Over Power

Over Power
Bungkam



Kelas Giok Biru adalah kelas yang di tempati Sean untuk belajar. Wali kelas sedang berceramah serta memberi sedikit masukan pada muridnya untuk kembali menata niat menjadi seorang agen UHP. Inilah yang di jadwalkan pada Wali Kelas setiap masuk kelas.


"Jaga amanah yang kalian emban. Jangan pernah khianat. Setiap manusia punya hak setara untuk hidup ...."


Tok tok.


"Masuk."


Pintu terbuka, seorang jenderal dengan jubah kulit hitam menatap sinis, para murid jadi merinding. Mendongak dari barat sampai ke timur kelas.


"Siapa anak yang bernama Sean?"


Sepintas kelas jadi bising dengan bisikan mereka.


"Hei bukankah itu Jenderal Xiao?"


"Kenapa dia mencari Sean?"


Seketika semua kebisingan berhenti saat Sean berdiri mewakili nama yang dipanggilnya. Memberi hormat pada guru lalu ia beranjak dari bangku untuk mengikuti Jendral keluar dari kelas.


"Saya bawa dulu anakmu sensei."


Tersenyum merendah Wali Kelas mengiyakan dengan berkata, "Silahkan."


Saat pintu kelas tertutup keadaan kembali menjadi normal seakan tidak terjadi apa-apa, Wali Kelas melanjutkan isi ceramah singkat yang terpotong.


"Paman apa sekarang kamu akan membawaku ke kediaman keluarga?"


Mendengar Sean berucap demikian Xiao Chen agak menundukkan pandangan. "Tidak kita akan ke bandara terlebih dahulu."


"Bandara? Emangnya ada apa ya?" Telunjuk kanannya Sean mengetuk lesung pipi.


Setelah Lamborghini dinaiki gas mengantarkan mereka berdua kepada apa itu namanya speed kecepatan, akselerasi dan keahlian seorang pengemudi bernama Xiao Chen.


"Paman jangan ngegas." Kedua tangan Sean berangkul takut ke ganggang mobil. Kembang kempis darah mengalir di jantung, sesak nafas, trauma dan lain-lain. Ekspresi Sean teraduk mual.


"Keluarga Xiao harus ahli dalam mengemudikan mobil, sini biar paman ajarin." Mengalihkan gigi mobil dengan ahli, tancap gas, lihai dalam membelokkan dan mengendalikan stir mobil.


Lamborghini meliuk-liuk di sepanjang jalan, kecepatan spidometer mencapai lebih dari seratus kilometer per jam.


"Hahahaha, kau rasakan itu nak, ini namanya bakat."


"Haaaaaa, jangan!! Cukup hentikan Paman, tak kuat lagi. Woiiii." Naik turun alis kayak Anpanman.


"Xixixixi." Xiao Chen tersenyum nakal malah menambahkan kecepatan, seekor kuda besi yang ada di depan mudah untuk di susul.


"Woiiii, Mamaaaaaa."


*


"Blok satu sudah di tempat."


Suara rekaman walky talky versi handset beraksi memberikan informasi cepat kepusat telekomunikasi IT, ini adalah ekspedisi revenge yang ditunggu-tunggu oleh agen UHP, hadiah untuk Black Demond.


"Siap, blok dua juga sudah ditempat."


Petugas pengawas IT dengan komputernya ia handal dalam mengendalikan keadaan dan suasana dalam waktu pas, sesuai dengan rencana yang telah dirancang oleh Jendral.


"Pasukan blok tiga sudah di tempat."


Laki-laki itu menatap komputer menggunakan kacamata seperti selalu tertanam di sana. Matanya jeli dalam memperhatikan setiap angka dan huruf yang dikendalikan jemari di keyboard komputer. Rambut kriwilnya yang khas lebih mengarahkan dirinya pada sosok jenius.


"OK."


Lamborghini menyelip parkir dengan rapi di samping sebuah truk pengantar es krim. Saat Jendral Xiao Chen keluar ia langsung membuka pintu truk itu. Sedangkan Sean keluar dari pintu mobil sibuk dengan muntahnya.


"Hai siapa itu!" Suara membentak dari dalam.


Cahaya masuk mengisi ruangan truk, maka kacamata orang itu lantas memantulkan sinar secara mendadak, ia tersenyum manis dengan sisa es krim di sekujur bibirnya.


Muka rewelnya langsung menciut takut. "Aigoo, ternyata Jendral yak, aku sangka siapa."


"Mantap ya, ide persembunyianmu hari ini Fei."


Fei pun langsung terkejut tawa bahagia. "Hei bukankah kau anak yang bisa buat malu adikku, kan. Astaga, aku sangat berterima kasih padamu, ngomong-ngomong siapa kamu sebenarnya dek?"


