
Cuplikan.
Sosok pria bertato naga pada lengan kanan itu tiba-tiba muncul di antara mereka berdua.
WOSH!
Kepulan debu yang diakibatkan oleh tekanan udara saat dirinya jatuh dari langit menutupi pandangan, hanya sekilas seperti itu, dan kepulan debu ini lenyap oleh tebasan pedang bulan membelah segalanya dengan serangan fokus ke arah Sean.
Di saat genting itu. Ternyata Sean masih punya nafas untuk tetap hidup, pria yang muncul dari atas ini menyelamatkan hidupnya dengan menahan katana seorang Samurai legenda hanya dengan dua jari dan itu menyembari dirinya untuk ngupil.
Mata sang Samurai terbelalak mati kutu melihat sosok aura seorang raja petarung yang menundukkan siapapun yang berani berhadapan dengan dirinya. Patah kata Samurai yang bernama Sieji menyebut dirinya Zico.
SMASH!
Serangan seorang raja sungguh menakjubkan, segala hal seperti puing-puing yang terkena, angin pukulan serta bukit dan tanah mencekung seperti ada jejak tangan Titan.
Tidak bisa menggerakkan rongga mulut Sean tercengang takjub akan kekuatan raja petarung ini.
.
.
.
.
"Yo siapa engkau anak muda?"
Sean masih pasang muka datar, diam karena kagum. Sontak dirinya berdiri memberi hormat dengan sifatnya yang sudah berubah dari biasanya itu, tatapan wajahnya serius kemudian ia berkata, "Tolong jadikan aku muridmu."
"Ha!"
Zico memandang Sean masih belum layak untuk menjadikan ia sebagai muridnya yang pertama dan terakhir. Ia berjalan mendekati Sean yang memberi hormat padanya.
Memegang pundak Sean dengan kuat.
"Nak, aku masih melihat keraguan pada dirimu, hilangkan keraguan itu terlebih dahulu."
Begitu melontarkan kata-kata itu pada Sean, Zico mengabaikannya kemudian melangkah menuju Jin dan Asyura yang berbaring lemah.
Mendapatkan saran dari seorang raja petarung yang menghancurkan segalanya dengan sekali pukul, ia sama sekali tidak sedih kerena tertolak tapi kau lihat ia malah tersenyum di wajah yang menunduk itu.
"Astaga, adik ipar kesayanganku, kenapa kau jadi seperti ini, kalau Ayana tahu kan bisa sedih."
Dari mode garang dan bijaksana berubah seketika menjadi orang humoris aneh, ia berlari kekanakan begitu melihat Jin dan ingin memeluknya.
Setelah memeriksa luka Jin ia kembali menoleh pada Sean. "Nak apa kau yang sudah menyembuhkan adik ipar ku?"
Sean spontan menjawab. "Iya kau benar."
"Terima kasih, jadi begitu. Kau adalah keturunan pewaris keluarga Xiao. Untung aku tiba tepat waktu. Sebagai hadiah terimalah ini." Melempar sebuah buku entah dari mana asalnya.
Hap, di tangkap Sean.
Zico pun berdiri sambil mengangkat tubuh lemah Jin ke atas bahunya yang bagian kanan, dan merangkul tubuh Asyura dengan tangan kiri.
"Tunggu!!" Sean memanggil untuk menghentikan langkah Zico yang akan pergi.
"Ada apa anak muda?" Menoleh kebelakang.
"Apa batu Garnet berhasil kau dapatkan?" Sean melontarkan pertanyaan dengan mimik serius.
"Sebuah batu bernama Garnet ada padanya? Tidak, pria Samurai itu masih belum mati. Ia ditolong oleh sihir seseorang." Zico menjelaskan.
"Terima kasih atas informasinya," ucap Sean dengan wajah sudah menyerah untuk mendapatkan batu Garnet.
Mobil terbang yang dikendarai oleh Baentuk turun menghampiri Zico untuk menjemputnya, otomatis saat sudah mendarat di tanah pintu mobil terbang itu terbuka.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu. Kau sudah berkonstribusi sebisamu anak muda."
Masuk ke dalam sambil meletakkan dua tubuh itu ke dalam mobil terbang bagian belakang. Setelah selesai pintu mobil itu menutup, dengan cepat terbang meninggalkan Sean seorang diri.
"Lihat kota yang telah hancur, apakah nama Busan hanya akan menjadi kota reruntuhan yang hanya tinggal menjadi sejarah? Kalau dipikir-pikir berapa ya kerugian yang di tanggung pemerintah?"
Sean larut dalam kesedihan memandang kota Busan yang telah kosong dari manusia, hanyalah puing gedung runtuh dan sampah bertebaran. Kini ia bertelanjang kaki dengan baju koyak berjalan di tengah-tengah kota.
"Cih." Menghentikan langkah kaki.
"Aku masih lemah, masih belum cukup kuat," ratap Sean seperti menyalahkan dirinya sendiri, sebagaimana hal yang terjadi saat ia kehilangan Ayah dan Ibu.
Sebuah mobil Jeep hitam datang menghampiri Sean yang sedang berdiri terdiam kaku.
"Hei, namamu Sean bukan. Ayo masuk." Suara itu tidak salah lagi, suara logat orang Prancis ia adalah kak Angelina.
Sean pun sangat senang. "Akhirnya aku tidak bakal nyeker pulang ke rumah yang jauh berkilo-kilo." Ia pun masuk ke dalam Jeep itu.
"Terima kasih kak," ucap Sean pada sosok wanita cantik berambut pirang yang sedang mengemudi.
