Over Power

Over Power
Yuning ada



Sepuluh jari dari seorang anak muda lihai bermain di atas keyboard komputer. Lehernya yang gemuk dibalut lemak bergetar seiring hentakan jarinya di papan keyboard itu.


Seorang pria tampan selevel selebriti berdiri gagah di depan pintu ruangan penuh layar komputer yang sedang di selidiki oleh si gemuk. Mukanya seperti pernah lihat tapi dalam rupa yang berbeda. Jam menunjukkan pukul 21.00 PM.


Diseberang sana pojokan ruangan itu, dia bertubuh kecil memainkan magic, bertugas untuk memastikan keamanan teman-temannya dari segala hal yang berpotensi menggagalkan misi.


Si alis runcing dengan tatapan wajah serius memperhatikan layar-layar yang terfokuskan pada sosok anak kecil berkepang dua terekam oleh cctv pada tanggal x.


"Tidak salah lagi itu adalah baby yang kita cari, sangat mirip dengan yang ada di foto. Coba diperbesar"-Si gemuk itu menekan tombol zoom untuk memperjelas layar-"baby bersama seorang kakak perempuan dan masuk ke dalam pesawat?"


"Boby coba cek informasi jadwal penerbangan pesawat ini."


Si gemuk yang sedang asyik dengan makanan ringannya kembali beraksi memainkan sepuluh jari bergulat dengan keyboard, alih-alih tidak lupa mengemil.


"Umm, Kanmu penerbangan pesawat ini mengarah ke Beijing ibu kota negara China."


Mendengar hal itu ia mengelus dagu, berjalan mondar-mandir mikir panjang sebab si baby tidak bisa dilacak lagi karena sudah terbang ke negeri tirai bambu. Namun hal itu sudahlah cukup, yang diperlukan saat ini adalah informasi.


"Oke cukup sekian, kita lanjutkan setelah mendengar pendapat senior Sean."


Mendengar ucapan Kanmu barusan, satu pikiran julukan empat serangkai. Ketiga orang lainnya pun menyetujui pendapat Kanmu. Mereka bertiga dengan serentak menganggukkan kepala dalam satu waktu.


Zuffff. Menghilang bagaikan Sonic.


Tak lama setelah kepergian mereka berempat, dari luar pintu ruangan itu muncul bapak-bapak bertopi dan berseragam satpam seraya berkata. "Ahhh ... tadi kok kebelet boker yak tiga kali gede-gede." Dalam ekspresi mengantuk. Tiba-tiba bulu kuduk nya meremang. "Kok serasa ada yang aneh sih."


°°°


"Apa kalian mendapatkan informasi?" tanya Sean natap penuh penghayatan sebagai seorang senior.


"Kak Sean akhirnya kami mendapatkan informasinya, adik kakak sekarang ada di China," ucap Kanmu menyampaikan informasi baru yang berhasil ia dapatkan atas kerjasamanya dengan teman-teman.


"Yang benar, semoga Yuning baik-baik saja, kalau begitu aku harus segera ke China untuk memastikan." Sean kini berada pada radar suasana harap cemas dengan keadaan adik kecilnya.


"Oh ya, di China kan ada keluarga Ibuku, keluarga Xiao, mungkin aku bisa meminta pertolongan dari mereka," ujar Sean penuh semangat.


"Apa, jadi Ibu anda adalah putri keluarga Xiao kakak?" Boby spontan takjub mendengar kalau seniornya ini punya darah kebangsawanan Xiao mengalir di nadinya.


"Hei, kenapa kamu segitunya takjub dengan nama marga Xiao." Sosok pria seleb itu angkat bicara, yang sedari tadi masih belum disadari Sean.


"Siapa orang ini?" Sean kebingungan.


"Ah, Senpai tidak kenal sama dia, dia Ester. Di siang hari bakal berubah jadi pria bontot berhati Lucy, tapi di malam hari sosoknya akan berubah jadi pria super ganteng berjiwa Hercules," jelas Boby.


"Buset dah, ada pula manusia punya spesies sepertinya." Sean baru tahu.


"Ester tadi kamu ingin tahukan, kenapa aku takjub dengan marga Xiao. Itu karena keluarga Xiao adalah salah satu kebangsawanan tiga klan raksasa China yang menguasai, mereka juga salah satu kekuatan terbesar U.H.P loh cabang China. "Boby melanjutkan, menyampaikan isi pikirannya.


"Keren!" serentak Kanmu dan Oval.


"Ummm lumayan," ucap Ester layaknya pribadi pria sejati.


"Tapi ..." Sean mengerutkan dahi.


"Tapi, kenapa Senpai?" Boby bertanya setelah melihat suasana hati Sean berubah jadi buruk.


