
"Apa maksud anda sebenarnya?"
Tatapan mereka berdua saling beradu antara mata yang tajam dengan kharisma dari seorang wanita berkelas kasta brahmana. Suasana makin buncah saat wanita itu berkata, "Aku hanya ingin kamu mentanda tangani kontrak ini."
Menepuk sehelai kertas di dada Sean, kharisma wanita itu makin mengintimidasi, apalagi sekeliling kantor itu berderet para bodyguard kelas elit, ya bisa dibayangkan sehebat apapun pria terpuruk seperti itu pasti akan takluk oleh wanita yang memiliki tempramental ratu penguasa.
Namanya adalah Olivia Frankenstein wanita berdarah blesteran Eropa-asia, pencetak nama di list super talenta dunia nomor tujuh, dirinya diakui publik sebagai orang tersukses di usia muda, itu karena menilai umurnya yang memang masih sangat muda yakni 17 tahun sudah dapat membesarkan sebuah perusahaan entertainment yang tanpa ragu lagi untuk diucapkan itu adalah perusahaan entertainment nomor satu di ruang media global zaman ini.
"Hanya ini kok buat tegang aja sih, ribet banget nih perempuan," sumbar halu Sean membekas dalam batin. Sean sudah sangat dihabisi sama perempuan ini tidak ingin mengingat dan beran-benar ingin melupakan hal bagaimana perjalanan panjang yang dialami untuk sampai ke ruangan ala pejabat kelas atas puncak gedung PJ entertainment.
"So, waktuku adalah uang," sindir Olivia menusuk mati sekali serang, karena menunggu jawaban Sean yang loading lambat kebangetan.
"Kalau aku tanda tangani, hari ini aku bisa pergi kan?" Alis Sean naik, mendekatkan kepalanya pada Olivia sehingga kening mereka jadi sejajar.
"Tentu." Langsung pada poin, Olivia balas tatap dengan bergerak maju.
Mendapati jarak dua bibir yang sangat-sangat dekat, Sean yang trauma dengan perasaan yang pernah dialaminya dulu maksudnya ciuman yang mendadak tidak disadari olehnya. Spontan kaget gerak postur Sean mundur terjungkal ke belakang.
"Akh baiklah ..."-langsung berdiri mengambil pena dari tangan Olivia untuk mentanda tangani-"Ini finish, biarkan aku pergi," serah dengan kelemasan tanpa tanda ikhlas.
"Tinggalkan dulu nomor kontak mu!!" perintah mutlak dari seorang ratu konglomerat.
"Siiiip deh." Keringat basah di kening melintas ditangah pipi.
°°°
"Aduh akhirnya aku bisa kabur darinya, ampun seumur hidup aku tidak bakalan mau ketemuan lagi sama tuh orang." Sean mengeyel pergi dari gedung gede itu dengan perasaan super duper rugi kenapa harus berurusan dengan perempuan tanpa tanding menundukkan segalanya dengan kekuasaan.
Pecah sebuah suara tiba-tiba mengguncang jalan Sean di trotoar.
🎶
Fire
Fire
ssak da bultaewora bow wow wow
Fire
Fire
ssak da bultaewora bow wow wow
🎶
Tuth. (Menghentikan seketika)
"Sean, apa kamu meninggalkan aku?" cemberut halus terendam sedih berbunyi dari smartphone super yang habis conser.
"Li-lisa, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf," ucap Sean dengan mimik garis wajah tak karuan. "Dari mana ya dia dapat nomor baru aku?" Perasaan Sean gundah gulana dalam pertanyaan.
"Aku butuh bukti, menghadap kesini sekarang!" Nada suara Lisa naik spontan jadi level tangga nada frekuensi tinggi.
"Baik ba-baik. Tunggu aku, kamu sekarang ada dimana?"
"Di taman Namsan, sudah dari tadi aku disini menatap gembok ini, kedinginan lagi." Terdengar jelas dari ucapan Lisa, itu adalah suara penuh dengan rasa haru dan kecewa.
"Aku segera kesana 'tuth'." Sean mengambil langkah cepat start berlari ke halte bus yang tidak terlalu jauh dari sana. Sekuat tenaga ia kerahkan agar tidak tertinggal bus yang segara berangkat.
