
Sebuah tempat yang hitam penuh dengan zona ketidaknyamanan berada di sebuah pulau antah berantah nan terpencil dari kehidupan manusia biasa, pulau yang tidak termasuk ke dalam gambaran peta, pulau nan tak pernah terliput maupun terdaftar ke dalam kontak kerja berita.
Istana megah berdiri di tengah-tengah pulau tersebut, kerumunan para pemuja kejahatan berkerudung hitam menyembah-yembah sosok yang duduk di atas singgasana.
Terlihat dua orang berjubah hitam yang satu memegang tongkat dan yang satunya lagi memegang katana. Mereka berdua datang untuk berlutut, memberi laporan atas tugas yang telah di amanahkan.
"Lord, kami telah mendapatkan batu Garnet."
Termenung sedikit ia pun memberi perintah. "Baiklah, kirimkan itu kepada para petinggi Istana pusat."
"Kami mematuhi perintahmu."
Ternyata sarang pulau ini bukanlah tempat yang memiliki otoritas kehendak tertinggi. Masih ada langit di atas langit yang mengendalikan tempat-tempat seperti ini di dunia. Bagaimana kebenaran yang sesungguhnya dari Black Demond? Dan apa maksud mereka mengumpulkan jenis-jenis batu seperti Garnet. 12 batu permata kehidupan.
* DESA YANGDONG
"Terima kasih atas tumpangan anda kak Angelina," sahut Sean panjatkan rasa syukur atas pertolongan yang sudah diberi.
"Tidak masalah, Sean pulang sama siapa?" tanya wanita berambut pirang itu.
Merangkul tangan Sean, artis cantik ini menatap tidak suka pada wanita berambut pirang itu. "Sama saya, baiklah kami pulang dulu, dan terima kasih sudah mau menumpangi Sean sampai sini." Menarik Sean untuk pergi ke mobil yang terparkir.
"Terima kasih nona, kalau begitu kami berangkat duluan." Salam pamit asisten Lisa yang mewakili.
"Sama-sama, hati-hati di jalan." Melambaikan tangan pada mobil hitam yang sudah meninggalkan posko.
"Tidak aku sangka ternyata itu ya artis terkenal yang paling aku suka menonton serial drama dan filmnya, aduh aku lupa meminta tanda tangan, dan kenapa tadi aku tidak kenal sih, bodohnya aku. Mungkin karena hari sudah senja makanya wajah Lisa tidak jelas untuk di lihat. Ironisnya kenapa Sean harus bersama artis favoritku. Huuuuu." Kacau pikiran Angelina amburadul.
* Di mobil
"Sean jujurlah padaku, kamu akan bergabung ke dalam U.H.P kan?" tanya Lisa pada Sean yang duduk bersebelahan dengannya di bagian belakang mobil.
Tidak ada jawaban.
"Sean?" Melihat ke arah samping Sean malah ketiduran lagi dengan pose cool dan menawan, membuat Lisa tertegun makin sayang padanya.
Jadi sekarang ia pun mengerti, Sean pasti sangat kelelahan, maka itu pun membuat ia mengurung niatnya untuk bertanya sekarang.
°°°
Hello readers yang terhormat🤓
"Astaga, hei lihat Sean, dari Busan sampai desa tidur, sekarang lanjut lagi. Btw dia juga tidur kan, sepanjang perjalanan dengan Bis sekolah? Sean-sean kamu ini tega sekali, lihat tuh si Lisa di kacangin sama kamu."
Sean pun datang dengan wajah dingin menatap author yang be*go.
"Hei Author, aku bukannya abu naum (Orang yang suka tidur) ini adalah teknik untuk mengatasi rasa laparku, jurus tidur menyerap energi kehidupan."
'Hahaha, lihat tuh mana ada bisa kayak gituan. Hebat juga IQ kamu Sean. Oh, ya Seankan punya IQ di atas rata-rata," garuk-garuk kepala pura-pura pergi.
Memancarkan aura Over Power geram lihat Author, Sean menahan amarahnya dengan wajah sabar. "Kan lu yang buat ane kayak gitu."
°°°
Rintik hujan mulai menghujam kaca mobil, buram pandangan susah untuk memperhatikan jalan dengan baik, maka sang asisten pun bersigera untuk menghidupkan AC yang akan menstabilkan suhu mobil dengan suhu hujan, maka selang beberapa waktu kembalilah kaca bening sedia kala.
Naik turun alat pembersih kaca mobil menyapu deras air hujan seketika mendarat ke atas kaca jadikan pengalaman berkendara menjadi semakin nyaman walaupun dalam keadaan hujan deras seperti itu.
"Nona, kemana akan kita antar dia?"
Melihat wajah Sean yang tertidur lelap, Lisa tidak tega, terbesit ide di benak lebih baik Sean malam ini tidur di rumahnya saja.
"Kita langsung saja ke rumah."
Wajah Sang Asisten mulai serius ketika melihat kedekatan Lisa dengan Sean yang seperti itu.
"Tuan putri! Sekarang saya bertanya kepada anda sebagai pelindung dari Lord. Ingat status anda yang sebenarnya, apakah ini adalah suatu hal yang baik?" Berwajah pasi dan benci.
"Ini adalah keputusanku Selena!" bentak Lisa.
