Over Power

Over Power
Back to school



Dunia yang kamu harapkan kini hanya akan menjadi khayalan isekai, kebahagiaan bersama keluarga, candaan mereka, senyuman mereka. Itu semua kini telah hilang. Terhapus ombak tsunami dimalam hari.


Over Power


________________________


 Cuplikan sebelumnya.


"Suuffffth." Kecepatan suara. Cahaya Violet itu bergerak cepat di angkasa bagai bintang jatuh. Membelok kearahnya yang sedang tercengang berdiri di atas atap gedung itu.


Dalam seketika "Buaark." Menghantam masuk kedalam tubuh. "Oh tidak ... Panaaas. AAAGH," teriak keras mengguncang atap Tada hunian dalam keadaan sepi. "Slip." Pijakan rusak membuat kaki tergelincir.


"Jadi aku akan mati hari ini ya?"


•••


Burung merpati terbang melengser hinggap di pepohonan rindang, mematuk ulat yang sedang tengah bersantai memakan dedaunan hijau.


Tampak di halaman dekat pohon itu, dia yang sedang terkapar semalaman. Berlumuran darah, di kelilingi oleh rerumputan yang terkontaminasi warna merah itu the blood.


"Ugh ... dimana aku?" Mulai membuka mata dalam pemandangan kabur. Berusaha bangun sambil mengumpulkan nyawa yang terasa hilang semalam.


"Astaga," kagetnya ia melihat ada genangan darah dan menempel di sekujur badan. Ia terduduk di tengah halaman itu dalam kebingungan yang nyata.


"Apa yang terjadi kemarin malam? Aku sama sekali tidak ingat," gumamnya sambil berdiri dari tanah.


"Ah, sudahlah aku kembali pulang saja."


🎶 BTS


I?m so sick of this


Fake love, fake love, fake love


I?m so sorry but it?s


Fake love, fake love, fake love🎶


Dering handphone Sean mengguncang rumah yang telah di tinggal lama di atas meja belajar. 71 panggilan tak terjawab.


Kebetulan saat Sean masuk rumah panggilan ke tujuh puluh dua masuk kembali berjoget.


Menggemparkan hati Sean. "Apa ada yang memanggil ... dimana handphoneku?" Sean segera mencari mengikuti alur suara.


"Tuuth." Suara panggilan diterima.


"Sean kemana saja kau hah, sudah berapa minggu kamu tidak masuk sekolah, sebentar lagi sekolah akan mengadakan ujian awal tahun. Kamu sudah kelas tiga mau masuk kuliah, jangan jadi orang cengeng menghilang begitu lama kamu kan laki-laki, gimana masa depan mu nanti dasar ...." Suara Lisa menggelegar mengguncang telinga Sean sampai memerah.


"Baik-baik aku pergi sekolah sekarang, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku saranghe,"


jawab Sean sambil bergurau sedikit.


"Masih aja bercanda, awas ya kalo nggak pergi sekolah ku patahkan lehermu. 'Tuuth'." Lisa mengancam Sean sambil menutup panggilannya.


"Hadeeeh Lisa kalo lagi marah mengerikan juga, ya. Aku nggak bakalan buat dia marah lagi kedepannya sumpah deh." Curhat hati Sean setelah di marahi habis-habisan lewat telepon.


Sean yang masih berbau amis dengan lumuran darah kental dibaju terpaksa harus membersihkan itu semua, ia dengan sigap membuka baju dan melompat ke kamar mandi.


Setiba di dalam kamar mandinya yang terpasang cermin besar, ia mendapati suatu fenomena aneh menimpa kucekan mata, "Mimpi apa ya aku semalam." Tenggelam kekaguman dalam menyaksikan tubuh.


Ia seksama memastikan dengan memperhatikan kesekujur badan, kulitnya lebih mulus, otot perut lengkap sixpack, wajahnya lebih tirus dan tampan, otot tangan jadi lebih kekar, dan yang terpenting tinggi badan yang naik secara drastis, yang mana kemaren hanya 175 centi sekarang bisa dikira sekitar 185 cm. Mungkin akan bertambah seiring berjalannya waktu pertumbuhan.


"What!!! Hei lihat siapa di cermin." Sean menikmati musibah keberuntungan yang menimpa dirinya, memainkan perut sobeknya sambil mandi hingga selesai.


Sean sedang dalam dilema, mengingat tubuhnya yang tiba-tiba tumbuh tinggi secara drastis, kini tidak ada baju yang pas dan cocok untuk ia kenakan.


"Bagaimana nih, seragamnya agak senteng. Oh ya aku pake aja Sweeter Ayah untuk menutupi ketidak cocokan seragam ini," ujarnya setelah mendapatkan ide.


Setelah persiapannya beres, dia pun siap kembali kesekolah dengan semangat baru.


 


***


 


Gerbang sekolah


"Hei lihat siapa itu, apa dia murid pindahan? Ganteng banget."


Bisik-bisik para rumpi semakin menggelora kemana-mana, di saat ia menjejal langkah di gerbang sekolah. Semua cewek histeris membuat kalangan pria jadi iri.


°°°


Terlihat Lisa sedang berdiri di koridor locker sekolah, berdiri melamun seperti menunggu seseorang.


"Lisa." Suara panggilan dari belakang.


Ketika ia berbelok arah kebelakang, ia mendapati sosok pangeran yang tidak dia sadari kalau itu adalah Sean.