Jendral memotong pertanyaan dengan menjawab, "Dia keponakanku."


"O, perkenalkan namaku Wen Fei, kakak dari Wen Qing." Fei mengulurkan tangannya pada Sean harap bisa berteman dengan saling berjabat.


"Salam kenal, kak." Sean menjabat tangan yang diulur Fei.


"Sudah basa-basi ini. Fei kita langsung ke intinya," ucap Xiao Chen tak ingin membuang-buang waktu lebih lama.


"Baik Jendral," mengetik keyboard.


"Sean kesini sebentar lihat dua foto ini, apa kau mengenal mereka?" Fei memasang mode serius dengan berharap bisa mendapatkan informasi emas dari Sean.


"Tunggu, gambar sebelah kanan ini aku sangat mengenalnya. Dia adalah Anggota Black Demond yang menyerang Korea tidak lama ini." Sean terkejut, tidak ada aroma kebohongan dari ucapannya.


"Benarkah!! Kalau begitu yang satu lagi?" Fei memperbesar foto sebelah kiri.


"Aku tidak mengenalnya tapi logika bisa kita mainkan kak, jika dia ada bersama orang ini si pemegang samurai pastilah dia salah satu anggota Black Demond."


Sean menengadah ke arah sebuah layar kamera yang menangkap penampilkan dua orang itu, identitas misterius baru dibahas bersama Wen Fei. Terlihat dua orang itu sedang asyik berbincang di bangku tunggu bandara, hendak ingin meninggalkan Beijing.


Gregetan Sean berteriak. "Tunggu apa lagi, tangkap dua orang ini."


Fei agak ragu, ia menatap Sean dengan prasangka dan takut melakukan kesalahan, apakah ini adalah keputusan kekanakan?


"Fei laksanakan," sahut Xiao Chen ia percaya dengan apa yang dikatakan keponakannya.


Mendengar Jendral Xiao Chen menyetujui, ia terpaksa mengambil keputusan untuk menggerakkan pasukan gabungan, agar segera menangkap dua orang misterius yang duduk di bandara.


"Semua tim, target dikonfirmasi, tangkap dan bungkam mereka berdua."


"Siap laksanakan."


Bergencar dalam satu aba-aba yang diberikan Fei. Tiga tim penyerbu memulai ekspedisi dengan target yang telah terkunci di tengah kepungan mereka.


"Sieji, nampaknya kita sudah ketahuan." Steve tertawa Joker menyibak jaketnya. Maka yakinlah Fei kalo manusia bermata jahat seperti ini pastilah dari Black Demond.


Sieji berdiri dari tempat duduknya. "Tak kusangka kita bisa seperti ini ya, padahal dari tadi fikirku bakal berjalan dengan mulus." Sepasang pedang samurai tiba-tiba muncul di tangannya.


Pertarungan di dalam bandara akan terjadi, seluruh pengunjung dievakuasi oleh para petugas keamanan, mereka berlarian tinggalkan bandara secepatnya. Bandara Beijing pun kini telah lock down.


"Tembak!"


Para agen UHP yang telah dilengkapi dengan fasilitas militer maju menyerang bertubi-tubi, ratusan peluru dan tembakan laser mengarah langsung ke arah mereka berdua.


WUNG.


Barier tameng aneh muncul memblokir semua peluru, laser pun tak sanggup menembus. "Sieji lakukan selagi bisa." Keringat Steve bercucuran.


"Kau meremehkanku ya, aku adalah jiwa samurai legenda." Sieji menatap sinis semua agen UHP yang telah dianggapnya musuh.


Melompat keluar dari barier Sieji mengayunkan dua samurai secara bersamaan, bergerak jatuh berjungir balik seperti setiap ayunan dan gerakannya itu bagaikan secepat kecepatan suara, menerobos barisan agen.


"Semuanya kan berakhir di setiap sentuhan samuraiku."


Saat kedua samurai itu disarungkan Sieji, lantas seluruh kepala agen yang ada di sana yang datang menghadang dua orang itu untuk ditangkapnya, terpotong bak terpangkas dalam hitungan sepersekian detik.


"Oh, no." Fei terkaget muntah tak kuat melihat kekejaman seperti itu.


Sean menatap layar komputer dengan kemarahan, ia membuat kepalan tinju.


"Orang itu selalu membuatku naik darah." Sean sudah punya dendam sejak pertemuan pertama di Busan.


Mata Sieji menatap ke arah kamera cctv, mata seorang yang sedang menantang.


"Siapa lagi." Senyum sinis seorang samurai pembantai.


To be continued