"Jadi inilah yang membuat kamu rela hidup menjadi seperti ini, kamu adalah putri salah satu Lord Black Demond, kamu tidak bisa menyangkalnya, ingat itu tuan putri." Suasana kini semakin dingin di tambah hawa hujan yang tidak bersahabat.
"Semakin kamu seperti ini, Sean akan tersakiti. Bahkan akan mati!! Lebih baik tinggalkanlah, jika kamu mencintainya tinggalkan dia."
Sean masih tidur ia sama sekali tidak mendengar dan tahu akan topik pembicaraan Lisa dengan utusan Black Demond yang menyamar menjadi asisten itu. sungguh tidur di waktu yang tidak tepat.
"Tidak bisa seperti itu!! Aku hanya ingin bersama Sean, Selena." Raut wajah Lisa menjadi buyar.
"Kamu tahu, kenapa saya datang padamu? Lord memintaku untuk membawamu dan permaisuri keempat untuk kembali." Bicara sambil mengemudi dengan lancar.
"Ta-tapi ..." Seketika di potong.
"Tidak ada tapi-tapian tuan putri, jika seandainya Sean lah yang menghambat kepulangan anda, maka sekarang ini ia harus dieksekusi anda mengerti?"
"Aku tidak ingin Sean menderita, baiklah kalau itu yang Ayah mau, maka aku harus kembali, dengan satu syarat Black Demond tidak boleh menyakiti Sean!!" ucap Lisa menyampaikan keinginannya.
"Baiklah anda mengerti dan kami menghormati syarat anda itu agar bisa kembali," ujarnya menyetujui tapi itu tidaklah pasti dan juga bukan janji.
"Selena biarkan aku menghabiskan waktu yang sementara ini dengannya," pinta Lisa.
"Aku mengabulkan permintaan anda, dan ingat anda harus segera pergi bersamaku esok hari," kecam wanita misterius bernama Selena pada Lisa.
"Iya."
Wajah cantik Lisa mengerut dengan kesedihan yang mendalam. Kenapa ini harus terjadi? Kenapa harus berpisah dengan Sean di waktu yang terasa singkat ini.
Memeluk Sean yang tertidur, Lisa menyandarkan kepalanya ke atas bahu Sean.
Takdir kenapa engkau membuat jarak antara aku dengannya apakah aku bukanlah sosok yang pantas untuknya? Sebatas kata janji tanpa arti yang di teriakkan di tepi bukit atau jari yang hanya bersatu untuk mengibuli? Takdir tolong jadikan dirinya dapat mengingat kenangan indah antara aku dan dia. Semoga.
*
"Sean bangunlah kita sudah sampai," ujar Lisa dengan suara nan lembutnya.
"Benarkah? Terima kasih Lisa."
Sean berjalan keluar dari mobil sambil menyeringit dan menguap. "Jadi apakah aku akan tidur dirumahmu malam ini?"
"Iya mari masuk."
Lisa membuka pintu rumahnya kemudian berlari kecil ke arah dapur.
"Sean kamu laparkan?" ucap Lisa sambil tersenyum halus.
"Wah aku sudah tidak sabar mencicipi masakanmu." Sean duduk di meja makan menunggu Lisa dengan hidangannya.
Di balik dapur itu terdengar suara kericuhan minyak goreng memasak adonan yang di masukin ke dalam kuali oleh Lisa. Um, mencium aroma masakan itu Sean jadi makin lapar seperti apa ya nanti jadinya masakan itu.
Beberapa saat kemudian
"Tara, masakan sudah siap."
Terlihat di atas meja makan itu dipenuhi dengan berbagai macam jenis hidangan masakan rumah. Lisa benar-benar sudah berusaha untuk momentum saat-saat seperti ini. Jari-jari tangannya terlihat penuh dengan luka namun ia ingin menyembunyikan hal itu semua dari Sean.
Sungguh Sean mengetahui hal itu, tidak ingin membuat ia kecewa Sean menyanggupi diri untuk mencicipi.
"Tunggu apalagi, Lisa aku coba ya."
"Ahuk." Tidak enak sekali seperti racun penampilan masakannya saja yang bagus.
"Bagaimana rasanya?" Menepuk kedua tangannya tidak sabar mendengar tanggapan Sean.
"Enak, benar-benar enak sekali. Masakan Lisa nomor satu." Di balik itu Sean sekarang benar-benar ingin muntah tidak tahan lagi, tidak ingin membuat Lisa sedih ia memaksa tangannya untuk terus menyuap masakan itu ke dalam mulut.
Peluh keringat dingin serasa mau mati, Sean pingsan seketika k.o dengan satu mangkuk masakan Lisa.
"Sean." Melihat dengan keheranan.
Lisa yang sudah menunggu Sean tak kunjung bangun-bangun akhirnya terpaksa memapah badan beratnya Sean untuk di pindahkan ke dalam kamar. Entah kenapa Lisa mengangkat Tubuh dua kali lipat dari ukuran tubuhnya dengan enteng, setelah kita mengetahui identitas Lisa yang sebenarnya maka kita dapat memahami hal itu.
Melempar tubuh Sean ke atas kasur. Wajah Lisa berubah seketika, ia tersenyum penuh dengan hasrat terpendam.
"Sean malam ini kamu hanyalah milikku."
To be continued