Over Power

Over Power
Mencari kehidupan sejahtera



"Mandi pagi gosok gigi cuci muka bobok lagi."


Ester menikmati pagi ini dengan kesegaran picratan air shower ngalir terus merembes ke seluruh badannya yang bontot. Alami sifat versi banci ia berlagak kayak seorang gadis saja. Perlu ngucap seribu kali perhari baru bisa insaf. Apa karena gen kah? Atau mungkin adakah suatu penjelasan yang akan mendefinisikan ras manusia seperti itu. Setiap malam berubah menjadi pria idaman eh siangnya jadi kek gini apa kata dunia.


Hari Minggu hari libur. Anak-anak murid IU Akademi biasanya menghabiskan waktu untuk referensi bermanfaat, atau menikmati waktu luang itu dengan ke perpustakaan, berkunjung ke zona pasar, shoping, berduaan sama doi, atau memancing, yang penting banyak hal deh.


"Aduh, mau apa ya hari ini, bete." Boby mengeluh.


Tapi bukan untuk tujuh anak general (umum) yang tinggal terasing. Muka pada butek, tanpa uang jajan mau hidup macam apa tinggal di asrama coba, nggak bisa ini itu, apalagi ingin mencoba jajanan kuliner di zona pasar. Terlalu.


"Zzzzzz."


Oval fokus menikmati rutinitas wajibnya bermoto tiada hari tanpa tidur, dan untuk hari ini saja terkhusus Minggu kelihatannya semua orang meniru Oval karena nggak ada kerjaan alias boring. Tidur-tidur di atas sofa. Sean mau mati sudah tak kuasa menahan lapar.


Biasanya di hari masuk kelas mereka bisa mendapatkan jatah makan dan sarapan dari kantin sekolah, untuk makan malam pun harus menjemput ke dapur kantin, begitu dermawannya penjaga kantin kepada mereka. Tapi untuk hari Minggu pertama di IU ini bagi mereka bagaikan neraka. Apalagi Mas Sugiono penjaga kantin kan perlu libur kerja pulang ke rumah.


"Siaaal, aku pengen rendang," gerutu Kanmu liurnya menetes-netes.


Jeblek!


Pintu masuk terbuka secara tiba-tiba kagetkan para kaum ngoyo bersantai di atas sofa dan karpet.


"Aku ada berita gembira." Yoona datang dengan membawa wajah tersenyum simpul.


Mereka menatap seperti melihat seorang Dewi.


"Jadi apakah gerangan wahai malaikatku?" Zack bersujud di kaki Yoona.


"Kalau mau tau semuanya harus seperti Zack," melipat kedua tangannya.


"Bob, cepat bangunin Oval!!" Si Kanmu gregetan. Dengan wajah lugu Oval terbangun oleh dorongan Boby.


"Ikutin kami Oval," bisik Boby.


Tampang nggak tau apa-apa ya terpaksa ngikutin aja.


Serentak. "Oh malaikatku." Bersama meniru gerakan Zack.


"Hohoho. Sekarang semuanya duduk dengan rapi, lihat apa yang ada di buku yang aku bawa ini."


Mereka sudah lengkap bertujuh di ruang tamu, duduk rapi di atas karpet menghadap ke arah Yoona menjelaskan duduk di sofa. Melipat-lipat kaki layaknya seorang pemimpin sebuah perusahaan.


Lantas setelah Yoona membaca sepenggal artikel pada buku tersebut Zack memeram kemarahan. "Ternyata di Akademi memiliki sistem seperti ini, dasar bocah kecil itu, dia mengabaikan kita nggak ngasih tahu hal ini dari awal!!"


"Ya, kita semua ketinggalan informasi ini, semua murid yang ada di IU Akademi memang tidak boleh mendapatkan uang jajan. Sistem Akademi telah mengatur hal itu semua, sistem hitung poin. Yang mana berapa nilai poin kontribusi kita lakukan hari ini itulah mata uang Akademi yang bakal kita peroleh," jelas Yoona.


"Jadi begitu aku mengerti." Boby berlagak sudah paham.


"Yuhuuu, apa maksudnya?" Ester garuk-garuk kepala.


"Terdapat di buku itu, E-koin. Ini namanya nilai cetak mata uang elektronik versi yang dikeluarkan oleh pihak bendahara Akademi. uang ini akan secara otomatis masuk ke dalam rekening id siswa apabila telah menghasilkan poin kontribusi yang mana ini semua menjadi alat tukar yang sah di Akademi. Mau beli apa bisa kita pake ini." Boby lanjut menjelaskan.


"Ouh, gitu yah. Apa-apa aja dong yang harus kita lakukan untuk mendapatkan poin kontribusi?" Kanmu bertanya.


"Aku bacain ya." Yoona mengembangkan buku itu.


Di dalam kalimat demi kalimat yang dibacakan oleh Yoona, tertulis di sana ada tiga hal poin penting. Pertama untuk mendapatkan poin kontribusi yang akan di tukarkan dengan uang elektronik Akademi adalah melalui nilai gabungan akademik dan non-akademik yang telah di torehkan.


Kedua, berkontribusi untuk tidak melanggar peraturan Akademi baik itu dari pihak guru maupun peraturan yang telah diciptakan oleh sepuluh kaisar. Jika seorang siswa tidak melanggar peraturan dalam sebulan maka mereka akan mendapatkan bonus poin kontribusi sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh sistem IU Academy.


Ketiga, ini adalah hal yang banyak dilakukan oleh siswa. Yaitu melaksanakan misi dari gedung tugas yang mana tiap-tiap misi yang di pilih memiliki level tersendiri makin tinggi level yang diselesaikan makin tinggi pula lah imbalan yang akan diterima.