Sean terpaksa harus melompat dari bibir halte kedalam pintu bus yang akan menutup, butuh slow motion untuk merasakan zona menegangkan ini, betapa nyaris nya Sean hampir terhimpit ditengah pintu bus yang tidak main pasti sakit.
****
Bissssh. Suara rem angin bus yang memaksa untuk berhenti.
Langkah kaki kanan Sean akhirnya menapaki taman Namsan, keluar dari pintu bus ia segera berlari lagi melewati segalanya yang terasa hampa, tampak segala hal yang ada di lingkungan taman Namsan mulai tegang membeku karena hari ini titik suhu menunjukkan 6 derajat Celcius. Cobalah lihat dengan luas, butiran putih kecil turun dari langit berduyun-duyun menyelimuti bumi.
Nafas sesak panas Sean bercampur dengan suhu dingin menciptakan asap embun dingin keluar dari mulut, dan itu terus terjadi secara berkala. Sakin rendahnya suhu air peluhnya serasa membeku di pelipis mata.
"Hampir sampai, Lisa aku datang."
Di bawah Tower itu, di depan ribuan gembok terkunci, persis seperti ingatan Sean letak gembok cinta mereka, terlihat sosok berpiyama nan hangat menyelimuti dan syal pink-nya melilit leher. Ia berdiri kaku menatap hal yang berada di depannya dan itu adalah sebuah gembok.
"Ma-maaf kan aku!" Matanya memerah mengeluarkan air mata dingin terhimpit butiran kecil salju yang jatuh di dekat mata.
Perempuan itu langsung berbalik selepas mendengar ucapan Sean. Jelas kedapatan pada keduanya, mata mereka sama-sama merah dengan air yang berlinang.
"Aku tidak butuh ucapan maaf, aku hanya ingin hati," Pintanya menatap lurus kedalam jiwa.
Sean menggerakkan kedua tangan untuk mendekapnya dengan erat, berpelukan dalam kesunyian tertaburi oleh salju yang makin tebal. Salju yang mulai menyelimuti segala-galanya yang ada di atas tanah terbuka.
"Aku mencintaimu ..." peluk Sean semakin erat
penuh dengan perasaan yang mendalam.
"Hiks-hiks ... aku tahu," isak Lisa menangis dalam pelukan dengan kedua hati yang kembali tersambung.
"Sean aku ingin tahu apakah perihal ciuman pertama ku yang hilang sangat membuatmu begitu kecewa?" tanya Lisa setelah mengakhiri pelukan.
"Tidak usah dipikirin lagi, yang penting itu hati, aku menerima apa adanya." ucap Sean menatap dalam mata Lisa.
"Terima kasih ...."
Cup.💖
Lagi-lagi tidak direncanakan Lisa menarik leher Sean kebawah sehingga ciuman pertama diantara mereka berdua terjadi. Pertengahan Desember awal musim salju yang dingin di bawah naungan awan gelap yang enggan menurunkan hujan.
"Ciuman kedua ku dan seterusnya hanyalah untukmu karena aku hanya ingin bersamamu hingga akhir hayat."
°°°
"Lisa aku ingin bertanya, jika sesuatu membuat kita berpisah jauh apa itu akan memutuskan cinta ini?" tanya Sean dalam ayunan tangan mereka yang saling bergandengan menuruni tangga.
"Jika itu terjadi, cinta ini takkan padam karena hati kita kan selalu terhubung di mana pun kita berada. Dan coba ingin aku ungkapkan hal itu benar-benar tidak aku harapkan, awas saja kamu coba-coba." Lisa mencubit telinga Sean sambil tertawa sinis.
"Ugh ... oke, oke semoga kita tidak akan terpisahkan." Sean mengerang kesakitan oleh cubitan yang tidak-tidak mau lepas. Tapi tak apalah ini namanya cubitan cinta pikirnya penuh dengan rasa bahagia.
Beberapa saat kemudian
Alunan melodi indah musik yang diputar dalam bus memberikan keharmonisan pada penumpang. Kaca jendela bus menjadi buram karena tertiup embun dingin suhu udara. Tampak Sean dan Lisa duduk bersebelahan di tepi jendela. Mendapati Lisa tertidur dalam pangkuannya Sean, begitupun Sean dagunya menyandar ke atas kening Lisa, mereka saling menghangatkan menuju tempat pulang.
Sungguh tali merah takdir yang hampir merenggang itu kini akhirnya tererat kan kembali seperti semula.
To be continued