"Astaga ... tampan banget. Tidak-tidak dihatiku cuman ada Sean." Batin Lisa meronta menahan diri dari keterpesonaan dirinya dengan pria yang berdiri dihadapannya ini.


"Siapa kamu? Apa kita saling kenal," tanya Lisa dengan nada dingin.


"Apa kamu ilang ingatan? Ini aku Sean!!" Sean yang mendengar Lisa berbicara seperti tadi memegang erat kedua bahunya. Itu membuat Lisa tidak nyaman.


"Haaa ... butek ya, mana ada gua ilang ingatan, kalo kamu memang Sean mana buktinya." Lisa masih belum percaya.


"Baiklah, taman Namsan kencan pertama sebelum kematian Ayah Ibu dan kehilangan Yuning. Kita teman masa kecil hingga kamu pindah saat kelas empat SD, warna kesukaan kamu yellow, minuman kesukaan Soju makanan kesukaanmu Kimbab dan ...."


"Dan apa?" tanya Lisa disaat Sean berhenti untuk menyatakan sesuatu.


"Kamu punya tanda lahir di punggung." Lanjut Sean.


"Apa kau bilang!!" Lisa ingin menampar tapi cepat di genggam tanganya oleh Sean.


"Kamu masih belum percaya, oke kalau begitu lihat riwayat panggilan handphoneku ini," serah Sean memperlihatkan keterangan jelas.


"Oh ... apa kamu benar-benar Sean." Lisa terperanjat dan mulai memastikan. Sepintas Lisa melihat ada tahi lalat di jempol kanan Sean persis seperti ingatannya. Dan kalau di tatap lebih dekat wajah antara Sean sebelum dan sesudah memang sangat mirip, bedanya postur dan kerampingan wajah.


"Iya tentu saja, nih aku buktikan la ... 'Ummm'." Sean ditutup mulutnya ketika dia ingin menjelaskan lagi.


"Sudah aku mulai percaya. Jadi kenapa kamu bisa Se-setampan dan tinggi? hanya selama kita tidak bertemu beberapa Minggu" Lisa yang percaya kini membuat pertanyaan tentang yang membuat Sean seperti ini.


"Ah ... itu aku"-Sean menggaruk kepalanya sambil memikirkan alasan-"karena depresi aku menghabiskan waktu di GYM, hehe."


"Oppaaa." Suara serbuan siswa perempuan yang semakin mendekat mengejar sosok Sean yang sudah sangat terkenal yang mana kehadirannya telah menggemparkan sekolah.


"Syukurlah ada alasan untuk menghindari pertanyaan ini." Gumam Sean senang.


Sean yang mendengar itu langsung menarik pergi tangan Lisa. "Ayo kita bersembunyi dulu."


Akhirnya mereka bisa kabur dengan bergandengan tangan, tiba di tangga lantai dua hampir sampai ke kelas mereka. Tangan yang masih bergandengan membuat keduanya salah tingkah.


"Uhuk ... uhuk" Lisa pura-pura batuk.


Sean yang sadar dengan raut wajah shyboy melepas tangan itu. "Ma-maaf."


"Baiklah ayo kita ke kelas," ajak Lisa


Dari balik dinding itu ada yang mengintip, mengintai Sean dari tadi, tidak salah lagi itu pasti Anteknya si Alex.


"Brak." Suara tendangan menendang meja.


Para geng Alex sedang berkumpul di basecamp mereka. Tertunduk melihat pemimpin yang sedang marah besar.


"Kau bilang murid ikemen(tampan&tinggi) itu Sean?" Alex bertanya dengan ekspresi tidak suka.


Salah satu dari mereka menjawab. "Benar Alex aku melihat di papan nama seragamnya bertuliskan Sean."


"Ummm ... setelah beberapa minggu tidak kesekolah dan sekarang dia muncul dengan penampilan baru. Di tambah dia semakin dekat dengan Lisa!!! tidak bisa dibiarkan. Hei kau kumpulkan anggota nanti sepulang sekolah kita hajar dia biar lebih mengerti." Siasat otoritas Alex telah mulai bergerak akan mencelakai Sean.


*siang menjelang sorenya.


"Kriiiiiiing*" Suara Bell sekolah untuk jadwal pelajaran berakhir.


"Hai Lisa apa kamu tidak cemburu, Sean sekarang ganteng banget lho, langsung masuk dalam daftar top pria idaman High School Seoul di web nih, katanya selama beberapa minggu dia ke gym ya pantesan, pasti dia berjuang keras untuk hasil tubuh seperti itu," Cakap Yuri yang sedang berjalan berduaan dengan tas yang disandang.


"Huh .... lihat saja kalau dia selingkuh." Lisa ngambek dengan langkah begitu cepat meninggalkan Yuri.


"Hei Lisa, tunggu."


Di sebuah jalan yang sepi Sean berjalan sendirian, Tiba-tiba dari depan jalannya di hambat segerombol siswa laki-laki brandal. Begitu juga dari belakang tidak ada celah untuk kabur.


"Hei ... sudah berapa kali aku bilang jangan dekati Lisa lagi, bocah miskin sepertimu tidak pantas." Suara jelek yang begitu sangat akrab oleh Sean muncul dari balik punggung diantara keramaian itu.


To be continued


#Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Penasaran... ikuti terus ceritanya in the story of "Over Power"


#Dukung novel ini dengan memberikan Like, comment and Vote. Biar Author tambah semangat. 😉, terima kasih.