Over Power

Over Power
Who is smart?



Aku harus bangkit sehingga kepergian mereka punya arti, kepingan darah itu tidak akan terpecahkan walau aku berdiam hingga mati, yang perlu ku lakukan hari ini adalah aksi.


°°°


Bendera berkibar di bawah terik yang mulai bersinar terang, udara pagi yang lembab mulai beralih menjadi hangat, kemeja putih berdasi hitam diselimuti jas biru menutupi halaman High School Art Seoul.


" ... Ujian awal tahun diresmikan para murid harap memasuki kelas masing-masing," sahut Ibu sekretaris mewakili kepala sekolah melalui mikrofon dengan pengeras suara yang terpasang di sekeliling halaman apel pagi.


Para siswa rata-rata berada pada hati suasana yang serius, menghadapi ujian yang akan menentukan hasil akademik nanti. Hasil akademik yang tinggi juga akan menentukan ke kuliah mana yang bisa mereka masuki, apakah itu populer? Atau standar. Lowongan pekerjaan yang terjamin pastilah menerima pelamar berskil dengan status alumni universitas yang bergengsi.


"Sean kamu pasti bisa mendapatkan nilai bagus, fighting!" Lisa memberi semangat pada Sean yang lagi terduduk di kursinya, menyakinkan bahwa dia bisa mendapatkan nilai sempurna tanpa cacat.


"Lisa, seperti biasa kamu pasti mendapatkan ranking pertama, semangat," balas dukung Sean pada Lisa yang duduk bersebelahan dari bangkunya.


"Zuuuub." Suara pintu geser terbuka cepat. Seorang guru mendatangi peserta ujian dari kelas 3A sambil menggenggam lembaran soal ujian yang tebal.


"Aduh habis sudah aku, kemarin begadang push rank, mana tau ujian Sains lagi," bisik Hyuning kepada Sean.


"Hadeh, isi otakmu game mulu ... " sindir Sean menanggapi bisikan Hyuning.


Sang guru pun membagikan soal-soal kesepanjang bangku yang di duduki siswa. Sambil memasang muka manis. Seketika saat bell ujian di mulai mukanya langsung berubah jadi garang, tajam melihat gerak-gerik peserta ujian.


Sean pun mulai serius memperhatikan soal dengan seksama. "*****, mudah banget kok nggak seperti ini aja dari dulu," senyum licinnya meluncur mengisi kertas ujian dengan lancar.


"Waduh, Sean kayaknya pinter deh, cepet banget nulisnya," gumam Hyuning memperhatikan Sean yang duduk didepan.


"Oooo, dia pasti ngasal isi." lanjut Hyuning berprasangka.


Setengah jam kemudian


"Bu aku finish," ujar Sean melambaikan kertas.


"Yang merasa yakin seperti Sean letakkan kertas jawaban di mejaku," instruksi guru pada semua siswa yang merasa selesai mengisi.


Sean pun maju meletakkan kertas jawabannya di atas meja, kemudian meninggalkan kelas bersiap pada kesempatan ujian kedua.


Kantin sekolah


"Hei bro, bagaimana ujiannya?" Hyuning menghampiri Sean sedang mengemil di pojokan.


"Tenang, eazy semua," cakap Sean dengan pupil mata meremehkan.


"Eh, yang bener, udah minum obat belum?" sindir Hyuning merendahkan.


"Ok, kita taruhan bagaimana?" tantang Sean.


"Ayok, siapa takut?" balas nantang. "Aku bakal nentuin, kalo kamu dapet nilai 90 aku traktir makan di restoran bintang lima."


"Jangan nyesel," ucap Sean memperingatkan.


"Huh, palingan nilaimu di bawah standar." Hyuning menutup pembicaraan dan pergi begitu saja.


Selang beberapa menit waktu istirahat habis dan dilanjutkan ujian kedua, bell berseru pada seluruh siswa agar kembali menghadiri kelas.