Wajah khas seorang bule kini punya rona malu di pipi cantiknya, bagi Angelina yang selalu menghindar dari bumbu asmara cinta dengan seorang pria kini merasakan canggung nan membara. Duduk berdua di dalam mobil dengan seorang cowok super ganteng dan ....
Melihat belahan dada Sean karena tersingkap oleh bajunya yang terpotong, makin buat dirinya mau pingsan, terkejut karena takut di lihat aneh Sean, ia pun jaga image dengan fokus menyetir pandangan lurus ke arah jalan.
"Ya tuhan, apa yang terjadi pada diriku?" Mengingat dirinya kembali kenapa bisa punya rasa pada sosok pria bernama Sean ini.
*
Berawal pada waktu lalu karena merasa bersalah kepada senior Ayana ia turun dari helikopter beberapa kilometer dari luar kota dengan niatan memastikan keselamatan senior Jin.
Baru ia turun ledakan besar itu terjadi.
Tergesa-gesa ia berlarian hendak kembali masuk ke dalam kota yang sudah hancur lebur. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan kawan yang sama-sama dari U.H.P memarkirkan Jeep di tepi jalan.
Setelah berbincang kawan itu rela meminjamkannya pada Angelina.
Kilas cerita Ia sudah tiba di pusat kota TKP tempat pertarungan yang terakhir. Ia mendapati junior yang ia bimbing di tahap awal menjadi agen U.H.P ada disana, dan Angelina hadir menyaksikan pertarungan mereka.
Deg degan jantungnya saat dimana Sean menyelamatkan Jin dan Asyura ketimbang memikirkan keselamatan dirinya sendiri, hingga saat ini hal yang membuat ia kagum terhadap Sean selalu terngiang.
"Ahh, gimana ini." Melepas tangan dari stir mobil.
"Kak kenapa??"
Mobil Jeep tergoncang oleh batu gede yang nyasar di tengah jalan, membuat Jeep pindah haluan menabrak tiang listrik. "Uwaaa." Nyaris rusak dan hancur untung Jeep-nya tidak melaju dengan kecepatan tinggi.
"Bruk." Saat hal itu terjadi, tubuh kak Angelina jatuh terpangku oleh Sean yang hanya menerima takdir karena goncangan mobil yang tiba-tiba menabrak tiang.
Tatapan mereka berdua jadi saling berdekatan hampir saja bibir mereka berdua saling bersentuhan. Kak Angelina seperti menikmati suasana dengan terdiam menatap lama mata Sean seperti menghipnotis nafsu terpendamnya. Yang membuat jarak di antara mereka berdua hanyalah tangan kak Angelina menopang di kursi Jeep. Nafas mereka berdua saling berbenturan.
Sean yang tidak kuasa hampir tergoda. "Kak Angelina."
Spontan ia terkaget, kepalanya sampai terjedot langit-langit Jeep yang lumayan keras.
"Kak, apakah kamu punya masalah?" tanya Sean tidak peka sama sekali kembali duduk.
Angelina pun mengelus-elus kepalanya yang habis kejedot. "Auch, maafkan aku Sean."
Sekarang di dalam batinnya sungguh sangat malu, bagaimana dirinya bisa jadian dengan juniornya. Apalagi kini ia merasa pasti wibawanya sebagai seorang senior sudah lenyap.
"Apa yang harus aku lakukan ini."
Sean yang melihat kakak senior ini seperti depresi atau punya masalah pada pikirannya bertindak sebagai seorang ahli dalam pengobatan tradisional Cina serta pewaris teknik rahasia keluarga Xiao yang terkenal.
"Kak apa kamu sekarang punya masalah pada fikiran dan depresi berlebihan?" tebak Sean.
"Mana mungkin! Kalau begitu sekarang aku akan mengemudi lagi."
Sejenak Angelina terhenti dan sangat terkejut mendapati tangan Sean berada di keningnya.
"Jika fikiran ada masalah bagaimana nanti ketika mengemudi," ujar seorang pribadi cool.
Menyurut, rasa kegelisahan yang di derita Angelina ketika di dekat Sean perlahan pergi. Sejuknya pikiran dan tangan Sean yang ada di dahi terasa sangat nyaman.
"Kenapa aku bisa seperti ini?"
Sean pun melepaskan tangannya dari dahi kakak Angelina. "Kok udahan aja sih," gerutu hatinya.
"Bagaimana sekarang kak?" tanya Sean.
"Umm, sudah tidak ada apa-apa lagi," kata Angelina antara benar dan tidak.
"Baiklah mari kita kembali."
Angelina mengembalikan Jeep pada posisi yang benar, Jeep pun akhirnya bisa melaju pada lintasan yang sudah rusak itu tapi masih dapat di lewati dengan aman.
Tujuan mereka adalah kota Seoul, perjalanan yang cukup jauh. Bagaimanakah hubungan antara mereka berdua? Apakah Angelina bisa tahan berduaan dengan Sean di dalam sebuah mobil untuk lima kurang lebih jam nanti.
°°°°
Sean dan Senior Angelina meninggalkan kota Busan yang sudah berakhir dengan kehancuran. Penderitaan yang di alami para pengungsi kini pasti sangat menyakitkan, dan kini mereka menunggu bantuan dari pihak pemerintah, dipindahkan ke kota lain untuk menyambung hidup.
Apakah tanggapan masyarakat Korea persoalan kota megah Busan tercinta ini lenyap begitu saja?
Ikuti terus perjalanan Sean menuju level power yang terkuat.
To be continued
___________________________
Angelina Charlotte