Over Power

Over Power
Sean VS Alex



Sean berlari di trotoar jalan raya Busan, mengfokuskan telinga untuk mendengar adakah seseorang yang butuh akan bantuan, Glutotian tinggi tiga meter menghadang nyari gara-gara, Sean nyante sekali pukul tumbangkan Glutotian sial itu.


"Tolong-tolong," suara nenek-nenek sampai ke pendengaran Sean yang sudah di upgrade jadi lima kali lipat pendengaran manusia normal.


Zik zak langkah Sean balik arah ancangan lompat cepat menuju suara minta tolong tadi, dalam hatinya punya unek semoga nenek ini baik-baik saja. Tembus seberang gang komplek perumahan itu, Sean menemukan sosok wanita tua kehilangan tangan akan ditusuk perutnya oleh seekor Glutotian muda tinggi lima meter. Mengerang kesakitan penderitaan nenek tersampaikan pada Sean.


"Gah." Mata Sean terbelalak penuh Ghodob menggebu-gebu urat di leher sampai kepala Sean muncul dengan jelas, amarah puncak tidak tahan melihat sosok nenek tersiksa seperti itu. Wusssh, tiba-tiba gerakannya jadi makin cepat dan kuat, retakan pijakan membekas di aspal jalan.


"AAAAAGGGGH, bren*gsek kau." Tepat waktu pukul remukkan badan tinggi lima meter ketiting hancur seketika selamat kan nyawa nenek. SMASH. Lenyap tidak bersisa.


"Nenek apa kamu baik-baik saja," cemas Sean melihat sebelah lengan nenek itu hilang. Sean buru-buru merobek kain celana panjang yang ia kenakan, sekarang Sean seperti gelandangan tak berbaju hanya celana pendek koyak.


"Tidak payah cu, Nenek sangat berterima kasih banyak padamu sudah mau bantu Nenek," ujar sang Nenek berada di ujung ajalnya, penyebab ia sakaratul maut adalah luka kehilangan lengan itu sudah terlalu banyak mengeluarkan darah. Bagi manusia yang sudah berumur pasti tidak akan sanggup lagi bertahan hidup.


Sean menghiraukan, ia masih memaksa mengikat kain yang sudah di sobeknya pada luka itu untuk menyumbalkan darah yang keluar. Air mata Sean sedikit keluar tak kuat melihat rupa nenek yang mengerang kesakitan.


"Sudah cu, malaikat Izrail sudah di depan mata Nenek," ucap nenek memberi tahu Sean untuk segera berhenti dari melakukan pekerjaannya yang sia-sia. Susah nafas ia untuk mengucapkan hal itu.


"Sini berikan tanganmu pada nenek," pinta sang Nenek menjulurkan tangan keriputnya pada Sean. Sean pun meletakkan tangannya pada genggaman lemah sang Nenek.


Termenung keheranan, Sean bingung dengan apa yang sedang dilakukan Nenek ini. Ia menatap wajah nenek itu seperti ia sedang mencoba membaca sesuatu. Akhirnya Nenek itu angkat bicara dengan berkata; "Cu, Aku sangat bersyukur bertemu denganmu di akhir hidupku karena kamu adalah ....." hembusan Nafas terakhir nenek itu jadikan Sean tidak mengerti perkataan Nenek yang tidak lengkap.


"Nek, nenek?" Sean mengusap wajah Nenek itu menurunkan kulit mata yang terbengkalai karena ia sudah berpulang.


"Aku sangat menyesal datang terlambat," hujat Sean pada dirinya sendiri. Ia merasa sangat bersalah karena sudah telat untuk menolong sang Nenek. Jika aku lebih cepat, jika lebih cepat sampai mungkin Nenek tidak akan meninggal dunia seperti itu itulah pikirannya yang lagi berpening di benak.


PROK! PROK! PROK!


"Sean, Sean Kaciaaaan. Eh rupanya sekarang kau makin ganteng saja nampaknya ya, iri aku, gimana kabar Lisa?"


Gendang telinga Sean melebam ulah suara tak asing ini, Orang yang memuncratkan suara itu makin handal dalam memainkan logat antagonisnya. Bikin tak enak suasana setiap kali muncul.