"Senior kan tinggal membuktikan kalau kamu bisa menguasai teknik klan Xiao. Jangan menyerah." Kanmu menyemangati Sean yang sedang gundah gulana.


"Terima kasih semuanya atas bantuan kalian, sekarang aku punya target," acung semangat baru Sean dengan tersenyum pada junior- juniornya ini.


A few moments leter


"Kok nggak pergi-pergi nih bocah," batin Sean mulai tidak enakan melihat para junior ini masih menunggu di ruang tamu rumah.


"Hei kenapa kalian tidak pulang kan bisa lewat teleportasi." Sean angkat bicara.


"Lapor kak Sean apa instruksi dari anda selanjutnya? kami sebelumnya tinggal di gudang Master, karena kami dipindahkan jadi sekarang tidak ada tempat pulang, maaf senior Sean." Kanmu berdiri tegak dengan sikap hormat.


"Eeee, jadi seperti ini ya. Hadeeeh ibanya aku lihat nasib kalian," gumamnya kasihan.


"Ok, instruksi dariku sekarang adalah tidur, besok kita akan berhadapan dengan Bu Kepsek. Mulai sekarang rumah ini adalah rumah kalian, mengerti." Sean mempersilahkan mereka untuk tinggal di rumahnya.


Apa yang kau rasakan ketika kau tidak punya rumah untuk kembali, lalu seseorang mengatakan, rumah ini rumah kalian. Itu adalah sesuatu yang mengharukan. Momen yang takkan pernah dilupakan.


"Apakah itu benar kakak Senior?" Mata Boby berlinang air yang mengepul menjadi tetesan di pipi.


"Ya betul, betul, betul." Sean meyakinkan mereka dengan mengucapkan persetujuannya sebanyak tiga kali.


Air mata kebahagiaan nampak juga dari Oval dan Kanmu. "Seorang pria sejati tidak boleh menangis." Ester memberikan nasehat pada saudara tak sedarahnya. Tapi itu nasihat yang munafik, karena air matanya ikut menetes walau sebutir. Mereka berempat pun saling berpelukan hangat. Sean yang melihat itu ikut terharu, setidaknya kini ia mendapatkan keluarga baru tinggal bersama di rumah yang pernah memiliki memori kelam.


"Sekarang ini menjadi kamar kalian, tidurlah untuk saat ini," sahut Sean dari pintu kamar terbuka sebelum mematikan lampu.


"Aiyai kapten," ujar mereka serentak, begitu pun lampu yang tadinya menyala menjadi padam.


****


"Ummm, siapa anak yang macam-macam dengan keluarga Young kau bilang?" tanya sosok berjubah hitam yang duduk di singgasana gedung keluarga Alex. Yang mana Ayah Alex, si Alex beserta para bawahannya tertunduk di hadapannya.


"Go Sean tuanku." Ayah Alex menjawab.


"Bodoh, urusan anak muda jangan dibawa ke dalam keluarga bolot. Kalian benar-benar ******. Alex sini kau." Pria berjubah itu menyuruh Alex untuk mendekat padanya, entah apa yang ingin dilakukan orang itu.


Alex dengan hati yang gusar terpaksa mengikuti perintah dari sosok berkuasa ini, gimana tidak dikatakan berkuasa, perusahaan Young yang bisa mengendalikan pasar Korea bisa tunduk di bawah telapak kakinya.


Setelah Alex menunduk di dekat lututnya, sosok berjubah hitam itu meletakkan telapak tangan di ubun-ubun Alex. Maka keluarlah aura hitam yang begitu pekat, menimbulkan gelombang jahat yang menyebar kemana-mana. Jadikan siapapun yang dekat jaraknya terpental.


"Aaaaaaaagh." Teriak Alex tak kuat menahan rasa sakit, urat-urat di sekujur tubuhnya muncul karena saking sakitnya ia menahan. Cairan berwarna hitam menjalar pada urat nadi Alex dan itu bisa dilihat dengan jelas. Sungguh mengerikan.


Setelah sejam berlalu proses itu selesai di lakukan. "Alex kekuatan ini aku wariskan padamu, jangan kau buat malu keluarga Young," ucap sosok berjubah, yang mana perlahan lama-kelamaan keberadaannya menghilang bagaikan debu tertiup angin.


"Uhuk-uhuk." Alex batuk darah berwarna hitam. Begitupun Rambutnya berubah jadi hitam pekat. Hati jahatnya pun juga makin busuk penuh dengan pikiran Iblis. Aura kekuatan yang besar memancar dari dirinya seorang.


"Hahahaha, hahahahaha. Sean tunggu pembalasan dendam dari aku, hutang lama akan aku tagih."


Tatapan bagai setajam silet. Bola matanya berwarna merah dengan corak seperti ular yang akan memangsa dirimu seketika.


To be continued