Sean berada pada keseriusan menyelesaikan soal ujian berikutnya yaitu Matematika, seluruh kinerja tiga kali lipat kemampuan otaknya dikerahkan untuk bisa menuntaskan dari soal satu ke soal berikutnya.


A few moments leter


"Kriiiiiiing." Bel berbunyi para murid yang selesai tidak selesai harus mengumpulkan kertas ujian, kemudian keluar dari kelas untuk pulang mempersiapkan diri pada jadwal hari kedua besok.


"Hai Lisa ..." Sean sepertinya menyamperin Lisa yang sedang berjalan duluan di lorong bersama Yuri.


"Ayo sama-sama keluar," ajak Lisa memulai langkah mereka.


"Oiiiik ... jangan tinggalkan aku, Sean." Hyuning tampak berlari terengah-engah di belakang menyusul mereka bertiga.


Hyuning langsung berdiri di sebelah Yuri, tampaknya wajah Yuri yang biasanya ceria kini berubah seperti rasanya buah belimbing.


"Ngapain dekat-dekat kesini, suh pergi sana," usir Yuri dengan tatapan tidak suka.


"Jahat amat nenek sihir, santai dong aku nggak bakal ngigit kok," canda Hyuning memancing emosi Yuri, yah seperti itulah mereka berdua kalau bertemu, bagaikan air dan api.


"Pergi sana!" mencubit daging pinggang Hyuning.


Hyuning tidak tahan langsung pindah ke sebelah Sean, meminta perlindungan dari cubitan nenek sihir. "Aduh sakit banget tau."


"Hei pasangan itu serasi dong, jangan bertengkar terus," sanggah Lisa di tengah pertengkaran.


"Siapa yang pasangan ogah!" (serentak)


"Tuh kan, ngomong aja serentak. Gimana orang nggak bilang pasangan coba," goda Sean memanas-manasi suasana.


"Pasangan itu seperti kami." Lisa merangkul lengan Sean dengan maksud mengejek mereka berdua.


Hyuning dan Yuri tertegun melihat punggung mereka berdua yang begitu harmonis, ciri-ciri bakal nikah, sekejap saat tatapan Yuri dan Hyuning bertemu.


 


\*


 


Sean tampak termenung di atas ranjangnya memegang surat undangan pemberian Jin, jelas terlihat dari logonya yaitu elang emas.


Ia pun merobek amplopnya dan membaca isi kertas itu dengan serius, "Ah tanggalnya sehari setelah ujian sekolah, pengertian banget itukan hari Minggu." Sean terduduk. "Aku harus segera menagih utang dulu pada Bu kepsek gratis uang bulanan yihaa, Bu kepsek lihat saja nanti. Zehehehehe." Wajah Sean berubah menjadi picik, kembali menggetarkan malam mengganggu ketenangan burung hantu yang sedang bertengger di pohon sebelah sampai menutup telinga.


Seminggu Kemudian


Kemarin adalah hari terakhir ujian diadakan, dan kini pengumuman dipamerkan tertempel di mading sekolah yang besar mengisi satu tembok, dengan seluruh nama siswa dan nilainya.


Para murid berkerumun menutupi jalan untuk melihat nilai mereka, berdesak-desakan kayak membagi sembako, tanpa pikir dengan baju mereka yang bakal kusut.


"Sean harap menghadap ke ruang kepala sekolah." Suara toa yang terpancang di tonggak peringatan.


"Nggak sabar lihat wajah Bu kepsek seperti apa, ya," tawa Sean dari dalam hati.


Sekali lagi, pintu besar itu menyesakkan dada, teringat ingatan masa itu yang membuat jantung jadi trauma berat, tangan Sean bergetar hanya untuk memutar ganggang pintu.


Klak.


Tiga murid sudah berdiri kaku di hadapan Bu kepsek, menghadiri pikiran Sean dengan pertanyaan dan kesal juga, "Cih kapan aku bisa liat wajah Bu kepsek bebas dari berkerut."


"Cepat!!!" gertak Bu kepsek memukul meja.