"Oh ... Alex, tampang kau makin buruk rupa setelah sekian lama kita tidak berjumpa." Sean sindir Alex yang memang kayak setan fashion nya hari ini. Pake jubah hitam, mata merah ada aura kegelapan yang memancar apa lagi yang kurang. Oh ya, tanduk dan tombak garpu yang belum ada sama penampilannya untuk sekarang ini.


"Baji*ngan kamu Sean, beraninya katain makhluk perkasa ini, kau hanya bagaikan secuil beras bagiku. Tinggal sentil kayak semut k.o kau." Sombong Alex berlagak di atas tembok yang sedang ia duduki.


"Wauu apa benar tuh, etta bang." Sean melipat tangan di dada.


"Kayak gitu lagi kau, bakal aku ***** si Lisa sampai aku puas, mam*pus lo cuman dapat bekas," kotornya lidah si etta bang ini bikin Sean jadi geram setelah mendengar kata di bagian bakal aku ***** si Lisa. Hingga disaat kedua mata mereka saling tatap dengan tajam.


Reuni rival musuh abadi ini memuncak.


DEZING!


Beradu sikut di tengah titik temu, mereka berdua saling mengerahkan kekuatan terbaik. Cahaya Violet yang di pancarkan Sean berperang dengan aura kegelapan Alex. Jadikan malam ini begitu mencekam.


Meluncurkan tinju bertubi-tubi secara bersamaan dalam kecepatan yang sama. Allmight sekitar mereka menerima dampak rusak begitu sangat parah. Tiap satu pukulan yang diadu jotos bertemu, retak tanah semakin meluas akibat dari tekanan serangan mereka berdua bersatu padu.


BRUK! BRUK! BRUK!


Sean pasang wajah tajam yang gagah sedangkan Alex pasang wajah mata kesenangan menikmati pertarungannya dengan Sean. Alex merasa lebih kuat dari Sean ia pun pasang mantra sihir hitam yang di turunkan leluhurnya.


"Despacito, kekekeke."


Wung! ruang sihir hitam Alex menyebar menargetkan Sean.


Gerakan Sean tiba-tiba jadi super slowly, menyungkil taik hidung Alex berpose untuk sekian detik terlebih dahulu berlagak seperti Flash. Ia menunggu tinju Sean yang perlahan mendekat dalam gerak lambat siput, sungguh raut wajah Alex kini benar-benar bahagia.


A few moments leter


Alex tiduran sambil menyeka air liur karena ngantuk, tinju Sean tak kunjung bergerak lebih cepat untuk sampai padanya. "Whoaaam."


"Cih lambat banget, bosan aku nungguin, nih rasain kelezatan tampolan gua."


BEM, wajah Sean di tampar sampe terjungkal ke tanah dengan kuat, BUM! Menendang perut Sean yang tergeletak di tanah 'kehek' darah keluar dari mulut. BAM! Saltoin kepala Sean yang mengawang di udara dalam keadaan berhenti. Bukan kelang-kaleng juga mantra sihir leluhur keluarga Young.


Akhirnya efek mantra habis, Sean kerunsup di dalam dinding beton rumah milik warga sekitar yang lagi ngungsi. Sean tak kuat berdiri di tengah purukan dinding itu. Darahnya deras meluncur di kepala faktor utama akibat di saltoin sama Alex.


"Berkembang teruslah berkembang, kekuatan ini sangat cepat berkembang seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit. Semakin kau tersakiti semakin kebal dan kuat tubuhmu dari serangan dan luka. Sekarang kau sudah pantas untuk membuka Gerbang pertama." Suara dalam jiwa Sean.


Berjalan dengan gontai, Alex mendekati Sean yang lagi terkapar dalam pingsan, jongkok di dekat Sean kemudian menjambak kepalanya. Alex mendekatkan bibir ke dekat telinga Sean.


Kemudian ia berkata, "Bakal gua ***** si Lisa," bisik pelan nada Alex penuh nafsu birahi menyerbu lubang telinga Sean.


KRUG!


