
Rantai mengekang leher seperti anjing, darahnya mulai bercucuran setiap pukulan orang-orang tersebut melesat ke badannya, yang paling parah ketika tongkat besi itu melayang ke kepala.
TUNG! Bonyok wajah di buatnya.
Kedua tangan terborgol oleh borgol yang dapat menyegel kekuatannya, skill, dan Qi. Serta menghambat diri untuk memulihkan diri.
" ... " Diam dan kaku, lemas mata tak sanggup lagi untuk terbuka.
"Sudah, besok kita bakal mampir lagi, jadi stay on selalu ya di sini. Cimutku." Bui memainkan tongkat besi di tangannya.
Ujung dari rantai besi itu tertancap di dinding, tidak membiarkan Sean leluasa bergerak di dalam ruangan kumuh itu.
TRING. Tubuhnya jatuh sehingga rantai lehernya merenggang, tubuh jadi tertahan tidak jadi menyentuh tanah.
BUK! Sebuah tendangan menghantam perut, tubuhnya tercampak duduk di dinding secara langsung dan spontan pingsan.
"Beres, jadi cimut yang baik ya." Orang itu berucap mengeluarkan liur dari lidahnya.
"Boy, hidupkan mesin pendingin ruangan, biar makin hancur bocah ini," ujar orang itu kepada kawannya.
"Males aku, kalo mati dia gimana? Kamu mau tanggung jawab," ucap Bui lepas tangan soal itu.
Jumlah bawahan Fei Zen yang di ruangan ini mungkin sepuluh lebih, mereka sudah puas menyiksa tubuh Sean dengan aksi keroyokan masal selama satu jam.
"Ayo semua kita pergi." Bui duluan meninggalkan ruangan itu.
"Gilo kamu hidupkan mesin pendingin ruangan itu ya," sahut pria bermasker hitam.
" ... " Mengedipkan mata.
Cengengesan pria berwajah buruk itu dengan liur yang menetes memainkan tombol temperatur pendingin ruangan, sambil ketawa sendiri kayak orang gila. Hingga tak sengaja dicopotin jadi rusak.
"Hihihehehe."
Melihat kawannya sudah pada pergi ia pun berlari ikut pergi dari ruangan itu, menutup pintu besi dengan raut wajah bolotnya. "Hihihi," nada suara orang gila.
5 jam kemudian.
"Ak, akh." Butuh perjuangan untuk membuka mata.
Masih belum, aku harus tetap bertahan, semoga di luar sana ada orang yang percaya denganku.
Hawa dingin mulai menusuk tulang, entah berapa temperatur yang di pasang wajah gila tadi, begitu cepat hawa dingin yang di keluarkan mesin menyebar cepat ke seluruh ruangan.
Tubuhnya seakan tidak berdaya, tapi jiwanya masih tetap berjuang mempertahankan nyawa agar tetap di kandung badan.
"Keluar aku dari sini, aku tidak akan lagi merendah diri untuk menundukkan ******** itu," gumam Sean mode marah.
"Berrrrrrrrrr," spontan tubuhnya bergetar karena hawa dingin teramat pedih.
"Se-semoga saja aku bisa keluar, aku tidak ingin mati di sini, dendam ku masih belum bisa ku balas ...."
Matanya menutup pingsan, tapi masih dalam keadaan bernafas.
*Keesokannya
Di ruangan tersuruk tempat para pemegang kursi Kaisar Akademi IU tengah berkumpul untuk membahas beberapa hal kecuali Xin yu yang selalu tidak pernah hadir.
"Haisss aku kasihan dengan nasib anak itu, kenapa kamu tega Fei Zen? Apa karena kamu cemburu ya, sampai segitunya, menurutku kamu tidak pantas disebut sebagai Raja Akademi IU," celoteh suara gadis menyindir Fei Zen.
"Tutup mulutmu Siska, ini masalah ku sendiri, kalau dapat dia mati saja, sesuai dengan kata Queen ... tikus itu harus di singkirkan secepatnya dari sini, benarkan Queen?" Fei Zen menatap ke arah Wen Qing yang dingin, duduk di tempat tertinggi raut wajahnya elok dan bermartabat.
"Terserah lu saja, itu bukan urusan ku lagi, mau keluar kek atau apalah si gebetan Xin yu itu aku tidak peduli." Queen mengabaikan Fei Zen, sekarang pikirannya tertuju pada sosok pria yang menyelamatkan hidupnya.