"Okeh." Sean berlari masuk kedalam barisan yang penuh dengan hawa ketakutan terpaku menatap lantai. Suasana dari canggung jadi makin canggung.


"Tau gak kenapa Gua manggil klen semua kesini?" tanya suara Bu kepsek khas mayornya yang melegenda.


(Geleng kepala)


"Makanya nanya!!" Memukul meja sekali lagi dengan geraman yang jauh lebih bengkak.


"Emangnya kenapa Bu?" tanya seorang anak berbadan gendut.


"Beberapa saat lagi sekolah kita akan mengikuti perlombaan Sains Akademik cerdas cermat melawan sekolah unggulan lainnya dari berbagai daerah dari luar Seoul. Paham?" jelas sang Bu kepsek dengan padat, singkat dan jelas.


(Menganggukkan kepala)


"Kleen semua harus juara, kalau malas belajar dan tak dapat juara"-menggosok pena ke leher-" 'krek' Aku habisi klen semua."


(Menganggukkan kepala)


"Permisi," ucap suara manis masuk kedalam ruangan.


"Masuk ... eh Lisa sini masuk, ada apa?" Bu kepsek langsung berubah secara drastis semuanya, dari gestur, mimik dan kerutan dahi. Jelas sekali pilih kasih sama Lisa. Bagaimana tidak Lisa adalah seorang artis naik daun dan mascot sekolah saat ini, walau padat mengisi jadwal syuting ia tetap mendapatkan juara umum di setiap kelas.


"Bu aku izin cuty seminggu buat syuting, ini surat izinnya." Lisa menyerahkan sepotong surat yang terlipat rapi itu ke tangan Bu kepsek.


"Hehehe, siap nih udah aku stempel," ucap Bu kepsek dengan lembut.


"Terima kasih Bu." Lisa berbalik pergi dan menutup pintu itu kembali, lihat gaya murid itu pada. Semua seperti kehilangan harapan.


"Oi ... kemana klen semua melihat!!" Bu kepsek kembali menjadi garang seperti biasa.


Semuanya kembali terpaku menatap lantai, seperti anak kucing yang di pukul palu. Suasana makin mencekam.


"Bubar!!!"


Akhirnya penderitaan berakhir, dengan hati riang dan bersemangat mereka melangkah pergi dari pintu neraka ini, good bye Bu Kepsek semoga panjang umur dan penderitaan ini tidak berakhir untuk kami saja.


"Sean, sesuai janji kamu dibebaskan dari uang bulanan karena alasan sebagai siswa berprestasi," ucap Bu kepsek menghantar kepergian Sean yang berjalan pada baris paling belakang.


"Thank you Bu," hormat Sean di depan pintu sebelum meninggalkan tempat itu.


"Sudah pergilah ke kelas sana," lambai tangan Bu kepsek menyuruh Sean pergi.


Bu Kepsek masih keheranan dangen hasil tes Sean, Apakah ini yang dikerjakan oleh seorang jenius sejati? Hasil ujian Sean mendapatkan nilai 90 disetiap mata pelajaran.


"Hahaha, sepertinya sekolahku yang menjuarai perlombaan mendatang."


°°°


Sean berjalan di tepi sekolah sembari melihat kepergian Lisa ke tempat syutingnya dari kejauhan. Matanya terkena musibah, Lisa di jemput oleh pria tampan yang tidak ia kenal, itu tidak salah lagi adalah salah satu top artis muda yang menjuarai perfileman.


Sesak di dada Sean menyerang kepala, "Apakah ini yang disebut cemburu?" Matanya masih menatap dalam diam, pria itu mengambil tangan Lisa dan menciumnya, seketika urat leher Sean berakar. Matanya tajam bagai sebilah pedang yang terpukul cahaya matahari.


"Lisa ku tunggu jawaban darimu, aku akan melihatmu dari jauh, apakah kau mengkhianatiku dan meninggalkanku begitu saja? aku akan bersabar untuk hari ini.


To be continued