Tangan Sean balas jambakan Alex lebih kuat dan dahsyat, kaget terkejut terheran-heran Alex melihat Sean begitu punya aura lebih mengintimidasi, orang selevel dia jadi kepincut. "Ke-kenap- kau cepat sekali bertamba-k kuat!" Alex gregetan melihat rupa Sean yang benar-benar beda.


Matanya tajam bagai sebilah pedang semuanya bercahaya keluarkan aura mematikan. Energi kekuatan Sean menjadi gelombang listrik yang menyengat selubungi sekujur badan. Inilah bentuk mode Over Power gerbang pertama.


Sean yang sudah lebih kuat dari Alex berdiri sambil mengangkat tubuh Alex dalam jambakan mematikan buat Alex seperti kena stun tidak bisa berbuat apa-apa.


Berganti dari jambakan rambut menjadi cekikan di leher Alex tak berkutik.


"Despacito ...," Alex yang ketakutan kini tengah Terenggang leher di cekik Sean keluarkan mantra pelambat waktu target. Sehingga kini Sean terdiam kaku. "Haha eazy lawan orang tidak bisa sihir." Alex meremehkan.


"Cencel," ucap seseorang yang datang begitu saja di tengah duel antara Alex dan Sean. Jadikan mantra Alex gagal di aktifkan.


BEEEM!


Menghantam wajah Alex ke tanah, remukkan tengkorak dan leher Alex. Si Alex hancur langsung pingsan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Matanya nanar memutih tidak sadarkan diri. Sesuatu pecah yakninya kalung liontin yang tergantung di leher Alex.


Ternyata itu benda relik yang kalau hancur memindahkan pemiliknya ke suatu tempat.


"Wuzzz." Alex menghilang dalam keadaan pingsan.


°°°°


Nampak lah Oval yang di gendong Ester versi pria sejati tersenyum pada Sean. Rupanya dia lah orang yang telah mengagalkan mantra sihir hitam Alex. Bocil cabe rawit yang selalu bisa diandalkan walaupun sifatnya ogah-ogahan jika melihat sesuatu tak menarik baginya.


Di susul Kanmu dan Boby berlari hadir menghampiri Sean. Kanmu yang melihat mode Over Power gerbang pertama begitu sangat kagum. Matanya berbinar terang di hiasi bintang, begitu juga Boby dia ikut-ikutan.


"Keren!!!" (serentak mereka berdua)


Sean yang menurunkan keamanannya kembali berubah menjadi bentuk normal. Maka kau dapat melihat begitu sexy-nya tubuh otot Sean yang hanya peke celana pendek compang.


"Inilah maha karya tubuh nan indah," ucap Ester penuh penghayatan versi pria sejati.


"Kakak baik-baik saja?" Oval Menanyakan keadaan Sean.


Sok dingin atau apakah kepribadian Sean ikut-ikutan berubah menjadi pria keren tidak cengengesan seperti biasa. Ia menjawab Oval dengan wajah dingin bagaikan pangeran es. "Aku baik-baik saja, tolong ambilkan aku baju ganti."


Oval yang mendengar permintaan Sean pun membuka lobang teleportasi cukup untuk seukuran tangannya bisa masuk. Ia seperti garap-garap sesuatu yang ada di dalam. Nyatanya itu dimensi terhubung ke lemari pakaian Sean. Mengeluarkan satu stel pakaian ganti, Ester yang gendong Oval pun mendekat untuk menyerahkannya.


"Thank you," wajah cool.


"Bob, kak Sean keren banget aku jadi iri," bisik Kanmu ke telinga Boby.


"Kalau aku iri ama badannya, sixpack nggak sama kayak gua bergelambir." Balas bisik Boby.


Walau mendengar percakapan itu Sean tetap dingin fokus mengenakan pakaian. Tidak di ragukan lagi kepribadian Sean kini sudah tidak seperti dulu. Stay cool every time kayaknya.


Di alam yang berbeda


"... sungguh aku beruntung diakhir hidupku di dunia bertemu dengan sosok manusia yang sudah diramalkan ..........


To be continued


___________________________


Alex Young