"Aku sekarang lagi mencari seorang pria," ucapnya dengan mata berbinar keceplosan.
"Haaaaaa!!!! Queen lagi jatuh cinta!!!" Tempat misterius itu langsung berguncang.
Untuk pertama kalinya Queen memasang wajah malu.
"Hei, hei, seperti apa sih cowok idaman mu itu?" penasaran gadis itu bertanya. "Kalau tau aku identitasnya bakal aku rebut darimu, haha," gumamnya.
"Dia sangat tampan, tinggi, baik, dan ... bla, bla, bla," Queen antusias bercerita bagaimana dirinya ketemu dengan orang itu.
"Yang paling penting aku jatuh cinta saat melihat punggungnya pada pandangan pertamaku," raut wajah Queen begitu mempesona saat tersenyum tidak seperti biasanya.
"Wah Queen akhirnya jatuh cinta sama seseorang nih, penasaran aku siapa ya yang bisa menaklukkan hati ratu kami??" ucap Fei Zen sok bersikap baik.
"Masalahnya aku juga tidak tahu dia itu siapa," sedih nada Queen yang masih mencari dimana cintanya itu berada, mungkin rapat sebelumnya dia tidak hadir karena sibuk mencari.
"Aku bisa bantu kalau sempat," ujar El si bocil yang genius.
"Benarkah makasyi ya, El, kamu kan hebat soal IT seperti kakakku," Queen masih dalam mode ramah.
"Aneh aku melihat Queen, bisa bersikap seperti itu," bisik Arata kursi kesembilan pengganti kakak iparnya Long Jai kepada Fei Zen.
"Ngomong-ngomong, Fei Zen, aku ingin melihat bagaimana hasil keputusan rapat kemarin, sehingga buat geger Akademi, kamu dalangnya kan." Wen Qing menatap serius.
"Iya Queen, aku yang merancang ini semua, bagaimana keren kan, bahkan sampai-sampai aku nyamar jadi fotografer memotret beberapa foto romantis mereka berdua untuk di sebarkan," sombongnya Fei Zen berkata, ia melempar sebuah foto ke meja bundar itu tepat di depan Wen Qing.
"Eeeleh, gitu doang kamu bangga, kemarin saja aku buka stadion sepakbola hasil kerja keras bisnis ku sendiri biasa aja tuh." Xiao Ge kursi kedelapan menimpali kesombongan Fei Zen.
Wen Qing pun mengambil foto yang ada di depan mata untuk dilihatnya. Saat mendapati kalau pria idamannya yang ada di foto itu ....
WOSS!!! Aura mengintimidasi dari Wen Qing membuat semua yang ada di sana merinding seketika.
"Kyaaa, ha, ha, ha," sesak nafas orang-orang.
Raut wajahnya berubah jadi dingin seperti es, menatap Fei Zen dengan kebencian.
"E, emangnya ada apa Queen," takut Fei Zen ketika berhadapan dengan Wen Qing yang murka.
"Jawab aku!"
"Seperti yang kita bahas tadi," keselip bibir Fei Zen hanya untuk mengatakan sepatah kata itu.
"Queen ini domuken semua aksi Fei Zen." El yang setia kepada Queen melempar beberapa lembar kertas yang telah di rangkum ke dalam sebuah map berwarna hijau.
Wen Qing pun membaca dengan seksama.
"Sudah, pertemuan hari ini sampai sini saja." Queen pun keluar dari ruangan itu dengan dingin, tidak menoleh sedikitpun sambil membawa dokumen aksi Fei Zen yang sudah di salin.
"Ada apa dengan Queen?" Xiao Ge manatap ke arah Arata, yang lalu kemudian di jawab dengan bahu naik ke atas.
"Entahlah."
*
"Hei, bagaimana sih, kenapa kakak Sean bisa di tangkap? Apa benar dia mencuri dompet Mei?" Kanmu gelisah berputar di ruang tamu Asrama.
"Aku percaya kak Sean nggak mungkin melakukan hal keji seperti itu, dia pasti kena jebak."
Oval berbicara soal keyakinannya yang selalu dia pertahankan sejak berita tentang Sean disiarkan di televisi swasta IU yang sudah bersifat nasional.