"Ooooo," pada melongo semuanya.


"Kalo begitu kita bisa sejahtera, hidup makan rendang setiap hari!!" Kanmu melenjit kesenangan.


"Haaa, horeeee." Suka cita mereka semua berpelukan.


"Hei, ada apa dengan kak Sean?" Ester ngerumpi, berbisik pada Boby.


Garuk kepala. "Entahlah. Katanya dia lagi deket sama wanita tercantik di Akademi ini, Zhang Xin yu. Jadi trending topic."


Selain Sean, mereka sudah pada sibuk dengan gadget mereka masing-masing untuk mendaftarkan id mereka ke sistem IU Academy agar tidak tertinggal update dan supaya bisa hidup sejahtera. Sesuai dengan penjelasan buku panduan hidup sejahtera berita gembira yang dibawa Yoona.


*


Sean duduk sendiri di tempat rahasianya, sebuah kolam ikan koi airnya jernih berada jauh dari keramaian. Rimbun pepohonan menyembunyikan keberadaan kolam tersebut. Berulang ulang ia ber-adeh untuk satiap nafasnya, merasa kesal dan tak berdaya.


"Kenapa aku bisa kehilangan smartphone X1 di hutan itu," keluhnya sambil melempar sebuah batu lancip ke arah kolam hingga terciptalah beberapa pantulan batu itu seperti melompat-lompat.


"Aghhhh," mendesah.


Membuka jaket yang dikenakan, hanya pake kaos hitam tipis ia mengambil langkah pemanasan dengan gerakan push up.


"1 ... 2 ... 3 ... 4 ... 5 ...." Push up sambil terus menghitung ketika tubuh di posisi atas.


Beberapa jam kemudian.


"1000. Gah ..." keringat panas basahi sekujur badannya. Rambut hitam Sean lembab ia tiduran di atas tanah itu melepas pergi lelah, dekat sekali sama kolam ikan koi kakinya menjulur panjang hampir mengenai permukaan kolam, karena beralih posisi.


"Cih ..."


Apakah push up seribu itu lampiasan kekesalan.


Di dalam fikirannya sekarang mereka semua pasti sudah ada yang dapat transferan E-koin dari sistem. Sean mikirin dirinya yang sekarang tidak punya smartphone untuk mengakses sistem IU Academy. Kalo tanpa smartphone gimana cara menghasilkan poin. Login pun tak bisa.


"Oh ya, di Akademi kan ada gedung pembagian tugas, macam guild gitu. Coba aku samperin mungkin aku bisa langsung dapat uang cash setelah menyelesaikan sebuah misi, di tabungin terus bisa beli smartphone baru," ide yang merujuk pada rencana untuk memiliki smartphone baru.


*


Bagian utara Akademi itu ada sebuah bangunan tiga lantai bercorak hijau. Tertulis di papan palang terbuat dari kayu Guild IU Academy. Siapa saja bisa memilih tugas misi untuk dapat menghasilkan poin kontribusi secara alternatif.


Untuk masuk ke dalam harus ngantri. Panjang sekali antriannya. Sean ngantre paling belakang. Saking panjangnya seperti membuat lekukan tubuh seekor ular.


Datanglah di waktu genting itu seorang wanita bereben hitam rambut silver, berjalan dengan gontai diikuti sama pelayan-pelayan yang membawa payung dan kipas untuk melindunginya dari terik sinar matahari dan gerahnya panas di siang hari weekend.


"Minggir bodoh!!" Salah satu pelayannya mendorong Sean hingga tergolek ke tanah.


"Kau tidak tahu siapa yang lewat ini ha!! Dia adalah Queen, kursi pertama di Akademi," caci pelayan itu.


Siapapun yang bertemu dengan pemimpin sepuluh kursi nggak ada yang berani berhadapan dengannya apalagi bertatap muka.


"Sampah, beri aku jalan." Mulut itu berbicara beri komando kepada semua yang lagi berada di posisi antrian yang sudah di pertahankan berjam-jam sama mereka.


Dengan hati berat mereka pun patuh, langsung minggir kasih jalan untuknya. Dengan congkak orang yang di panggil Queen ini melangkahi Sean yang terserok menatap dari bawah.


Berdiri, Sean dengan gundah menepuk-nepuk debu yang nempel di celana. "Dasar nenek sihir." Setelah menerima perlakuan buruk tadi ia sangat tidak terima. Sungguh enak yah kalo udah berkuasa seenaknya saja menginjak orang yang ada dibawahnya.


Setelah menunggu berjam-jam Sean akhirnya mendapatkan kupon misi. Apakah itu? Ia memilih tingkat kesulitan c yaitu menjaga koki nasi padang membeli bahan baku masakan ke pasar tradisional China, di kota.


"Ah, tak sabar nanti upahnya aku pilih makan sepuasnya aja deh," pikir Sean yang selalu terngiang selama perjalanan.


"Anak muda yang tampan terima kasih sudah mau menemani perjalananku, tolong angkat ini."


Kakek itu terlihat rapuh membopong barang bawaan, Sean pun langsung mengerti ia tanpa pikir panjang mengangkat hal yang memberatkan kakek itu.


"Te-terima kasih banyak nak."


"Sama-sama kakek, tak usah sungkan."


Mereka berdua menuruni anak tangga yang bakal mengarah ke jalan raya untuk bisa sampai menuju pasar. Maka di mulailah misi pertama Sean untuk menjaga keselamatan sang kakek koki selama perjalanan membeli bahan baku masakan.