede itu akhirnya putus, bergerak jatuh meluncur lurus ke arah bagian kepala.
"Ibu."
To be continued