"Iya, nggak mungkin kak Sean mencuri walaupun emang sih dia yang paling tidak beruang di antara kita." Boby ikut nimbrung di dalam percakapan itu.
"Kalian tahu, dia tidak punya uang kenapa?"
(Geleng-geleng)
"Itu karena dia tidak punya smartphone untuk mengakses sistem." Zack buka-bukaan masalah yang di hadapi Sean kepada para junior.
"Haisssss," desah rasa bersalah.
"Dia menyembunyikan hal ini karena tidak ingin menyusahkan kita."
"Ngomong-ngomong aku dan Zack sudah menabung untuk membelikan dia hp baru, tapi malam itu ..." Yoona datang-datang nimbrung menceritakan kabar tentang Sean pulang membawa smartphone baru.
*Di malam itu.
"Yiiiihaaa, akhirnya aku bisa beli banyak makanan mulai sekarang!!!" Sean penuh dengan gembira muncul di Asrama, menari dan berjoget, berhenti saat dirinya sadar di tatap Zack dan Yoona.
"Akh, hehehehe, hei Zack Yoona."
"Nggak apa-apa, lanjut-lanjut," ujar Zack kepada sahabatnya, di balik bantal dekat dia duduk bersama Yoona ada sebuah kotak.
"Tau nggak kalian, siapa yang ngasih hp ini." Sean menggambarkan hal itu penuh dengan kegembiraan.
"Kamu dikasih hp oleh orang lain!!" histeris Zack nggak percaya kalau ada orang lain yang dekat dengannya selain yang hidup di Asrama lusuh ini.
"Siapa?" tanya Yoona penuh dengan rasa penasaran.
"Dia adalah putri tercantik lho di Akademi ini, Xin yu."
"Oooo, ya udah kalau begitu."
*Kembali ke waktu ini
"Jadi begitu ceritanya, dia dikasih hp duluan sama nona Xin yu sebelum kami," ujar Yoona menyelesaikan ceritanya.
"Menurut ku ini semua adalah perbuatannya seorang pria pengecut lawan dari pria sejati, pria pengecut yang di curi cintanya, pria pengecut yang terlalu cemburu sehingga putusasa lah yang membuatnya tega melakukan semua ini." Ester versi pria sejati berpetuah.
"Maksudmu?"
"Pasti ada yang menjebak kak Sean karena cemburu, mengkambing hitamkan dompet adiknya nona Xin yu, supaya langsung menjurus kepada putus cinta." Boby menjelaskan ucapan Ester barusan.
"Benar masuk akal sekali, tapi siapa orangnya?" Kanmu sedang menduga-duga.
"Tidak itu yang perlu kita khawatir kan saat ini, yang perlu kita khawatir kan adalah keadaan kak Sean sekarang!!" Oval angkat bicara untuk mengingatkan kawan semua.
"Benar, bagaimana kita menyelamatkan kak Sean?"
Suasana mendadak serius.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa hari ini karena Sean sudah dikirim ke penghakiman berdarah, mari kita doa'kan yang terbaik untuknya." Belum ngapain Boby udah nyerah.
"Dasar, hoi. Kok kayak gitu sih kamu Bob ..." Kanmu sangat marah, ia merangkul kerah baju Boby sambil mengambil posisi ingin meninju.
"Hei-hei, sabar Kanmu, tenang!"
Serentak Ester dan Oval menahan kawannya yang marah itu supaya jangan sampai berkelahi.
Gubrak!! Suara itu mengagetkan mereka semua. WOSS! Sosok wanita hadir dengan pintu Asrama tua itu terbuka dengan sendirinya.
"Memang kalian tidak bisa berbuat apa-apa."
Setiap mata warga Asrama tertuju padanya dengan tatapan tidak berkedip sama sekali.
Apakah orang itu datang membawa kebenaran? Tiba-tiba muncul gegerkan warga Asrama tua nan terasingkan, semoga mimpi buruk yang disebabkan fitnah ini segera berakhir.
Kini Sean berada pada posisi yang sangat kritis, dengan diri yang tidak dapat pulih sendiri akibat borgol aneh, nada nafasnya mulai tidak beraturan akibat kedinginan.
"Ayah, Ibu, maafkan Sean," kata hati penuh dengan penyesalan, sebutir air mata yang meleleh langsung membeku sepersekian detik di pipi pucat nya.
Menuju dua jam sakaratul maut menjemput.